Miranda Amalia, seorang gadis miskin berumur 16 tahun, dilamar oleh keluarga Pratama yang kaya raya untuk dinikahkan dengan anak tunggal mereka, Kevin Pratama, yang baru berusia 17 tahun. Ternyata Miranda dijadikan menantu agar bisa merawat Kevin yang lumpuh akibat sebuah kecelakaan.
Hingga suatu hari, seorang dokter berhasil menyembuhkan Kevin dari kelumpuhan. Dan untuk membalas budi pada dokter itu, Keluarga Pratama menjodohkan Kevin dengan anak sang dokter yang bernama Celine Richardo. Karena itu, mereka menceraikan Miranda dari Kevin dan mengusirnya.
Sepuluh tahun berlalu, tiba-tiba Kevin menemukan Miranda bekerja menjadi karyawati di sebuah perusahaan yang baru dibelinya. Merasa bersalah pada gadis itu, ia pun mendekatinya. Namun, yang dirasakan ternyata lebih dari sekedar rasa bersalah, tetapi juga rasa cinta, yang dulu tak pernah terpikirkan olehnya saat masih menjadi suaminya.
Maukah Miranda menerima Kevin yang terus mengejarnya, sedangkan Kevin telah beristri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Three Flowers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERHATIAN
Pembukaan perdana rumah makan Marina diawali dengan mengundang seluruh tetangga sebagai perkenalan menu masakan sekaligus promosi. Kevin juga sudah memerintahkan anak buahnya untuk menyebar brosur di kantor atau instansi terdekat. Ada juga yang kebagian tugas membuat konten untuk promosi di media sosial.
Saat menjadi TKW di luar negeri, Marina bekerja di sebuah rumah makan. Ia menekuni bidang kuliner karena berasal dari keluarga yang mempunyai usaha makanan, dimana orang tuanya dulu mempunyai usaha membuat roti. Jadi, memasak adalah jiwa Marina, karena sejak kecil sudah terbiasa membantu orang tua.
Demikian pula dengan Miranda. Sejak kecil ia terbiasa membantu mengemas roti dan mengantar ke pelanggan atau menitipkan ke toko-toko. Jadi, pembagian tugas itu juga diterapkan di rumah makan saat ini. Marina dan Bu Tina di bagian dapur, sedangkan Miranda bertugas melayani pembeli dan menerima pembayaran.
Untuk urusan pembelian bahan mentah, Kevin telah menghubungkan mereka dengan suplier sayur, daging, ikan dan sembako. Semua bahan itu langsung diantar oleh pihak suplier ke rumah makan mereka. Jadi, ketiga wanita itu tidak perlu membuang waktu mereka untuk belanja di pasar.
“Suamimu memang pandai menjalankan bisnis, Miranda,” puji Marina.
“Kak, jangan panggil suami-suami begitu! Sebut namanya saja, nanti tidak enak kalau didengar tetangga,” ujar Miranda. “Nanti dicurigai macam-macam, sedangkan aku dan Kevin tidak punya bukti apapun kalau kami pernah menikah.”
“Oke, aku kan cuma bicara sama kamu dan tidak ada orang lain?” elak Marina. “Lagian, kenyataannya memang kamu itu sebenarnya istrinya Kevin, kan?”
Miranda menatap Marina dengan tatapan lelah. “Ya, tapi kalau mereka tidak percaya, nanti malah mendatangkan fitnah.”
Persiapan berlangsung cukup melelahkan, tapi Miranda dan Marina lega karena telah memulai usahanya. Beberapa tetangga sudah mulai berdatangan. Banyak di antara mereka yang memuji kelezatan masakan Marina dan Bu Tina.
Miranda membuatkan mereka minuman sesuai pesanan dan mengantarnya ke meja-meja yang mulai terisi penuh. Para tetangga yang kebanyakan ibu-ibu sangat menikmati perjamuan di rumah makan itu, mereka mengobrol sambil menyantap makanan dengan suka cita.
Sampai akhirnya Miranda mengantar minuman di salah satu meja, ia mendengar percakapan ibu-ibu yang rata-rata umurnya masih tergolong muda itu. Mereka adalah Bu Jaka, Bu Darwin dan Bu Krisna.
“Eh, tau nggak..., Pak Kevin, yang katanya investor rumah makan ini? Dia ganteng banget, ya?” ujar Bu Jaka.
Miranda menahan nafas mendengar nama Kevin disebut, bahkan dipuji. Apalagi ibu-ibu yang lain menyetujuinya.
“Lumayan, ada pemandangan segar di perumahan ini. Apalagi ia tinggal sendiri, kelihatannya masih single,” sahut Bu Darwin.
“Miranda, apa benar Pak Kevin itu masih single?” tanya Bu Krisna, cukup mengagetkan Miranda.
“Ehm..., dia sudah punya istri,” jawab Miranda.
“Kenapa kami tidak pernah melihat istrinya?” tanya Bu Krisna.
“Istrinya sibuk bekerja. Ini hanya usaha sampingannya saja,” sahut Miranda.
