update setiap tanggal genap
Lin Yinjia adalah mahasiswi biasa yang hidupnya sederhana namun hangat bersama keluarganya. Ketika adiknya mengalami kecelakaan dan terbaring koma, kehidupannya perlahan berubah. Demi membantu biaya pengobatan, Yinjia terpaksa mempertahankan perjodohan yang sudah diatur keluarganya dengan Gu Zhenrui, pewaris keluarga kaya yang arogan dan penuh kesombongan.
Di kampus, Yinjia harus menghadapi berbagai gosip, sindiran, dan pengkhianatan dari orang-orang yang dulu ia percaya. Ketika ia mulai menyadari bahwa tunangannya berselingkuh, Yinjia memutuskan untuk berhenti menjadi gadis yang hanya diam menerima semuanya.
Kesempatan datang saat ia diterima magang di sebuah perusahaan ekspor impor besar di Shanghai. Di sanalah ia bertemu Guo Linghe—presiden direktur perusahaan yang dingin, kaku, dan memiliki dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan Yinjia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jamuan Formal
Lin Yinjia masih duduk di kursinya ketika percakapan di sekelilingnya kembali hidup seperti semula. Seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal baginya, beberapa menit yang lalu terasa…berbeda.
Ia menatap piring di depannya tanpa benar-benar melihat. Kata-kata Guo Linghe masih tertinggal di kepalanya. Kerja dengan benar. Kalimat sederhana. Tapi tidak terdengar seperti perintah biasa.
Lebih seperti… batas. Dan tanpa sadar, Yinjia ingin melewati batas itu. Ia menghela napas pelan, mencoba menarik dirinya kembali ke suasana ruangan. Ia tidak boleh terlihat linglung di tempat seperti ini.
Di meja lain, gelas-gelas mulai terangkat. Percakapan berubah arah. Tawa kecil terdengar, tapi tetap terjaga. Semua orang tahu bagaimana harus bersikap.
Yinjia mencoba menyesuaikan diri. Namun semakin ia memperhatikan, semakin jelas perbedaan itu. Orang-orang di sini tidak berbicara untuk didengar. Mereka berbicara untuk menilai. Setiap kalimat seperti punya tujuan. Setiap senyum terasa seperti strategi. Dan untuk pertama kalinya… Yinjia merasa benar-benar kecil. Bukan karena ia tidak mampu. Tapi karena ia belum terbiasa.
“Kenapa diam?” Suara di sampingnya membuat Yinjia menoleh. Pria yang tadi sempat berbicara dengannya masih duduk santai, satu tangan memegang gelas, ekspresinya ringan seolah tempat ini hanyalah kafe biasa. “Aku lagi mikir,” jawab Yinjia jujur.
“Mikir apa?”
“Kenapa semua orang di sini… terlihat seperti sedang main peran.”
Pria itu tertawa kecil. “Kamu cepat nangkap juga ya.”
Yinjia sedikit mengerutkan dahi. “Memang begitu?”
“Ini dunia kerja kelas atas,” katanya santai. “Kalau kamu terlalu jujur, kamu kalah. Kalau kamu terlalu polos, kamu dimakan.”
Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada menakutkan. Justru terlalu santai. Dan itu yang membuatnya terasa nyata. Yinjia terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Selama ini ia hanya berpikir tentang belajar, keluarga, dan bertahan. Dunia seperti ini… belum pernah benar-benar ia bayangkan.
“Takut?” tanya pria itu lagi.
Yinjia menggeleng pelan. “Enggak.” Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Cuma… kayaknya aku harus berubah.”
Pria itu menatapnya beberapa detik. “Jangan berubah terlalu jauh.”
“Kenapa?”
“Karena orang yang seperti kamu… jarang di sini.” Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi entah kenapa… terasa berat. Sebelum Yinjia sempat merespon, suasana kembali berubah. Kali ini lebih jelas. Lampu sedikit diredupkan. Beberapa orang berdiri. Dan perhatian mulai terarah ke satu titik.
Panggung kecil di depan ruangan. Song Jian berdiri di sana, membawa mikrofon. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, tapi suaranya cukup untuk membuat seluruh ruangan fokus. “Terima kasih atas kehadiran semua pihak malam ini.”
Kalimat pembuka yang formal. Tidak ada yang spesial. Namun cara ia berbicara membuat semua orang diam. Yinjia ikut menoleh ke depan. Tangannya otomatis merapikan posisinya di kursi.
