Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.
Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Runtuhnya Sang Raksasa
Awan debu tebal bergulung-gulung menutupi pusat Arena Langit, menyembunyikan hasil dari benturan dua kekuatan mengerikan itu. Puluhan ribu murid menahan napas, mata mereka melebar tak berkedip. Jantung mereka berdebar seirama dengan keheningan yang mencekam.
Di tribun kehormatan, senyum sinis Tetua Agung Gui Huan perlahan memudar. Matanya yang sipit menajam, mencoba menembus tabir debu menggunakan Persepsi Roh-nya. Apa yang ia rasakan membuat tangannya tanpa sadar mencengkeram erat sandaran kursi gioknya.
Perlahan, angin menyapu sisa-sisa kepulan debu.
Pemandangan di tengah kawah arena akhirnya terlihat jelas.
Sesosok tubuh raksasa berbalut zirah emas yang hancur lebur tampak tergeletak tak berdaya di atas tumpukan batu giok yang hancur. Kapak ganda bergerigi yang menjadi kebanggaannya terlempar jauh, patah menjadi dua bagian.
Itu adalah Kuang Ren.
Monster dari Pelataran Dalam itu terkapar dengan mata terbelalak putih. Di tengah dadanya, tepat di ulu hati, terdapat sebuah cekungan hangus berbentuk kepalan tangan yang memancarkan sisa-sisa kilat ungu. Zirah spiritual tingkat buminya berlubang sempurna. Darah segar terus mengalir dari hidung dan mulutnya, sementara fluktuasi Qi Foundation Establishment Puncak-nya kacau balau, menandakan bahwa meridian utamanya telah mengalami kerusakan parah!
Di hadapan raksasa yang tumbang itu, berdiri sesosok pemuda berjubah hitam yang kini compang-camping.
Zeng Niu masih berdiri.
Napasnya terdengar sangat kasar dan memburu, seperti embusan angin dari puing-puing bangunan yang runtuh. Lengan kanannya yang ia gunakan untuk melancarkan serangan terakhir bergetar hebat; kulit perunggunya robek, memperlihatkan otot yang kemerahan, dan darah menetes deras dari ujung jari-jarinya hingga membentuk genangan kecil di kakinya.
Tulang Besi Berkarat-nya telah mencapai batas toleransi. Dantian barunya benar-benar kosong, kering layaknya sumur di musim kemarau.
Namun, punggung pemuda itu tetap tegak lurus layaknya tombak yang menolak bengkok. Ia perlahan mengangkat wajahnya yang berlumuran darah dan debu, menatap lurus ke arah tribun kehormatan. Seringai algojo itu meski lelah kembali terukir, memancarkan aura arogansi mutlak yang meremehkan langit dan bumi.
"Tiga lalat," suara Zeng Niu terdengar serak, pelan, namun cukup kuat untuk memecah keheningan puluhan ribu orang. Ia meludah darah kotor ke samping. "Ada yang lain?"
BUM!
Sorakan meledak layaknya gunung berapi! Ribuan murid Pelataran Luar yang selama ini ditindas bersorak histeris, sementara faksi Pelataran Dalam terdiam dalam horor. Seorang murid Foundation Establishment Awal benar-benar merobohkan sang monster Tahap Puncak dalam pertarungan lansung!
"TIDAAAAAK! MURIDKU!"
Raungan histeris dan penuh amarah meledak dari tribun kehormatan.
Tetua Jian Kuang melompat dari kursinya. Melihat murid utama kebanggaannya, harapan masa depannya, terkapar dengan meridian yang nyaris hancur, akal sehat Jian Kuang seketika putus.
"Bocah iblis! Berani-beraninya kau menghancurkan fondasi muridku! Aku akan mengulitimu hidup-hidup!"
Jian Kuang mengabaikan semua aturan sekte. Fluktuasi Golden Core Puncak-nya meledak tak terkendali. Ia mengangkat tangannya, membentuk sebuah Pedang Cahaya Emas raksasa yang memancarkan Niat Membunuh mematikan, lalu menebaskannya langsung ke arah Zeng Niu yang sudah tidak memiliki Qi untuk menghindar.
"Jian Kuang! Berhenti!" raung Tetua Mo Yin, langsung menghunus pedang bayangannya dan bersiap melesat ke arena.
