Mary terpaksa pulang kampung setelah cita-citanya untuk menjadi desainer pakaian harus kandas.
Di kampung, ia dijodohkan dengan Jono, calon anggota dewan yang terobsesi pada Mary.
Demi terhindar dari perjodohan yang dilakukan orang tuanya dan pergi dari kampung halamannya, Mary nekat memaksa seorang duda galak dan dingin bernama Roseo untuk menikahinya.
Sandiwara tergila-gila duda itu akankah berhasil atau justru membuatnya tergila-gila duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vlav, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
024
“Perkenalkan, nama saya Leo, saya adalah asisten Mas Ros”.
Pria tampan itu memperkenalkan dirinya dengan suara lembut khas pria soft spoken.
Mary hanya bisa menyeringai lebar tanpa merasa bersalah pada Roseo yang terlihat memasang ekspresi kesal.
“Ya, ampun! Aku benar-benar minta maaf, aku salah mengira kau adalah Roseo karena kau keluar dari kamar Roseo,” kata Mary.
“Oh, itu, saya baru saja mengambil laporan pekerjaan yang ada di kamar beliau selama saya cuti,” Leo menjelaskan.
“Haha, begitu,” kata Mary.
“Senang bertemu dengan anda, Nyonya Mawary. Saya sungguh baru tahu bahwa Mas Ros sudah menikah dengan wanita secantik anda,” kata Leo.
“Ubur-ubur ikan lele, kamu ganteng banget sih, Le!” Mary menepuk-nepuk lengan Leo.
“Nyonya Mawary, anda terlalu memuji. Masih banyak pria yang jauh lebih tampan dari saya, apalagi di kota asal saya,” kata Leo.
“Lho, memangnya kau berasal dari kota mana?” Tanya Mary.
“Saya dari kota Jeketi,” jawab Leo.
“Serius? Aku juga lama tinggal di kota Jeketi, dua puluh tahun lho,” kata Mary.
“Wah, cukup lama anda tinggal di kota Jeketi, ngomong-ngomong anda tinggal dimana selama di kota Jeketi?” Tanya Leo.
“Aku tinggal di wilayah Selatan karena kebetulan dekat dengan kantorku,” jawab Mary.
“Oh, anda bahkan bekerja dan tinggal di kawasan elit. Lantas mengapa anda pindah ke kampung ini?” Tanya Leo.
“Orang tuaku tinggal di kampung ini,” jawab Mary.
“Oh begitu,” kata Leo sambil mengangguk.
Roseo hanya diam sambil menyantap makan paginya di bale bale sembari mendengarkan obrolan Mary dan Leo yang begitu akrab seakan dua milik berdua dan yang lain hanya ngontrak.
Dua orang itu seperti teman lama yang sedang melakukan reuni.
Entah mengapa Roseo merasa sedang menjadi obat nyamuk yang dibakar di sudut ruangan.
“Oh ya Leo, ngomong-ngomong, apakah kau yang membawa sekardus besar pembalut itu?” Tanya Mary.
“Benar. Kemarin siang saat saya mau kembali, Mas Ros meminta saya untuk mencari dan mendapatkan pembalut itu”.
“Saya sungguh tidak menyangka ternyata pembalut itu untuk anda, karena awalnya saya pikir, Mas Ros akan berbisnis pembalut lantaran beliau meminta untuk membawakan sebanyak mungkin yang bisa saya dapatkan,” Leo menjelaskan.
“Haha"
Mary tertawa lagi lalu melirik ke arah Roseo yang memasang ekspresi masam.
“Wah, Leo, apa kau tidak merasa canggung membeli pembalut? Biasanya para pria sangat sungkan saat membeli pembalut,” kata Mary.
“Bagi saya tidak masalah karena itu permintaan dari Mas Ros,” ucap Leo.
“Haha, yah, tapi pokoknya aku sangat berterima kasih padamu, kau sungguh penyelamat bagiku. Dengan pembalut sebanyak itu, cukup untuk stok pembalutku setahun,” kata Mary.
“Nyonya Mawary, yang seharusnya mendapatkan ucapan terima kasih adalah Mas Ros. Kalau bukan Mas Ros yang meminta, saya tidak mungkin tahu apa yang anda butuhkan,” ucap Leo.
Mary melirik ke arah Roseo yang hanya diam dengan masih memasang ekspresi masam.
“Seandainya saja aku tahu kau akan datang. Saat sedang datang bulan begini, aku sungguh mengidamkan makanan-makanan manis,” kata Mary.
“Huh! Untuk apa jauh-jauh mencari makanan manis di kota, di dapur ada banyak gula pasir yang bisa kau makan!” Celetuk Roseo dengan ketusnya.
“Haha, untuk apa aku makan gula pasir hanya untuk mencari sesuatu yang manis. Di sini sudah ada Leo yang senyumnya bahkan semanis madu”.
Mary menatap Leo dengan mata berbinar.
“Aku pilih madu, manis kayak kamu,” Mary bersenandung kecil sambil mengedipkan sebelah matanya pada Leo.
Leo langsung tersenyum sumringah, rasanya lucu sekali ada wanita yang menggombalnya.
Roseo benar-benar tak percaya apa yang dilihatnya.
