Di dunia di mana gerbang dimensi terbuka dan monster mulai menginvasi bumi, garis antara pahlawan dan penjahat menjadi kabur. seorang pria yang terjebak dalam takdir sebagai antagonis, raja naga kehancuran terbangun di tubuh manusia bumi bernama voltra.
Sang Raja Naga Kehancuran, entitas yang ditakdirkan menjadi villain sejati, kini terjebak dalam raga manusia yang lemah. Alih-alih menghancurkan dunia, ia justru terikat oleh tanggung jawab yang tak pernah ia bayangkan: seorang adik perempuan dan kewajiban menjadi seorang Hunter.
Terjebak dalam dilema antara identitas aslinya sebagai penghancur dan peran barunya sebagai kakak sekaligus pembasmi monster. Memilih antara harapan atau kehancuran?.
-LATAR CERITA DI INDONESIA
-KARAKTER PENTING ADA ILUSTRASI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Natelashura7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2 menjadi kakak
"Aku akan berangkat, jangan membuat masalah lagi kak" ucap vanya sudah memakai sepatunya.
"Ya" Jawab voltra sambil menonton TV.
"Bagaimana manusia bisa menciptakan hiburan seperti ini, jika aku kembali ke tempat para naga mungkin aku akan membawa satu" Batin voltra sedang menikmati sinetron.
Ketika langkah vanya semakin menjauh, voltra mengambil sebuah foto menggunakan kekuatan Telekinesis nya, memegang bingkai itu di tangan kiri. Ia melihat sosok ibu dan ayah keduanya, voltra melihat vanya saat masih bayi.
"Yah kurasa aku sekarang kakaknya" ucap voltra menyimpan foto itu kembali. "Untungnya polisi kemarin tidak mengeledah isi tas ku" Lanjutnya berjalan mengambil tas hitamnya.
Cukup berat karena terdapat krystal sihir tingkat D hingga C dari bos goblin yang ia kalahkan kemarin. Selama lima belas tahun, fenomena kemunculan gate menjadi awal bencana karena persenjataan biasa tidak mempan, adapun yang mempan hanya senjata sekelas nuklir yang merugikan.
Namun karena fenomena gate terus menerus bermunculan membuat aliran-aliran energi memenuhi bumi, tubuh manusia beradaptasi menyerap hal itu menjadikan mereka berevolusi yang dikenali sebagai hunter/pemburu. Karena proses penyerapan secara alami, semakin banyak penyerapan semakin tinggi peluang untuk menjadi hunter tingkat atas.
Selain itu dengan diketahui kalau para monster yang mati akan mengandung krystal mana. Krystal mana sangat murni dan memiliki tenaga besar, negara negara besar mulai menggunakan nya sebagai sumber daya baru.
Voltra melompat dari jendela sambil menenteng tas besar di bahu kanannya. Tujuannya? Sudah jelas adalah pusat pembelian dan pertukaran magic stone. Voltra berjalan santai menikmati udara dingin berhembus melalui pori-pori nya, cukup lama ia berjalan hingga sampai di tempat tujuannya.
"Selamat datang" ucap seorang pelayan wanita.
"Aku ingin menukarkan ini" ujar voltra memberikan tas hitamnya berisi magic stone.
"Baik, akan ku lihat terlebih dahulu" ucap pelayan itu tersenyum ramah. "mohon tunggu sebentar" lanjutnya meneruskan.
Ia memindai magic stone yang dibawa oleh voltra. Meskipun sedikit heran karena penampilan voltra terlihat bukan seperti seorang hunter, lebih seperti remaja yang baru bangun tidur. Voltra meniup poninya sendiri sambil menunggu, ia masih memakai kemeja putih kemarin yang sedikit lusuh.
"Total 21 magic stone tingkat D dan 1 magic stone tingkat C" ujar pelayan itu menyebutkan. "Kami akan mengambil sebesar 20% pajak" Lanjutnya.
"20% pajak?" Tanya voltra datar.
"Benar, Tuan. Itu adalah aturan standar dari Asosiasi Hunter untuk penukaran mandiri tanpa melalui agensi resmi" jawab pelayan itu dengan senyum profesional yang kaku.
