Arhan si tukang panggul harus menelan pahitnya hidup, rumahnya terbakar, ia mengalami luka bakar, anaknya pincang karena tertimpa kayu dan istrinya menceraikannya.
Naasnya ia mati di lindas 3 mobil sekaligus. Tapi siapa sangka jika hidupnya berubah saat ia mendapat sistem.
Sistem mengubah hidupnya dan membuat mantan istrinya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
Arhan tidak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya diam mematung, menatap lurus ke arah wajah wanita sombong di hadapannya itu. Tatapannya dingin, datar, namun menyimpan aura yang sulit dijelaskan.
Tapi Arhan sedang melihat Sebuah layar transparan berwarna biru hologram muncul di hadapan pandangannya.
'Sistem,' batin Arhan berbicara dengan nada dingin dan penuh penekanan. 'Aku tidak terima anakku dihina seenaknya seperti ini. Apakah ada fitur yang bisa aku gunakan untuk memberi pelajaran kepada orang yang berbuat salah ini?'
📺 LAYAR SISTEM
[Tentu Tuan. Anda memiliki beberapa opsi:]
- Anda bisa membuat orang tersebut mengalami cedera fisik.]
- Atau Anda bisa memberikan penyakit tertentu sesuai keinginan Tuan, dengan memotong poin kontribusi yang Anda miliki.]
Mata Arhan menyipit, penuh dengan kemarahan yang tertahan. 'Baiklah kalau begitu. Aku ingin dia merasakan apa yang namanya siksaan. Aktifkan fitur penyakit. Aku ingin tubuhnya dipenuhi bintik-bintik hitam yang gatal dan menyakitkan. Biarkan dia merasakan penderitaan!'
🔔 SUARA NOTIFIKASI
Ting!
[Perintah Diterima.]
[Memproses... Mohon tunggu.]
[Poin Kontribusi Dipotong: -2.000 Poin]
[Sisa Poin Saat Ini: 0 Poin]
Memuat Modul Pencarian Target...
Menghubungkan Database Satelit...
Mulai Proses Pengumpulan Data Genetik...
Memuat...
0%...
10%...
20%...
30%...
40%...
50%...
60%...
70%...
80%...
90%...
100%%...
SELESAI!
EFEK AKTIF!
Seketika itu juga, energi tak kasat mata menyebar menuju tubuh Bu Siska.
"Kenapa diam saja hah?! Nggak bisa jawab ya?! Mulutnya kemana?! Nggak berani lawan omongan saya ya?! Dasar pengecut!" serbu Bu Siska lagi saat melihat Arhan hanya diam menatapnya. Ia mengira pria itu sudah kalah dan takut.
Bu Siska tertawa terbahak-bahak dengan sangat sombong dan merendahkan.
"Memang bener kata orang, kamu dan anakmu itu sama-sama sampah! Sama-sama cacat! Wajar aja sih nggak bisa melawan lagi, karena emang dasarnya udah beban masyarakat! Hahaha!" ucapnya dengan nada yang sangat menyakitkan, sambil mendongakkan kepalanya tinggi-tinggi, merasa dirinya paling hebat dan paling menang saat itu.
Arhan masih tetap diam. Ia tidak membalas satu patah kata pun. Ia hanya menoleh ke arah putranya yang tertunduk sedih di sampingnya.
"Arka, ayo nak. Kamu kan tadi mau beli roti coklat? Ayo kita beli. Tidak usah pedulikan orang yang tidak jelas pikirannya." kata Arhan lembut, suaranya tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
"Iya, Pa..." jawab Arka pelan, matanya berkaca-kaca namun ia mencoba tegar dan mengangguk patuh.
Melihat Arhan berbalik mau membeli roti dan tidak melawan, Bu Siska semakin menjadi-jadi.
"Ha ha ha ha! Lihat tuh! Kabur! Udah nggak berani dia! Dasar orang cacat!" teriaknya lagi dengan tawa yang semakin keras dan menusuk telinga.
Namun...
Baru saja tawa itu meledak, tiba-tiba wajah Bu Siska berubah keriting.
"Awwww!!!"
Tiba-tiba ia merasa punggungnya terasa gatal luar biasa. Rasanya seperti digigit-gigit oleh ribuan semut api secara bersamaan. Sensasi menyengat itu muncul secara tiba-tiba dan sangat menyakitkan.
"Aduh! Apa ini?! Ahhh! Dasar semut kurang ajar! Berani sekali kau mengigit punggungku!" umpat Bu Siska sambil tangannya berusaha meraih ke belakang untuk memukul atau mengusir semut yang ia kira ada di sana.
"Gatal! Sangat gatal! Aduh!"
Tapi anehnya, rasa gatal itu tidak hanya di satu titik. Semakin lama, rasa gatal itu menjalar kemana-mana. Dari punggung, merambat ke pinggang, lalu ke tangan, hingga ke leher. Rasanya bukan sekadar digigit semut, tapi seperti ada jutaan jarum halus yang menusuk-nusuk kulitnya dari dalam.
"AAAAAA! GATAL! SAKIT! ADA APA INI?!" teriak Bu Siska setengah berteriak panik. Ia mulai menggaruk-garuk tubuhnya dengan kasar, namun semakin digaruk rasanya semakin menjadi-jadi.
Ia panik setengah mati. Dalam pikirannya, pasti ada semut atau serangga jahat yang masuk ke dalam bajunya dan sedang menggigitnya.
"YOGA! CEPAT! TOLONG MAMA!" teriaknya histeris memanggil anaknya. "Cepat lihat belakang baju mama! Usir semut-semut itu! Cepat bunuh! Gatal sekali!"
Yoga yang melihat ibunya mengeliat kesakitan langsung kaget dan berlari mendekat. Dengan sigap ia menarik bagian belakang baju ibunya dan mengamati dengan teliti.
"Tapi... Ma... Nggak ada semut apa-apa lho, Ma. Bersih kok..." kata Yoga bingung sambil mengerjap-ngerjapkan matanya
"ADA ITU! KAMU TENGOK BAIK-BAIK LAH!" hardik Bu Siska sudah tidak tahan lagi, matanya membelalakan. "Cari yang kecil-kecil! Rasanya banyak sekali!"
"Benaran nggak ada Ma, kosong," jawab Yoga semakin bingung.
Saat itu juga, Bu Siska merasakan perubahan pada kulitnya. Di tempat yang terasa gatal itu, perlahan mulai muncul bintik-bintik kecil berwarna hitam legam yang menjalar dengan cepat. Kulitnya terlihat mengerikan dan bengkak.
Arhan menoleh sedikit ke belakang, melihat keributan itu. Sebuah senyum tipis dan dingin terukir di bibirnya.
"Sudahlah Nak, jangan dilihat lagi. Ayo kita beli roti coklat sebanyak yang kamu mau. Puasakan saja hari ini." kata Arhan lembut sambil mengelus kepala anaknya
"Baik, Pa," jawab Arka, dan kali ini senyum kecil, ia merasa aman dan terlindungi di bawah perlindungan ayahnya yang luar biasa.