NovelToon NovelToon
Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi 2

Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Fantasi / Bertani / Slice of Life
Popularitas:37.5k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan sepak terjang sang Petani Sultan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggilan dari Sang Wakil Gubernur

Tepat pada pukul dua belas siang, Banyu tiba di depan gerbang Kompleks Pejabat Pemprov Nomor 9. Karena sudah beberapa kali kemari, ia cukup familiar dengan area tersebut. Tanpa banyak kendala, ia berhasil masuk ke dalam Rumah Dinas Nomor 3.

Pak Wijaya sudah pulang dari kantor. Melihat Banyu menenteng keranjang berisi sayuran segar, bahkan beberapa ekor ayam kampung dan telur, pria paruh baya itu menggelengkan kepalanya sambil tertawa pelan. "Kamu ini, Banyu. Setiap kali kemari pasti selalu repot bawa-bawa barang. Apa kamu tidak takut orang lain mengira aku menerima suap darimu?"

"Bapak ini bisa saja bercandanya," Banyu membalas dengan senyum lebar. "Ini semua cuma hasil bumi dari peternakan kecil saya, bukan barang mewah yang aneh-aneh. Kalau ada yang mau pakai barang semurah ini buat menuduh Bapak menerima suap, rasanya orang itu sendiri yang bakal malu, kan?"

Banyu baru menerima undangan Pak Wijaya tadi pagi, jadi ia sama sekali tidak punya waktu untuk pulang ke Lahan Mustika mengambil barang-barang ini. Sayuran dan hasil bumi ini memang berasal dari pertaniannya, namun ia mengambilnya secara dadakan dari stok dua hotel besar langganannya di Bandung. Banyu melakukan ini karena dua alasan: pertama, ia merasa sungkan jika bertamu dengan tangan kosong; kedua, ia ingin memberikan kode terselubung pada Pak Wijaya bahwa ia sudah pulang ke peternakan sejak kemarin malam, dan tidak menghabiskan malam bersama Siska.

Tentu saja, Pak Wijaya yang tidak tahu apa-apa mengangguk maklum. Dengan senyum hangat ia berkata, "Yah, bagaimanapun juga, aku selalu merasa tidak enak karena terus-terusan menerima pemberian darimu."

"Eh, jangan salah sangka, Pak! Ini semua bukan untuk Bapak, tapi khusus untuk Melati!" Banyu menukas dengan wajah serius. "Nutrisi telur dan ayam kampung asli ini sangat bagus, sangat cocok untuk memulihkan staminanya!"

Mendengar barang-barang itu dikhususkan untuk memulihkan kesehatan cucu kesayangannya, Pak Wijaya berhenti menolak. Ia memanggil asisten rumah tangganya untuk menerima barang bawaan Banyu, lalu berkata, "Baiklah, kalau ini untuk Melati, aku tidak akan sungkan lagi. Nanti kalau gadis kecil itu sudah sembuh, kubiarkan dia sendiri yang berterima kasih padamu."

Sambil mengobrol santai, keduanya berjalan menuju ruang makan. Pak Wijaya mempersilakan Banyu duduk, lalu menghela napas panjang dengan raut wajah yang masih memancarkan trauma. "Bicara soal Melati... beberapa hari yang lalu aku baru saja bilang pada Siska. Beruntung sekali keluarga kami bisa mengenalmu. Kau benar-benar malaikat penolong bagi keluarga kami!"

Jika ini terjadi di masa lalu, Banyu mungkin akan menerima pujian itu dengan dada membusung bangga. Toh, ia memang sudah menyelamatkan nyawa tiga generasi keluarga Wijaya; menyebutnya sebagai malaikat penolong sama sekali tidak berlebihan. Namun sekarang? Setelah ia memiliki hubungan fisik yang intim dengan putri kandung pria di depannya ini, Banyu benar-benar merasa ciut untuk bersikap sombong di hadapan 'calon ayah mertuanya'. Ia buru-buru merendah sambil tertawa canggung.

"Duh, Bapak jangan bicara begitu. Hubungan antar manusia itu kan didasari oleh ikatan takdir. Karena saya sudah ditakdirkan mengenal keluarga Bapak dan kita merasa sangat cocok, wajar dong kalau saya tidak bisa tinggal diam saat keluarga Bapak sedang dalam kesulitan?"

Jawaban Banyu tidak menonjolkan jasanya sendiri, namun di saat yang sama menekankan betapa dekat dan eratnya hubungan kekeluargaan mereka. Hal ini membuat Pak Wijaya merasa sangat tersentuh dan puas mendengarnya. Tentu saja, seandainya Pak Wijaya tahu bahwa saat mengucapkan kalimat manis itu, isi kepala Banyu didominasi oleh ingatan tentang tubuh telanjang putrinya, sang Wakil Gubernur pasti sudah melempar mangkuk nasinya tepat ke wajah pemuda ini.