“Owh iya..., pasti mereka sama-sama sibuk bekerja. Lalu, bagaimana kalian bisa bekerjasama?” tanya Bu Jaka.
Miranda agak kebingungan menjawabnya, tapi ia berusaha bersikap normal dan bercerita apa adanya, namun dipilih jawaban yang tidak mencurigakan. “Saya kenal Pak Kevin sudah sangat lama, kami seperti keluarga. Beliau dulu pernah jadi tetangga saya.”
“Oh, begitu. Kamu dan kakakmu sangat beruntung, Miranda. Lalu kenapa kalian tetanggaan juga di sini?”
Miranda terkesiap mendengar pertanyaan itu, tapi ia tetap harus menjawab.
“Ya karena kami sangat akrab seperti keluarga, jadi janjian beli di sini karena dekat dengan tempat usaha kami juga,” sahut Miranda.
Ketiga tamunya itu mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu Miranda segera mengakhiri pembicaraan itu sebelum semakin jauh menelisik.
“Maaf, saya permisi dulu, ya? Saya harus melayani tamu yang lain,” pamit Miranda.
Bu Jaka lalu menjawil lengan Bu Darwin. “Bu, kemarin pas acara tasyakuran menempati rumah baru, aku melihat Pak Kevin menatap Miranda dengan pandangan lain.”
“Maksudmu?” tanya bu Darwin.
“Seperti suka, kagum, atau apalah itu... pokoknya beda,” sahut Bu Jaka.
“Bisa jadi, Miranda kan cantik dan anggun orangnya. Pria mana yang tidak tertarik padanya?” Bu Raka cekikikan.
“Ya, sudahlah. Tadi sudah dijelaskan kalau mereka sudah seperti keluarga, kan?” ujar Bu Darwin.
Acara pembukaan rumah makan itu berlangsung pada jam makan siang. Setelah acara, Miranda, Marina dan Bu Tina mulai membereskan sisa makanan dan peralatan makan-masak. Aktivitas baru berhenti saat menjelang petang.
“Ayo, kita pulang! Besok harus bangun sebelum petang lagi untuk memasak!” seru Marina.
“Sebentar, aku masih membungkus makanan untuk makan malam kita, Bu Tina dan Kevin,” sahut Miranda yang sedang sibuk mengemasi makanan.
“Cieee... ingat suami, nih?” goda Marina.
“Ya iyalah, Miranda mana tega membiarkan Kevin kelaparan malam-malam?” timpal Bu Tina.
Miranda lalu menyahut, “bukan begitu, tapi Kevin kan sama seperti kita, dia juga bagian dari usaha ini. Jadi lebih baik menyiapkan makanan untuknya, entah nanti dimakan atau tidak.”
Marina dan Bu Tina pun jadi senyum-senyum berdua. Miranda mengacuhkan sikap mereka.
Dan saat malam tiba, mereka telah beristirahat di kamar masing-masing setelah makan malam. Miranda berkali-kali melihat ke luar, memastikan Kevin sudah pulang atau belum. Dan saat terdengar deru mobil Kevin di depan rumah sebelah, Miranda langsung menuju ke dapur dan menghangatkan makanan yang ia siapkan untuk Kevin tadi.
Setelah itu, ia mulai menata nasi, lauk dan sayur di dalam rantang kecil tiga tingkat. Tak lupa pula ia menambahkan kerupuk dan buah jeruk ke dalam kantong plastik.
“Silvia sayang!” pangggil Miranda pada keponakannya itu di depan pintu kamar Marina.
Yang dipanggil segera berlari kecil mendatanginya. “Ada apa, Tante Mira?”
Miranda menyodorkan rantang dan bungkusan plastik pada Silvia, “Tolong antar ini ke Om Kevin, ya?”
“Siaap!” sahut Silvia dengan penuh semangat.
Ia segera berlari menuju ke rumah Kevin yang berada tepat di sebelah rumahnya, sementara Miranda mengawasi dari teras rumahnya sendiri untuk menjaga Silvia.
Terdengar suara nyaring Silvia dan suara rendah Kevin sedang mengobrol dengan hangat. Tanpa sadar bibir Miranda tersenyum tipis mendengar keakraban keduanya.
Tapi, Miranda segera melompat dari kursi terasnya begitu mendengar langkah kaki Kevin dan Silvia menuju ke rumah mereka. ‘Kenapa malah ke sini, sih?’ batin Miranda, lalu bergegas masuk ke dalam rumah untuk menghindar.
“Tanteee...!” Panggil Silvia.
Terlambat, Silvia yang jalannya cenderung seperti berlari itu telah memanggil namanya duluan, membuat Miranda menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menghadap ke arah Silvia.
“Aku sudah antar makanannya dan Om Ganteng ikut ke sini!” seru Silvia dengan ceria.
Benar saja, Kevin muncul di hadapan Miranda. Wajahnya masih tampan meski pulang malam dan letih, apalagi di bibirnya tersungging sebuah senyuman, menambah kegantengannya dua kali lipat.
