"Paksu... Calla janji tobat dan bakal jadi istri yang solehot buat Paksu! Asal... jangan taroh Calla di barak militer, Calla enggak mau merangkak dilumpur!"
Demi wasiat Papa, Callanta (21 tahun) terpaksa menikah dengan pria berbaju kumal yang dikira karyawan biasa. Namun pasca-nikah, pria itu membuka jaketnya dan berubah menjadi Komandan Pasukan Khusus berusia 38 tahun yang kaku, galak, dan seumuran pamannya!
Takut dididik fisik di barak karena sifat manjanya, Calla langsung mengeluarkan mode cegil (cewek gila): merayu sang suami dengan janji jadi "Istri Solehot" (Solehah tapi Hot).
Dimulailah perang domestik yang kocak: disiplin militer vs daster mini, tangisan bombay vs bentakan bariton, hingga aksi sang Komandan yang terpaksa lari maraton tengah malam demi menjaga imannya—sementara Calla asyik ronda di pinggir lapangan sambil bawa raket nyamuk listrik!
Mampukah Komandan kaku menjinakkan istri kecilnya? Atau justru ia yang takluk di bawah kuasa raket nyamuk sang Ismut (Istri Imut)?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 5
"Paksu, merem dulu! Jangan ngintip!"
Alaric yang sudah berdiri tegap di samping mobil SUV hitamnya selama hampir sepuluh menit hanya bisa menghela napas panjang. Ia melirik jam tangan taktisnya—pukul satu kurang dua menit. Setidaknya, istri kecilnya itu tidak terlambat dari garis waktu militer yang ia tetapkan.
"Saya tidak mengintip, Calla. Cepat keluar, kita bisa terlambat," sahut Alaric dengan suara baritonnya yang tenang namun tegas.
Pintu rumah dinas bercat hijau itu terbuka perlahan. Begitu sosok Calla muncul di ambang pintu, kata-kata Alaric mendadak tertelan kembali ke tenggorokannya. Sepasang mata elang sang Komandan melebar, dan untuk beberapa detik, ia lupa bagaimana caranya berkedip.
Calla berdiri di sana, benar-benar bertransformasi dari mode daster kuning matahari tadi pagi. Ia mengenakan kemeja putih bersih berpotongan modis yang pas di tubuh mungilnya, dipadukan dengan celana bahan hitam model highwaist yang membuat kakinya terlihat jenjang. Rambut panjang bergelombangnya diikat setengah model half updo, menyisakan beberapa helai poni yang membingkai wajah cantiknya dengan sempurna. Puncaknya, bibir tipisnya dipoles lipstik berwarna peach pink yang segar, ceria, dan... sangat mengundang.
"Gimana? Cantik, kan? Aset negara nggak pernah gagal, kan, Paksu?" Calla berjalan mendekat sambil tersenyum lebar, sengaja memutar tubuhnya sekali di depan Alaric yang masih membeku seperti patung selamat datang.
Alaric berdehem keras, buru-buru memalingkan wajahnya yang mendadak terasa panas. "Sopan. Begitu lebih baik daripada daster kuningmu."
"Ih, bilang cantik aja gengsi banget sih om-om ini!" Calla mencebikan bibirnya, lalu langsung membuka pintu mobil sendiri. "Ayo jalan, nanti studionya penuh!"
Proses pengurusan berkas di kantor staf personel berjalan lebih lambat dari perkiraan Calla, namun kilatan lampu di studio foto luar pangkalan adalah bagian yang paling ia tunggu. Setelah berjam-jam berkutat dengan tanda tangan dan cap jempol, sesi foto formal akhirnya selesai.
"Mas, Mbak, foto formal berlatar merahnya sudah cukup ya untuk dokumen," ujar mas-mas fotografer sambil menurunkan kameranya. "Mau sekalian foto gaya bebas buat kenang-kenangan? Bonus dari studio untuk pasangan baru."
"Boleh banget, Mas! Mau, mau!" seru Calla bersemangat, langsung menggeser duduknya di bangku studio agar lebih menempel pada tubuh kekar Alaric.
Alaric menegang, melirik Calla dari samping. "Untuk apa? Dokumen dinas tidak butuh gaya bebas, Calla."
"Ini buat pajangan di dompet Ismut, Paksu! Ih, buruan siap-siap, Mas fotografernya udah mau jepret itu!" Calla menarik lengan seragam Alaric, memaksanya menghadap kamera. "Satu... dua... tiga..."
CEKREK!
Tepat pada hitungan ketiga, Calla mendongak dan mendaratkan satu kecupan genit yang cukup berisik di pipi kanan Alaric.
MUACH!
Alaric tersentak kaget, matanya melotot sempurna ke arah kamera. Di detik yang sama, kilatan lampu studio mengabadikan ekspresi pasrah bin kaget sang Komandan Pasukan Khusus dengan bekas lipstik peach pink yang tercetak jelas di pipinya yang kaku.
"Wah, dapet nih! Keren banget ekspresinya, Komandan!" Mas fotografer terkekeh geli melihat wajah Alaric yang perlahan tapi pasti berubah menjadi merah padam sampai ke leher.
"Calla! Apa yang kamu lakukan? Ini di tempat umum," bisik Alaric dengan suara tertahan, buru-buru mengusap pipinya dengan sapu tangan sambil melangkah keluar dari studio dengan langkah cepat.
