NovelToon NovelToon
Arsitek Dosa

Arsitek Dosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Epik Petualangan / Drama
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: Noxalisz

Di tengah, Ilyas Renvar, remaja laki-laki cerdas berusia 21 tahun, terlihat dengan ekspresi serius dan misterius, mengenakan pakaian gelap penuh lapisan dan armor ringan, tangannya memancarkan aura energi supranatural.
Di belakangnya, Seraphine Vaelor, wanita cantik dengan rambut pirang panjang, berdiri dengan sikap elegan namun dingin, menunjukkan kekuatan dan dominasi intelektualnya. Di langit kelam, samar-samar muncul wujud Arsitek—entitas tak kasatmata yang mempengaruhi dunia.
Di bagian bawah, seorang pria tua menunduk, seolah menunggu eksekusi, dikelilingi pasukan bersenjata, menegaskan sistem kekuasaan brutal di kota Varethra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisikan dari Bawah Tanah 3 (akhir)

Mira tidak pernah menyukai Distrik Bawah.

Bukan karena kemiskinannya—ia dibesarkan di distrik yang sama, tahu persis seperti apa rasanya tidur dengan perut kosong dan pakaian basah karena atap bocor. Bukan karena baunya—ia telah menghirup bau sampah, bau keringat, bau darah selama bertahun-tahun sebagai prajurit bayangan, dan paru-parunya sudah mati rasa terhadap segala jenis bau. Bukan karena bahayanya—ia telah membunuh lebih banyak orang daripada yang bisa ia ingat, dan tidak ada satu pun dari mereka yang terbukti sulit untuk dikirim ke alam baka.

Tidak. Mira tidak menyukai Distrik Bawah karena di sinilah ia menyaksikan ibunya mati.

Itu terjadi lima belas tahun lalu, ketika ia baru berusia sepuluh tahun. Ibunya—seorang wanita kurus dengan mata cokelat lelah dan tangan yang selalu dingin—terkena demam yang tidak bisa disembuhkan oleh tabib mana pun di distrik itu. Bukan karena demamnya mematikan. Tapi karena tidak ada yang mau mengobati orang miskin. Jadi ibunya terbaring di tempat tidur kumuh itu selama tiga minggu, meracau tentang malaikat dan iblis, sampai akhirnya ia berhenti bernapas pada suatu pagi ketika hujan gerimis dan udara terasa seperti kain basah yang menempel di kulit.

Mira tidak menangis saat itu. Ia belum pernah menangis sejak itu.

Sekarang, dua puluh lima tahun, rambut pendek gelap, bekas luka di rahang kiri dari pertarungan pisau tiga tahun lalu, ia berdiri di depan sebuah pintu kayu yang tampak seperti bagian dari dinding. Tidak ada gagang. Tidak ada engsel. Hanya retakan tipis di sekelilingnya.

Ia telah mengikuti instruksi Renaux dengan tepat: pergi ke gang antara Pasar Ikan dan Gudang Tua, hitung tujuh pintu dari ujung timur, lalu ketuk tiga kali, jeda, ketuk dua kali, jeda, ketuk sekali.

Mira mengetuk.

Pintu itu terbuka dengan sendirinya, tanpa suara, seperti mulut hantu yang menganga.

Di dalam, seorang pemuda dengan jubah abu-abu gelap duduk di kursi kayu sederhana, matanya tertuju pada Mira dengan ketenangan yang membuatnya merasa seperti sedang berdiri di depan tebing—satu langkah lagi, dan ia akan jatuh tanpa bisa kembali. Di sudut ruangan, seorang pria tua dengan wajah keriput dan mata sembab sedang meregangkan punggungnya, baru saja bangun dari tidur yang mungkin tidak nyenyak.

"Ilyas Renvar," kata Mira. Bukan pertanyaan. Pengakuan.

Pemuda itu tidak menjawab. Ia hanya terus menatapnya, dan dalam keheningan itu, Mira merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sejak meninggalkan pasukan bayangan: ketakutan. Bukan ketakutan akan kematian—ia sudah lama berdamai dengan kemungkinan itu. Tapi ketakutan akan sesuatu yang lebih dalam. Ketakutan bahwa orang di depannya ini bisa melihat melalui dirinya, menembus semua lapisan kebohongan dan kepura-puraan, sampai ke inti yang bahkan ia sendiri tidak ingin lihat.

"Siapa yang mengirimmu?" tanya Ilyas akhirnya, suaranya datar seperti permukaan danau di hari tanpa angin.

"Seraphine Vaelor."

Nama itu menggantung di udara. Ilyas tidak bereaksi—tidak ada kedipan mata, tidak ada perubahan ekspresi—tetapi Eldrin Voss, yang tadinya setengah tertidur, tiba-tiba duduk tegak dengan mata terbelalak.