Syukurlah, Pak Wijaya sama sekali buta tentang skandal panas antara Banyu dan Siska. Ketidaktahuannya ini justru membuat kesan positif Banyu di matanya semakin meroket. Pak Wijaya tak lagi mengumbar kata terima kasih. Ia tersenyum dan mempersilakan tamunya, "Makanannya sudah siap, ayo kita makan. Anggap saja rumah sendiri, jangan sungkan-sungkan!"

Jika ada warga atau pejabat lain yang mendengar seorang Wakil Gubernur mengucapkan kalimat hangat seperti itu secara personal pada seorang pemuda biasa, mereka pasti akan mati kejang karena iri. Namun, Banyu hanya membalas senyuman Pak Wijaya dan mengangkat mangkuk nasinya. "Tentu saja, Pak! Saya datang ke sini memang dengan niat numpang makan gratis, kok. Mana mungkin saya sungkan!"

Pak Wijaya segera menyadari bahwa Banyu benar-benar menepati janjinya untuk tidak sungkan. Nafsu makan pemuda ini nyaris terlihat beringas! Banyu menelan habis tiga mangkuk nasi putih penuh, dan lebih dari separuh lauk-pauk di atas meja langsung pindah ke dalam perutnya. Dalam kondisi normal, tata krama makan Banyu tidak sebarbar ini. Namun, ia belum memasukkan sebutir nasi pun ke perutnya sejak diseret ke kantor polisi kemarin. Puncaknya, ia harus membakar kalori ekstra untuk "bertarung" satu lawan satu dengan Siska di ranjang hingga dini hari tadi. Kelelahan dan lapar yang menumpuk membuat porsi makannya sangat bisa dimaklumi.

Setelah menelan suapan terakhir dari mangkuk ketiganya, Banyu bersandar di kursinya, mengelus perutnya dengan raut wajah kepuasan absolut. "Mantap! Kenyang luar biasa!"

Melihat Banyu makan selahap itu, Pak Wijaya tertawa puas. Dalam pandangan orang tua kolot sepertinya, nafsu makan yang baik adalah indikator mutlak dari tubuh yang sehat dan pikiran yang bersih tanpa beban. Melihat cara makan Banyu, Pak Wijaya semakin yakin bahwa pemuda ini adalah pria yang jujur dan baik hati.

Setelah Banyu meletakkan mangkuknya, barulah Pak Wijaya memulai sesi interogasinya. Ia tersenyum tipis dan bertanya dengan nada kasual, "Kudengar... kemarin kau dijemput polisi untuk membantu penyelidikan?"

Sebagai Wakil Gubernur yang membawahi bidang Hukum dan Keamanan, wajar jika informasi sekecil itu sampai ke telinganya. Banyu tidak berniat menyembunyikannya. Ia langsung mengangguk. "Benar, Pak. Mereka meminta keterangan saya soal kasus penganiayaan berat."

"Lalu, Siska yang mengeluarkanmu dari sana?" selidik Pak Wijaya.

Banyu ingat betul bahwa Pak Wijaya ikut mendengarkan telepon dari Pak Yudo kemarin malam. Fakta ini tak mungkin ditutupi. Ia menggaruk kepalanya sambil tertawa canggung. "Saya kan tidak punya banyak kenalan orang dalam di kota ini, Pak. Jadi terpaksa saya merepotkan Siska."

"Sesama teman saling membantu itu sudah hal yang wajar," Pak Wijaya mengangguk pelan. Namun, detik berikutnya tatapannya menajam. "Hanya saja... kudengar Siska bahkan memberikan alibi bahwa kau bersamanya sepanjang malam itu."

Deg! "Nah, ini dia menu utamanya!" Banyu membunyikan alarm peringatan di dalam kepalanya. Dengan senyum polos ia menjawab, "Ah, itu... Siska cuma terlalu panik takut saya jadi korban salah tangkap polisi, makanya dia agak kelepasan bicara membela saya."

Mendengar jawaban itu, dahi Pak Wijaya berkerut tak senang. "Maksudmu, polisi kita punya tendensi untuk menangkap orang yang tidak bersalah?"

Reaksi tidak senang Pak Wijaya ini sangat bisa dipahami. Sebagai pemegang otoritas tertinggi di sektor keamanan publik, mendengar Banyu menuduh aparat penegak hukum bertindak tidak adil sama saja dengan menampar institusi yang ia pimpin secara tak langsung.

