NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:550
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

‎Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.

Tapi dunia berkata lain.

‎Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.

‎Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.

‎Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.

‎Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: MOMEN PENGHARGAAN.

Keesokan paginya, suasana kamar hotel terasa agak riuh. Nala berdiri di depan cermin besar, merapikan gaun sederhana yang dipilihnya—tidak terlalu mencolok, tapi tetap anggun dan profesional.

Rambutnya digerai natural, hanya diberi sedikit sentuhan catokan lembut. Ia sempat menarik napas panjang, mencoba menenangkan degup jantung yang sejak tadi tak berhenti berpacu. Davin, yang sejak pagi sibuk mengecek dokumen dan jadwal acara, akhirnya berhenti sejenak dan menatap Nala.

“Kamu sudah siap?” tanyanya, suaranya datar tapi jelas mengandung ketelitian seorang editor yang terbiasa memastikan semua berjalan sesuai rencana.

Nala menoleh, tersenyum tipis.

“Siap, sepertinya. Kalau tidak siap pun, aku tetap harus pergi, kan?” candanya, mencoba menyembunyikan gugup.

Davin hanya menggeleng kecil, lalu menyambar map hitam berisi undangan resmi.

“Ayo, jangan sampai terlambat. Beberapa pemenang lain sudah turun ke lobi. Kita akan berangkat bersama rombongan,” ujar nya yang membuat Nala mengangguk santai, dia mengambil ponselnya lalu mengikuti langkah Davin.

Begitu keluar dari kamar, lorong hotel terasa penuh dengan bahasa asing. Dari kejauhan, Nala bisa melihat wajah-wajah asing dari berbagai negara, semuanya tampak sama—gugup, bersemangat, dan berusaha menampilkan sisi terbaik mereka. Ada yang sibuk menelepon, ada pula yang saling memperkenalkan diri.

Di lobi, Davin sempat berbincang sebentar dengan salah satu panitia, sementara Nala memperhatikan sekeliling. Ia melihat seorang wanita muda berambut pirang dari Eropa sedang berbicara cepat dengan penerjemahnya, sementara seorang pria berkulit gelap dari Afrika sibuk menulis sesuatu di ponselnya.

Semua tampak begitu beragam, namun memiliki kesamaan: mereka adalah orang-orang yang karyanya telah sampai ke panggung dunia.

Nala menelan ludah, merasa kecil di tengah gemerlap itu. Namun, ketika Davin kembali menghampiri dan mengulurkan tangannya seolah memberi isyarat agar ia tenang, Nala mengingat kembali satu hal—ia berada di sini bukan karena kebetulan, tapi karena tulisannya memang layak mendapat tempat.

“Jangan gugup hey, kamu bahkan belum naik ke atas panggung untuk pidato kemenangan mu?” ledek Davin yang membuat Nala mengangguk mantap kali ini.

“Ayo. Bismillahirrahmanirrahim,” ujar Nala seolah mereka meminta pertolongan pada yang maha kuasa.

Dan dengan itu, mereka pun melangkah menuju bus yang akan membawa mereka ke gedung tempat penghargaan internasional itu digelar.

Gedung tempat acara penghargaan itu berdiri megah. Lampu-lampu kristal di lobi memantulkan cahaya hangat yang membuat suasana terasa elegan sekaligus menegangkan. Panitia menyambut para tamu dengan senyum ramah, lalu mengarahkan mereka ke aula besar yang sudah ditata rapi.

Nala melangkah perlahan, jemarinya sempat menggenggam erat clutch kecil di tangannya. Deretan kursi panjang berbalut kain putih sudah terisi sebagian, sementara di depan, panggung dengan layar LED besar menampilkan tulisan:

“International Literature & Film Awards 2025”

Nala duduk di barisan yang telah ditentukan, tepat di samping seorang pria muda berambut ikal cokelat—mungkin dari Amerika Selatan—yang sedang sibuk menulis sesuatu di buku catatannya.

“Hi, you must be from Indonesia? (Hai… kamu pasti dari Indonesia?)” sapa pria itu ramah begitu sadar ada yang duduk di sampingnya.