Namun, Mo Yin kalah cepat oleh bayangan anggun di sebelahnya.
Zhao Ying, yang sejak awal tidak pernah melepaskan pandangannya dari Zeng Niu, melangkah satu tindak ke depan. Matanya yang indah perlahan berubah menjadi seputih salju keperakan. Cadar sutranya berkibar pelan.
Di dalam nadinya, warisan dari Surga Atas mulai beresonansi menembus segel kutukan dimensi, didorong oleh sisa energi murni dari Pil Qi Tingkat Tiga yang ia telan semalam.
KRAAAK!
Di belakang punggung gadis itu, ruang fana mendadak terdistorsi. Sebuah ilusi cincin cahaya putih memancar redup, dipenuhi oleh pusaran kabut bintang yang berputar tanpa suara.
Itu adalah Roda Bintang Putih.
Zhao Ying merasakan aliran energi yang sejuk memasuki meridiannya. Namun, di saat yang sama, matanya memancarkan kerumitan.
Hanya satu roda... batin Zhao Ying, merasakan dinding tak kasatmata yang masih membelenggunya. Sisa energi pil ini hanya mampu mengaktifkan lapisan pertama. Hamparan kekuatan di balik segel ini terasa sangat dalam dan tak berujung. Aku bahkan tidak bisa merasakan ujung batasnya... Entah ada berapa banyak roda bintang yang sebenarnya tertidur di dalam diriku.
Meskipun ia tidak tahu total tingkatan kekuatannya sendiri karena ingatan fisiknya yang masih tersegel kutukan dunia, satu roda ini sudah lebih dari cukup untuk menundukkan langit fana.
Berkat pembukaan Roda Bintang Pertama tersebut, kabut putih tipis yang indah seperti cahaya bulan mengelilingi tubuhnya. Aura keberadaannya terhapus sepenuhnya dari persepsi alam fana, membuat Jian Kuang mendadak kehilangan target kuncian Persepsi Roh-nya!
Hanya dengan satu langkah melayang, Zhao Ying sudah berdiri tepat di depan Zeng Niu yang kelelahan.
Jian Kuang yang kehilangan akal sehat tetap memaksakan Pedang Cahaya Emas-nya menukik turun menembus kabut bulan tersebut, berniat menebas keduanya sekaligus.
Mata keperakan Zhao Ying menatap pedang raksasa itu dengan dingin. Jari telunjuk dan tengah pualamnya menyatu, menunjuk lurus ke langit. Gerakannya sangat elegan, namun di balik keanggunan itu tersimpan ketajaman bintang yang mematikan.
"Hancur," bisik Zhao Ying sehalus lonceng es.
[Tebasan Cahaya Surgawi]!
Meminjam kekuatan dari Roda Bintang Pertama di punggungnya, sebuah pedang Qi Bintang berukuran kecil yang luar biasa padat melesat dari ujung jarinya. Kecepatannya membelah ruang fana tanpa suara.
Saat tebasan cahaya itu berbenturan dengan ujung Pedang Cahaya Emas milik Jian Kuang... pedang Golden Core Puncak itu sama sekali tidak bisa menahannya!
Bilah emas raksasa milik Jian Kuang terbelah dari ujung hingga ke pangkal bagaikan kertas basah yang digunting, lalu hancur berkeping-keping menjadi serpihan cahaya spiritual yang memudar tertiup angin!
Arena seketika senyap. Sorakan penonton tercekik di tenggorokan mereka.
Tetua Jian Kuang terhuyung mundur, memuntahkan seteguk darah karena serangan pamungkasnya diputuskan secara paksa oleh hukum yang lebih tinggi. Ia menatap gadis bercadar biru itu dengan sepasang mata membelalak ngeri. Cincin cahaya bintang di belakang gadis itu telah menghilang kembali ke dalam tubuhnya, namun terornya masih membekas.
Jian Kuang, suaranya bergetar. "Itu... itu bukan pedang Qi biasa! Fluktuasi macam apa itu?!"
