NovelToon NovelToon
Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Tiga tahun lamanya Andini mencurahkan seluruh pengabdiannya sebagai istri saleha, namun ia justru dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Ia diusir tanpa membawa uang sepeser pun oleh Reno, suaminya sendiri, yang lebih memilih Siska karena pengakuan kehamilannya. Setelah kenyang menerima hinaan sebagai perempuan mandul yang sekadar menumpang hidup, Andini bersumpah untuk bangkit dari puing-puing kehancurannya.

Saat Andini akhirnya berhasil bertransformasi menjadi sosok wanita karier yang mandiri, elegan, dan sulit digapai, Reno datang kembali sambil merangkak penuh penyesalan. Namun, sebuah map cokelat yang telah disiapkan Andini siap meruntuhkan sisa-sisa kesombongan pria itu. Sebuah rahasia medis yang mencengangkan akhirnya terungkap: Reno sebenarnya mandul, dan anak yang selama ini ia puja-puja hanyalah buah dari pengkhianatan Siska. Inilah saatnya karma instan mulai bekerja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Siasat di Balik Meja Kerja

Dua pekan berlalu. Seperti dugaan Farhan, dewan direksi Al-Fatih Group akhirnya memberikan lampu hijau untuk proposal yang diajukan oleh Karina. Analisis risikonya yang tajam dinilai mampu memangkas anggaran proyek superblock secara signifikan. Secara profesional, memang tidak ada alasan bagi perusahaan untuk menampik kerja sama tersebut. Kini, Karina resmi bergabung sebagai konsultan independen khusus untuk proyek CBD Menteng.

Pada hari pertama Karina bertugas, suasana di lantai tiga puluh kantor Al-Fatih Group terasa sedikit lain. Karina melangkah di sepanjang koridor dengan blazer berpotongan tegas, memancarkan aura perempuan karier modern yang sarat percaya diri.

"Selamat pagi, Pak Farhan," sapanya dengan senyum profesional sembari melangkah masuk ke ruang kerja Farhan untuk menyerahkan laporan evaluasi awal. Ada binar kemenangan tipis di matanya karena merasa telah berhasil menembus pertahanan kantor tersebut.

Farhan mendongak dari balik laptop. Ekspresi wajahnya datar saja, seolah sama sekali tidak terusik oleh pesona yang dipamerkan perempuan di hadapannya.

"Selamat pagi. Letakkan saja laporannya di meja Sarah. Saya akan memeriksanya sore nanti sebelum rapat koordinasi," sahut Farhan dingin, bahkan tanpa mengalihkan pandangan dari berkas di tangannya.

Karina bergeming. Ia justru melangkah mendekat ke meja kerja Farhan. "Farhan, di luar jam rapat, bisakah kita mengobrol santai sebagai kawan lama? Tante Sofia bilang, belakangan ini kamu terlalu kaku. Kita kan bekerja untuk tujuan yang sama demi kesuksesan Al-Fatih Group."

Farhan menghentikan jemarinya di atas papan ketik. Ia menegakkan punggung, menatap Karina dengan tatapan tajam yang mengintimidasi.

"Karina, mari kita perjelas satu hal," suara Farhan terdengar rendah namun penuh penekanan. "Di gedung ini, statusmu adalah konsultan kontrak, dan saya adalah pimpinan perusahaan. Tidak ada hubungan pertemanan lama atau koneksi keluarga Tante Sofia yang berlaku di sini. Jika kamu menginginkan profesionalitas, bersikaplah sesuai batasan."

Wajah Karina sempat menegang sejenak. Gengsinya sebagai alumnus Oxford terusik oleh penolakan mentah-mentah itu. Namun, ia segera menarik napas panjang dan memaksakan sebuah senyuman. "Baik, Pak Farhan. Saya mengerti. Saya permisi dulu."

Seusai pertemuan formal yang kaku itu, Farhan turun ke kafe di lobi lantai dasar untuk sekadar membeli kopi dan menyegarkan pikiran. Namun, Karina yang terus mengawasi gerak-gerik pria itu sengaja membuntutinya.