Bahasanya terdengar sedikit terbata, seolah ia juga berusaha menggunakan bahasa Inggris yang tidak sefasih penutur asli. Nala tersenyum canggung, lalu mengangguk.

“Yes, I am. My name is Nala,” jawab Nala lembut. Ia mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan.

“Mateo,” balasnya sambil menjabat tangan Nala hangat. “I wrote a screenplay… adapted from a local legend. (Aku menulis skenario… diadaptasi dari legenda lokal.)” lanjutnya, membuat Nala terdiam sejenak sebelum kembali tersenyum.

“Wow, that sounds amazing. (Wah, kedengarannya luar biasa.)” Nala mengangguk kagum, matanya berbinar tipis.

Tak lama, seorang perempuan berhijab duduk di sebelah kanan Nala. Kulitnya sawo matang, matanya ramah, dan begitu memperkenalkan diri, Nala terkejut—ternyata ia dari Malaysia.

“Aku Yasmin. Kau Nala, kan? Aku dengar namamu dari panitia. Selamat ya, karyamu keren sekali,” ujarnya dalam bahasa Melayu yang terasa sangat akrab di telinga Nala.

Nala refleks tertawa kecil, rasa canggungnya mencair perlahan.

“Terima kasih, Yasmin. Aku senang kamu ada di sini. Rasanya aku tidak sendirian,” ujar Nala, membuat Yasmin tersenyum lembut.

Tak lama, mereka terus berbincang. Sesekali beberapa nominator lain ikut menyapa dan bercakap ringan, menciptakan lingkaran kecil yang hangat di tengah aula megah itu.

Mateo kadang tersenyum bingung ketika Nala dan Yasmin meluncur dengan bahasa serumpun, sampai akhirnya ia protes kecil.

“Hey, don’t forget me. I feel… invisible. (Hei, jangan lupakan aku. Aku merasa… tak terlihat,)” ujarnya dengan wajah dibuat dramatis.

Nala dan Yasmin langsung tertawa, lalu Yasmin menerjemahkan singkat. Mateo pun ikut tertawa, dan suasana menjadi jauh lebih cair.

Tak jauh dari situ, Davin memperhatikan Nala dari belakang dengan tatapan lega. Ia tahu betul—jika Nala sudah bisa tertawa, berarti rasa gugupnya setidaknya berkurang.

Lampu ruangan perlahan meredup, menandakan acara akan segera dimulai.

Nala merasakan jantungnya kembali berdegup cepat, namun kali ini ada perasaan hangat yang menyelinap—bahwa ia tidak benar-benar sendirian di panggung dunia ini.

Aula besar itu perlahan gelap, hanya menyisakan cahaya keemasan dari panggung utama. Musik orkestra lembut mengalun, mengiringi langkah MC yang naik ke atas panggung.

“Ladies and gentlemen, distinguished guests, welcome to the International Literature & Film Awards 2025. (Hadirin sekalian, para tamu terhormat, selamat datang di Penghargaan Internasional Sastra dan Film 2025),” suara MC bergema melalui pengeras suara, jernih dan penuh wibawa.

Tepuk tangan riuh menyambut.

Acara dimulai dengan pidato pembukaan dari ketua penyelenggara—seorang pria paruh baya berjas hitam elegan. Ia berbicara dalam bahasa Korea, dengan terjemahan bahasa Inggris muncul di layar besar.

“오늘 이 자리는 문학과 영화가 국경을 넘어 우리를 하나로 잇는다는 것을 증명합니다. (Hari ini, tempat ini menjadi bukti bahwa sastra dan film mampu menyatukan kita, melampaui batas negara.)”

Pidatonya berlangsung cukup lama, suaranya tenang namun penuh keyakinan. Hingga akhirnya ia menunduk singkat, dan tepuk tangan menggema memenuhi ruangan.

Selanjutnya, perwakilan dari Kementerian Kebudayaan Korea naik ke podium. Wanita anggun itu mengenakan hanbok modern berwarna biru safir yang berkilau lembut di bawah sorot lampu. Seperti sebelumnya, ia menyapa hadirin lalu menyampaikan pidatonya—bahkan lebih panjang dari pembicara sebelumnya.

Hingga akhirnya wanita itu tersenyum hangat dan menutup pidatonya.