“Acara ini bukan hanya sekadar makan malam,” lanjut Song Jian, “tapi juga sebagai bentuk pengenalan dan evaluasi awal bagi para anggota baru.”
Kata evaluasi membuat Yinjia sedikit menegang. Ia tidak menyangka acara ini… juga penilaian. Ia menelan ludah.
“Beberapa dari kalian mungkin menganggap ini hanya formalitas,” suara Song Jian tetap stabil, “tapi bagi perusahaan, ini adalah langkah awal untuk melihat siapa yang benar-benar bisa bertahan.”
Yinjia menunduk sedikit. Tiba-tiba, semua terasa lebih serius. Ia tidak hanya hadir di sini sebagai tamu. Ia sedang… dilihat.
“Dan tentu saja,” Song Jian sedikit menggeser posisinya, “Presiden Direktur kita akan memberikan beberapa kata.”
Ruangan menjadi lebih hening. Guo Linghe berjalan maju. Langkahnya tidak cepat. Tidak lambat. Tapi setiap langkahnya terasa pasti.
Ia berdiri di depan, mengambil mikrofon tanpa banyak gerakan. Tatapannya menyapu ruangan. Tidak lama. Namun cukup untuk membuat semua orang diam. Yinjia ikut menahan napas. Ia tidak tahu kenapa.
Tapi suasana berubah hanya karena pria itu berdiri di sana. “Saya tidak suka berbicara panjang,” katanya. Langsung. Tanpa pembukaan bertele-tele. Beberapa orang tampak tersenyum kecil, seolah sudah terbiasa dengan gaya itu.
“Perusahaan ini tidak butuh orang yang hanya terlihat pintar.” Nada suaranya datar. Namun setiap kata terdengar jelas. “Kami butuh orang yang bisa bekerja.”
Yinjia menatap ke depan. Tanpa sadar, ia benar-benar mendengarkan. “Kesalahan bisa terjadi,” lanjutnya, “tapi alasan tidak akan diterima.”
Kalimat itu terasa seperti jatuh tepat di depan Yinjia. Ia teringat hampir menjatuhkan dokumen kemarin. Jantungnya sedikit berdebar.
“Jika kalian bertahan, kalian akan berkembang.” Ia berhenti sejenak. Tatapannya kembali menyapu ruangan. Kali ini… lebih lambat. “Jika tidak… kalian akan tersingkir.”
Tidak ada ancaman dalam nada suaranya. Tapi semua orang mengerti maksudnya. Yinjia merasakan tangannya sedikit dingin. Ini bukan dunia kampus lagi. Di sini, tidak ada yang peduli kamu berusaha atau tidak. Hanya hasil yang dihitung. Linghe menurunkan mikrofon.
Tidak ada penutup panjang. Tidak ada basa-basi. Ia langsung turun dari panggung. Namun anehnya… tidak ada yang merasa kurang. Justru terasa cukup. Terlalu cukup.
Tepuk tangan terdengar. Tidak meriah. Tapi penuh makna. Yinjia ikut bertepuk tangan pelan. Pikirannya mulai dipenuhi banyak hal. Tentang pekerjaannya. Tentang keluarganya. Tentang dirinya sendiri. Dan tanpa ia sadari…
Tatapan seseorang kembali jatuh padanya.
Guo Linghe.
Ia tidak langsung pergi setelah turun dari panggung. Langkahnya melambat. Dan untuk beberapa detik… matanya berhenti pada Yinjia. Tidak ada ekspresi. Tidak ada alasan jelas.
Namun cukup untuk membuat sesuatu… mulai bergerak. Yinjia tidak menyadarinya. Ia masih tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tentang bagaimana ia harus bertahan. Tentang bagaimana ia tidak boleh gagal. Tentang bagaimana hidupnya… perlahan berubah arah. Dan di sisi lain ruangan—
Guo Linghe sudah mulai memperhatikan lebih dari yang seharusnya. Bukan karena Yinjia paling menonjol. Justru karena ia tidak. Di tempat yang penuh kepura-puraan…
Seseorang yang masih terlihat nyata…
Menjadi terlalu mudah terlihat. Dan bagi seseorang seperti Linghe— Hal seperti itu…
Tidak akan dibiarkan lewat begitu saja.
Suara tepuk tangan perlahan mereda, tapi efek dari kata-kata Guo Linghe tidak ikut hilang. Ruang itu kembali dipenuhi percakapan, gelas kembali diangkat, dan tawa kembali terdengar—namun bagi Lin Yinjia, semuanya terasa sedikit berbeda dari sebelumnya.
