Dunia mengenalnya sebagai bintang paling bersinar. Namun, hanya dia yang tahu betapa redupnya pria itu di balik layar.
Elvano Alvendra punya segalanya: kekuasaan, ketenaran, dan wajah yang dipuja jutaan orang. Tapi bagi Selena Nayumi, Elvano hanyalah pasien keras kepala yang lupa cara mengurus diri sendiri.
Sebuah perjodohan kolot dari sang nenek memaksa mereka terikat dalam janji suci yang tersembunyi. Bagi Elvano, Selena adalah "obat" yang tidak pernah ia duga akan ia butuhkan. Bagi Selena, Elvano adalah teka-teki misterius yang perlahan mulai ia cintai.
Di antara jadwal konser yang padat, kilatan kamera media, dan kontrak kerja jutaan dolar, ada satu rahasia besar yang mereka simpan rapat di balik pintu rumah: Status mereka.
Dapatkah cinta tumbuh di tengah kepura-puraan? Dan sanggupkah Selena bertahan menjadi rahasia terbesar sang bintang saat dunia menuntut Elvano untuk tetap "milik publik"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Jakarta sore itu terjebak dalam kemacetan yang melelahkan, namun di dalam taksi daring yang ia tumpangi, Selena Nayumi merasa jantungnya berdegup jauh lebih kencang daripada klakson di jalanan. Jemarinya yang ramping menari di atas layar ponsel, membalas pesan dari Oma Ratna.
(Selena: Oma, maaf sedikit terlambat. Sekitar 5 menit lagi Selena sampai di butik.)
(Oma Ratna: Santai saja, Sayang. Oma dan Elvano sudah di dalam. Hati-hati di jalan, ya!)
Selena menghela napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Butik yang dipilih Oma Ratna bukanlah tempat sembarangan. Itu adalah sebuah rumah mode eksklusif di kawasan Jakarta Selatan yang hanya melayani janji temu privat. Begitu taksi berhenti, Selena disambut oleh fasad bangunan minimalis yang tampak sangat mahal.
Langkah kaki Selena yang mengenakan flat shoes terdengar pelan saat memasuki lobi. Suasana di dalam butik begitu sunyi, namun ketegangannya terasa nyata. Ia melihat beberapa staf butik berdiri dengan posisi tegak, wajah mereka tampak kaku seolah baru saja melihat hantu atau mungkin... seorang dewa.
Oma Ratna segera melambai begitu melihat sosok dr. Sunshine itu masuk. Di samping Oma, berdiri seorang pria dengan tinggi 185 cm yang mengenakan kemeja hitam lengan panjang yang digulung hingga siku. Elvano Alvendra. Pria itu hanya melirik Selena sekilas dengan tatapan sulit ditebak, lalu kembali menatap katalog kain di tangannya.
"Nah, ini dia calon pengantinnya!" seru Oma Ratna riang.
Para staf butik serentak menoleh. Jika tadi mereka terkejut setengah mati melihat sang superstar Elvano Alvendra datang untuk memesan baju pengantin, kini rahang mereka hampir jatuh ke lantai. Mereka mengenali wajah itu.
"Bukankah itu... dr. Selena? Nutri Queen yang sering live cooking?" bisik salah satu asisten butik kepada rekannya.
"Astaga, benar! Jadi mereka berdua...?"
Pemilik butik, yang merupakan sahabat lama Oma Ratna, segera berdehem untuk menenangkan para stafnya.
"Semuanya, ingat peraturan nomor satu di butik ini. Apa pun yang kalian lihat, dengar, dan hirup di ruangan ini hari ini... tidak boleh keluar dari pintu depan. Jika ada satu kata saja bocor ke media, kalian tahu konsekuensinya."
Para staf mengangguk patuh dengan wajah pucat. Elvano adalah raja industri hiburan; satu kalimat darinya bisa menutup karir siapa pun dalam semalam.
Oma Ratna tidak membuang waktu. Ia segera mendorong Selena menuju ruang ganti yang sangat luas.
"Elvano, jangan hanya diam. Bantu Selena memilih. Oma mau dua gaun terbaik. Satu untuk akad yang sakral, satu untuk makan malam privat kita."
