Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.
Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.
Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.
Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.
Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?
Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanyaan.
Dua hari setelah percakapan di lorong itu, Hana akhirnya membawa buku sketsanya ke sekolah. Semalaman ia menggambar ulang desain kemasan lilin aromaterapi mereka.
Ia memilih warna hijau sage lembut dengan aksen cokelat muda, lalu menambahkan ilustrasi daun kecil di bagian bawah label. Namanya sederhana: Lumière: artinnya cahaya. Ia sempat ragu menuliskan nama itu, takut terdengar terlalu puitis atau terlalu berusaha terlihat berbeda, tetapi untuk sekali ini ia tidak ingin mundur sebelum mencoba.
Saat jam kosong, kelompok mereka kembali berkumpul di sudut kelas yang mulai sepi.
“Oke, Hana mau nunjukin sesuatu katanya,” ujar Gio dengan nada semangat yang terlalu mudah, seolah ia selalu yakin semuanya akan baik-baik saja.
Hana mengeluarkan buku sketsanya pelan-pelan. Tangannya sedikit berkeringat, tetapi ia tetap membuka halaman itu dan mendorongnya ke tengah meja. “Ini cuma konsep awal,” katanya, berusaha terdengar santai walau jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Eliza mendekat lebih dulu. Rambut pirangnya jatuh ke samping saat ia menunduk memperhatikan gambar itu dengan serius. Gio ikut merapat dari sisi lain, bahunya hampir menyentuh bahu Eliza.
Gerakan mereka terasa terbiasa, bukan sesuatu yang direncanakan, hanya refleks dari kedekatan yang sudah lama ada. Eliza sedikit bergeser memberi ruang, tetapi tidak benar-benar menjauh.
Beberapa detik terasa panjang.
“Warnanya bagus,” kata Gio akhirnya. “Kalem. Berasa eco-nya.”
Eliza mengangguk pelan. “Iya, enak dilihat. Kombinasinya nggak norak.” Ia mengamati lebih detail, lalu menunjuk bagian nama produk. “Cuma mungkin font namanya bisa lebih tegas sedikit. Biar nggak terlalu tenggelam sama background.”
Nada suaranya datar dan profesional, sama seperti kalau ia memberi masukan di rapat OSIS. Tidak ada sindiran. Tidak ada nada meremehkan.
Namun, di kepala Hana, kalimat itu berubah bentuk. Kurang bagus. Masih kurang. Belum cukup.
“Oh… iya,” jawabnya cepat. “Aku bisa ganti.”
Arga yang sejak tadi memperhatikan tanpa banyak ekspresi akhirnya berbicara. “Konsepnya sudah pas. Packaging kamu malah paling kuat sejauh ini. Kalau mau diperbaiki, itu detail saja.”
Eliza langsung mengangguk. “Iya, maksudku juga detail kecil. Secara konsep sudah oke kok. Aku suka idenya yang simpel.”
Gio menepuk meja pelan. “Berarti kita sepakat pakai konsep Hana sebagai dasar. Tinggal kita revisi bareng-bareng.”
Sepakat. Kata itu terdengar jelas, tetapi perasaan lega yang seharusnya muncul tidak sepenuhnya datang.
Saat mereka mulai membahas teknis produksi dan pembagian tugas, ponsel Gio bergetar di atas meja. Layar menyala beberapa detik sebelum ia sempat mematikannya.
Hana tidak berniat melihat, tetapi matanya terlanjur menangkap wallpaper di sana: foto Gio dan Eliza berdampingan di acara kelulusan beberapa bulan lalu. Eliza tertawa ke arah kamera, Gio sedikit menoleh ke arahnya dengan ekspresi yang lebih lembut dari biasanya.
“El, nanti jadi kan?” tanya Gio sambil mengetik balasan singkat.
Eliza mengangguk tanpa perlu banyak kata. “Iya. Jam lima, ya.”
“Oke. Aku jemput.”
Percakapan itu singkat dan alami, seperti sesuatu yang sudah mereka lakukan berkali-kali. Tidak ada pamer kemesraan. Tidak ada nada dibuat-buat. Justru karena terlihat biasa, kedekatan itu terasa semakin nyata.
Hana menunduk kembali pada sketsanya dan pura-pura fokus pada garis ilustrasi daun kecil yang ia buat semalam.
Siang itu, saat Nisa mengajaknya ke kantin, Hana tidak terlalu banyak bicara. Ia hanya mengaduk minumannya lebih lama dari yang diperlukan.
“Kamu kenapa sih dari tadi?” tanya Nisa.
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Kok kayak mikir jauh banget?”
Hana tersenyum kecil. “Cuma capek.”