“우리는 예술이 인류의 언어라는 사실을 다시금 깨달았습니다. (Kita kembali menyadari bahwa seni adalah bahasa umat manusia.)”

Tepuk tangan kembali bergema di seluruh aula.

MC kemudian memanggil seorang tokoh dari organisasi sastra internasional. Ia berbicara dalam bahasa Inggris dengan intonasi khas Eropa, suara baritonnya terdengar tenang namun kuat.

“Tonight, we celebrate not only the writers and filmmakers, but also the power of stories to heal, to connect, and to inspire. (Malam ini, kita tidak hanya merayakan para penulis dan pembuat film, tetapi juga kekuatan cerita yang mampu menyembuhkan, menyatukan, dan menginspirasi.)”

Aura khidmat bercampur kebanggaan terasa di setiap sudut ruangan. Pidatonya cukup panjang, sesekali diselingi humor ringan yang mengundang tawa kecil para tamu, mencairkan suasana formal tanpa menghilangkan wibawanya.

Dan setelah pria itu menutup pidatonya, tibalah saat yang paling ditunggu—penyerahan penghargaan.

Lampu sorot menyoroti panggung. Layar LED menampilkan nama kategori yang berbeda—Novel Terbaik, Naskah Terbaik, Adaptasi Film, dan seterusnya. Setiap pemenang dipanggil satu per satu, maju dengan penuh percaya diri menerima trofi kristal yang berkilau di bawah cahaya lampu.

Hingga akhirnya, layar menampilkan:

Winner: Best Contemporary Fiction – A Thread Unbroken, by Nala Aleyra Lareina (Indonesia) (Pemenang: Fiksi Kontemporer Terbaik – Sebuah Benang yang Tak Terputus, karya Nala Aleyra Lareina dari Indonesia).

Jantung Nala serasa berhenti sejenak. Tepuk tangan bergema, membuncah seperti gelombang yang menghantam pantai. Ia berdiri, menghela napas panjang, lalu melangkah menuju panggung.

Gaun hitam sederhana yang dikenakannya tampak elegan saat tersorot lampu. Kainnya jatuh lurus mengikuti langkahnya, memberi kesan anggun tanpa berlebihan. Namun, semua keanggunan itu hampir runtuh ketika pandangannya jatuh pada sosok yang berdiri di tengah panggung—sosok yang tak pernah ia bayangkan akan berada di sana.

Kim Namjunho.

Idol internasional, musisi ternama, sosok yang selama ini hanya ia lihat dari layar, kini berdiri gagah mengenakan tuxedo hitam klasik. Dan bukan hanya berdiri—ia adalah salah satu juri tamu yang mendapat kehormatan untuk menyerahkan penghargaan langsung kepada pemenang. Wajah Nala menegang. Tangannya refleks menggenggam clutch lebih erat.

“Please welcome our guest presenter, Kim Namjunho, leader of SOLIX, to present the award. (Mari kita sambut pembawa penghargaan kita, Kim Namjunho, leader dari SOLIX, untuk menyerahkan piala.)” suara MC menggema, membuat ruangan pecah oleh tepuk tangan dan sorakan kecil dari beberapa hadirin yang mengenali namanya.

Junho melangkah maju, senyum tenang terpampang di wajahnya. Semua mata terfokus pada pria yang kini berdiri di panggung, mengenakan setelan hitam elegan, rambut hitam legam yang tertata rapi, dan ekspresi serius yang tetap tampak menawan.

Sebagai idol, ia tampak sempurna. Tidak ada yang tahu seberapa keras perjuangannya mencapai posisi itu. Di balik penampilannya yang selalu tenang, mungkin ada banyak hal yang tak pernah diketahui orang lain.

Ketika Nala menaiki anak tangga menuju panggung, dunia seolah melambat. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri—keras, beraturan, namun bergetar. Junho menyambutnya dengan tatapan teduh, lalu menyodorkan trofi kaca berukir lambang penghargaan itu.

“Congratulations, Miss Nala Aleyra Lareina. (Selamat, Nona Nala Aleyra Lareina.)” ucapnya dengan suara bariton yang dalam dan tenang.