Elvano meletakkan katalognya, lalu berdiri mendekati gantungan gaun-gaun mahakarya tersebut. Aura "mahal" dan profesionalnya begitu terasa. Sebagai aktor method acting, ia terbiasa menilai estetika. Ia menarik satu gaun berbahan lace prancis dengan potongan punggung terbuka yang elegan, lalu satu lagi gaun satin minimalis tanpa payet berlebih yang tampak sangat berkelas.
"Coba ini," ucap Elvano pendek. Suaranya yang hangat dan berat memberikan sensasi aneh di tengkuk Selena.
Selena menerima gaun itu dengan tangan sedikit gemetar. Beberapa saat kemudian, tirai ruang ganti terbuka.
Selena berdiri di sana. Gaun itu melekat sempurna di tubuhnya yang proporsional. Rambutnya yang biasanya diikat kini tergerai, membingkai wajah alaminya yang segar. Elvano tertegun. Untuk sesaat, topeng CEO dinginnya retak. Matanya menatap Selena tanpa berkedip, menilai setiap inci keindahan di depannya.
"Bagaimana, Elvano? Serasi sekali, kan?" Oma Ratna berbisik sambil diam-diam mengeluarkan ponselnya, memotret momen langka itu untuk dikirimkan kepada Nenek Asti di Bandung.
Di seberang sana, Nenek Asti yang baru saja sampai di rumahnya langsung membalas dengan emoji tangis bahagia. Bagi kedua nenek ini, persahabatan mereka kini telah mencapai puncak tertinggi melalui jalinan cucu-cucu mereka.
"Pernikahannya... aku ingin intimate saja, Oma," ucap Selena lirih, memecah keheningan. "Hanya keluarga dan beberapa kenalan dekat. Aku tidak siap dengan sorotan kamera."
Oma Ratna mengusap lengan Selena lembut. "Tentu, Sayang. Oma setuju. Kita buat pernikahan yang hangat, bukan tontonan publik."
Elvano mendekat, berdiri tepat di samping Selena di depan cermin besar. Perbedaan tinggi mereka menciptakan pemandangan yang sangat serasi; seperti karakter utama dalam drama romantis dewasa yang biasa ia perankan.
"Ini sampel undangannya," Oma Ratna mengeluarkan beberapa kartu elegan dengan tinta emas. "Kalian pilih desainnya, dan tolong berikan daftar tamu yang ingin kalian undang. Oma akan urus sisanya."
Selena menatap pantulan dirinya dan Elvano di cermin. Menikah secara rahasia dengan pria paling dipuja di negeri ini terasa seperti mimpi buruk sekaligus takdir yang membingungkan.
**
Sore yang melelahkan di butik akhirnya usai. Setelah drama fitting baju pengantin yang menguras emosi dan tenaga, Oma Ratna menatap kedua cucu kesayangannya dengan senyum puas. Wanita paruh baya itu kemudian menepuk bahu Elvano pelan, memberikan isyarat yang tidak bisa dibantah.
"Elvano, ini sudah masuk waktu makan malam. Antar Selena pulang, sekalian kalian makan malam bersama. Oma mau mampir ke rumah teman Oma sebentar," ucap Oma Ratna dengan nada riang yang dibuat-buat, padahal itu hanyalah taktik agar mereka bisa menghabiskan waktu berdua.
Elvano hanya mengangguk tipis. Ia meraih jaket kulit hitamnya dan mulai mengenakan penyamaran andalannya: topi baseball rendah dan kacamata hitam frame tipis yang mahal. Sebelum melangkah keluar, Elvano merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah masker medis berwarna hitam dan menyodorkannya kepada Selena.
"Pakai ini," ucap Elvano datar, suaranya terdengar berat dan dalam. "Kalau kita sedang jalan berdua seperti ini, kau harus memakai masker. Aku tidak mau ada mata usil yang mengenali kita."
Selena menerima masker itu, menatapnya sejenak lalu beralih menatap wajah Elvano yang tertutup topi. Sebuah senyum kecil tersungging di bibirnya.
"Baiklah, Tuan Bintang. Aku sama sekali tidak keberatan menjadi orang misterius bersamamu," sahut Selena dengan nada bercanda yang ringan.
Elvano tidak membalas candaan itu. Ia melangkah lebih dulu, membukakan pintu mobil SUV hitamnya yang bermesin gahar namun bersuara halus. Dengan gerakan maskulin, ia mempersilakan Selena masuk sebelum ia sendiri duduk di balik kemudi.
