Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Penjaga Gunung
Suara teriakan Wiratama memecah heningnya lembah, disusul gerakan cepat puluhan orang bersenjata yang mulai menyeberangi sungai. Air yang deras dan bebatuan licin membuat pergerakan mereka agak terhambat, namun semangat mereka untuk menangkap dan merebut medali itu tampak membara.
“Bersembunyi di balik bebatuan itu!” perintah Putra dengan suara rendah namun tegas, sambil segera menarik tangan Citra menuju tumpukan batu besar di pinggir sungai. Posisi itu memberikan perlindungan sementara, namun jelas tidak akan bertahan lama jika pengepungan semakin rapat.
Citra memegang erat kertas peta dan nama yang baru saja ditemukan di dalam medali. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut mati, melainkan karena beban rahasia yang kini sepenuhnya berada di pundaknya. “Bapak Wira… Penjaga Gunung,” gumamnya pelan. “Apakah ini orang yang dimaksud ayahku dalam surat itu?”
Putra melirik sekilas ke arah peta di sela-sela mengawasi gerakan musuh. “Peta ini menunjukkan arah lebih dalam ke pegunungan, melewati jalur yang sangat jarang dilalui orang. Jika dia benar-benar penjaga tempat ini, mungkin hanya dia yang tahu jalan aman menuju lokasi tambang asli.”
Belum sempat mereka merencanakan langkah selanjutnya, suara tembakan terdengar memecah udara. Namun, peluru itu tidak melesat ke arah mereka, melainkan melayang di atas kepala pasukan Wiratama sebagai peringatan keras.
“Berhenti di tempat! Jangan bergerak!”
Suara itu lantang dan berwibawa, disusul deru mesin kendaraan militer yang semakin mendekat hingga berhenti di tepi hutan di belakang posisi Wiratama. Dari beberapa kendaraan lapis baja, turun sekelompok prajurit dengan seragam resmi dan identitas yang jelas, dipimpin oleh seorang pria paruh baya yang wajahnya tegas namun memancarkan kepercayaan diri—Kolonel Bayu.
Di belakangnya terlihat beberapa perwira lain yang memiliki surat perintah resmi dari pihak berwenang, tampaknya telah bergerak cepat setelah mendengar seluruh percakapan yang disiarkan perangkat komunikasi Putra.
Wiratama membalikkan badan, wajahnya yang tadinya penuh amarah kini berubah menjadi dingin dan berusaha menyembunyikan kekhawatiran. “Kolonel Bayu? Apa maksud kedatanganmu di sini? Kalian mengganggu operasi penangkapan penjahat negara!”
Kolonel Bayu melangkah maju, mengangkat dokumen resmi di tangannya. “Operasi ini dihentikan, Wiratama. Kami memiliki perintah langsung untuk melakukan penyelidikan ulang atas kasus ini. Bukti yang kami terima menunjukkan ada indikasi kuat pemalsuan laporan dan penyalahgunaan wewenang.”
“Omong kosong!” seru Wiratama, meski matanya berkedip gelisah. “Mereka membawa dokumen rahasia yang dicuri! Jangan biarkan mereka memutarbalikkan keadaan!”
“Dokumen itu justru menjadi kunci untuk mengungkap kebenaran,” sahut Kolonel Bayu tenang namun tegas. “Dan untuk saat ini, tidak ada yang berhak menyentuhnya sampai diselidiki secara resmi. Baik mereka, maupun Anda.”
Suasana menjadi tegang. Kedua kelompok bersenjata saling berhadapan, siap untuk bertindak jika ada satu gerakan yang salah. Bibi Sari yang berdiri di samping Wiratama tampak gelisah, matanya melirik ke sana kemari seolah mencari jalan keluar jika keadaan berbalik.
Memanfaatkan ketegangan yang memecah fokus musuh, Putra berbisik cepat kepada Citra, “Ini kesempatan kita. Mereka sibuk berhadapan satu sama lain. Kita harus pergi sekarang, sebelum situasi ini mereda.”
“Tapi Kolonel Bayu”
“Dia akan mengerti,” potong Putra pelan. “Jika kita menyerahkan dokumen dan medali sekarang, ada risiko besar Wiratama masih punya pengikut di dalam sistem yang bisa memanipulasi bukti lagi. Kita harus bertemu Bapak Wira untuk mendapatkan bukti lengkap yang tak terbantahkan. Hanya itu yang bisa menjatuhkan Wiratama selamanya.”
Citra mengangguk setuju, memahami logika suaminya. Mereka bergerak perlahan dan hati-hati, memanfaatkan semak belukar dan suara pertengkaran yang semakin keras di tepi sungai untuk menyelinap menjauh. Mengikuti arah yang ditunjukkan peta kecil itu, mereka mulai menanjak kembali masuk ke dalam hutan yang lebih lebat dan gelap.
