NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Pembantu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:19.6k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-

Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Kabut di desa itu masih enggan beranjak, menyelimuti pucuk-pucuk teh dengan embun yang menggigit kulit. Bianca—keluar dari kamarnya di paviliun dengan langkah ringan. Seragam pelayannya yang berwarna abu-abu sudah terpasang rapi, licin tanpa kerutan. Rambutnya disanggul rendah, sangat sederhana, namun leher jenjangnya yang putih bersih tetap memancarkan aura seorang wanita yang terbiasa dirawat dengan biaya mahal.

Ia melangkah menuju dapur khusus karyawan. Dari kejauhan, suara tawa pecah menyambutnya. Di sana, Mak Saroh sedang menggoreng pisang sambil menggoda Marni yang sepertinya baru saja mendapat pujian dari suaminya semalam. Isah sibuk menata gelas-gelas teh dengan gerakan cekatan.

"Ayo, Neng Gita, sarapan dulu! Ini pisang gorengnya masih panas, pas buat melawan dingin," seru Mak Saroh dengan senyum lebar yang membuat kerutan di wajahnya tampak seperti garis-garis kebahagiaan.

Bianca tersenyum, mengambil posisi duduk di kursi kayu panjang. Saat ia melihat Isah dengan tulus menuangkan teh untuknya, sebuah kilatan ingatan mendadak menghantam kepalanya—seperti kaset rusak yang tiba-tiba berputar.

Dulu, sepuluh tahun yang lalu...

Di rumah mewah keluarga Adytama di Surabaya, Bianca pernah melempar secangkir kopi panas ke arah pelayannya hanya karena gulanya kurang setengah sendok. Ia ingat betul wajah ketakutan wanita paruh baya itu yang gemetar meminta maaf. Bukannya iba, Bianca justru berteriak, "Kamu itu dibayar untuk kerja, bukan untuk jadi orang bodoh! Keluar dari rumah saya sekarang!"

Bahkan kepada Kirana, kakaknya yang selalu sabar, Bianca sering melontarkan kalimat berbisa. "Mbak Kirana itu lemah. Terlalu baik sampai-sampai bisa diinjak orang. Aku tidak mau jadi sepertimu, menyedihkan."

Bianca memejamkan mata sejenak, membiarkan uap teh melati menyentuh wajahnya. Rasa sesak merayap di dadanya. Mama Reva, ibunya yang sudah tiada, memang memanjakannya dengan segala kemewahan, namun didikan yang diberikan—bahwa uang adalah segalanya dan harga diri diukur dari seberapa banyak orang yang tunduk—adalah racun yang perlahan membunuh nuraninya.

Kesalahan besar itu... kecelakaan yang ia tutupi dengan kebohongan, hingga akhirnya hukum menjeratnya dan merenggut sepuluh tahun masa mudanya. Itu adalah titik balik yang mematikan Bianca si Nona Angkuh, dan melahirkan Gita yang kini sangat menghargai setiap helai napas dan setiap sapaan ramah dari orang asing.

"Neng? Kok melamun? Kopinya keburu dingin," tegur Marni lembut.

Bianca tersentak, tersenyum kecil menutupi kegelisahannya. "Ah, tidak apa-apa, Teh Marni. Cuma... senang saja lihat kalian tertawa sepagi ini."

"Hidup cuma sekali, Neng. Kalau dibawa cemberut terus, nanti cepat tua seperti Mak Saroh," canda Isah yang langsung dibalas pukulan serbet dari ibunya.

Tawa kembali pecah. Di tengah tawa itu, Bianca berbisik dalam hati, Tuhan, terima kasih untuk kesempatan kedua ini. Biarkan aku menebus semua kesombonganku dulu dengan menjadi manusia yang lebih berguna.

**

Di ruang makan utama Villa Dirgantara, aroma kopi hitam dan roti panggang memenuhi udara, namun suasana di meja makan terasa lebih berat dari biasanya. Arlan duduk berhadapan dengan Pak Reza dan Bu Anika. Meski sinar matahari pagi menembus jendela kaca besar, wajah Arlan tetap tampak seperti mendung yang tertinggal dari badai semalam.

Pak Reza, yang selalu memiliki insting tajam seorang ayah, meletakkan cangkirnya dengan perlahan. Bunyi denting porselen itu memecah kesunyian.

"Semalam Ayah dengar ada keributan di ruang kerjamu, Lan," ujar Pak Reza tenang, namun matanya menatap tajam putra sulungnya. "Ada masalah apa sampai kamu tampak emosional sekali?"

