THE LAST SUNRISE
Echoes of Light: Before the Sky Turns Red
Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.
Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.
Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: MALAM BINTANG DI ATAP
Latihan gabungan hari itu meninggalkan jejak yang jelas: otot yang pegal, seragam yang penuh debu, dan ego yang sedikit tergores. Tapi anehnya, tidak ada satu pun dari mereka yang merasa ingin menyerah. Justru, rasa lelah itu seolah merekatkan mereka lebih erat.
Malam turun di Neo-Solara. Langit kubah disetel pada mode "Malam Tenang", dengan ribuan titik cahaya buatan yang meniru rasi bintang zaman dulu. Angin malam berhembus sejuk, membawa aroma ozon dan logam dingin yang khas dari permukaan luar kubah.
Atap markas Delta-7 adalah tempat terlarang bagi kadet biasa. Tapi setelah kejadian siang tadi, Komandan Varen sepertinya sengaja membiarkan pintu akses atap terbuka sedikit. Seolah dia tahu, tim yang baru saja hancur lebur butuh tempat untuk menyusun kembali kepingan-kepingan mereka.
Raka adalah yang pertama sampai di sana. Dia duduk di tepi tembok pembatas, kaki tergantung di udara, menatap lautan lampu kota di bawah sana. Dari ketinggian ini, Neo-Solara terlihat seperti sirkuit raksasa yang berdenyut indah. Tidak ada kemiskinan, tidak ada kerusuhan, hanya cahaya yang teratur rapi. Terlalu rapi, pikir Raka. Seperti dunia yang sedang menahan napas.
"Aku tahu kau di sini," suara Elara terdengar dari belakang. Gadis itu muncul membawa dua kaleng minuman energi dingin. Dia melempar satu ke arah Raka.
"Terima kasih," tangkap Raka sigap. "Lo nggak marah soal insiden jaring tadi?"
Elara duduk di sebelahnya, jarak mereka cukup dekat hingga bahu mereka hampir bersentuhan. "Marah? Sedikit. Tapi kalau dipikir-pikir, jatuh bareng-bareng lumayan juga buat ngingetin kalau kita cuma manusia, bukan mesin."
"Bener juga," Raka tertawa kecil, membuka kalengnya. Ckrrrt. Suara desisan soda terdengar renyah di keheningan malam.
Tak lama kemudian, Bimo dan Kai muncul. Bimo membawa selimut tebal (entah dari mana dia mendapatkannya), sementara Kai membawa proyektor portabel kecil yang dia modifikasi agar bisa menampilkan gambar langsung dari satelit cuaca.
"Pesta atap dimulai!" seru Bimo pelan, membentangkan selimut di lantai beton yang dingin. "Duduk sini, biar nggak masuk angin."
Mereka berempat duduk melingkar, berbagi selimut yang sama. Kehangatan tubuh mereka bercampur dengan panasnya kaleng minuman.
"Liatsih," kata Kai, mengarahkan proyektor kecilnya ke langit. Gambar bintang-bintang di atas mereka berubah, menampilkan data konstelasi yang sudah punah ratusan tahun lalu. "Ini rasi Orion. Dulu orang-orang pakai ini buat navigasi laut. Sekarang kita pakai satelit, jadi nggak ada yang lihat bintang lagi."
"Sayang banget," gumam Elara, matanya mengikuti garis imajiner bintang-bintang itu. "Indah banget."
Suasana menjadi hening. Bukan hening yang canggung, tapi hening yang nyaman. Jenis keheningan yang hanya bisa terjadi antara orang-orang yang sudah saling melihat sisi paling konyol dan paling rentan dari diri masing-masing.
"Kalian punya mimpi nggak?" tanya Bimo tiba-tiba, memecah kesunyian. Suaranya yang biasanya besar kini terdengar lembut. "Maksudku, mimpi setelah semua ini selesai. Setelah kita pensiun dari Squadron."
Kai tersenyum tipis, menatap layar proyektor nya. "Aku? Aku pengen punya adik. Atau mungkin banyak keponakan. Hidupku selama ini cuma sama angka dan kode. Aku pengen denger suara anak-anak lari-larian di rumah. Pengen punya alasan buat pulang cepat."
Elara mengangguk pelan. "Aku pengen jadi dokter. Bukan dokter militer yang cuma nambal luka buat prajurit, tapi dokter beneran. Yang bisa nyembuhin penyakit langka, yang bisa bikin orang tua nggak perlu nangis karena kehilangan anaknya. Dunia di luar sana... pasti banyak yang sakit kan?"
Bimo tertawa kecil, matanya berbinar. "Kalau aku, simpel aja. Aku mau buka restoran. Restoran besar dengan dapur seluas lapangan bola! Semua orang boleh makan gratis di sana. Mau pahlawan, mau pengemis, semuanya duduk bareng, makan enak, ketawa bareng. Kayak tadi malam."
Giliran Raka.
Tiga pasang mata menatapnya. Menunggu.
