Satu malam mengubah segalanya ketika CEO raksasa kosmetik terjebak iritasi
kulit akut yang mengancam kariernya, dan satu-satunya penyelamat adalah
formula rahasia dari seorang gadis yang dianggap remeh. Sebuah pernikahan
kontrak tanpa melibatkan perasaan dimulai, di mana serum dan ambisi menjadi
mata uang utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syawal Musa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Jejak yang tertinggal (EPILOGI)
Tidak ada seorang pun yang berbicara.
Semua mata tertuju pada layar tablet yang masih menampilkan foto wanita itu.
Laras Wijaya.
Status: Masih Hidup.
Kalimat sederhana itu terasa lebih mengejutkan daripada ledakan yang sejak tadi mengguncang markas Wings of Hades.
Kiara berdiri mematung.
Tangannya gemetar.
Matanya tidak berkedip sedikit pun.
Seolah takut foto itu akan menghilang jika ia mengalihkan pandangannya.
Wanita dalam foto tersebut memang terlihat lebih tua.
Ada kerutan halus di sekitar matanya.
Wajahnya juga tampak lebih kurus.
Namun kemiripan mereka begitu jelas.
Bentuk mata.
Lengkungan bibir.
Cara tersenyum.
Bahkan garis wajahnya hampir identik.
Seolah Kiara sedang melihat bayangan dirinya sendiri tiga puluh tahun di masa depan.
Air mata kembali mengalir di pipinya.
Tanpa suara.
Tanpa isakan.
Hanya air mata yang jatuh perlahan.
Selama hidupnya, ia tidak pernah memiliki foto keluarga.
Tidak pernah tahu seperti apa wajah ibunya.
Tidak pernah tahu dari siapa ia mewarisi mata atau senyumnya.
Dan sekarang...
Jawaban itu ada di depan matanya.
Begitu dekat.
Namun terasa sangat jauh.
Arkan berdiri di sampingnya.
Melihat reaksi Kiara membuat dadanya terasa sesak.
Ia tahu istrinya kuat.
Sangat kuat.
Namun malam ini terlalu banyak hal yang terjadi.
Terlalu banyak rahasia yang terbongkar.
Terlalu banyak luka lama yang kembali terbuka.
Pelan-pelan Arkan meraih tangan Kiara.
Menggenggamnya erat.
Kiara menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada kata-kata.
Namun dalam tatapan itu, Kiara tahu satu hal.
Apa pun yang terjadi.
Arkan akan tetap berada di sisinya.
Dan saat itu juga, untuk pertama kalinya sejak malam ini dimulai, Kiara merasa sedikit lebih kuat.
Rio masih memperhatikan data di layar.
Ekspresinya serius.
Sangat serius.
"Ini tidak masuk akal."
gumamnya.
Brahmantyo mengernyit.
"Apa maksudmu?"
Rio memperbesar beberapa bagian file.
Kemudian menunjukkannya kepada semua orang.
"Foto ini diambil enam bulan lalu."
"Tapi metadata file menunjukkan sesuatu yang aneh."
"Apa?"
Rio menunjuk salah satu bagian layar.
"Foto ini tidak berasal dari sistem Wings of Hades."
Semua langsung terdiam.
Aditya mengangkat kepala.
"Kalau begitu dari mana?"
Rio menarik napas panjang.
"Lembaga intelijen internasional."
DEG.
Ruangan langsung hening.
"Lembaga intelijen?"
ulang Arkan.
Rio mengangguk.
"Dan bukan lembaga biasa."
Ia memperbesar logo kecil yang hampir tidak terlihat di sudut dokumen.
Wajah Brahmantyo langsung berubah.
Begitu juga Aditya.
Mereka mengenali simbol itu.
Dan mereka tidak menyukainya.
"Sial..."
gumam Aditya.
Kiara menatap mereka bergantian.
"Apa itu?"
Brahmantyo menjawab perlahan.
"Organisasi bernama Echelon."
Nama itu terdengar asing bagi Arkan dan Kiara.
Namun dari ekspresi semua orang, jelas organisasi tersebut bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh.
Rio melanjutkan.
"Echelon bergerak di balik layar selama puluhan tahun."
"Mereka bukan pemerintah."
"Bukan perusahaan."
"Bukan organisasi kriminal."
"Lalu apa mereka?"
Rio terdiam sesaat.
Kemudian menjawab.
"Mereka adalah pemburu informasi."
Suasana kembali mencekam.
Di luar, hujan masih turun tanpa henti.
Sedangkan di dalam ruangan, rahasia demi rahasia terus bermunculan.
"Kenapa mereka mencari ibuku?"
tanya Kiara.
Rio menatapnya.
"Itu yang harus kita cari tahu."
"Tapi satu hal yang pasti."
Ia menunjuk layar.
"Jika Echelon mengawasi Laras selama bertahun-tahun..."
"Maka ibumu menyimpan sesuatu yang sangat penting."
Aditya mendadak tertawa kecil.
Tawa yang membuat semua orang menoleh.
"Kalian masih belum mengerti."
katanya.
Tatapannya tertuju kepada foto Laras.
Penuh kerinduan.
Penuh penyesalan.
Dan juga ketakutan.
"Laras bukan hanya wanita biasa."
"Bukan hanya pewaris keluarga Adinata."
"Lalu apa lagi?"
tanya Arkan.
Aditya memejamkan mata.