Seolah ada sesuatu yang berubah. Bukan di ruangan itu. Tapi di dalam dirinya. Ia menarik napas pelan, lalu meraih gelas di depannya. Tangannya masih sedikit dingin. Ia mencoba menyesap minuman itu, berharap pikirannya bisa lebih tenang.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Semakin ia mencoba tenang, semakin jelas ia menyadari satu hal, Ia sedang berada di tempat di mana ia bisa dengan mudah tersingkir. Dan ia tidak punya pilihan selain bertahan.
“Kamu kelihatan tegang.”
Suara itu kembali datang dari sampingnya. Yinjia menoleh. Pria tadi masih di sana, kini menyandarkan punggungnya dengan santai seolah tidak ada beban sama sekali di pundaknya.
“Aku lagi mikir,” jawab Yinjia, jujur seperti biasa.
Pria itu mengangkat alis sedikit. “Kamu kebanyakan mikir untuk orang yang baru masuk.”
Yinjia tersenyum tipis. “Kalau aku nggak mikir, aku yang bakal hilang duluan.”
Jawaban itu keluar begitu saja. Tidak direncanakan. Tapi begitu diucapkan, ia sadar… itu memang kenyataannya.
Pria itu menatapnya beberapa detik lebih lama dari sebelumnya. Tidak mengejek. Tidak juga meremehkan. Lebih seperti… mengukur. “Nama kamu siapa?” tanyanya.
“Lin Yinjia.”
“Hmm,” ia mengangguk pelan. “Aku ingat.”
Yinjia sedikit bingung harus merespon apa. Untungnya, suasana kembali berubah sebelum percakapan itu menjadi canggung.
Musik pelan mulai mengalun di sudut ruangan. Beberapa orang berdiri, berpindah tempat, bergabung dengan kelompok lain. Acara formal itu perlahan berubah menjadi interaksi bebas.
Dan di sinilah… banyak hal sebenarnya terjadi. Bukan di panggung. Tapi di sela percakapan. Yinjia ikut berdiri, sedikit ragu. Ia tidak tahu harus ke mana. Ia tidak cukup dekat dengan siapa pun untuk bergabung, tapi juga tidak ingin terlihat sendirian. Ia mengambil keputusan sederhana—
Berpura-pura sibuk. Ia berjalan pelan ke arah meja minuman. Tangannya meraih gelas kosong, mengisinya pelan, meski ia tidak benar-benar ingin minum lagi. Yang ia butuhkan hanya… alasan untuk berdiri di sana.
Beberapa orang lewat di sampingnya. Aroma parfum mahal bercampur di udara. Suara sepatu hak tinggi, suara tawa rendah, bisikan percakapan—semuanya terdengar jelas. Dan di tengah semua itu, Yinjia berdiri diam. Berusaha tidak terlihat tersesat. Namun saat ia berbalik—
Langkahnya terhenti. Terlalu dekat. Guo Linghe berdiri tepat di depannya. Jarak mereka tidak sampai satu langkah penuh.
Yinjia tidak sempat menghindar. Ia bahkan tidak sempat bereaksi dengan benar. Tubuhnya refleks berhenti, dan untuk sesaat… dunia di sekitarnya seperti meredam.
Ia mengangkat wajahnya sedikit. Tatapan mereka kembali bertemu. Dekat. Lebih dekat dari sebelumnya. Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan. Hanya diam. Dan anehnya… tidak ada satu pun dari mereka yang langsung bergerak. Yinjia yang pertama tersadar.
Ia mundur setengah langkah terlalu cepat—dan itu kesalahan. Tumitnya sedikit tergelincir. Gelas di tangannya hampir terlepas. Namun sebelum itu terjadi—
Sebuah tangan menahan pergelangan tangannya. Kuat. Stabil. Tidak kasar. Tapi cukup untuk menghentikan semuanya. Yinjia membeku.
Bukan karena hampir jatuh. Tapi karena sentuhan itu. Hangat. Dan terlalu nyata. Ia menatap ke bawah, lalu ke arah tangan yang memegangnya.
Guo Linghe.
Ia tidak menariknya. Tidak juga menggenggam lebih erat. Hanya menahan. Seolah memastikan ia tidak jatuh… dan tidak pergi. Beberapa detik berlalu.