Nisa memperhatikannya beberapa detik sebelum berkata pelan, “Eliza tadi bilang desainmu bagus loh. Dia bilang kamu punya sense warna yang kuat. Gio juga keliatan bangga banget waktu kamu buka sketsanya.”
Kata bangga membuat dada Hana terasa aneh. Ia mencoba mengingat kembali momen tadi, tetapi yang terulang di kepalanya hanya kalimat tentang font yang kurang tegas.
“Oh,” jawabnya pelan. “Aku nggak dengar.”
Nisa menyipitkan mata, lalu bertanya lebih hati-hati,
“Kamu sama Eliza kenal dari dulu, ya? Sama Gio juga?”
“Iya.”
“Kalian dulu satu circle?”
Hana mengangguk kecil. “Satu kelas.”
“Terus mereka jadian dari situ?”
“Iya.”
“Lama?”
“Lumayan.”
Nisa terdiam, seperti menyusun potongan yang baru ia pahami. “Oh… pantes.”
“Pantes apa?”
“Interaksi mereka kelihatan beda. Nggak lebay, tapi kayak udah saling ngerti aja. Tapi kamu capek nggak sih pura-pura biasa aja?”
Pertanyaan itu tidak terdengar menghakimi, hanya jujur. Hana ingin tertawa dan bilang itu bukan masalah besar, tetapi lelah untuk menyusun kalimat yang terdengar kuat
.
“Aku nggak apa-apa,” katanya akhirnya, walau suaranya tidak seyakinkan yang ia harapkan.
Nisa menatapnya lembut. “Aku nggak bilang kamu kenapa-kenapa. Cuma jangan terlalu keras sama diri sendiri.”
Kalimat itu mengendap lebih lama dari yang ia duga.
Sore harinya, ketika bel pulang berbunyi dan kelas mulai kosong, Hana membereskan tasnya lebih cepat dari biasanya. Ia hampir berdiri ketika Eliza mendekat.
“Hana.”
Ia menoleh.
“Kalau kamu mau, nanti kita bisa cari referensi font bareng. Aku sama Gio mau ke perpustakaan juga. Sekalian aja.” Nada suaranya terbuka dan tulus. Tidak ada nada pamer. Tidak ada niat membuatnya merasa tertinggal.
Hana sempat melihat cara Gio berdiri sedikit lebih dekat ke Eliza, bukan posesif, hanya refleks kebiasaan. Seperti dua orang yang sudah lama berjalan di ritme yang sama.
“Nggak apa-apa. Aku bisa cari sendiri,” jawab Hana pelan.
Eliza terlihat sedikit terkejut, tetapi tetap tersenyum. “Oke. Kalau butuh bantuan bilang aja.”
Gio ikut menambahkan, “Iya, jangan dipendem sendiri.”
Hana menatapnya sepersekian detik lebih lama dari yang seharusnya. Dulu, ia yang paling sering bercerita padanya, tentang hal-hal kecil yang bahkan tidak penting. Sekarang jarak di antara mereka bukan lagi soal tempat duduk atau kelompok tugas, melainkan waktu yang sudah berjalan tanpa menunggunya.
“Aku nggak apa-apa,” katanya lagi, lebih pada dirinya sendiri daripada mereka.
Arga yang sejak tadi diam akhirnya berkata tenang, “Kadang orang memang cuma butuh waktu buat terbiasa.”
Tidak ada yang langsung menjawab, tetapi kalimat itu terasa tepat sasaran. Dalam perjalanan pulang, Hana berjalan sedikit lebih cepat dari biasanya. Dari kejauhan ia sempat melihat Gio dan Eliza berjalan berdampingan menuju gerbang.
Mereka tidak bergandengan tangan, tidak tertawa keras, hanya berjalan dekat dengan cara yang nyaman, sesekali berbicara pelan. Pemandangan itu sederhana, tetapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa ada fase hidup yang memang sudah lewat tanpa bisa ia ulang.
Angin sore menyentuh wajahnya saat ia melangkah sendirian. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa tidak ada yang salah, tidak ada yang menyerangnya, tidak ada yang sengaja membuatnya merasa kecil.
Namun, tetap saja, di sudut hatinya ada suara kecil yang bertanya mengapa setiap pujian selalu terasa lebih pelan dibanding satu koreksi kecil, dan mengapa melihat dua orang yang pernah sedekat itu dengannya sekarang terasa seperti berdiri di luar jendela rumah yang dulu pernah ia tempati.
Kalau ia memang cukup, kenapa ia masih merasa dibandingkan?
Pertanyaan itu tidak dijawab siapa pun, dan justru karena itulah ia terasa jauh lebih melelahkan daripada kritik mana pun.