Arlan terdiam sejenak, jemarinya mengetuk pinggiran meja makan dengan ritme yang tidak beraturan.

"Tidak ada masalah besar, Yah. Hanya sedikit urusan kantor."

Bu Anika menghela napas, mengulurkan tangannya untuk menyentuh punggung tangan Arlan. "Jangan berbohong pada Ibu, Lan. Bagaimanapun kamu tetap anak kecil di mata Ibu, sekalipun sekarang kamu sudah menjadi pengusaha hebat yang merasa tidak butuh bantuan kami lagi. Ceritalah."

Arlan menatap ibunya, melihat gurat kekhawatiran yang tulus di sana. Ia merasa sedikit bersalah karena sempat meledak semalam.

"Bukannya aku tidak mau bilang, Bu. Ayah dan Ibu baru tiba dari kota tengah malam tadi. Aku hanya ingin kalian istirahat cukup tanpa harus memikirkan masalahku."

Pak Reza menepuk pundak Arlan, sebuah gerakan yang memberi kekuatan tanpa perlu banyak kata. Arlan akhirnya menghela napas panjang, bahunya yang tegang sedikit merosot.

"Stella menelepon semalam," ucap Arlan, menyebut nama yang selalu membawa rasa pahit di lidahnya. "Dia mengklaim berhasil membekukan beberapa aset pribadiku di Jakarta atas tuduhan penggelapan dana perusahaan. Tuduhan yang benar-benar tidak masuk akal dan sama sekali tidak pernah kulakukan."

Bu Anika terkesiap, tangannya menangkup mulut. "Astaga, Stella... Apa kamu sudah mengurusnya?"

"Aku sudah menghubungi Doni dan Meta semalam. Mereka sedang menyusun laporan balik dan mencari tahu dari mana Stella mendapatkan dokumen palsu itu," jawab Arlan dengan nada dingin. "Lusa aku harus kembali ke Jakarta. Stella harus diberi pelajaran. Aku sudah cukup sabar dengan semua tingkahnya selama ini."

Pak Reza mengangguk mengerti, kemudian memberikan beberapa saran teknis terkait hukum dan relasi bisnis. Namun, di tengah pembicaraan itu, Bu Anika menanyakan sesuatu yang membuat suasana mendadak senyap.

"Lan... jujur pada Ibu. Apa kamu masih memiliki sisa cinta untuk Stella? Apakah amarahmu ini karena kamu masih peduli padanya?"

Arlan tertawa sinis, sebuah tawa kering yang hampa. "Ibu tahu jawabannya. Sejak awal pernikahan, aku tidak pernah mencintai Stella. Perasaan yang ada sekarang hanyalah amarah dan kekecewaan yang mendalam. Aku memberinya kebebasan, aku memberinya kemewahan yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tapi apa balasannya?"

Arlan menatap ruang hampa di depannya. "Ibu dan Ayah tahu sendiri. Dia tetap Stella yang gila harta. Dia menjadi wanita liar yang tidak tahu aturan, menggandeng laki-laki lain di belakangku, dan membuat nama keluarga kita dipermalukan. Aku sudah muak."

Bu Anika menundukkan kepala, rasa bersalah kembali merayap di hatinya. Pernikahan Arlan dan Stella adalah hasil perjodohan yang ia dan Pak Reza paksakan.

Ayah Stella adalah sahabat baik mereka yang meninggal dunia karena sakit. Sebelum embusan napas terakhirnya, pria itu menitipkan Stella—putri tunggalnya—kepada keluarga Dirgantara. Pak Reza dan Bu Anika merasa perlindungan terbaik adalah dengan menjadikannya menantu, tanpa menyadari bahwa mereka baru saja memasukkan seekor ular ke dalam rumah tangga anak mereka sendiri.

Di balik pintu dapur yang sedikit terbuka, Bianca berdiri mematung dengan nampan berisi buah-buahan segar di tangannya. Ia tidak bermaksud menguping, namun pembicaraan di meja makan itu terlalu jelas untuk diabaikan.

Pernikahan tanpa cinta. Pengkhianatan. Gila harta.

Kata-kata itu menghujam Bianca. Ia merasa seperti sedang melihat cermin dari masa lalunya sendiri. Bedanya, dulu dialah yang menjadi sosok "Stella" dalam versi yang lain—manja, arogan, dan memandang orang lain sebagai properti. Bedanya lagi, Bianca sudah membayar dosanya dengan sepuluh tahun kehilangan kebebasan, sementara Stella masih bebas berkeliaran menghancurkan hidup orang lain.