Yinjia baru menyadari napasnya tertahan. “Aku… tidak apa-apa,” katanya pelan, sedikit terbata. Linghe tidak langsung melepaskan. Tatapannya turun sedikit, melihat wajah Yinjia lebih jelas. Dari jarak sedekat ini… ia bisa melihat semuanya.
Cara Yinjia menahan gugupnya. Cara matanya sedikit goyah tapi tidak lari. Cara ia tetap mencoba berdiri tegak meski jelas tidak nyaman. Dan entah kenapa—
Itu menarik. Perlahan, Linghe melepaskan tangannya. Tanpa kata. Tanpa ekspresi. Namun sebelum Yinjia sempat benar-benar menjauh— “Awas langkahmu,” ucapnya. Nada suaranya tetap datar. Tapi kali ini… lebih rendah. Lebih dekat.
Yinjia mengangguk cepat. “Iya…”
Jawaban itu keluar hampir seperti bisikan. Ia tidak berani menatap terlalu lama. Ia menunduk sedikit, lalu mencoba melewati Linghe. Namun langkahnya kembali berhenti. Bukan karena ia ingin.
Tapi karena Linghe belum bergerak. Ia berdiri di jalurnya. Tidak menghalangi dengan jelas. Tapi cukup untuk membuat Yinjia tidak bisa lewat begitu saja. Jantung Yinjia mulai berdetak lebih cepat.
“Ada yang ingin kamu katakan?” tanya Linghe tiba-tiba. Pertanyaan itu membuat Yinjia terdiam. Ia tidak menyangka. “Tidak…” jawabnya pelan.
Linghe menatapnya beberapa detik. Lalu sedikit menggeser tubuhnya. Memberi jalan. Namun tatapannya tidak ikut pergi. Yinjia berjalan melewatinya, langkahnya sedikit lebih cepat dari seharusnya. Ia tidak berlari, tapi jelas ingin menjauh.
Dan itu tidak luput dari perhatian. Linghe memutar sedikit kepalanya, mengikuti arah Yinjia pergi. Matanya menyipit tipis. Bukan karena kesal. Lebih karena… tertarik.
Di tempat seperti ini, orang biasanya akan mencoba mendekat padanya. Mencari perhatian. Mencari kesempatan. Tapi Yinjia—
Ia justru menjauh. Seolah keberadaannya adalah sesuatu yang harus dihindari. Dan itu…
Tidak biasa. Di sisi lain ruangan, Yinjia akhirnya berhenti. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. Tangannya masih terasa hangat. Padahal sentuhan itu sudah hilang. “Aneh…” gumamnya pelan.
Ia menggeleng kecil, mencoba mengusir pikiran itu. Ia tidak boleh terlalu memikirkan hal seperti itu. Itu hanya kebetulan. Hanya situasi. Tidak lebih. Namun semakin ia mencoba mengabaikan—
Semakin jelas ia mengingat bagaimana cara pria itu menahannya. Bukan panik. Bukan tergesa. Tapi… seperti sesuatu yang sudah biasa ia lakukan.
Terkontrol. Tenang. Dan berbahaya. Yinjia menegakkan tubuhnya. Ia memaksa dirinya kembali fokus pada alasan ia datang ke sini. Bukan untuk memikirkan pria seperti itu. Bukan untuk terlibat dalam dunia mereka. Ia hanya ingin bertahan. Hanya itu. Namun malam itu tidak berniat berjalan sederhana. Di sisi lain—
Guo Linghe masih berdiri di tempatnya. Namun kini, perhatiannya tidak lagi terbagi. Matanya sesekali kembali ke arah yang sama. Ke arah Lin Yinjia. Ia tidak mendekat lagi. Tidak berbicara lagi. Namun sesuatu di dalam dirinya… sudah mulai bergerak. Pelan. Hampir tidak terlihat. Tapi pasti. Bukan ketertarikan biasa. Bukan rasa penasaran sesaat.
Lebih seperti… awal dari sesuatu yang akan terus ia perhatikan. Dan sekali ia memperhatikan sesuatu— Ia tidak akan berhenti di tengah.
Malam itu berakhir tanpa kejadian besar. Tidak ada konflik terbuka. Tidak ada drama. Namun bagi dua orang— Sesuatu sudah berubah.
Lin Yinjia pulang dengan perasaan yang tidak ia mengerti. Dan Guo Linghe—
Pulang dengan satu hal yang jarang ia rasakan. Ketertarikan… yang tidak ia rencanakan.