Jika berhadapan dengan pejabat sekelas Wakil Gubernur yang sedang menunjukkan ekspresi tak senang, orang biasa pasti sudah pucat pasi dan menunduk minta ampun. Tapi Banyu bukanlah orang biasa. Ia justru mengangguk antusias membenarkan. "Seratus persen, Pak! Bapak kan tidak melihat sendiri kelakuan dua oknum polisi itu kemarin! Berdalih meminta keterangan, begitu saya sampai di kantor mereka, tangan saya langsung diborgol ke belakang, diperlakukan seperti teroris kelas kakap! Salah satu dari mereka bahkan sudah mengacungkan tongkat karet siap menyiksa saya! Kalau Siska tidak datang mendobrak pintu tepat waktu, Bapak hari ini pasti menjenguk saya di ICU, bukan duduk manis makan siang bersama!"

Sebenarnya, semua kekacauan di kantor polisi tadi malam sudah dilaporkan secara mendetail oleh Kombes Dimas kepada Pak Wijaya. Beliau sangat tahu bahwa ada dua oknum bawahannya yang melanggar SOP berat. Mendengar kronologi langsung dari Banyu, Pak Wijaya hanya bisa menghela napas panjang dengan raut penuh penyesalan. "Haaah... sudah berulang kali aku tegaskan dalam setiap rapat: Aparat penegak hukum harus menjadi pihak pertama yang taat hukum! Tapi selalu saja ada oknum di level bawah yang menyepelekan kedisiplinan dan bertindak sok kuasa. Benar-benar memalukan institusi!"

"Yah, namanya juga instansi besar dengan ribuan anggota. Ada satu-dua parasit kan hal yang lumrah, Bapak tidak perlu terlalu memikirkannya," hibur Banyu dengan gaya santai. "Lagipula, kedua parasit itu kan sudah langsung dipecat dan diproses hukum. Kalau bukan karena sistem disiplin yang Bapak bangun selama ini, mana mungkin mereka bisa disikat secepat itu?"

Pak Wijaya menggelengkan kepalanya pelan, masih merasa kecewa dengan kinerja bawahannya. Ia kembali menatap Banyu dan bertanya menukik, "Jadi, Siska bilang... pada malam kejadian itu, kalian berdua menghabiskan waktu bersama sepanjang malam?"

"Hahaha, itu seratus persen cuma karangan bebas dia saja, Pak!" Banyu tahu ia sedang berjalan di atas ladang ranjau. Ia buru-buru memberikan bantahan keras. "Seperti yang saya bilang tadi, dia cuma panik karena takut saya ditahan gara-gara kasus kotor itu!"

Pak Wijaya tersenyum tipis dan menyandarkan tubuhnya. "Tenang, jangan gugup begitu. Malam itu Letkol Leon datang makan malam di rumahku. Setelah beliau pulang, Siska sama sekali tidak pernah keluar rumah sepanjang malam. Jadi, Bapak tentu saja tahu kalau mustahil kalian berdua menghabiskan malam bersama."

Banyu diam-diam membuang napas lega yang luar biasa panjang. Ia kembali memasang senyum konyolnya. "Tuh kan! Kalau Bapak sudah tahu faktanya kalau Siska ada di rumah, ngapain Bapak nakut-nakutin saya pakai pertanyaan jebakan kayak gitu?!"

"Bapak sama sekali tidak memedulikan alibi palsu itu. Yang Bapak pedulikan adalah... kau benar-benar TIDAK PUNYA alibi yang sah malam itu!" Senyum di wajah Pak Wijaya lenyap tak berbekas, digantikan oleh aura otoritas absolut seorang penguasa. Ia menatap Banyu dalam-dalam, setiap suku katanya ditekankan dengan berat. "Bapak hanya ingin tahu satu hal: Apakah kasus penganiayaan berat itu... BENAR-BENAR PERBUATANMU?!"

Suasana di meja makan mendadak menegang. Banyu membalas tatapan tajam Pak Wijaya tanpa berkedip. "Sebelum menjawab, saya juga ingin tahu... Dalam kapasitas apa Bapak menanyakan hal ini? Sebagai seorang Wakil Gubernur? Atau... sebagai seorang Kakek dari Melati, dan Ayah dari Siska?"

Wajah Pak Wijaya tetap tak terbaca. Ia menimpali datar, "Jika Bapak bertanya sebagai Kakek dari Melati?"

"Iya, saya yang melakukannya!" jawab Banyu cepat dan tegas tanpa keraguan sedetik pun. "Saya yang menghancurkan kedua kaki Rendi! Saya pastikan bajingan itu lumpuh permanen agar seumur hidupnya ia tak lagi punya kualifikasi untuk merebut Melati dari sisi Ibunya!"