Bianca menarik napas dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya. Ia harus segera masuk dan menjalankan tugasnya. Dengan kepala menunduk dan langkah yang diatur sedemikian rupa agar tidak bersuara, ia masuk ke ruang makan.

"Permisi, Nyonya, Tuan... ini buah untuk pencuci mulut," ujar Bianca pelan.

Pandangan Arlan langsung beralih padanya. Tatapan pria itu masih tajam dan keras sisa pembicaraan tadi, namun saat matanya bertemu dengan mata Bianca yang tenang dan dalam, ketegangan di rahang Arlan sedikit mengendur.

"Terima kasih, Gita," sahut Bu Anika ramah. "Sini, duduk sebentar. Mak Saroh bilang kamu sudah mulai pindah ke paviliun ya?"

Bianca mengangguk sopan. "Iya, Nyonya. Terima kasih atas kebaikannya."

Arlan memperhatikan Bianca dengan seksama. Ada sesuatu yang aneh. Wanita di depannya ini baru saja mendengar separuh dari rahasia kelam hidupnya, namun ekspresi wajahnya tidak menunjukkan rasa ingin tahu atau penghakiman. Bianca hanya berdiri di sana dengan aura yang sangat stabil, seolah ia sudah terbiasa menghadapi badai yang jauh lebih besar.

"Gita, lusa aku ke Jakarta," ujar Arlan tiba-tiba, membuat Pak Reza dan Bu Anika menoleh serempak. "Aku ingin kamu ikut. Meta butuh bantuan untuk merapikan berkas-berkas lama di rumah pribadiku yang mungkin berkaitan dengan laporan Stella. Kamu punya ketelitian yang bagus."

Bianca tersentak. Ke Jakarta? Itu adalah tempat terakhir yang ingin ia kunjungi. "Maaf, Tuan... saya rasa saya lebih berguna di sini membantu Mak Saroh," tolak Bianca halus.

"Ini perintah pekerjaan, Gita, bukan penawaran," potong Arlan dengan nada otoriter yang tidak bisa dibantah. Arlan ingin Bianca ikut bukan hanya untuk urusan berkas, tapi karena ia merasa ada sesuatu dalam diri wanita ini yang bisa menenangkannya di tengah kemelut yang sedang ia hadapi.

***

1
Anisa Sudarwanto
lnkut thorr
Mundri Astuti
Kirana coba muncul sama Raditya yak
Verawati Naycyl
Stella kamu salah memilih lawan.....bisa bisa kamu sama Mahendra bakalan di bikin nangis darah
fatmawati (pipit)
stella kamu blm mengenal keluarga adytama, jari lentik seseorang bisa membuka tabir kebusukan mu dan keluarga mu dlm pencurian aset milik arlan
Mundri Astuti
lanjut thor 🙏
Mukeseh
stella belum ae siapa gita ivara 🤣🤣 apalagi kalau mahendra tau apa gak syok dia 🤭
Sri Murtini
Byanka tenang saja blm saatnya kau kembali ke Surabaya
ryuka
adduuhhh duuhh bianca gimana ini 🤭🤭🤭🤭🤭
Mukeseh
lagi thorr
fatmawati (pipit)
stella kau blm mengenal bianca secara seluruhnya, mungkin dia di penjara bukan karna kemauannya karna ada seseorang yg menjebak dia dan keluarga adytama hancur
mungkin juga karna musuh raditya
fatmawati (pipit): yg itu aku lupa🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
fatmawati (pipit)
kau blm mengenal biaca adytama (gita Ivana) kau ingin menjatuhkan bianca maka kau akan berhadapan dengan sisi lainnya bianca
ryuka
aduuhhh bianca kamu berhak bahagia 🫠🫠🫠🫠🫠
Mundri Astuti
Mahendra minta dikepret ma Kirana dan raditya
Mundri Astuti
jangan harap bisa nyentuh Bianca kaya si bunglon Stella Mahendra, krn da Raditya, Kirana dan Aditama ...
mudah"an Kirana cepet tau dan mintol Radit buat kasih bodyguard jaga Bianca dari jarak jauh
Mukeseh
huuuu 😂😂semoga atrlan bisa mrlindu gi
Verawati Naycyl
gak sabar nunggu kelanjutannya thor....bakalan di apain Bianca sama Arlan..
Verawati Naycyl
lanjut thor..
Mundri Astuti
diihhhh Arlan, Gita atau Bianca ga terus terang itu krn privasinya, emang selama ini dia ngerugiin kamu kaya mantanmu itu...ngga kan
Sri Murtini
Arlan...siapapun Gita kamu harus hati " bikin dia nyaman disisimu jgn sampai lepas
Mukeseh
deg deg thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!