Di singgasana emasnya, Tetua Agung Gui Huan perlahan berdiri. Wajahnya tidak lagi menampilkan senyum palsu. Ia menatap Zhao Ying dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Hancurnya pedang Jian Kuang semudah mematahkan ranting kering membuktikan bahwa wanita misterius ini memiliki teknik yang melampaui pemahaman sekte ini. Jika Gui Huan memaksa bertarung sekarang, dengan Mo Yin dan wanita itu di pihak Zeng Niu, pertumpahan darah di tingkat Tetua tidak bisa dihindari, dan itu akan menggagalkan rencananya.
Gui Huan adalah serigala tua yang licik. Ia segera mengubah ekspresinya, memasang kembali topeng kebijaksanaan yang tebal.
"Cukup, Tetua Jian Kuang! Mundur!" perintah Gui Huan dengan suara menggelegar penuh wibawa.
"Tapi Tetua Agung, bocah itu menghancurkan muridku—!"
"Aku bilang MUNDUR!" bentak Gui Huan, melepaskan tekanan Qi-nya, membuat Jian Kuang terpaksa menggigit lidah dan menahan amarahnya.
Gui Huan kemudian menatap ke bawah arena, melihat Zeng Niu yang masih berdiri bertopang pada Pedang Nisan Hitam. Pria tua itu bertepuk tangan pelan, memecah keheningan yang menyesakkan.
"Luar biasa. Sangat luar biasa," ucap Gui Huan, suaranya dipenuhi pujian berbisa. "Zeng Niu, kau telah membuktikan ketangguhan fisik dan tekadmu. Meskipun kau bertindak sedikit brutal pada sesama murid, akademi saat ini membutuhkan harimau buas, bukan domba jinak."
Zeng Niu mendengus sinis, kabut cahaya bulan dari Zhao Ying perlahan memudar di sekitarnya. "Simpan omong kosongmu. Apa intinya?"
Mata Gui Huan menyipit. "Intinya adalah, kau telah memenangkan Seleksi Garda Depan ini. Sebagai pemenang dengan performa paling gemilang, aku, mewakili Kepala Akademi, menunjukmu sebagai Komandan Pasukan Pelopor!"
Mendengar gelar itu, raut wajah Lin Xiaoyu, Bao Tu, dan Tetua Mo Yin seketika pucat pasi.
"Komandan Pelopor?!" Mo Yin mengertakkan gigi, pedang bayangannya masih terhunus. "Itu adalah posisi bunuh diri! Pasukan Pelopor dikirim paling awal untuk membersihkan medan tempur dari ahli sihir Suku Li! Mengirim murid Foundation Establishment Awal ke sana sama saja dengan menyuruhnya menggali kuburannya sendiri!"
"Tetua Mo Yin, ini adalah kehormatan tertinggi dari sekte!" bantah Gui Huan dengan nada keras, menggunakan alasan keadilan. "Bakat sebesar Zeng Niu harus ditempa di medan paling berdarah. Ataukah... Paviliun Pedang Bayangan ingin memonopoli jenius ini dan melindunginya dari tugas suci mempertahankan Benua Utara?"
Kata-kata Gui Huan adalah jebakan politik yang sempurna. Jika Mo Yin menolak, ia akan dicap sebagai pengecut di depan puluhan ribu murid, melegitimasi faksi Gui Huan untuk mengeksekusi mereka. Jika diterima, Zeng Niu akan dikirim ke neraka yang pasti membunuhnya secara 'alami' di medan perang.
"Besok pagi, tepat saat fajar menyingsing, Formasi Pengunci Langit Darah akan dibuka secara khusus di gerbang selatan selama satu batang dupa," lanjut Gui Huan, mengeluarkan sebuah token emas berukir kepala naga dan melemparkannya ke arena. Token itu mendarat tepat di depan kaki Zeng Niu.
"Ambil Token Komandan ini, Zeng Niu. Pimpin seratus murid elit besok pagi menuju Lembah Darah Hitam di perbatasan. Tunjukkan pada Suku Li kekuatan harimau Akademi Jiannan," titah Gui Huan, matanya memancarkan kemenangan dingin.
Zeng Niu menatap token emas di tanah. Darah menetes dari dagunya, mengenai permukaan logam tersebut.
Bao Tu berteriak dari jauh, "Niu! Jangan diambil! Seratus murid yang dikirim denganmu pasti anjing suruhan mereka semua!"