"Lalu, jika saat ini Bapak bertanya sebagai seorang Wakil Gubernur?"

"Saya sama sekali tidak tahu apa-apa soal kasus itu," jawab Banyu dengan wajah datar setenang balok es. "Pada malam kejadian, saya menghabiskan waktu bersama putri Anda. Kami tidak pernah keluar dari pintu rumah sedikit pun. Kalau Bapak tidak percaya kesaksian warga sipil biasa seperti saya, Bapak bisa memverifikasinya sendiri langsung pada putri kandung Bapak!"

Mendengar jawaban super nekat dan tak tahu malu dari pemuda di depannya ini, Pak Wijaya serasa ingin marah sekaligus ingin tertawa. Amarahnya perlahan mereda. Dengan nada yang lebih melunak ia bertanya, "Banyu... tidakkah kau sadar bahwa tindakan main hakim sendiri seperti ini sangat fatal di mata hukum? Kalau sampai kau tertangkap dan terbukti bersalah, kau bisa membusuk di penjara selama bertahun-tahun. Masa depanmu masih sangat panjang, potensimu luar biasa besar..."

Melihat aura permusuhan Pak Wijaya memudar, Banyu kembali memasang senyum cengengesannya. "Pak Wijaya yang terhormat, apakah Bapak lupa prinsip hidup yang pernah saya utarakan dulu? 'Kejahatan itu baru sah disebut kejahatan kalau pelakunya tertangkap. Kalau pelakunya tidak pernah tertangkap, berarti kasus itu hanyalah mitos belaka.' Betul kan, Pak?"

Tawa Pak Wijaya akhirnya pecah mendengar logika sesat pemuda ini. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apakah kau tidak pernah mendengar pepatah, 'Sepandai-pandainya tupai melompat, jaring hukum tak akan pernah salah sasaran'?"

"Saya paham. Tapi saya juga paham bahwa sampah busuk seperti Rendi harus segera dienyahkan sebelum baunya meracuni orang lain," jawab Banyu dengan sorot mata yang kembali serius dan tajam. "Kalau bukan karena masih memikirkan fakta bahwa dia adalah ayah kandung Melati, hmph... malam itu saya pasti..."

"Apa? Kau mau membunuhnya?!" Alis Pak Wijaya menukik tajam. "Banyu, kita hidup di negara hukum yang beradab. Jangan bertindak terlalu barbar dan main hakim sendiri."

Banyu menghela napas pasrah dengan senyum getir. "Bapak pikir saya hobi mengotori tangan saya dengan darah sampah seperti dia? Saya terpaksa melakukannya karena dia sudah melewati batas absolut! Kalau saya tidak bertindak kejam untuk melumpuhkannya sekarang, besok dia pasti akan menghancurkan masa depan dan psikologis Melati di pengadilan! Saya tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi!"

Mengetahui betapa dalam kasih sayang Banyu pada cucunya, Pak Wijaya terdiam cukup lama sebelum akhirnya mendesah pelan. "Haaah... sudahlah. Apa yang sudah terjadi biarlah berlalu, tidak perlu kita ungkit-ungkit lagi ke depannya. Tapi Bapak minta satu hal padamu: Kalau di masa depan kau dihadapkan pada masalah pelik seperti ini lagi, tolong gunakan otakmu, jangan emosimu. Kalau kau memang menganggapku sebagai orang tua yang bisa dipercaya, datanglah padaku dan mari kita cari solusinya bersama. Paham?!"

Dari intonasi ucapan tersebut, Banyu langsung paham bahwa Pak Wijaya telah secara resmi "menutup" kasus ini di matanya. Pria itu baru saja memberinya pardon tak resmi! Banyu menyeringai nakal dan mengangguk patuh. "Siap, laksanakan! Lain kali kalau ada krisis, saya pasti akan lapor dan mengemis solusi pada Bapak. Bagaimanapun juga, asam garam yang Bapak telan pasti jauh lebih banyak daripada nasi putih yang saya makan hari ini. Nasihat Bapak pasti sangat tokcer..."

"Bocah tengik, sudah hentikan rayuan gombalmu itu!" Pak Wijaya bangkit berdiri dari kursinya sambil terkekeh pelan. "Bapak mau ke taman belakang mengurus anggrek kesayangan Bapak. Kau mau ikut melihatnya?"

"Oh, tidak, terima kasih. Bunga-bungaan cantik dan elegan seperti itu tidak cocok untuk preman barbar yang hobinya main otot seperti saya," tolak Banyu dengan tawa ringan. "Bapak nikmati saja waktu bersantainya. Saya pamit undur diri dulu."