Raka menatap kaleng di tangannya, lalu menatap wajah-wajah teman-temannya yang diterangi cahaya biru redup dari proyektor Kai. Wajah Bimo yang tulus, Kai yang penuh harap, Elara yang tajam tapi kini lembut.
Hatinya sesak.
Dia ingin bilang: Aku nggak punya mimpi masa depan. Karena aku nggak yakin bakal ada di sana.
Dia ingin bilang: Tubuhku sedang hancur, El. Setiap hari aku kehilangan bagian dari diriku.
Tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokan. Melihat harapan di mata mereka, Raka tidak tega menghancurkannya dengan kebenaran yang pahit.
"Aku?" Raka menarik napas panjang, lalu tersenyum. Senyum yang paling tulus yang pernah dia berikan malam itu. "Aku cuma ingin kalian semua bahagia. Sisanya biar aku yang urus."
Jawaban itu terdengar mulia. Terlalu mulia.
"Wah, sok bijak lo, Rak," goda Elara, meski matanya berkaca-kaca sedikit. "Jadi maksudnya, kamu mau jadi pengurus kebahagiaan kami ya?"
"Iya dong," jawab Raka ringan, mencoba mengalihkan suasana. "Nanti kalau Bimo buka restoran, aku jadi manajer yang galak. Kalau Kai punya anak, aku jadi om-om yang beliin mainan mahal. Kalau El jadi dokter, aku jadi pasien paling bandel yang nggak mau minum obat."
Mereka tertawa. Tawa yang lepas, mengusir bayangan berat yang sempat hinggap.
"Janji ya?" tanya Bimo, mengulurkan kelingkingnya. "Apa pun yang terjadi, kita bakal wujudkan mimpi ini bareng-bareng."
"Janji," sahut Kai, mengaitkan kelingkingnya.
"Janji," tambah Elara.
Raka menatap kelingking yang terulur itu. Tangannya gemetar sedikit. Bukan karena dingin, tapi karena partikel emas di ujung jarinya sedang bergetar hebat, seolah protes terhadap janji yang mungkin tidak bisa dia tepati.
Dengan cepat, dia menyembunyikan tangannya di balik selimut, lalu mengaitkan kelingking kirinya (yang masih terlihat normal) dengan kelingking Bimo.
"Janji," bisik Raka. Suaranya hampir tak terdengar.
Maafin aku, batinnya sambil menatap bintang-bintang palsu di atas kepala mereka. Aku bohong. Aku nggak tahu能不能 aku bakal ada di sana nanti. Tapi demi kalian, aku bakal coba bertahan sedetik lebih lama setiap harinya.
Angin malam berhembus lebih kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Elara yang mengenai pipi Raka. Gadis itu tidak menepisnya. Mereka duduk diam begitu lama, menikmati kehadiran satu sama lain, seolah waktu bisa berhenti di sini selamanya.
Di kejauhan, di batas paling ujung kubah tempat langit bertemu dengan dinding logam, ada kilatan aneh. Warna ungu pekat yang merambat pelan, memakan sedikit demi sedikit warna biru malam. Itu bukan bagian dari simulasi cuaca. Itu anomali.
Kai, yang refleksnya paling cepat terhadap perubahan visual, menoleh sekilas. "Eh, itu..."
Tapi sebelum dia sempat bicara lebih lanjut, Bimo sudah menyandung kakinya sendiri saat mencoba mengambil kaleng minuman yang jatuh. "Aduh! Sial, licin!"
Kekacauan kecil itu mengalihkan perhatian semua orang. Kilatan ungu itu hilang tertutup awan buatan yang bergeser.
"Nih, ambil," kata Raka sambil menyodorkan kaleng baru pada Bimo, senyumnya kembali terpasang sempurna. "Hati-hati dikit, Bim. Nanti restoran impian lo nggak kebuka kalau kakinya patah terus."
"Hei! Aku cuma keseleo dikit!" protes Bimo sambil tertawa.
Malam itu berlanjut dengan obrolan ringan, rencana-rencana masa depan yang mustahil, dan tawa yang mengisi celah-celah ketakutan. Mereka tidak tahu bahwa di ruang kontrol pusat, alarm merah mulai berkedip pelan. Sinyal anomali di sektor 9 terdeteksi. Level bahaya: Rendah. Tapi frekuensinya meningkat.
Badai belum datang. Tapi awannya sudah mulai berkumpul.
Dan Raka, dengan rahasia yang semakin berat di pundaknya, hanya bisa berdoa agar malam ini berlangsung selamanya. Atau setidaknya, cukup lama untuk dia mengumpulkan kekuatan menghadapi hari esok.
"Malam ini bagus ya," gumam Elara, memejamkan mata, bersandar sedikit pada bahu Raka.
"Iya," jawab Raka pelan, menatap langit yang mulai berubah warna di ufuk timur. "Sangat bagus."
Di dalam saku jaketnya, tangan Raka mengepal erat. Debu emas beterbangan dari sela-sela jarinya, hilang ditelan angin malam, tak terlihat oleh siapa pun kecuali bulan yang sedang menyaksikan dari jauh.
Bersambung...