NovelToon NovelToon
Se Atap Dengan Mantan Suami

Se Atap Dengan Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mantan
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Jasmine, menikah dengan Aksa adalah mimpi buruk yang ingin ia kubur dalam-dalam. Sebagai anak yatim piatu yang miskin, Jasmine hanya dianggap sampah dan pembantu gratisan oleh keluarga Aksa yang terpandang. Puncaknya, sebuah fitnah kejam membuatnya terusir dari rumah megah itu tanpa membawa sepeser pun uang.

Tiga tahun berlalu, Jasmine bertahan hidup sebagai Professional Housekeeper di sebuah agen elit. Tugas terbarunya adalah mengurus sebuah penthouse mewah milik klien misterius yang sangat menuntut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Aksa menghentikan langkahnya di ambang pintu rumah mewah keluarga Mahendra. Sonia, Maminya, yang sedang duduk anggun di sofa beludru, langsung menoleh saat mendengar langkah kaki Aksa. Ia meletakkan cangkir teh porselennya dengan pelan, lalu berdiri menghampiri putranya.

"Aksa, sayang, kamu sudah pulang?" sapa Sonia dengan senyum mengembang.

"Ayo duduk dulu. Mami sengaja nungguin kamu dari tadi."

Aksa menghela napas panjang, menuruti keinginan Maminya meski hatinya berontak. Ia duduk dengan kaku, matanya menatap jengah pada tumpukan katalog di depannya.

"Ada apa, Mi? Aksa capek, mau istirahat," ucap Aksa datar.

Sonia mengabaikan nada lelah di suara putranya. Ia membuka salah satu katalog besar yang berisi desain dekorasi pesta mewah.

"Coba kamu lihat ini, Sayang," ujar Sonia antusias, jarinya menunjuk pada perpaduan warna gold dan white yang elegan.

"Mami bingung, kamu lebih suka tema Royal Classic yang ini, atau Modern Elegant yang di halaman sebelah? Mami sih sreg sama yang Royal Classic, kelihatan megah buat acara tunangan kamu sama Clarissa nanti."

Darah Aksa seakan mendidih mendengar nama itu disebut. Ia mengepalkan tangannya di bawah meja, berusaha sekuat tenaga untuk tidak meledak di depan Maminya.

Aksa menegakkan punggungnya, menatap lurus ke mata Sonia dengan tatapan sedingin es.

"Mami," panggil Aksa.

Sejak kapan saya setuju untuk bertunangan dengan Clarissa?"

Senyum di wajah Sonia membeku. Ia menatap Aksa dengan tatapan tidak percaya, seolah pertanyaan putranya adalah hal paling konyol yang pernah ia dengar.

"Aksa, apa yang kamu bicarakan? Mami sudah atur semuanya sama keluarga Clarissa. Ini buat kebaikan kamu, buat masa depan perusahaan kita!" seru Sonia, nada suaranya mulai meninggi.

"Kebaikan saya, atau ambisi Mami?" skakmat Aksa. Ia berdiri, tidak sudi lagi berlama-lama di sana.

Sonia berdiri dengan sentakan kasar, wajahnya memerah menahan amarah yang mulai meluap. Ia menatap punggung putra tunggalnya itu dengan tatapan tajam.

"Aksa! Jaga bicara kamu!" pekik Sonia, suaranya menggema di ruang tamu yang luas itu.

"Kalau Papi kamu masih hidup dan dia tahu kelakuan kamu yang membangkang begini, dia pasti sudah sangat kecewa."

Aksa menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh sedikit, memberikan senyum miring yang sarat akan luka lama dan kebencian yang mendalam. Matanya berkilat dingin, menatap ibunya tanpa rasa gentar sedikit pun.

"Ah..." Aksa terkekeh hambar, sebuah suara yang terdengar menyayat hati.

"Untungnya pria itu sudah mati. Setidaknya dia tidak perlu melihat betapa ambisiusnya istrinya sendiri sampai tega mengatur hidup anaknya seperti bidak catur."