Pak Wijaya tidak memaksa Banyu. Ia mengantar pemuda itu hingga ke depan pintu rumah dinas, lalu kembali ke dalam untuk merawat koleksi anggrek sultan yang dulu diberikan oleh Banyu.

Banyu berjalan kaki santai meninggalkan Kompleks Pejabat Pemprov. Namun, baru beberapa belas meter ia melangkah keluar dari gerbang kompleks, sebuah mobil jeep off-road militer melaju kencang dan mengerem mendadak tepat di depannya dengan bunyi decitan ban yang melengking. Pintu mobil terbuka kasar, dan Letkol Leon melompat turun. Pria berbadan tegap itu menatap Banyu dengan raut wajah yang dipenuhi oleh api kemarahan.

1
Noor hidayati
kayaknya authornya ini memang menyukai free sex
Sri Murtini
Sesuai takdir Siska adalah isteri pertamamu banyu ...mslh dayang lainya ikuti mengalir saja tp dgn pertimbangan istri pertama ya !!
Yusup Surya
sialan plot twist dalam plot twist
Sri Murtini
Banyu segera nikahi Siska siapa tahu ada banyu yunior yg singgah dirahim siska sblm zina berlanjut💪😍😍
wan auw
ahhh kurang bnyak thorrr
isnaini naini
stlh beratus ratus episode...akhirnys....emang author satu ini pnuh kjutan
Memyr 67
𝗆𝖾𝗇𝖺𝗇𝗀 𝖻𝖺𝗇𝗒𝖺𝗄 𝗍𝗎 𝖻𝖺𝗇𝗒𝗎. 𝖽𝖺𝗁 𝖻𝖾𝗋𝗁𝖺𝗌𝗂𝗅 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖾𝖻𝗈𝗅 𝗄𝖾𝗉𝖾𝗋𝖺𝗐𝖺𝗇𝖺𝗇 𝗌𝗂𝗌𝗄𝖺, 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌 𝗆𝖺𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖾𝖻𝗈𝗅 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗉𝖾𝗋𝖺𝗐𝖺𝗇 𝗒𝗀 𝗆𝖺𝗇𝖺 𝗅𝖺𝗀𝗂? 𝗍𝖺𝗇𝗉𝖺 𝗉𝖾𝗋𝗇𝗂𝗄𝖺𝗁𝖺𝗇? 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋 𝗉𝗅𝖺𝗒𝖻𝗈𝗒 𝖼𝖺𝗉 𝗄𝖺𝗉𝖺𝗄.
Hardware Solution
akhirnyaaaa.....
Memyr 67
𝗉𝗎𝖺𝗌𝗒, 𝗒𝗎𝖽𝗈 𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝖻𝖺𝗅𝖺𝗌𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗍𝗂𝗆𝗉𝖺𝗅
Gege
akhirnya banyu pecah prewi...dan ular kadutnya pun berevolusi bukan buat kencing ajah...🤭🤣
Cui Lan Seng
hahaha emang benar novel terjemahan berarti emang indonesia bukan asia ya
Zamo: Anjirr, aku ampe mikir apa maksudnya ini? tapi bener juga ya, dikiranya Indonesia benua sendiri🤭
total 1 replies
Endro Budi Raharjo
lalu crita ditangkep polisi gmn kelanjutannya ???
Riyanganz
seperti biasa dramanya 4 chapter ga selesai selesai😄
Was pray: biasa .... muter2 kayak gangsing, satu konflik gak kelar2.. .. 🤭
total 1 replies
Memyr 67
𝗉𝖾𝗆𝗎𝖽𝖺 𝖺𝗌𝗂𝖺. 𝗄𝖺𝗇 𝗉𝗈𝗌𝗂𝗌𝗂 𝖻𝖺𝗇𝗒𝗎 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝗀 𝖽𝗂 𝖺𝗌𝗂𝖺 𝗍𝗁𝗈𝗋.
asammanis
wkwk bosen hidup🤣🤣
BaksoEnak
hahahah kayaknya ini novel terjemahan Da Xia yaa ketahuan kamu🤭🤭🤭
Was pray
jadi tersangka penganiayaan itu Rendi biar banyu mikir dulu kalau mau bertindak, udah jelas menganiaya Rendi di tempat publik( rumah sakit)itu udah veruko tinggi
Gege
othor berusaha membuat konflik yang memicu emosi pembacanya, ..🤣
asammanis
wkwk kekuatan amplop emang paling top🤣
asammanis
wkwk susternya kena mental 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!