Sepasang mata berwarna coklat tampak menyorot tajam menatap seorang laki laki yang masih berdiri memaku tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya semula, seakan tatapn mata berwarna coklat itu mampu menelannya hidup hidup saat ini juga.
"apa kamu tidak ingin menjelaskan semuanya stave...?"
suara yang baru saja keluar dari laki laki tersebut terdengar seperti sebuah kilatan petir, membuat stave semakinn menundukkan kepalanya semakin dalam.
"apa yang harus aku katakan setelah kamu sudah melihat semuanya."
kepalan tangan dan tonjolan urat yang terlihat jelas saat steave memberanikan diri menatap kearah di mana tangan leon dia letakkan di atas meja, steave rasanya ingin segera menghilang dan berlari dari depan leo, dia tahu dan paham akan tabiat leon ketika marah seperti sekarang.
"jika kamu tidak ingn menjelaskan siapa dia, maka..."
Leon menghentikan ucapannya, terdengar bunyi deritan kursi yang bergeser. seketika steve memberanikan diri menatap ke arah leon, yang kini dekatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpesona.
Pagi pun datang, awan putih tampak di atas langit menghiasi indahnya langit biru yang tampak indah menyambut rutinitas liburan hari ini. Kendaraan yang biasa berlalu lalang mengisi kemacetan jalan kini tampak lenggang, Leon yang baru saja mengantar dias ke bandara dengan segera melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota menuju ke arah di mana kediaman Niko berada.
Senyuman cerah terbit di kedua bibir Leon, rasanya hari ini dia sangat bersemangat menjalani hari ke depannya.
Alunan lagu romantis terdengar dari audio mobil Leon, samar Leon menirukan lirik lagu yang dia hapal tanpa harus membaca lirik di dalam layar kecil di samping kemudi. saat menuju gang tempat kediaman Niko berada, samar pandangan mata Leon melirik ke arah satu laki laki berdiri bersama wanita di depan warung bubur ayam di pinggir jalan.
“Steve…” gumam Leon menatap laki laki yang dia kenal betul.
“Apakah dia Steve, atau hanya orang yang mirip dengan Steve.” Batin Leon menerka.
Tanpa berfikir panjang, Leon segera mempercepat laju mobilnya menuju ke arah di mana rumah Niko berada. Dengan bantuan Google map, Leon dengan cepat menemukan rumah Niko.
Setelah memarkirkan mobil mewahnya, Leon segera turun dan berjalan mendekati pintu rumah Niko yang terbuka lebar, dapat Leon lihat jika suasana di dalam rumah Niko tampak sepi. Leon berinisiatif membunyikan bel tanpa harus mengetuk pintu terlebih dahulu, Leon ingin jika steve segera keluar untuk menyambut kedatangannya.
Ting… tong…
Bunyi bel pintu rumah Niko terdengar sangat nyaring, Leon merapikan jaket yang tadi terlihat berantakan. Dia tidak ingin berpenampilan acak acak kan saat Steve melihatnya. Tak perlu menunggu lama, akhirnya Andre keluar dari dalam bersama neo yang terlihat akan pulang, Leon menatap Andra denga sorot mata tajam.
“Kak Leon…” sapa ramah Andre dan neo.
“Oh hei, kamu andara kan. Dan kamu…” Leon menunjuk ke arah neo yang dia seketika lupa akan nama neo.
“Saya neo kak, oh iya. Steve baru saja keluar bersama tari, sepertinya sebentar lagi mereka pulang.” Ucap neo yang mendapat senggolan dari andre.
“Upst…” sontak menyadari ucapannya, neo segera menutup mulutnya. Dia lupa jika Leon sangat protectif dengan Steve, sedangkan Andre yang tahu kesalahan neo segera mengalihkan pembicaraan.
“Kak Leon baru saja datang atau dari tadi…?”
Mendapati pertanyaan Andre, dengan terpaksa Leon menjawab dengan nada ketus.
“Baru saja.”
Senyum kikuk dari neo membuat suasana berubah menegang seketika, beruntung Steve yang datang bersama tari mengunakan motor milik Andre masuk kedalam halaman rumah Niko. Sorot mata Leon menatap tajam ke arah Steve yang tersenyum canggung melihat Leon yang berdiri sambil menumpukan kedua lemgannya di depan dada.
“Kak Leon…” lirih Steve sedikit takut melihat kedatangan Leon.
Dengan segera Steve memarkirkan motor milik Andre, tari yang merasakan suasana berubah tegang segera turun dan berdiri menunggu Steve yang akan turun dari motor Andre.
“Kak Steve, tari bawa masuk dulu buburnya ya…?” Suara lembut dari tari membuat atensi Steve teralihkan.