"Aksa! Kamu benar-benar sudah hilang akal! Aksa, kamu mau ke mana?!"

"Pulang," jawab Aksa singkat tanpa menoleh lagi.

"Pulang ke mana?! Ini rumah kamu, Aksa! Ini istana kamu!" teriak Sonia histeris, langkahnya mencoba mengejar namun terhenti di anak tangga.

"Sampai kapan kamu mau begini terus? Sampai kapan kamu mau lari dari tanggung jawab kamu sebagai pewaris Mahendra?!"

"Sampai Anda sadar siapa Anda sebenarnya di rumah ini, Mi," desis Aksa tajam.

Sonia seolah kehilangan lidahnya. Ia terbungkam, menyadari bahwa putra yang dulu bisa ia kendalikan kini telah berubah menjadi sosok yang jauh lebih berbahaya.

Brak!

Pintu tertutup dengan dentuman keras. Aksa langsung melangkah menuju mobilnya dengan gerakan cepat, mengabaikan bayangan Sonia. Ia masuk ke dalam kemudi, mencengkeram setir dengan urat-urat tangan yang menegang.

Setelah dentuman pintu yang memekakkan telinga itu mereda, kesunyian di ruang tamu mewah itu pecah oleh lengkingan suara Sonia. Wajahnya yang biasa dipoles sempurna kini tampak mengerikan karena amarah yang meluap-luap.

"AKSA! ANAK KURANG AJAR!" teriak Sonia histeris. Ia menyambar katalog dekorasi di atas meja dan melemparnya ke arah pintu yang sudah tertutup.

Napasnya memburu, dadanya naik turun karena emosi yang tertahan. "Kamu pikir kamu siapa, hah?! Berani-beraninya kamu bicara seperti itu pada Ibu kandungmu sendiri!"

Sonia berjalan mondar-mandir di atas karpet Persia dengan langkah yang menghentak. Ia tidak menyangka putra yang selama ini ia bentuk untuk menjadi pewaris sempurna, kini justru berbalik menyerangnya dengan kalimat yang begitu menghina.

"Dasar anak tidak tahu diuntung! Kamu lupa siapa yang membesarkanmu sampai kamu bisa duduk di kursi CEO itu? Kamu lupa siapa yang menjaga nama baikmu saat kamu hampir gila karena wanita miskin itu?!"

"Lihat saja, Aksa! Kamu pikir kamu sudah menang karena memegang kekuasaan rumah ini? Kamu pikir aku akan diam saja melihatmu menghancurkan masa depan keluarga Mahendra demi obsesi bodohmu?"

Sonia mencengkeram sandaran sofa dengan kuat, hingga kuku-kukunya yang terawat rapi memutih. Matanya berkilat penuh dendam yang menyala.

"Kamu mau aku sadar siapa aku di rumah ini? Baik... akan kutunjukkan siapa Sonia Mahendra yang sebenarnya!"

Ia mengambil ponselnya dengan tangan gemetar, menekan sebuah nomor dengan cepat. "Halo, Clarissa? Temui saya malam ini. Kita percepat rencananya. Saya tidak peduli apa pun caranya, Aksa harus segera bertekuk lutut di bawah kaki kita."

......................

Jam menunjukkan pukul satu dini hari saat Aksa akhirnya menginjakkan kaki di dalam penthouse. Aksa melepaskan jasnya dengan gontai, namun langkahnya terhenti saat matanya menangkap siluet seseorang di ruang makan.

Di sana, Jasmine terduduk dengan kepala terbenam di antara kedua tangannya yang terlipat di atas meja.

"Kamu benar-benar keras kepala, Jasmine," bisik Aksa parau.

Ia mendekat tanpa suara, tidak ingin derap langkahnya memecah lelap wanita itu. Perlahan, Aksa membungkuk. Dengan gerakan yang sangat hati-hati.

