NovelToon NovelToon
Setelah Diceraikan Aku Menemukan Rumahku

Setelah Diceraikan Aku Menemukan Rumahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pengkhianatan
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dhatu Lukita

Enam tahun menunggu suami pulang dari Korea, Nandin percaya semua pengorbanannya akan terbayar. Ia membesarkan dua anak kembar seorang diri, bekerja siang malam demi menyambung hidup, sementara suaminya tak pernah mengirim nafkah sedikit pun.
Namun kepulangan suaminya justru membawa surat perceraian.
Pengkhianatan itu menghancurkan hidup Nandin hingga ia kehilangan kewarasannya dan harus menjalani rehabilitasi di sebuah pondok di Jawa Timur. Terpisah dari kedua putri yang sangat dicintainya, Nandin berjuang bangkit dari luka yang nyaris merenggut hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PULANGNYA WISNU, SUNYINYA NANDIN

"Kadang yang paling menyakitkan bukan saat seseorang pergi."

"Tapi saat dia pergi dan hidupnya terlihat baik-baik saja."

Tiga bulan setelah kelahiran Raka.

Rumah Bu Sri kembali dipenuhi koper.

Suasana pagi itu berbeda.

Tidak seramai saat pernikahan.

Tidak seramai saat Raka lahir.

Namun tetap meninggalkan perasaan yang aneh.

Perasaan kehilangan.

Setidaknya bagi Seline.

Wisnu kembali berangkat ke Korea.

Negeri yang selama bertahun-tahun menjadi alasan mengapa rumah tangga Nandin dulu perlahan hancur.

Dan kini.

Negeri yang sama kembali memisahkan suami dan istri.

Hanya saja kali ini.

Yang ditinggalkan bukan Nandin.

Melainkan Seline.

"Kapan pulang lagi?"

Seline berdiri di depan pagar sambil menggendong Raka.

Wisnu sedang memasukkan koper terakhir ke bagasi mobil.

"Nanti kalau ada cuti."

Jawaban yang sama.

Jawaban yang dulu sering didengar Nandin.

Dan tanpa sadar.

Kini jawaban itu mulai diterima oleh perempuan yang dulu merebut posisi Nandin.

"Berapa bulan?"

Wisnu tersenyum kecil.

"Belum tahu."

Seline tidak bertanya lagi.

Namun hatinya terasa tidak nyaman.

Karena selama beberapa bulan terakhir.

Ia mulai mengenal sifat asli Wisnu.

Sifat yang dulu sering diceritakan Nandin tetapi tidak pernah ia percayai.

Shella dan Sherly berdiri di dekat pintu.

Keduanya masih terlalu kecil untuk memahami arti perpisahan.

Namun mereka tetap melambaikan tangan.

"Hati-hati Ayah."

Wisnu tersenyum.

"Makasih."

Lalu matanya berpindah pada Raka.

Ia mencium kening bayi itu cukup lama.

Jauh lebih lama dibanding saat berpamitan dengan kedua putrinya.

Hal kecil.

Tetapi tetap terlihat.

Dan tanpa sadar meninggalkan luka kecil yang belum dipahami siapa pun.

Mobil akhirnya pergi.

Semakin jauh.

Semakin kecil.

Lalu menghilang di tikungan.

Seline masih berdiri cukup lama.

Sampai Bu Sri memanggil dari dalam rumah.

"Masuk."

"Nanti anakmu masuk angin."

Seline mengangguk.

Lalu melangkah masuk.

Tidak tahu bahwa hari itu adalah awal dari kehidupan yang benar-benar berbeda.

Awalnya semuanya baik-baik saja.

Sangat baik bahkan.

Setiap bulan Wisnu mengirim uang.

Jumlahnya cukup besar.

Lebih dari cukup untuk kebutuhan rumah.

Seline mengurus toko sembako di depan rumah.

Bu Sri membantu menjaga Raka.

Shella dan Sherly bermain setiap hari.

Kehidupan mereka terlihat normal.

Damai.

Tenang.

Bahkan terkadang Seline merasa menang.

Ia mendapatkan semuanya.

Suami.

Rumah.

Anak.

Keluarga.

Kehidupan yang dulu dimiliki Nandin.

Dan untuk sementara waktu.

Ia benar-benar percaya bahwa kebahagiaan itu akan bertahan selamanya.