Saat Farhan baru saja duduk di meja pojok menanti pesanannya, Karina tiba-tiba muncul dan duduk tepat di hadapannya. Ia menyodorkan selembar memo dengan dalih ada satu poin analisis risiko yang terlewat saat di ruang kerja tadi. Meski terkejut, Farhan hanya mengernyitkan dahi sembari mendengarkan pertanyaan formal itu selama tak lebih dari dua menit, sebelum akhirnya ia bergegas kembali ke atas setelah kopinya siap.

Namun, dua menit itu sudah lebih dari cukup bagi orang-orang suruhan Karina yang bersiap di sudut kafe. Mereka mengambil foto secara candid dari sudut tertentu agar Farhan dan Karina tampak seolah sedang asyik mengobrol intim di luar jam kantor.

Sore harinya, di kantor pusat Nadir Label, Andini tengah meninjau laporan keuangan bulanan bersama Citra. Di tengah diskusi mereka, gawai Andini bergetar. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor asing, menampilkan foto manipulatif di kafe tadi disertai kalimat provokatif:

"Kak Andini, sekadar berbagi info profesional. Suami Kakak sepertinya sangat menikmati diskusi bisnis dengan konsultan barunya hari ini di kafe bawah kantor. Dunia kerja kelas atas memang terkadang menuntut kedekatan yang lebih, ya? Semoga Kakak tidak terlalu cemas di rumah."

Citra yang ikut melirik layar gawai Andini seketika naik pitam. Wajahnya merah padam menahan gusar. "Astagfirullah! Ini pasti ulah si Karina atau antek-antek Tante Sofia! Murahan sekali caranya! Ndin, kamu jangan diam saja. Ini sudah keterlaluan!"

Andini menatap foto itu cukup lama. Jantungnya sempat berdesir, namun akal sehatnya segera mengambil alih. Sebagai perempuan yang matang, ia tahu betul bahwa jebakan emosi inilah yang sedang dinanti oleh musuhnya. Jika ia langsung menelepon Farhan sambil menangis atau marah-marah, maka skenario Tante Sofia untuk melabelinya sebagai istri yang cemburuan dan tidak paham dunia bisnis akan berhasil.

Andini meletakkan ponselnya di atas meja dengan tenang. Tidak ada air mata, apalagi kepanikan.

"Mereka sedang memancingku, Cit," ujar Andini dengan suara jernih dan berwibawa. "Mereka ingin aku terlihat lemah dan kekanak-kanakan di depan Mas Farhan. Tapi mereka lupa, aku sudah pernah melewati badai yang jauh lebih besar daripada sekadar foto manipulasi semacam ini."

Andini kemudian mengetik balasan singkat namun menohok untuk nomor tak dikenal tersebut:

"Terima kasih atas fotonya. Suami saya memang selalu profesional dan berdedikasi tinggi pada pekerjaannya. Saya sendiri yang menyetujui proposal Karina untuk membantu Al-Fatih Group. Senang melihat konsultan baru kami bekerja keras di bawah pengawasan suami saya. Selamat bekerja."

Setelah mengirim pesan itu, Andini langsung memblokir si pengirim. Ia menoleh ke arah Citra yang masih terperangah kagum.

"Ndin... kamu... kok bisa setenang itu?" tanya Citra takjub.

Andini tersenyum tipis, matanya berkilat penuh ketegasan. "Karena aku percaya pada suamiku, Cit. Tapi, bukan berarti aku akan membiarkan ular ini terus merayap di sekitar rumah tanggaku. Besok ada acara makan siang asosiasi pengusaha properti di Hotel Mulia, dan Al-Fatih Group diundang sebagai pembicara utama. Mas Farhan memintaku datang mendampinginya."

Andini berdiri, merapikan blazer-nya yang anggun. "Aku akan datang, Cit. Dan akan kutunjukkan kepada Karina serta Tante Sofia, siapa pemilik benteng yang sesungguhnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!