Voltra terdiam. Matanya menyipit, menatap pelayan itu seolah-olah dia adalah serangga yang berani mencuri mangsa sang raja. Di dunianya yang dulu, siapa pun yang berani meminta 'upeti' dari jarahannya akan berakhir menjadi abu sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Pajak..." ujar Voltra menggumamkan kata itu dengan nada jijik. "Jadi, kau mengatakan bahwa manusia-manusia yang hanya duduk di balik meja kayu ini berhak mengambil seperlima dari hasil perburuan sang Raja Naga?" Lanjutnya menatap tajam.
"Ma-maaf? Raja Naga? Anu... ini sudah regulasi pemerintah, Dek. Uangnya juga digunakan untuk pemeliharaan fasilitas kota dari serangan monster" balas pelayan itu sedikit kaki.
Voltra mendengus keras, tangannya memukul meja counter dengan pelan, namun getarannya cukup membuat gelas air di dekat sana retak.
"Dengarkan aku, manusia. Di tempatku, perlindungan diberikan oleh yang kuat kepada yang lemah, bukan yang kuat diperas oleh yang lemah" ujar voltra mengingat makhluk yang tercipta dari primordial cahaya.
Suasana di lobi pertukaran itu mendadak mendingin. Beberapa hunter yang sedang mengantre mulai menoleh, menatap remeh ke arah bocah kurus yang sedang mengomel itu.
"Oi, Bocah! Kalau tidak mau bayar pajak, daftar jadi Hunter resmi sana! Jangan banyak bicara!" teriak seorang pria berbadan kekar dengan kapak di punggungnya.
menoleh pelan. Tatapannya bukan lagi tatapan remaja stres, melainkan tatapan predator kuno yang melihat mangsa yang terlalu berisik.
"Kau... makhluk rendahan yang berbau keringat babi, berani menyela bicaraku?" Tanya voltra dengan nada merendahkan.
"Apa kau bilang?!" Kesal Hunter itu berdiri, namun langkahnya terhenti saat merasakan tekanan tak kasat mata yang menghantam dadanya. Napasnya mendadak berat, seolah oksigen di ruangan itu telah disedot habis oleh keberadaan Voltra.
"Ambil pajaknya. Aku tidak punya waktu untuk mengajari kalian tentang tata krama primordial hari ini. Tapi ingat ini... suatu saat nanti, akulah yang akan menentukan siapa yang berhak mengambil dan siapa yang harus memberi" Balas voltra menguap malas.
Pelayan itu dengan gemetar memproses transaksi tersebut. Beberapa menit kemudian, sebuah kartu debit berisi uang dalam jumlah besar setidaknya untuk ukuran seorang remaja miskin, diberikan kepada Voltra.
"Te-terima kasih atas kunjungannya" ucap pelayan itu hampir berbisik.
mengambil kartu itu, memutarnya di antara jari-jarinya yang kecil. Ia berjalan keluar dengan gaya angkuh, melewati hunter besar tadi yang masih terpaku diam dengan keringat dingin mengucur di dahinya. Sesampainya di luar, Voltra menatap gedung-gedung tinggi di sekitarnya.
"Uang ini... cukup untuk membelikan Vanya sepatu baru dan makanan yang lebih layak dari sekadar mi instan" ucap voltra menatap kartu itu. "Kenapa tiba-tiba aku jadi begitu peduli padanya" Lanjutnya heran sendiri.
"Aku hidup dengan aturan ku sendiri. Mungkin aku bisa belajar" Batin voltra berpikir sejenak. "Kalau begitu aku sudah memutuskan, aku akan merawat gadis itu hingga menemukan cara kembali ke tubuh lamaku" Lanjutnya menatap langit.
"Apa nama negara ini, ah benar aku ingat" ujar voltra setelah cukup lama mengingat. "Sekarang Indonesia adalah wilayah ku" Lanjutnya setengah berteriak.
"Wah paman itu berteriak seperti orang gila" ujar seorang anak SD tengah lewat.
"Gila? Berani sekali kalian" ucap voltra menatap tajam.
"Kyaaaa... Lari" Teriak mereka semua.
Dengusan kecil terdengar dari hidung voltra. Dia tidak ada niat untuk mengejar anak-anak itu, melihat mereka berlarian begitu panik mengingatkan saat melihat bayi naga yang baru menetas. Mengingat itu membuatmu tersenyum kecil.
"Anak kecil memang nakal, tidak seharusnya orang dewasa memarahi mereka seperti itu" Gumam voltra berjalan pergi, begitu santai. "Kurasa petualangan baru ku, baru saja dimulai" Lanjutnya menatap matahari pagi.
Ilustrasi vanya/adik voltra.