Nala merasakan telapak tangannya dingin ketika menyentuh trofi itu—lebih tepatnya ketika jari-jarinya bersentuhan singkat dengan jari Junho. Sentuhan sepersekian detik itu terasa lebih lama dari yang seharusnya. Senyum yang seharusnya ia tampilkan hampir goyah, namun ia berhasil menahannya, meskipun sorot matanya sedikit bergetar.

“Th… thank you,” jawab Nala singkat, nyaris berbisik, sebelum akhirnya membungkuk sopan sesuai etiket.

Kilatan kamera dari berbagai arah membuat momen itu terasa abadi. Beberapa pose diambil oleh berbagai media, menangkap detik-detik langka tersebut—terlebih karena Junho berdiri di sana.

Sesekali Nala menunduk, tak menyangka dirinya benar-benar berdiri di samping idolanya sendiri. Padahal beberapa hari lalu, ia dan Rani sempat bercanda tentang hal ini. Ia sama sekali tidak tahu bahwa Junho adalah salah satu juri tamu yang memilih karyanya hingga akhirnya ia bisa berdiri di sini sekarang.

Dan sementara seluruh dunia melihatnya sebagai seorang pemenang yang anggun menerima penghargaan, hanya Nala yang tahu betapa gugup dan kalut dirinya saat itu.

Junho, seolah menyadari kegugupannya, memberikan anggukan kecil dan senyum tipis—sebuah isyarat tenang, seakan berkata,

“You did well. Don’t be afraid. (Kau sudah melakukannya dengan baik. Jangan takut.)”

Dan dengan itu, Nala berdiri di tengah panggung dunia, dengan trofi kristal di tangannya, dan dengan jantung yang masih berdentum hebat karena pertemuan tak terduga dengan sosok yang mungkin kelak mengubah hidupnya.

Junho turun dari panggung setelah memberi penghargaan itu, sementara sorot lampu menyoraki wajah Nala yang sedikit pucat, trophy kristal masih tergenggam erat di tangannya. Ia melangkah ke podium dengan napas yang ditarik panjang, jemarinya sempat bergetar ketika menyentuh mikrofon. Auditorium hening, hanya terdengar desis kamera dan bisik kagum penonton.

“Good Afternoon , ladies and gentlemen… (Selamat malam, hadirin sekalian…),” suaranya terdengar jernih, meski ada jeda singkat seolah ia menahan debar di dadanya.

Ia melirik sekilas ke arah trophy, lalu kembali menatap audiens.

“My name is Nala Aleyra Lareina, and it is an indescribable honor to stand here tonight, receiving this award for A Thread Unbroken. (Nama saya Nala Aleyra Lareina, dan merupakan sebuah kehormatan yang tak terlukiskan bisa berdiri di sini malam ini, menerima penghargaan ini untuk A Thread Unbroken.)” ujar Nala yang membuat beberapa tepuk tangan terdengar.

Nala menelan ludah, mencoba menenangkan diri. Matanya sempat beralih ke sisi panggung, di mana Davin duduk. Tatapan editor itu penuh kebanggaan, dan senyum kecilnya seolah berkata: Aku tahu kau bisa sampai sejauh ini. Nala kembali melanjutkan, suaranya kini lebih mantap, meski jantung masih berdentum kencang.

“This story was born from a thread—an invisible bond that ties us even when distance and time try to tear us apart. And tonight, that thread brought me here. (Cerita ini lahir dari seutas benang—sebuah ikatan tak kasat mata yang tetap menyatukan kita meskipun jarak dan waktu mencoba memisahkan. Dan malam ini, benang itu membawa saya ke sini.)” lanjut Nala sekilas, matanya bertemu dengan Junho yang duduk di kursi para juri tamu.

Pria itu menatapnya dengan senyum tipis, bukan senyum panggung yang biasa ditunjukkannya, melainkan senyum yang hangat—seakan hanya untuknya. Nala langsung merasakan darahnya naik ke wajah, buru-buru menunduk sedikit, melanjutkan pidatonya.