Seolah sedang memikirkan apakah ia harus membuka rahasia itu atau tidak.
Namun pada akhirnya ia menghela napas panjang.
"Laras adalah satu-satunya orang yang mengetahui lokasi Arsip Omega."
DEG.
Rio langsung membeku.
Brahmantyo juga terlihat terkejut.
Bahkan Aditya sendiri tampak tidak nyaman mengucapkan nama itu.
Arkan mengernyit.
"Arsip Omega?"
"Apa itu?"
Tidak ada yang langsung menjawab.
Karena hanya mendengar namanya saja sudah cukup membuat suasana berubah.
Brahmantyo akhirnya berbicara.
"Puluhan tahun lalu."
"Ketika keluarga Adinata masih berada di puncak kekuasaan."
"Kami menyimpan semua rahasia keluarga dalam satu tempat."
"Data keuangan."
"Dokumen rahasia."
"Identitas agen."
"Transaksi ilegal."
"Jaringan politik."
"Semuanya."
Arkan langsung memahami.
Jika informasi itu jatuh ke tangan yang salah...
Dampaknya bisa sangat besar.
Bahkan mungkin menghancurkan banyak pihak.
"Itulah Arsip Omega."
kata Brahmantyo.
"Dan hanya tiga orang yang mengetahui lokasi sebenarnya."
Rio menambahkan.
"Dua di antaranya sudah meninggal."
Tatapan semua orang perlahan mengarah ke foto Laras.
Dan mereka langsung memahami siapa orang ketiga itu.
Kiara menelan ludah.
Dadanya mulai terasa sesak.
Berarti...
Selama ini ibunya diburu bukan karena dirinya.
Bukan karena Aditya.
Bukan karena keluarga Adinata.
Melainkan karena sesuatu yang jauh lebih besar.
Sesuatu yang bisa mengubah keseimbangan kekuasaan.
Sesuatu yang membuat organisasi seperti Echelon ikut bergerak.
"Jadi ibu dalam bahaya?"
tanyanya pelan.
Tidak ada yang menjawab.
Karena semua orang sudah mengetahui jawabannya.
BRAKKK!!
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka keras.
Semua langsung bersiaga.
Beberapa senjata terangkat dalam hitungan detik.
Namun yang masuk bukan musuh.
Melainkan salah satu anggota pasukan khusus.
Pria itu terlihat panik.
Wajahnya pucat.
"Nyonya Kiara!"
Semua langsung menoleh.
"Ada apa?"
Pria itu menyerahkan sebuah perangkat komunikasi.
"Kami baru saja menerima transmisi terenkripsi."
Rio segera mengambilnya.
Lalu memutar rekaman tersebut.
Suara statis terdengar beberapa detik.
Kemudian...
Seorang wanita mulai berbicara.
Lemah.
Terputus-putus.
Seolah direkam dalam kondisi darurat.
Namun begitu mendengar suara itu...
Kiara langsung membeku.
Karena entah bagaimana...
Suara itu terasa sangat familiar.
Seakan berasal dari bagian dirinya yang paling dalam.
"...jika seseorang menemukan pesan ini..."
"...berarti mereka akhirnya menemukanku..."
Napas Kiara mulai memburu.
Air mata kembali memenuhi matanya.
Suara wanita itu terdengar lemah.
Namun tetap hangat.
Tetap lembut.
"...Kiara..."
DEG!
Tubuh Kiara langsung gemetar.
"Kiara, jika kau mendengar ini..."
"...maka aku minta maaf..."
Air matanya langsung jatuh.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya...
Ia mendengar suara ibunya.
Suara yang selama puluhan tahun tidak pernah ia kenal.
Namun langsung dikenali oleh hatinya.
"...aku tidak pernah meninggalkanmu karena tidak mencintaimu..."
"...aku menjauh karena aku ingin kau hidup..."
Ruangan menjadi sunyi.
Tidak ada seorang pun yang bergerak.
Bahkan Arkan pun tidak sanggup berkata apa-apa.
"...mereka masih mencariku..."
"...dan jika pesan ini sampai kepadamu..."
Suara Laras mulai dipenuhi gangguan.
"...jangan datang mencariku..."
"...apa pun yang terjadi..."
"...jangan..."
Tiba-tiba rekaman terputus.
KRSSSHHHHH...
Layar perangkat langsung gelap.
Dan tepat di bawah file audio itu muncul sebuah koordinat.
Satu lokasi.
Satu titik di peta.
Lokasi terakhir tempat pesan tersebut dikirim.
Rio membesarkan peta itu.
Lalu wajahnya langsung berubah.
"Mustahil."
"Ada apa?"
tanya Arkan.
Rio menatap mereka satu per satu.
Kemudian berkata perlahan.
"Pesan ini dikirim tiga jam yang lalu."
DEG.
Kiara langsung membelalak.
Tiga jam?
Artinya...
Ibunya masih hidup.
Dan mungkin...
Sedang berada dalam bahaya saat ini.
Namun sebelum siapa pun sempat berbicara...
Sebuah notifikasi baru muncul di layar.
TARGET LARAS WIJAYA TERDETEKSI
STATUS: DIKEJAR
PELAKU: ECHELON
Jantung semua orang langsung berdegup kencang.
Karena mereka baru saja menyadari satu hal.
Perburuan terhadap Laras...
Sudah dimulai.
Dan mereka mungkin terlambat.