NovelToon NovelToon
The Big Families 2

The Big Families 2

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia
Popularitas:1M
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Sekuel ke empat Terra The Best Mother, sekuel ke tiga Sang Pewaris, dan sekuel ke dua The Big Families.

Bagaimana kisah kelanjutan keluarga Dougher Young, Triatmodjo, Hovert Pratama, Sanz dan Dewangga.
Saksikan keseruan kisah pasukan berpopok dari new generasi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

FINDING UMAR'S BALL

Usai semuanya berangkat ke sekolah, kuliah dan bekerja. Kini halaman belakang ramai dengan aktivitas anak-anak bayi.

Yusuf menuang kardus isi mainan, tentu semuanya berhamburan di lantai dengan suara nyaring.

'Baby, kenapa seperti itu?" tegur Luisa.

"Kamu kan bisa ambil satu mainan yang kamu ingin mainkan?" lanjutnya lagi.

"Susuf bawu payin.imih Amah!" jawna Yusuf sambil mengambil mobil-mobilan pemadam kebakaran.

"Kalau begitu kamu bereskan yang lainnya!' suruh Luisa.

"Banti Amah;" jawab Yusuf lalu memainkan mobil-mobilan itu.

'Sekarang Baby!" perintah Luisa tegas.

"Simih atuh pantuwin!" ujar Ali membantu Yusuf. Hamzah ikut serta membantu membereskan mainan yang berantakan.

Setelah selesai, mereka bermain bertiga. Sementara itu, Umar menatap sekelilingnya. Keningnya berkerut.

"Padhi polana lada pi syimi deh?" gumamnya yakin.

Umar sangat ingat jika ia baru saja bermain bola. Lalu bola itu ia letakkan di tempatnya.

"Tot pola tuh ilan?" tanyanya lagi bergumam.

Karena merasa kehilangan bola, ia mendekati saudaranya yang tengah menikmati buah mangga.

"Days ... Lada pasalah beuntin!" ujarnya serius.

"Basalah pa'a?" tanya Khadijah sambil mengunyah.

"Pola atuh ilan!" jawab Umar.

"Woh, beumana Ata' talo pibana?" tanya Khadijah.

"Atuh talo sipu!" jawab Umar sambil menunjuk sebuah keranjang berisi bola-bola.

'Atuh yatin talaw polana lilan!" sahut Vendra yakin.

"Ilan? Bana pisa ilan.talaw palam mumah Ata'?" tanya Zora.

"Woh ... pisa sadhi!" sahut Jamila yakin.

"Talaw beudithu!" sahut Naka lalu duduk tegak.

"Pita halus peuntut pim puwat sali polana Antel Mumal!" lanjutnya serius.

"Muwa-muwana halus pistusi!" sambungnya.

Para bayi pun berkumpul, mereka duduk melingkar di lantai. Para bodyguard ikut mendengarkan.

"Ata' ... Hauesousbsabesehantrespeteuaanajan!" oceh Rauf seperti protes. .

"Imih basalah pesliyus Aypi!" jawab Naka dan Rauf pun.diam mendengarkan.

"Tatana polana Antel ilan pi palam mumah!" ujar Naka lagi.

"Yatin pi palam mumah Ata'?" tanya Rauf.

"Tatana ilan pisetital sana!" jawab Naka sambil menunjuk tempat keranjang bola.

"Talaw beuman pi syama, polana lada lah!" sahut Mala.

"Pati pola Antel pidat lada Aypi!" seru Umar kesal.

"Beumana polana lada tati pisa bindah pempat?!" sengit Hamzah kini.

"Talaw lada yan pawa?" sahut Issa lalu semua menoleh padanya.

"Wiya spasa pahu seutalan polana Antel Mumal.lada pi.tutup leslatan!" sambungnya mulai ngawur.

"Selatan Baby!" ralat Sista yang sudah gemas dengan percakapan bayi.

"Sutup, janan banat beunduda-duda!" tandas Naka menghentikan dugaan yang tidak ada kebenarannya itu.

"Pita halus beuntut pim. Lada yan sali pi polam lenan. Lalaman paltil, luwan pamu ... Eum ...."

"Dapul!" sahut Arjuna.

"Beumpat zushi pazu!" sambung Yusuf.

"Dalasi!" seru Jamila tak mau kalah.

"Janan pupa tutup leslatan!' seru Issa dan semua menoleh padanya.