“Iya,” jawab singkat Steve menatap tari yang berjalan menjauh masuk kedalam rumah lewat pintu samping.
Steve segera mendekati Leon, dia terlihat kikuk melihat reaksi tidak mengenakan dari wajah tampan Leon.
“Baru datang kak…?” Tanya Steve berbasa basi.
“Dari mana kamu…? Kenapa naik motor…? Jika terjadi sesuatu di jalan bagaimana….?” Ucapan Leon yang terdengar marah membuat nyali Steve menciut seketika.
“Maaf kak, tadi aku hanya antar tari beli bubur di depan.” Jawab Steve tanpa melihat wajah Leon.
“Ambil tas kamu, aku tunggu di sini. Kita pulang sekarang…” Nada bicara Leon tampak biasa tapi terdengar sedikit menekan Steve.
Tanpa menjawab ucapan Leon, Steve segera masuk kedalam rumah Niko. Dia berjalan cepat untuk mengambil tas miliknya yang ada di kamar Niko, tanpa berpamitan ke sang tuan rumah Steve segera keluar, dia tidak ingin menambah kemarahan Leon kali ini.
“Gue pulang, tolong sampaikan ke Niko kalau gue pulang sama kak Leon.” Ucap Steve ke Andre dan neo.
Andre dan neo menganguk bersamaan, mereka terlihat sangat mengasihani Steve yang terlihat tertekan saat pulang bersama Leon.
“Eh ndre, lo ngerasa nggak sih kalau sikap kak Leon agak canggung gitu memperlakukan Steve. Sikap protectif kak Leon terlihat seperti seorang kekasih yang takut akan kehilangan kekasihnya.”
Andre menoleh melihat ke arah neo, dia dengan tiba tiba menonyor kepala neo.
“Gila lo ndre, ini kepala bukan pintu yang seenaknya lo toyor toyor.” Gerutu neo kesal.
“Pikiran lo ngaco, mereka sama sama cowok. Mana mungkin saling suka, bisa jadi kak Leon takut kalau kalai Steve kenapa kenapa. Lo tahu sendiri kan, bokap Steve itu om nya kak Leon.”
Andre yang tahu akan status hubungan steve dan Leon menceritakan ke neo, bahwa tidak mungkin Leon menyukai Steve.
Sedang neo yang mendengar ucapan Andre hanya menganguk kan kepalanya lemah, mereka kini memilih duduk di teras depan sambil menunggu Niko yang dari tadi masih ada di kamar mandi.
“Kalau saja tuh Steve cewek, udah gue kejar dia sampai gue bisa dapetin tuh si Steve.” Ucap Andre sambil tersenyum penuh arti.
Neo menoleh cepat melihat Andre yang menengadahkan kepalanya manatap awan, tanpa Andre sadari neo segera mengambil bantal kursi di sampingnya dan segera melemparkan di kepala Andre.
“Gila lo ya…!!” Bentak Andre terlihat kesal.
“Biar tuh otak nggak ngaco, Steve itu cowok bego. Mana ada lo mau pacarin dia, mau jadi gay lo…?” Neo tertawa melihat wajah Andre yang tampak kesal.
“Makanya… punya kuping tuh buat dengerin omongan orang…!! Kan gue bilang, seandainya Steve itu cewek.”
Tawa pecah neo terdengar sampai kedalam rumah Niko, sedangkan Niko yang baru saja akan keluar terlihat celingukan di dalam. Melihat dua temannya sedang asik mengobrol Niko segera berjalan cepat menghampiri neo dan andre.
“Eh… kalian lihat Steve nggak…? Gue cari dari tadi tuh anak hilang gitu aja…?” Tanya Niko setelah berada di samping neo.
“Nah ni bocah, tuh si Steve udah balik. Dia di jemput sama pengawalnya, ngapain juga lo pake acara mandi lama lama. Mani padi lo di kamar mandi…?” neo melirik tajam menatap tubuh niko dari atas sampai bawah.
“Kog enggak pamit ke gue…?” Niko tampak kesal mendengar jawaban neo.
“Steve cari aman bro, dari pada entar an dia enggak di boleh in gabung sama kita kita.” Balas Andre yang mendapat anggukan dari neo.
“Kasihan tuh anak, punya kakak yang over protectif. Sampai enggak nge boleh in main sama teman temannya, dari sejak awal masuk kuliah sampi sekarang hampir lulus kuliah.” Lirih Niko yang masih dapat Andre dan neo dengar.
“Benar juga, kalau aja Steve mau gue ajak in tinggal bareng gue. Gue janji, gue enggak akan lelang dia.” Celetuk Andre yang membuat Niko dan neo menatap dengan penuh rasa penasaran.
“Jangan bilang lo ada rasa sama Steve, ndre….?” Ucap Niko sambil menunjuk Andre.