Mobil mewah itu membelah kemacetan Jakarta yang mulai merayap. Lampu-lampu kota mulai menyala, menciptakan pemandangan pop cinematic yang sering digambarkan dalam lagu-lagu Elvano.
"Kita mau makan di mana?" tanya Elvano tanpa menoleh, jemarinya mengetuk kemudi mengikuti irama musik ballad yang samar terdengar dari radio.
Selena tampak berpikir sejenak. "Mengingat kau masih dalam masa terapi metabolisme dan stres kronis, kurasa makan di luar bukan ide bagus. Terlalu banyak natrium dan bumbu yang tidak terkontrol. Bagaimana kalau makan di rumahku saja? Aku akan memasak menu khusus untukmu."
Elvano terdiam sesaat. Biasanya, ia akan menolak ajakan orang asing masuk ke ranah pribadinya, atau sebaliknya. Namun, bayangan rasa masakan Selena yang hangat dan tidak hambar seperti menu diet rumah sakit membuatnya luluh.
"Setuju. Aku tidak keberatan selama itu bukan sayuran rebus yang pahit."
Selena tertawa renyah, suara yang entah kenapa membuat suasana di dalam mobil terasa sedikit lebih hangat.
"Tenang saja, koki pribadimu ini tahu cara membuat makanan sehat terasa seperti makanan bintang lima."
Beberapa waktu kemudian, mereka sampai di sebuah kawasan hunian yang tenang di pinggiran Jakarta. Mobil Elvano berhenti di depan sebuah bangunan minimalis yang asri.
"El, masukkan mobilmu ke dalam garasi saja. Jangan di carport. Kalau ada tetangga yang melihat mobil asing semewah ini parkir di depan, mereka bisa curiga," pinta Selena dengan nada waspada.
Elvano menurut. Ia memutar kemudi, memasukkan mobilnya ke dalam garasi yang tertutup rapat. Setelah mesin mati, keheningan menyelimuti mereka sejenak sebelum mereka melangkah masuk.
Saat pintu utama terbuka, Elvano terpaku. Kesan pertama yang ia rasakan adalah: hangat.
Rumah itu adalah cerminan sempurna dari kepribadian Selena. Minimalis namun penuh nyawa. Ruang tamu dan terasnya menyatu secara artistik, dibatasi oleh dinding kaca yang memperlihatkan kolam ikan koi kecil dengan gemericik air yang menenangkan. Beberapa tanaman hias seperti monstera dan sansevieria ditata dengan apik, memberikan kesan segar yang instan.
Elvano menyadari satu hal; ada kamar mandi tamu yang terletak di samping garasi, sengaja dipisahkan agar tamu tidak perlu masuk ke dalam area utama rumah. Dari situ, Elvano tahu bahwa di balik keceriaannya sebagai influencer, Selena adalah tipe perempuan yang sangat menjaga privasi dan batasan pribadinya. Sama seperti dirinya.
"Silakan masuk, anggap saja rumah sendiri," ucap Selena sambil meletakkan tasnya.
Langkah kaki Elvano membawa kakinya lebih dalam. Di dalam, terdapat ruang santai dengan layar TV besar yang sangat cocok untuk maraton film. Sofa kain berwarna krem tampak begitu empuk, dihiasi selimut rajut dan bantal-bantal sofa yang tertata rapi. Elvano bisa melihat dua pintu kamar yang tertutup rapat, memberikan kesan misterius tentang kehidupan pribadi Selena.
Matanya lalu beralih ke area dapur. Dapur itu cukup luas dengan kitchen set lengkap dan peralatan masak yang tampak sangat profesional. Ada sebuah mini bar kayu yang menghadap langsung ke halaman belakang yang gelap namun artistik.
Rumah ini jauh berbeda dengan penthouse miliknya yang luas namun dingin dan hampa. Di sini, setiap sudut seolah punya cerita. Rumah ini tenang, hangat, dan entah kenapa... membuat Elvano merasa tidak lagi sendirian di puncak.
"Kau tunggu di mini bar saja, aku akan ganti baju sebentar lalu mulai masak," ujar Selena sambil berjalan menuju kamarnya.
Elvano duduk di kursi bar yang tinggi, menatap punggung Selena yang menghilang di balik pintu. Ia menyandarkan punggungnya, menghirup aroma vanilla dan kayu manis yang samar tercium di rumah itu. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, detak jantung Elvano melambat dalam frekuensi yang damai.
***