"Aypi, beumana tutup leslatan ipu pibana?" tanya Khadijah bingung.

"Ipu woh ... Yan deutet memayolan!" jawab Issa sok tau.

"Beumana memayolan lada pi bana?" tanya Umar.

"Bibutota!' jawab Issa sangat yakin.

Exel, Sista dan lainnya menutup mulut menahan tawa. Ingin sekali mereka ikut nimbrung diskusi absurd itu Tetapi, mereka membiarkan pembicaraan asal itu.

"Janan nadhi-nadhi Aypi!" geleng Umar lagi.

"Woh ... Atuh tan suma beundudana!" jawab Issa tak merasa bersalah.

'Sadhi pola atuh pibana!' seru Umar kesal.

"Antel, pita halus pistusi! Piyal pita pisa sepet papat polana!' seru Naka kesal.

"Pita bulayi palam tolam pulu!' lanjutnya serius.

"Spasa yan bawu sali pola talam tolam.lenan?" tanyanya menatap semua saudaranya.

"Atuh!" seru Umar dan Yusuf bersamaan.

'Dalasi?" tanya Naka.

"Atuh!" seru Umar dan Yusuf lagi kompak.

'Luwan pamu ...?"

"Atuh!" lagi-lagi Umar dan Yusuf unjuk jari. Sementara yang lain tak sempat mengajukan diri.

"Untel, talaw muwa-muwana Antel, Tapan teuteumuna?' dengkus Naka kesal.

"Tan atuh judha bawu polana teuteumu," sahut Umar lesu.

'Talaw beudithu, Ata' beuldili laja yan sali!' sengit Khadijah.

Diskusi bubar, Naka malas mengurusi bola Om kecilnya yang hilang. Padahal ia sudah berpikir keras untuk mencari solusi agar bola itu cepat ketemu.

"Dadahal Atuh pusdah sape-sape woh puwat pistusi. Eh ... Pidat pihaldayi!' sengitnya.

Umar pun hanya memindai sekelompok, ia berusaha untuk menemukan bola itu. Tapi sampai semua pulang untuk makan siang, bola itu tak diketemukan.

'Ayo selesai sholat, langsung tidur siang ya!' seru Terra tak mau kompromi.

Selesai sholat mereka beranjak ke kamar masing-masing dan tidur siang. Sementara yang bekerja kembali ke perusahaan masing-masing.

Tak terasa sore pun datang, semua anak sudah mandi, wangi dan rapi. Mereka menikmati kudapan sore hari.

"Ini enak banget!" puji Leon menikmati kue pukis buatan kakak iparnya.

"Alhamdulillah kalau semuanya suka!" sahut Lastri senang.

Sementara Umar tak menikmati makanan di tangannya. Khasya menatap cucunya.

'Baby ada apa?" tanyanya sedikit khawatir.

Umar menatap Khasya dan menghela nafas panjang.

"Pola atuh ilan Netnet!' jawab Umar sedih.

'Hilang?' Umar mengangguk lemah.

'Wiya!"

"Tadi kamu letakkan di mana Baby." tanya Kanya kini.

"Pi syama!' jawab Umar sambil menunjuk.

"Keranjang bola?" Umar mengangguk.

"Pati polana pidat lada," ujarnya lemah.

"Sudah dicari?" tanya Khasya.

"Yeyan butli! Nata padhi pusdah sali.solsuli ...."

"Solusi Baby!" ralat Kanya dengan senyum lebar.

"Wiya batsutna ipu! Pati Antel Mumal.balah bawu sali beuldili polana!' ujar Naka.

'Eh ... Gimana-gimana?" tanya Harun penasaran.

'Tan pola Antel lilan mih?' ujar Naka.

"Iya!" angguk Harun dan lainnya.

'Nata azat muwa-muwana puwat pistusi!' sambung Naka.

"Terus?" tanya Azha.

"Baby teusin eh besal setengah. Itu badhiyan eh bagian onty!" protes Zaa.

"Eh ... Maaf Onty Baby.," ujar Azha menyesal.

'Ata' Yoya pilan talaw palam mumah pidat buntin pola pisa ilan!' jawab Naka lagi.

'Bener itu!' sahut Bariana.

"Wiya, tata Ata' Zamzah pola pidat buna tati pisa zalan peuldili!' ujar Naka lagi.