"Seraphine Vaelor?" ulang Voss, suaranya meninggi. "Kepala keluarga Vaelor? Wanita yang katanya bisa melihat masa depan?"

"Itu dia," konfirmasi Mira. "Dia mengirimku untuk menawarkan... kerja sama."

Ilyas mengangkat satu alis—gerakan kecil, hampir tidak terlihat, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia tertarik, meskipun ia tidak ingin terlihat tertarik. "Kerja sama? Atau perangkap?"

"Kau bisa memutuskan sendiri." Mira melemparkan sebuah amplop kecil ke lantai di antara mereka. Amplop itu jatuh dengan suara tipis, dan dari dalamnya, sebuah kartu kecil berwarna krem meluncur keluar. Di atas kartu itu tertulis satu kalimat, dalam tulisan tangan yang rapi dan feminin:

"Aku tahu siapa yang menghancurkan hidupmu. Aku juga tahu bahwa dia tidak akan berhenti sampai seluruh Varethra rata dengan tanah. Jika kau ingin menghentikannya, temui aku di Perpustakaan Tua, tengah malam, tiga hari lagi. Datang sendiri."

Ilyas membaca kartu itu dua kali. Kemudian ia meletakkannya di atas lututnya dan menatap Mira lagi.

"Kau pernah menjadi prajurit bayangan Thalric," katanya. Bukan pertanyaan. Pernyataan.

Mira merasakan otot-ototnya menegang. "Bagaimana kau tahu?"

"Karena kau berdiri dengan berat badan di kaki kiri—posisi siap menyerang yang diajarkan hanya di akademi militer Thalric. Karena bekas luka di rahangmu memiliki pola yang sama dengan luka yang ditinggalkan oleh pisau pelatihan standar pasukan bayangan. Dan karena kau memasuki ruangan ini tanpa mengetuk—kebiasaan buruk yang hanya dimiliki oleh orang yang terbiasa masuk ke tempat yang tidak seharusnya ia masuki."

Mira tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia telah dilatih untuk tidak menunjukkan emosi, untuk tetap diam seperti batu, untuk tidak memberikan apa pun kepada musuh. Tapi pemuda ini... pemuda ini membaca dirinya seperti buku terbuka, hanya dalam waktu beberapa detik.

"Aku bukan lagi prajurit bayangan," kata Mira, dan ia mendengar nada defensif dalam suaranya—nada yang ia benci. "Aku membelot tiga tahun lalu."

"Membelot karena hati nurani, atau karena penawaran yang lebih baik?"

"Apakah perbedaannya penting?"

Ilyas tersenyum. Senyum pertama yang Mira lihat dari pemuda itu, dan itu adalah senyum yang tidak membuatnya merasa nyaman. Ada sesuatu di sana—kepahitan, mungkin, atau pengertian yang terlalu dalam tentang sifat manusia.

"Tidak," aku Ilyas. "Tidak penting. Yang penting adalah kau di sini, kau membawa pesan dari Seraphine Vaelor, dan kau masih hidup setelah memasuki rumah amanku—yang berarti kau cukup pintar untuk tidak membawa senjata atau mencoba hal-hal bodoh."

Ia bangkit dari kursinya, dan untuk sesaat, energi ungu di tangannya berdenyut—hanya sekilas, tetapi cukup untuk membuat Mira secara naluriah mundur setengah langkah.

"Katakan pada Seraphine bahwa aku akan datang," kata Ilyas. "Tapi bukan karena aku percaya padanya. Aku akan datang karena aku ingin melihat wajahnya ketika aku bertanya mengapa keluarganya—salah satu dari empat keluarga besar yang mengendalikan Varethra—tidak melakukan apa pun untuk menghentikan pembangunan menara-menara itu. Mengapa mereka diam. Mengapa mereka membiarkan tiga ratus tujuh puluh dua orang mati."

Mira mengangguk, meskipun ia tidak yakin apakah ia akan menyampaikan pesan itu persis seperti itu. "Apa yang harus aku katakan jika dia bertanya tentang kekuatanmu?"

"Katakan padanya bahwa kekuatanku bukan hadiah. Katakan padanya bahwa setiap kali aku menggunakannya, aku kehilangan sesuatu—sesuatu yang tidak bisa aku dapatkan kembali. Dan katakan padanya bahwa jika dia benar-benar bisa melihat masa depan, maka dia sudah tahu bahwa aku bukan sekutu yang mudah."

Mira pergi seperti ia datang—tanpa suara, tanpa jejak, seperti hantu yang tidak pernah benar-benar ada.

Eldrin Voss menatap pintu yang tertutup itu untuk waktu yang lama, kemudian menoleh ke Ilyas dengan ekspresi gelisah. "Kau benar-benar akan pergi ke pertemuan itu?"