Ia menyusupkan satu lengannya di bawah lutut Jasmine dan lengan lainnya menopang punggung mungil itu.

Aksa menggendongnya dengan mantap.

Jasmine sedikit melenguh dalam tidurnya karena kelelahan yang luar biasa, kepalanya secara refleks terkulai di ceruk leher Aksa. Harum sabun mandi yang lembut dari rambut Jasmine seketika menenangkan syaraf-syaraf Aksa.

Aksa membawa Jasmine menuju kamar tidur utama. Ia merebahkannya di atas ranjang miliknya yang empuk dengan sangat perlahan, lalu menarik selimut hingga sebatas dada wanita itu.

Ia berlutut di sisi ranjang, memandangi wajah Jasmine yang tampak begitu damai namun rapuh dalam tidurnya. Jemarinya yang kasar perlahan menyingkirkan anak rambut yang menutupi kening Jasmine.

"Tidurlah," gumam Aksa.

Aksa melepas kemeja kerjanya yang terasa mencekik, menggantinya dengan kaus santai yang lebih tipis. Lalu perlahan naik ke atas ranjang yang luas itu.

Di bawah temaram lampu tidur, Aksa berbaring menyamping, menumpu kepalanya dengan satu tangan sambil menatap Jasmine yang masih terlelap. Wajah wanita itu tampak begitu tenang.

Aksa mendekatkan wajahnya, menghirup aroma Jasmine yang selalu menjadi candu baginya. Perlahan, ia mendaratkan kecupan lembut di dahi Jasmine, lalu beralih ke kedua pipinya yang terasa halus.

Tak tahan hanya dengan kecupan singkat, Aksa membawa jemarinya untuk mengusap bibir ranum Jasmine. Ia kemudian menunduk, melumat lembut bibir wanita itu sebentar.

Jasmine hanya melenguh pelan dalam tidurnya, tampak benar-benar terlelap. Aksa menjauhkan wajahnya sedikit, menatap bibir Jasmine yang kini tampak sedikit basah dan kemerahan akibat perbuatannya. Sebuah senyum miring tersungging di sudut bibir Aksa.

"Ah... bagaimana kau tidak bangun saat aku menciummu, bodoh?" bisik Aksa rendah, suaranya serak dan dalam.

Ia menarik Jasmine lebih dekat ke dalam dekapannya, melingkarkan lengan kokohnya di pinggang wanita itu.

"Tidurlah yang nyenyak," gumamnya lagi sambil menyembunyikan wajah di ceruk leher Jasmine.

1
Redmi Nam
Jasmine jangan membangunkan singa tidur..
tuh singanya muaraaah😄😄😄
vita
knp cerita ini jarang update sih kak
Redmi Nam
jangan lama" punya thor🙏
Kaknia
suka jl ceritanya 👍👍😘
sunaryati jarum
Nah gitu jika cinta perjuangkan
sunaryati jarum
Kamu benar Yasmine ,Nak Aksa dengarkan Bara kau jangan mempersulit Yasmine, kasihan
sunaryati jarum
Kau jatuh cinta sama mantanmu
Aidil Kenzie Zie
ngapa nggak ambil kamar yang ada pintu penghubungnya
mini
hah,,, ikut plong aku😍
Kaknia
suka alur ceritanya
Kaknia
bucin Aksa 😂🤭
Kaknia
seruuuuuuu
partini
dihhh felakor
Kaknia
semakin seruuuu ceritax tapi nanggung banget masih penasaran😭
partini
tamat sudah kamu Jasmine
Kaknia
astagaaa semoga Jasmine TDK knp knp 😭
Kaknia
mantap ceritax
Kaknia
semoga Jasmine TDK knp knp dan semoga Aksa pembela terdepanx
Kaknia
Semoga Bisa Bersatu Kembali.......
Suka Ceritax Seruuuuu....
Risa Virgo Always Beau
Jasmine mending kamu bertahan saja kerja sama Aksa di banding kamu di denda seratus juta
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!