Bagaimana bisa Mary secara terang-terangan menggoda Leo seperti itu?
Leo tersadar bahwa bosnya itu melotot hingga bola matanya nyaris lepas.
“Nyonya Mawary, tadi anda bilang anda mengidamkan makanan manis, apakah suka cokelat? Kebetulan saya membawa cukup banyak cokelat untuk sekalian dibagi-bagi kepada para pekerja,” kata Leo.
“Oh tentu saja! Cokelat adalah mood boosterku selain senyummu, Leo,” tukas Mary.
Leo kembali mengulum senyumnya lalu beranjak dari bale bale menuju ke kamarnya.
“Roseo, kenapa kau tidak bilang punya asisten setampan Leo! Seandainya aku tahu, aku pasti akan mengajak Leo untuk menikahiku,” kata Mary.
Roseo melemparkan ekspresi dan tatapan sinisnya pada Mary.
Apa wanita itu lupa saat datang malam-malam ke rumah ini dan memohon seperti pengemis agar aku menikahinya?! Batin Roseo kesal.
“Ya sudah, kau menikah saja dengan Leo!” Sengit Roseo.
“Tidak!” Jawab Mary dengan cepat.
“Kenapa begitu?” Tanya Roseo.
“Kan aku sudah menikah denganmu,” jawab Mary sambil berlagak sok imut.
Roseo mematung mendengar ucapan Mary, saat ini ia bahkan merasa jiwanya sedang diterbangkan hingga ke langit ke tujuh hanya karena ucapan Mary.
Meski Leo lebih unggul di mata Mary berkat senyum semanis madu, namun Roseo adalah sang juara yang sudah menikahi Mary.
Roseo kembali mengepalkan tangannya, membuat pose kemenangan bahwa ia jauh lebih unggul dari Leo.
Leo kembali membawa beberapa bungkus besar cokelat dan menyerahkannya untuk Mary.
Mata Mary langsung berbinar bahagia saat menerima cokelat itu.
“Leo, bukankah ini cokelat yang sedang viral?”
“Benar,” jawab Leo.
“Wah! Terima kasih banyak Leo! Kau memang pria terbaik dan paling pengertian di muka bumi ini!” Puji Mary.
“Ehem, Leo!” Roseo berdehem.
“Iya, Mas Ros,” sahut Leo.
“Hari ini, tolong kau urus dokumen pernikahanku dan Mawary. Usahakan hari ini bisa selesai,” kata Roseo sambil memberi penekanan pada setiap kata yang diucapkannya.
Tujuannya tentu saja agar Leo paham benar posisi Mary sebagai istri Roseo.
“Baik, Mas Ros,” jawab Leo.
“Lantas, mengapa kau masih di sini?” Tanya Roseo.
“Saya tentunya harus meminta dokumen dari Nonya Mawary,” jawab Leo.
“Oh, dokumen ya, kalau hanya foto dokumennya saja bisa?” Tanya Mawary.
“Bisa,” jawab Leo.
Mary mengeluarkan gawai cerdasnya begitu juga dengan Leo.
“Aku kirim pakai Edrop ya,” kata Mary.
“Silahkan, Nyonya,” jawab Leo.
Roseo melihat dua orang di hadapannya itu bahkan memakai ponsel yang sama.
Dan apa maksud Mary mengirimkan pakai Edrop? Memangnya mengirim apa? Benak Roseo bertanya-tanya.
“Oh ya, ngomong-ngomong Leo, selama kau tinggal di sini, apa kau tidak merasa sulit mendapatkan sinyal? Di sini bahkan koneksi internetnya tidak ada,” kata Mary.
“Tidak masalah, kebetulan saya berlangganan layanan jaringan internet pribadi. Apa anda mau berbagi koneksi jaringan internet dengan saya?”
“Leo!” Mary langsung berhambur dan memeluk lengan Leo dengan erat.
Roseo tak mampu menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Bisa-bisanya Mary memeluk pria lain di depan matanya.
“Leo, kau benar-benar definisi pria idaman di alam semesta ini! Aku sungguh mati gaya hidup tanpa koneksi internet seperti ini!” Kata Mary sambil melepas pelukannya dari Leo.
“Haha, Nyonya Mawary, anda terlalu memuji untuk hal yang sederhana seperti ini,” kata Leo.
“Bagaimana caranya? Tolong tunjukan padaku!” Pinta Mary.
“Ehem, Leo!” Roseo kembali berdehem.
“Oh, baik Mas Ros,” Leo bergegas pergi.
Namun Mary langsung menahan tangan Leo.
Roseo lagi-lagi melotot lebar, Mary bahkan tidak memberinya izin untuk memegang tangannya, namun Mary justru memegang tangan Leo.
“Leo, tunggu dulu,” kata Mary.
“Leo, apalagi yang kau tunggu?!" Roseo melotot ke arah Leo.
Leo menghela nafas berat sambil melepas tangan Mary.
“Nyonya, saya akan kembali setelah menyelesaikan tugas saya. Jadi mohon tunggu,” kata Leo.
“Oh, baiklah, Leo,” kata Mary.
Mary langsung merengut ke arah Roseo, diam-diam Roseo mengepalkan tangannya, membuat pose kemenangan kecil yang tidak terlihat oleh siapapun.