“I would like to thank the organizers of the Seoul International Fiction Award, the honorable jury, and everyone who believes in the power of literature. To my editor, Mr. Davin Pratama, and to my family back home… this award belongs to all of you. (Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara Seoul International Fiction Award, para juri yang terhormat, dan semua orang yang percaya pada kekuatan sastra. Kepada editor saya, Tuan Davin Pratama, dan kepada keluarga saya di tanah air… penghargaan ini milik kalian semua.)” lanjut Nala yang membuat suara tepuk tangan riuh terdengar, beberapa kamera menyorot wajah Davin yang ikut berdiri memberi tepuk tangan paling keras.

Nala menunduk dalam, tersenyum tipis.

Dan tepat di antara keramaian itu, tatapannya kembali menangkap Junho. Idol itu tidak menepuk tangan dengan hingar bingar seperti lainnya, melainkan dengan tenang—mata hitamnya terfokus padanya, bibirnya melengkung sedikit lebih dalam.

Sebuah tatapan penuh makna, seolah hanya mereka berdua yang tahu arti sesungguhnya. Nala menutup pidatonya dengan suara bergetar halus:

“May literature continue to remind us that some threads will never break. Thank you. (Semoga sastra terus mengingatkan kita bahwa ada ikatan yang tak akan pernah terputus. Terima kasih.)” Nala menutup pidatonya dengan membungkuk sopan, memberikan penghormatan kepada seluruh hadirin yang memenuhi auditorium megah itu.

Suara tepuk tangan bergemuruh, mengisi ruangan dengan riuh apresiasi yang membuat setiap detik terasa abadi. Ia mundur perlahan dari podium, trophy kristal yang tersemat di tangannya tampak berkilau di bawah sorot lampu, berat bukan karena materialnya, melainkan karena momen yang baru saja ia lewati.

Dari kejauhan, Davin menatapnya dengan sorot penuh kebanggaan—sorot seorang editor yang tahu betul bagaimana kerasnya perjuangan Nala sampai akhirnya berdiri di panggung dunia. Sementara itu, Junho, yang duduk di kursi para juri tamu, menatap dengan cara berbeda: penuh arti, penuh keheningan, seakan menyimpan pesan yang hanya ia sendiri yang tahu.

Nala kembali ke kursinya dengan langkah sedikit gugup, matanya sempat terarah pada karpet merah tebal di bawah kaki sebelum akhirnya kembali duduk di samping Davin. Tepuk tangan perlahan mereda, dan MC kembali mengambil alih acara, memanggil nama pemenang berikutnya.

Seiring berjalannya waktu, suasana mulai bergeser. Aura khidmat penghargaan masih terasa, tetapi perlahan dilapisi kehangatan dan percakapan yang lebih santai. Para pemenang dari berbagai negara berbaur, saling bertukar senyum, nama, bahkan janji untuk tetap terhubung.

Musik instrumental lembut mengalun di latar, menambah kesan elegan pada ruangan yang masih terbalut formalitas.

Dari kursinya, Nala sesekali melirik ke arah panggung, di mana Junho tampak berbincang dengan beberapa tamu penting. Senyumnya tenang, penuh wibawa, meskipun tetap ada aura fokus yang tak pernah lepas darinya. Junho bukan sekadar seorang idol terkenal; bagi banyak orang, ia adalah simbol inspirasi, termasuk bagi Nala sendiri.

Acara berlangsung dengan khidmat hingga berjam-jam kemudian, akhirnya MC menutup siang itu dengan ucapan selamat kepada seluruh pemenang. Namun, penghargaan tersebut bukanlah titik akhir.

Masih ada satu agenda lain yang menanti: sebuah jamuan makan eksklusif bersama para pemenang dan dewan juri. Untuk sementara, semua tamu dipersilakan beristirahat sejenak di ruang yang telah di sediakan setelah hari yang melelahkan namun dipenuhi kebahagiaan.

1
Araya
drama banget sih orang' tuanya Junho 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ramapratama
Bau bau romansa nya udah kecium 🤣🤣🤣 tapi salut deh sama arc nya mind-blowing banget, biasanya kalau cerita idol idol gini arc nya paling mentok, ketemu tiba-tiba lalu jatuh cinta atau kalau gak. gak sengaja nabrak terus salah satunya suka, tapi Yan ini ada alasan logis nya. keren banget, semangat ya💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!