"Teulus?" tanya Zaa penasaran.

"Eh .. palah Aypi Saa pilan polana lada pi tutup leslatan!" sahut Naka lagi.

"Kutub selatan?' semua anak bermata besar.

"Wiya yan lada pi memayolan!" sahut Naka yakin.

"Kemayoran? Sejak kapan Kemayoran pindah ke kutub selatan?" tanya Sarip bingung.

"Emang kemayolan ada di mana Kak?" tanya Cindy.

"Di Jakarta Selatan ...."

"Tuh tan Saa beunen!' seru Issa dengan mata besar.

"Lada leslatan, lestlatanna!" sambungnya yakin.

"Tapi kutub selatan itu bukan ada di Jakarta, Baby!" sahut Arraya tersenyum.

'Sadhi lada pibana?" tanya Umar.

"Kutub selatan ada di bumi paling atas. Area itu diselimuti es, matahari jarang muncul. Hingga daerah itu dingin sekali. Makanya dinamakan kutub selatan!" jawab Arraya.

"Ooh ... Beudithu!' seru semua bayi sok tau.

Andoro pulang sendiri, ia lega karena masalah di perusahaannya bisa diselesaikan dengan baik oleh Rasyid dan Kaila juga tim.

"Eh ... Ini sepertinya bola Baby Umar!" gumamnya ketika melihat sebuah bola di teras depan.

Ia mengambilnya, lalu membawanya masuk. Setelah mengucap salam, ia langsung ke teras belakang di mana semua anak berada.

'Baby Umar, ini bolamu ya?" tanya Andoro.

Semua bayi melihatnya. Mata Issa membesar.

"Benpa bambil polana!' serunya sambil menunjuk.

"Eh?" Andoro bingung.

"Papa beunzuli?" tanya Umar berkaca-kaca.

'Tidak ... Papa ...."

"Janan beunelat Benpa ... Butti lada pi tanan!' tekan Naka menuduh.

"Baby ... Tadi Grandpa ambil di. ...."

'Basti Benpa bambil pi tutup leslatan tan!' tuduh Issa lagi.

'Hah?"

bersambung.

Yah ... Papa Andoro jadi tersangka deh.

Bagaimana udah puas bahasa bayi?

Next?

1
puji indari
👍👍👍👍👍👍🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rokhyati Mamih
Ayi, Aya dan Zaa bunya tetuatan supel ipu atu juda 🤣🤣🤣🤣
Sugiharti Rusli
iya juga yah, kalo si Zaa itu menurunnya dari garis keturunan siapa dia, kalo wuyuy Bart saja yang sudah hidup lama ga ingat
Sugiharti Rusli
namanya ortu, mau anaknya sudah besar dan menikah sekalipun, pasti rasa khawatir dan was" sama kondisi anak" nya sih, begitupun dengan Haidar kepada Aya dan Ayi, meski ternyata kekuatan mereka lebih besar😁😁😁
Sugiharti Rusli
yah setelah pertarungan sengit kemaren, pada akhirnya mereka bisa mengenang kembali apa yang terjadi lalu yah
Dandelion
next ka
Nur Lailla
makin seru ayah😘😘😘
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
ribut artinya semua baik-baik saja.
Zay Zay
meleta belsisik ladi spelti piasa na.🤣🤣🤣🤣🤣
@༄𝑓𝑠𝑝⍟MAYA: wiya .. meuleta beulsisit tayat itan
total 1 replies
Nancy Nurwezia
balik sibuk utk lamaran baby setya.. nggak jauh2 jodohnya..
Dee
next kakkkk
Dee
bn
vania larasati
lanjut kak
Forian Sari
ngeri ahh... masih teusil dah punya kekuatan supranatural.,..🫣
Dian Susantie
makin ribut brarti makin bagus ya Ayah.. ga ada ketegangan puniya walwah... 😂😂😂
Reny Saputro
semangat
Atik Marwati
baby Aya dan baby Ayi hebat banget
Diah205L
no no no......daddy Virgou cucu kesayangan wuyuy
Sugiharti Rusli
tapi ternyata yang kali ini dia bermain-main dengan keluarga yang salah, meski tadi mereka juga sempat kewalahan menghadapi ilmu hitam yang jadi lawannya
Sugiharti Rusli
wah itu si Inara duit haramnya banyak karena hasil dari main dukun apa yah dia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!