"Iya."

"Itu bisa jadi perangkap."

"Pasti perangkap." Ilyas berjalan ke jendela bundar, menatap Menara Keadilan yang masih berdiri di kejauhan. "Tapi perangkap yang menarik. Seraphine Vaelor tidak akan mengirim utusan jika dia hanya ingin menangkapku atau membunuhku. Dia memiliki sumber daya yang jauh lebih efisien untuk itu. Dia mengirim Mira karena dia ingin aku tahu bahwa dia mengirim Mira. Dia ingin aku tahu bahwa dia bisa menemukanku kapan pun dia mau. Itu adalah... undangan. Atau mungkin ancaman terselubung."

"Dan kau tidak takut?"

Ilyas tertawa—tawa pendek, tanpa kegembiraan. "Aku takut setiap hari, Arsitek Tua. Hanya saja aku sudah belajar untuk tidak membiarkan ketakutan mengendalikan keputusanku."

Ia berbalik menghadap Voss, dan untuk pertama kalinya malam itu, cahaya di matanya redup—menjadi abu-abu kusam, seperti langit sebelum badai.

"Sekarang tidurlah. Besok kita akan mulai memetakan menara-menara itu. Dan dalam tiga hari, kita akan bertemu dengan wanita yang mungkin menjadi sekutu terbesar kita—atau musuh paling berbahaya yang pernah kita hadapi."

Voss mengangguk, meskipun ia tahu ia tidak akan bisa tidur malam itu. Pikirannya terlalu sibuk—tentang putrinya, tentang menara-menara yang runtuh, tentang Arsitek yang entah di mana sedang menyusun cetak biru berikutnya.

Ilyas duduk kembali di kursinya, menutup mata, dan untuk beberapa saat, ruangan itu sunyi kecuali suara api di perapian yang tidak membakar kayu.

Namun di luar, di kegelapan Distrik Bawah, sesuatu bergerak.

Bukan Mira. Mira sudah pergi, meninggalkan jejak langkah yang menghilang di tikungan pertama.

Bukan pasukan bayangan Thalric. Mereka masih sibuk mencari di distrik yang salah, dipimpin oleh informasi yang sengaja disebarkan oleh agen-agen Seraphine.

Bukan warga biasa. Mereka sudah tidur, atau berpura-pura tidur, karena di Varethra, orang yang terjaga di tengah malam adalah orang yang mencari masalah.

Bukan.

Apa yang bergerak di kegelapan itu tidak memiliki bentuk yang bisa dikenali oleh mata manusia. Ia seperti kabut—kabut yang terlalu pekat, terlalu gelap, terlalu hidup. Ia merayap di antara dinding-dinding batu, melewati celah-celah yang tidak pernah dilihat siapa pun, turun ke saluran air kotor yang menghubungkan Distrik Bawah dengan fondasi Menara Keadilan.

Dan di kedalaman saluran itu, di tempat yang tidak pernah tersentuh cahaya matahari, kabut itu berhenti.

Ia berdenyut.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Dan kemudian, dari dalam denyutan itu, sebuah suara muncul—bukan suara yang bisa didengar oleh telinga manusia, tetapi suara yang terasa di tulang, di sumsum, di bagian paling dalam dari kesadaran.

"Dia telah menemukan arsitek tua itu," bisik suara itu. "Seperti yang telah kuperkirakan. Seperti yang telah kutulis dalam cetak biru."

Kabut itu berputar, membentuk pusaran kecil, dan di tengah pusaran itu, untuk sesaat, sebuah mata terbuka.

Mata tanpa kelopak. Mata tanpa putih. Mata yang seluruhnya berwarna ungu—ungu yang sama persis dengan energi di tangan Ilyas Renvar.

"Biarkan mereka bertemu," lanjut suara itu. "Biarkan mereka berpikir bahwa mereka memiliki kendali. Biarkan mereka merencanakan, berkonspirasi, membangun harapan di atas reruntuhan masa lalu. Karena semakin tinggi mereka membangun harapan mereka, semakin indah kehancuran mereka nanti."

Kabut itu mulai menyebar lagi, merayap ke segala arah, memasuki pori-pori batu, memasuki akar-akar pohon yang mati di atas tanah, memasuki mimpi-mimpi orang-orang yang tidur di Distrik Bawah.

Dan di dalam mimpi-mimpi itu, mereka semua melihat hal yang sama:

Sebuah menara.

Menara yang menjulang begitu tinggi sehingga puncaknya tidak terlihat.

Menara dengan jendela-jendela berbentuk mata.

Menara yang sedang runtuh.

Perlahan.

Sangat perlahan.

Batu demi batu.

Jiwa demi jiwa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!