Namun, Zeng Niu justru tersenyum. Sebuah senyum miring yang sangat mematikan. Ia membungkuk, menahan rasa sakit di lengannya yang robek, dan memungut token tersebut.
"Lembah Darah Hitam..." gumam Zeng Niu pelan. Matanya kemudian menatap lurus ke mata licik Gui Huan. "Bagus. Aku terima. Bersihkan lehermu selama aku pergi, Orang Tua. Karena saat aku kembali dari lembah itu... kau adalah orang pertama yang akan kucari."
Gui Huan mendengus meremehkan. Baginya, Zeng Niu sudah menjadi mayat berjalan. Pria tua itu mengibaskan jubahnya dan berbalik pergi, diikuti oleh para tetua faksinya.
Seleksi berdarah itu akhirnya berakhir, meninggalkan ketegangan yang menyesakkan dada seluruh penjuru akademi.
Zeng Niu akhirnya pingsan begitu ia melangkah turun dari arena. Dantiannya benar-benar kering dan ototnya kejang hebat. Tetua Mo Yin segera menangkapnya dan membawanya kembali ke Paviliun Pedang Bayangan dengan kecepatan bayangan.
Di dalam ruang rahasia paviliun, suasana sangat suram.
Zhao Ying baru saja selesai mengoleskan salep herbal penyejuk ke lengan Zeng Niu yang hancur, sementara pemuda itu terbaring tak sadarkan diri di atas dipan giok. Napasnya mulai stabil berkat efek pasif dari energi bintang gadis itu, namun ia butuh istirahat total semalaman.
"Sialan! Gui Huan benar-benar menyudutkan kita," umpat Mo Yin, mondar-mandir di ruangan. "Besok pagi Zeng Niu harus berangkat ke Lembah Darah Hitam. Seratus murid yang ditugaskan bersamanya pasti algojo bayaran dari faksi Gui Huan yang bersiap menusuk punggungnya di tengah jalan!"
Zhao Ying mencuci tangannya di baskom air spiritual, wajah cantiknya memancarkan ketenangan yang aneh di tengah kekacauan politik fana ini.
"Tetua Mo, apa kau ingat apa yang Gui Huan katakan tentang Formasi Pengunci Langit di akhir acara tadi?" tanya Zhao Ying tiba-tiba, menyeka jemari pualamnya dengan sehelai saputangan.
Mo Yin menghentikan langkahnya. "Dia bilang formasi akan dibuka secara khusus di gerbang selatan besok pagi saat fajar menyingsing selama satu batang dupa, untuk membiarkan Pasukan Pelopor keluar ke medan perbatasan."
"Benar," mata keperakan Zhao Ying berkilat tajam. "Dan di situlah letak kesalahan terbesarnya."
Mo Yin dan Lin Xiaoyu yang mendengarkan menatap Zhao Ying dengan bingung. "Kesalahan apa?"
"Kepala Akademi saat ini berada di Puncak Langit Utama, mati-matian menahan racun iblis yang ditanamkan Gui Huan. Beliau tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri di dalam akademi karena kilatan petir surgawi Zeng Niu akan terdeteksi oleh jaringan mata-mata faksi itu," jelas Zhao Ying. "Itulah alasan sebenarnya di balik meditasi tertutupnya."
"R-Racun Iblis?! Kepala Akademi dikhianati oleh Wakilnya sendiri?!" Mo Yin terkesiap, mundur selangkah, akhirnya memahami gambaran besar kekacauan ini.
"Tepat. Dan karena Formasi Pengunci Langit tiba-tiba diaktifkan penuh tadi malam, rencana kami untuk memandu Kepala Akademi keluar secara rahasia menjadi gagal," lanjut Zhao Ying, membalikkan badannya menatap Mo Yin dengan tatapan seorang dewi ahli strategi. "Namun... besok pagi, saat Gui Huan sendiri yang membuka gerbang selatan untuk membuang Zeng Niu ke medan kematian..."
Zhao Ying tersenyum dingin.
"...kita akan mengeksploitasi celah satu batang dupa itu. Kepala Akademi akan menyusup ke dalam barisan seratus Pasukan Pelopor yang dipimpin oleh Zeng Niu. Kita akan keluar dari sangkar ini, tepat di depan hidung Sang Pengkhianat."