Perjalanan itu jauh lebih sulit dibandingkan sebelumnya. Jalurnya hampir tidak terlihat, tertutup akar pohon besar dan bebatuan yang licin karena embun. Suasana di dalam hutan terasa sunyi, hanya diselingi suara burung yang terbang dan aliran air sungai yang makin menjauh. Matahari mulai condong ke barat, memancarkan cahaya keemasan yang tembus tipis melalui rimbunnya dedaunan.
Sesekali, Citra terhenti dan memegang lengannya. Sebagai dokter, ia tahu tubuhnya mulai lelah, namun tekadnya tidak goyah. Putra selalu berhenti, memeriksa kondisinya dengan tatapan khawatir, dan membagikan sedikit air minum yang tersisa.
“Kau yakin kita berada di jalur yang benar?” tanya Citra sambil memandangi peta yang mulai agak kusut.
“Tanda-tandanya sesuai,” jawab Putra sambil mengamati sekeliling. “Ada batu besar berbentuk kepala harimau seperti yang digambarkan di sini. Kita hampir masuk ke area yang disebut sebagai kawasan terlarang oleh penduduk desa.”
Mereka berjalan terus selama hampir dua jam lagi, hingga akhirnya tiba di sebuah celah sempit di antara dua tebing besar. Di sana, terlihat sebuah jalan setapak yang sengaja dibuat menyempit dan tertutup sebagian oleh tanaman rambat. Di atas celah itu, terukir simbol yang sama persis dengan yang ada di medali bintang dengan ukiran daun.
“Ini dia,” bisik Citra dengan mata berbinar campuran harap dan waspada.
Mereka melangkah masuk dengan hati-hati. Begitu melewati celah itu, pemandangan di hadapan mereka berubah drastis. Di tengah lembah yang tersembunyi, terdapat sebuah padang rumput kecil yang hijau, dan di ujungnya berdiri sebuah gubuk kayu tua namun kokoh, dikelilingi oleh pagar bambu. Suasana di sana terasa damai, jauh dari hiruk-pikuk dunia luar yang penuh intrik.
Sebelum mereka sempat memanggil, suara berat namun tenang terdengar dari arah gubuk. “Sudah lama tidak ada yang berani melewati celah batu itu. Apakah kalian datang sebagai tamu, atau sebagai pencuri yang mencari harta karun?”
Dari balik pintu gubuk, muncul seorang pria tua bertubuh tegap meski usianya sudah lanjut. Rambutnya memutih, namun matanya tajam dan penuh kewaspadaan. Di dadanya, tergantung sebuah medali yang bentuknya persis sama dengan milik Citra bintang dengan ukiran daun.
Citra tertegun, lalu segera melangkah maju dengan sopan. “Kami datang bukan untuk mencuri, Pak. Kami datang membawa pesan dari seseorang yang bernama” ia membuka tasnya dan mengeluarkan medali serta surat peninggalan ayahnya“Bernama Bapak Surya. Beliau adalah ayah kandung saya.”
Mendengar nama itu, wajah pria tua itu berubah. Kewaspadaan di matanya perlahan luntur, digantikan rasa kaget dan sedih yang mendalam. Ia melangkah mendekat, menatap medali yang dipegang Citra dengan pandangan yang jauh, seolah mengenang masa lalu.
“Surya…” gumamnya pelan. “Sudah hampir dua puluh tahun aku tidak mendengar nama itu. Aku mengira dia telah binasa bersama rahasia ini.”
“Beliau meninggal secara misterius, Pak,” sahut Citra dengan suara bergetar. “Dan sekarang, kami diburu karena mencoba mengungkap kebenaran. Wiratama mantan rekan beliau telah memutarbalikkan fakta dan berusaha merebut sumber daya alam langka yang disembunyikan agar bisa dijual ke pihak asing.”
Pria tua itu yang ternyata adalah Bapak Wira menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. “Aku sudah menduga suatu hari ini akan terjadi. Surya selalu khawatir ambisi Wiratama tidak akan pernah puas sampai ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Masuklah. Tidak aman berbicara di luar.”
Di dalam gubuk yang sederhana namun rapi, Bapak Wira menyuguhkan air hangat dan makanan sederhana. Ia kemudian menatap kedua tamunya dengan tatapan serius.
“Zat yang kalian cari itu bukanlah emas atau batu mulia biasa,” jelaskannya perlahan. “Namanya disebut ‘Kristal Langit’. Ia memiliki sifat yang sangat unik yang bisa digunakan untuk sumber energi yang sangat bersih dan melimpah, namun jika jatuh ke tangan yang salah, ia bisa diolah menjadi senjata pemusnah massal yang sangat berbahaya. Itulah sebabnya kami sepakat untuk menyembunyikan keberadaannya puluhan tahun lalu.”