"Hahaha! Biar semua orang tahu kalau Komandan paling galak di pangkalan itu punya Ismut yang gemesin!" Calla berlari kecil menyusul di belakang Alaric, tertawa cekikikan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit membelah pinggiran kota, mobil SUV hitam Alaric berbelok masuk ke sebuah pekarangan rumah joglo modern yang sangat luas dan asri. Pohon-pohon bonsai besar dan tanaman hias tertata rapi di sepanjang jalan masuk.
"Paksu... kita mau ke mana? Ini bukan jalan balik ke markas," tanya Calla, nada suaranya mendadak melunak dan agak gugup saat melihat kemewahan rumah di depannya.
"Rumah orang tua saya," jawab Alaric singkat sambil mematikan mesin mobil. Ia menoleh, menatap Calla yang mendadak meremas jemarinya sendiri. "Jangan takut. Mereka tidak menggigit."
"Ih, tetep aja Calla deg-degan! Calla kan belum beli hantaran, belum beli buah buat mertua!" rengek Calla, matanya mulai berkaca-kaca karena panik dadakan.
"Tidak perlu. Kedatanganmu sudah cukup," ujar Alaric lembut, sebuah nada yang sangat jarang ia gunakan. Ia turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Calla.
Sebelum Calla sempat melangkah turun, pintu utama rumah besar itu sudah terbuka. Muncul seorang pria paruh baya bertubuh tegap, berambut putih namun masih memancarkan aura gagah seorang Jenderal purnawirawan. Di sampingnya, berdiri seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat elegan, anggun, dengan wajah yang masih sangat cantik dan memancarkan kehangatan seorang ibu.
"Alaric! Kamu ini ya, bawa mantu Mama kok nggak bilang-bilang dulu!"
Wanita itu—Diah, ibu Alaric—langsung setengah berlari menuruni anak tangga teras. Bukannya menyapa putranya, Diah justru langsung meraih kedua tangan Calla, menatap menantunya dengan mata berbinar-binar.
"Ya ampun... cantik sekali kamu, Sayang. Mirip sekali dengan foto yang sering diceritakan almarhum Harjuno," ucap Diah lembut, lalu tanpa ragu langsung membawa Calla ke dalam pelukan hangatnya. wangi melati yang menenangkan dari tubuh Diah seketika meruntuhkan seluruh rasa gugup Calla.
"T-terima kasih, Tante... eh, Mama..." bisik Calla canggung, namun perlahan ia membalas pelukan itu dengan erat. Kerinduan akan sosok ibu yang sudah lama hilang mendadak menyeruak di dadanya.
"Panggil Mama, Sayang. Mulai hari ini kamu anak Mama," sahut Diah sambil mengusap air mata yang sempat menggenang di sudut mata Calla, lalu beralih menatap suaminya. "Pa, lihat ini, mantu kita cantik sekali, kan? Tidak salah Harjuno menjodohkannya dengan anak kaku kita ini."
Jenderal purnawirawan Vance berjalan mendekat dengan langkah mantap. Ia menepuk pundak tegap Alaric sekali, lalu beralih menatap Calla dengan senyum hangat yang ramah, sangat kontras dengan wajah tegasnya.
"Selamat datang di keluarga kami, Callanta. Harjuno adalah sahabat terbaik saya di militer dulu. Kamu tidak perlu sungkan di sini. Jika si kaku Alaric ini macam-macam atau membuatmu menangis, laporkan pada Papa. Biar Papa jemur dia di lapangan golf," ujar Papa Alaric dengan nada bercanda yang berwibawa.
Calla langsung mendongak, melirik ke arah Alaric yang hanya bisa berdiri kaku dengan posisi siap di samping mobil. "Beneran ya, Papa? Paksu itu emang kaku banget dari kemarin! Ismut sering dibentak pakai suara segede gaban!" adu Calla bersemangat, mode manja dan cegil-nya langsung kembali aktif karena merasa mendapat bekingan kuat.
Alaric hanya bisa memijat pelipisnya, menatap langit sore dengan pasrah. Baru sehari menikah, posisinya di keluarga ini tampaknya sudah bergeser ke kasta paling bawah.
"Alaric, bawa barang-barang istrimu masuk. Mama sudah masakkan sup ayam kampung kesukaan Harjuno dulu untuk menyambut Calla," perintah Diah sambil merangkul pundak Calla, menuntun menantu cantiknya itu masuk ke dalam rumah tanpa memedulikan putranya lagi.
"Siap, laksanakan, Mama," jawab Alaric pasrah, meraih tas kecil Calla dari dalam mobil sambil menatap punggung istri kecilnya yang kini berjalan dengan langkah riang masuk ke dalam pelukan keluarga barunya.
resepsi tinggal menghituung hariii detik demi detiik ,,
aseeek aseeek ,, 💃💃💃💃💃
pak komandan udh mulai mencair niiih 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
pengaman tingkat tinggi pak su ,,
jgn lupa kolam air di isi penuhh ,,
sypa tau nnti mlm mau jdi pangeran duyung lgii🤭🤭🤭🤣🤣🤣
kak mksiih buat up ny ,,
sehat selalu
sabar yx pak suu ,,
meski menghadapi calla tu membuat kesabaran setipis tissue 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Perbedaan usia, kepribadian yang bertolak belakang, serta tingkah kocak sang istri menciptakan banyak momen lucu, menggemaskan, sekaligus romantis. Di balik segala kekacauan yang dibuat istrinya, sang komandan perlahan menunjukkan sisi lembut dan posesif yang hanya ia tunjukkan untuk wanita yang dicintainya.
Cocok untuk pembaca yang menyukai romcom penuh tawa, kemesraan pasangan suami istri, dan kisah cinta yang hangat tanpa terlalu banyak drama berat. Selamat membaca dan semoga terhibur!" 💕✨