Di sisi lain.

Kehidupan Nandin berjalan sangat lambat.

Seolah waktu di pondok rehabilitasi bergerak dengan kecepatan berbeda.

Pukul tiga pagi.

Belum ada cahaya matahari.

Belum ada suara kendaraan.

Namun para penghuni pondok sudah bangun.

Suara air wudhu terdengar dari kamar mandi.

Suara langkah kaki terdengar di koridor.

Dan dari mushala kecil di tengah pondok.

Lantunan dzikir mulai menggema.

Nandin duduk di saf paling belakang.

Tubuhnya kurus.

Wajahnya pucat.

Tatapannya masih sering kosong.

Namun hari itu berbeda.

Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan.

Ia mengikuti dzikir sampai selesai.

Meski beberapa kali kehilangan fokus.

Meski beberapa kali menatap kosong ke depan.

Namun setidaknya ia bertahan.

Pak Kiai memperhatikannya dari jauh.

Senyum kecil muncul di wajah pria tua itu.

"Sudah mulai menerima."

bisiknya.

Nama Kiai itu adalah Kiai Abdul Manaf.

Seorang ulama sepuh yang dihormati di daerah tersebut.

Banyak keluarga menitipkan anggota keluarganya ke pondok rehabilitasi itu karena percaya kepada metode yang beliau gunakan.

Tidak hanya obat-obatan.

Tetapi juga pendekatan rohani.

Dzikir.

Shalat berjamaah.

Terapi kerja.

Dan penguatan jiwa.

Menurut beliau.

Tubuh yang sakit bisa disembuhkan obat.

Tetapi hati yang hancur membutuhkan sesuatu yang lebih dalam.

Setelah subuh.

Para penghuni pondok memiliki tugas masing-masing.

Ada yang membersihkan halaman.

Ada yang menyiram tanaman.

Ada yang membantu di dapur.

Awalnya Nandin tidak pernah mau melakukan apa pun.

Namun perlahan.

Ia mulai ikut.

Meski hanya hal-hal kecil.

Hari itu Bu Hesti memanggilnya.

"Nandin."

Perempuan itu menoleh.

"Iya Bu?"

"Tolong bantu kupas bawang."

Nandin mengangguk.

Lalu duduk di pojok dapur.

Mengambil pisau kecil.

Dan mulai bekerja.

Hal sederhana.

Sangat sederhana.

Namun bagi pengurus pondok.

Itu adalah kemajuan besar.

Karena beberapa bulan lalu.

Nandin bahkan tidak mau menyentuh makanan.

Tidak mau berbicara.

Tidak mau berinteraksi.

Kini ia mulai membantu.

Mulai mengikuti kegiatan.

Mulai hidup.

Meski perlahan.

Saat mengupas bawang.

Tiba-tiba matanya berair.

Bukan karena sedih.

Melainkan karena bawang.

Namun anehnya.

Saat melihat air mata yang jatuh.

Dadanya mendadak sesak.

Seolah tubuhnya mengingat sesuatu.

Sesuatu yang tidak mampu dijelaskan pikirannya.

Perempuan itu langsung memegang dada.

"Nandin?"

Bu Hesti mendekat.

"Kamu kenapa?"

Nandin menggeleng.

"Gak tahu."

Air mata terus mengalir.

Padahal ia tidak menangis.

Padahal ia tidak memikirkan apa pun.

Tetapi rasa sakit itu tetap ada.

Rasa kehilangan yang tidak memiliki bentuk.

Malam hari.

Setelah semua kegiatan selesai.

Para penghuni pondok mengikuti majelis dzikir.

Lampu mushala menyala redup.

Udara malam terasa sejuk.

Suara jangkrik bersahutan dari kejauhan.

Semua duduk melingkar.

Termasuk Nandin.

Pak Kiai mulai memimpin dzikir.

Suara beliau tenang.

Lembut.

Menenangkan.

Dan entah kenapa.

Untuk pertama kalinya.

Nandin merasa sedikit damai.

Sangat sedikit.

Tetapi cukup untuk membuatnya bertahan satu hari lagi.

Sementara itu.

Di rumah Bu Sri.

Kehidupan masih terlihat harmonis.

Bu Sri sering membantu menjaga Raka.

Bahkan terlalu sering.

Kadang sampai Seline merasa tidak punya kesempatan mengurus anaknya sendiri.