“Jadi itulah alasannya,” gumam Putra. “Wiratama tidak hanya menginginkan kekayaan, tapi juga kekuasaan mutlak.”
“Benar,” lanjut Bapak Wira sambil mengeluarkan sebuah kotak kayu tua dari bawah tempat tidurnya. “Surya dan aku membagi data lokasi aslinya agar tidak ada seorang pun yang bisa menguasainya sendirian. Separuh ada di surat dan medali itu, separuh lainnya ada di sini, di dalam kotak ini.”
Namun, saat Bapak Wira hendak membuka kotak itu, tiba-tiba anjing penjaga yang ada di luar gubuk menggonggong dengan galak dan terus-menerus. Suara langkah kaki banyak orang terdengar mendekat dengan cepat, disertai suara teriakan yang tidak asing lagi.
“Keluar! Kami tahu kalian ada di dalam sana!”
Wajah Bapak Wira berubah pucat. “Mereka mengikuti jejak kalian lebih cepat dari yang kuduga. Wiratama pasti memiliki pelacak canggih.”
Suara pintu pagar bambu didorong paksa. Lewat celah jendela, mereka melihat puluhan orang bersenjata mengepung gubuk itu, dan di depan sekali tampak sosok Wiratama yang tersenyum licik, diikuti Bibi Sari yang tampak penuh kemenangan.
“Tidak ada tempat lari lagi, Tuan Penjaga Gunung!” teriak Wiratama dari luar. “Serahkan saja kotak dan medali itu, dan mungkin aku akan membiarkan kalian hidup dengan tenang. Jika tidak, gubuk ini akan menjadi kuburan kalian semua!”
Citra memeluk erat dokumen dan medali itu di dadanya, sedangkan Putra berdiri tegak di depan pintu, siap menghadapi apa pun. Namun, di tengah keputusasaan itu, Bapak Wira tiba-tiba tersenyum tipis dan menyentuh lantai kayu di sudut ruangan, mengaktifkan sebuah mekanisme rahasia. Sebuah pintu jebakan terbuka perlahan, memperlihatkan lorong gelap yang menurun ke bawah.
“Ada jalan keluar lain, tapi hanya cukup untuk kalian berdua,” ucap Bapak Wira tegas. “Lorong ini menuju gua bawah tanah yang keluar di sisi lain gunung. Bawa data ini dan berikan kepada pihak yang benar-benar bisa dipercaya. Aku akan menahan mereka sebentar.”
“Tidak, kami tidak bisa meninggalkan Anda!” tolak Citra.
“Ini tugasku sebagai penjaga dan janji pada sahabatku,” potong Bapak Wira tegas. “Pergilah! Sebelum mereka mendobrak masuk!”
Di tengah desakan dan suara pukulan yang mulai menghantam dinding gubuk, Putra akhirnya menarik tangan Citra masuk ke dalam lorong. Sebelum pintu jebakan tertutup rapat, mereka melihat Bapak Wira berdiri gagah di depan pintu utama, siap berhadapan sendirian dengan pasukan Wiratama.
Lorong itu gelap dan berbau lembap, hanya diterangi cahaya senter kecil yang dibawa Putra. Mereka berjalan tergesa-gesa namun hati-hati, mendengar suara keributan dan teriakan yang semakin menjauh di atas mereka. Namun, baru saja mereka merasa sedikit aman, langkah mereka terhenti mendadak.
Di ujung lorong yang terang, menunggu sesosok bayangan yang tidak mereka duga. Bukan Wiratama, bukan juga pasukannya, melainkan seseorang yang mengenakan seragam militer yang sama dengan Kolonel Bayu, namun tatapannya dingin dan senyumnya penuh tipu daya. Di tangannya tergenggam pistol yang diarahkan tepat ke arah mereka.
“Terima kasih telah membawa separuh rahasia terakhir itu kemari,” ucap perwira itu dengan suara rendah. “Sekarang, serahkan saja semuanya dengan tenang. Rencana kita akan segera sempurna.”
Putra dan Citra saling berpandangan, hati mereka mencelos. Ternyata, pengkhianat tidak hanya ada di luar, namun juga telah menyusup masuk ke dalam lingkaran kepercayaan yang mereka anggap aman. Siapakah pria ini? Dan seberapa jauh jaringan pengkhianatan ini telah menjalar?
Rasa lega yang sempat muncul seketika berubah menjadi ketakutan yang lebih besar. Di tengah kegelapan gua, nasib mereka dan kebenaran yang diperjuangkan kini tergantung pada satu pilihan yang sangat berbahaya.