"Kasih ke Nenek saja."

"Nanti aku yang gendong."

"Nanti aku yang mandiin."

"Nanti aku yang kasih susu."

Seline hanya tersenyum.

Karena saat itu ia menganggap semua itu sebagai bentuk kasih sayang.

Ia belum menyadari.

Bahwa di balik semua kebaikan itu.

Ada sifat lain yang suatu hari akan muncul.

Sifat yang dulu pernah menghancurkan Nandin.

Hari demi hari berlalu.

Bulan demi bulan berlalu.

Nandin mulai dikenal oleh para penghuni pondok sebagai perempuan pendiam yang sering menatap langit.

Kadang ia tertawa sendiri.

Kadang menangis.

Kadang membantu memasak.

Kadang duduk berjam-jam tanpa bicara.

Namun satu hal yang mulai terlihat.

Ia tidak lagi seburuk dulu.

Meski masih jauh dari sembuh.

Suatu sore.

Saat sedang memotong sayuran.

Nandin tiba-tiba berhenti.

Pisau di tangannya terjatuh.

Tubuhnya membeku.

Matanya kosong.

"Nandin?"

Bu Hesti langsung menghampiri.

Perempuan itu tidak menjawab.

Bibirnya bergerak pelan.

Sangat pelan.

Seolah sedang mengingat sesuatu.

"Ma..."

"Nandin?"

"Ma..."

Air mata mulai jatuh.

Lalu perlahan.

Sebuah kata keluar dari bibirnya.

"Mama..."

Semua orang terdiam.

Karena itu pertama kalinya Nandin menyebut kata yang berhubungan dengan keluarganya.

Namun beberapa detik kemudian.

Ia kembali kosong.

Kembali lupa.

Kembali hilang dalam dunianya sendiri.

Dan tidak ada seorang pun yang tahu.

Bahwa di balik kabut tebal dalam pikirannya.

Ada dua nama kecil yang sedang berusaha menemukan jalan pulang.

Shella.

Dan Sherly.

Nama yang suatu hari nanti akan menjadi kunci kesembuhannya.

1
Penulis🇰🇷🇲🇨Chani
Aku mampir utk baca kak 😊 sekarang sdh baca episode pertama. Semangat kak♡
Penulis🇰🇷🇲🇨Chani
Wah nyebelin banget ya ibu mertuanya
Dhatu Lukita
semangat buat akuu😂
Penulis🇰🇷🇲🇨Chani: Semangat, fighting💪
total 1 replies
falea sezi
males MC di buat oon gini thor🤣 buat dia kuat gk menye bales dendam bego😒
Dhatu Lukita: hehehhe ya maap🙏
total 1 replies
falea sezi
😒 jalang.. emank pelakor nih buat nadin waras dan minta cerai dr laki kardus lah
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
tazayaa
bagus kak, mampir dikarya ku juga😍
tazayaa
halo kak, mampir di cerita ku yuu😍
Dhatu Lukita: haloo,,
oke baik. mari kita berkawan💗
total 1 replies
falea sezi
laki kardus g tau diri
Dhatu Lukita
pantengin terus ya kak 🤭💗
anakmafia
up tiap hari 10 episod bisa gasih thor hehehe
waya520
halooo aku mampir nih 🤭
Dhatu Lukita: haloo kaka🤭😍
total 1 replies
Arwondo Arni
cerai aja lebih bahagia semoga ketemu pria yg lbh segalanya dari bpknya si kembar yg berengsek.
Dhatu Lukita: heheheh pantengin terus ya kak🤭😍
total 1 replies
Wawan
Mawar dan iklan buat si kembar... ✍️💪
Dhatu Lukita: ahhh terimakasih banyak 🤭😍
total 1 replies
Lintang_Tara✨
saling dukung ygy❤️
Musea
udah mampir nih, semangat terus ya dari sesama authorr
Dhatu Lukita: siaaapppp💪💪💪
total 1 replies
anakmafia
nih ku kasih dukungan biar semangat wkwkwk.
Dhatu Lukita: ho.ohh tengkyu kak😍🥰🥰
total 1 replies
anakmafia
nih ku kasih dukungan biar semangat wkwkwk.
D. Nightshade
semangat terus thor,💗
Wawan
Salam kenal buat Nandin ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!