“Miranda, terimakasih makanannya,” ucap Kevin.
“Kenapa tidak langsung dimakan? Makanlah selagi hangat,” sambut Miranda, yang lebih terdengar seperti ‘kenapa datang kemari? makan saja di rumahmu!’
Kevin mengambil duduk di teras sambil melambai ke arah Miranda, isyarat menyuruhnya ikut duduk di sebelahnya. Miranda tidak bisa menolak, karena ia merasa tidak enak dengan Kevin yang sudah mengeluarkan begitu banyak biaya untuk keluarganya.
“Bagaimana tadi? Tetangga kita menyukai masakannya?” tanya Kevin.
“Iya, mereka bilang senang karena ada rumah makan dekat sini yang rasanya cocok dengan lidah mereka,” jawab Miranda.
“Syukurlah Marina dan Bu Tina pintar memasak,” ujar Kevin. “Lalu bagaimana denganmu? Capek?”
“Lumayan capek, Kevin. Makanya, aku mau tidur lebih awal karena besok harus bangun pagi buta,” jawab Miranda, lagi-lagi menyiratkan agar Kevin segera pergi karena tak ingin menghabiskan waktu berlama-lama dengan Kevin.
“Baiklah, aku akan pulang,” Kevin lalu pamit undur diri. “Aku juga ingin segera menikmati makan malamku yang sudah disiapkan oleh istri tercintaku.”
Miranda tertegun, tapi juga tersipu. Kevin tahu kalau ia yang menyiapkan makan malamnya, mungkin Silvia tadi cerita pada Kevin kalau Mirandalah yang menyiapkannya.
“Terimakasih, Miranda,” ucap Kevin, lalu beranjak pergi.
Miranda hanya terpaku menatap punggungnya. Ada rasa tidak tega melihat sosok pria yang akan tinggal sendirian di rumah sebelah itu. Apa dia tidak akan kesepian?
Tapi ia melihat sinar kebahagiaan di mata Kevin. Sorot mata itu, meski letih tapi tampak lebih hidup. Akhir-akhir ini ia telah membagi waktunya untuk membantu mengurus keperluan pembelian rumah, pindah rumah sampai membuka usaha rumah makan. Padahal Miranda tahu, urusan perusahaan pasti juga menyita waktunya.
Miranda melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya. Namun tiba-tiba ia teringat pada kamar di lantai atas rumah Kevin. Wajahnya merona lagi saat mengingat Kevin mengatakan bahwa kamar itu dirancang khusus untuknya. Dipeganginya kedua pipinya sambil membayangkan suasana kamar itu.
Dulu, mereka juga tidur sekamar, bahkan satu ranjang. Meski tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Paling dekat ya hanya mengobrol sebentar sebelum tidur. Itu pun mereka selalu tidur dengan posisi saling membelakangi. Dan bila terjaga dengan posisi yang saling berhadapan, maka mereka akan segera membalikkan tubuhnya lagi.
Kehilangan momen indah itu saat dipisahkan, membuat Miranda menangis setiap malam. Rasa sayang yang tulus sudah mulai tumbuh pada pemuda yang selalu dingin padanya itu. Namun ia menyadari, bahwa seorang Miranda Amalia, anak orang biasa, tidak akan pernah pantas bersanding dengan Kevin, anak orang kaya, yang sudah sembuh dari kelumpuhannya sehingga kembali menjadi seorang pemuda yang sempurna.
Sementara itu di rumah Kevin, di saat Miranda sedang mengenang masa lalunya dengan Kevin, pria yang sedang dilamunkan itu juga sedang memikirkannya. Setiap kunyahan pada makanannya, membuat hatinya berbunga-bunga karena mengingat Miranda yang menyiapkannya. Senang rasanya diperhatikan oleh wanita yang dicintainya.
Kevin juga mengingat kenangan saat bersama Miranda semasa masih belia dulu. Miranda selalu telaten merawatnya yang cerewet dan keras kepala. Gadis itu paling tahu hal-hal yang disukai oleh Kevin. Kevin suka duduk di bawah pohon yang rindang, jadi Miranda akan membawa makanan dan minuman untuk dinikmati bersama di bawah pohon itu.
Di dalam kamarnya yang sunyi, Kevin merebahkan diri di ranjangnya yang nyaman. Hari ini sangat melelahkan, namun ia merasa sangat bahagia karena merasa mempunyai kehidupan baru yang hangat. Ada Miranda, Silvia, Marina dan Bu Tina yang sangat perhatian padanya.
Dan saat ia membuka ponselnya, ternyata Celine mengirim pesan padanya. Ia mengirimkan sebuah foto ranjangnya bersama Kevin dulu, dan menulis pesan, ‘sekarang ranjang ini terasa dingin tanpamu....’
Kevin tidak membalasnya. Rasa marahnya pada Celine yang pernah mengerjai Miranda memang telah hilang, namun ia bertekad untuk lepas dari wanita itu. Ia berharap, Celine akan menemukan pria lain yang bisa membahagiakan hidupnya. Dan perpisahan adalah jalan menuju kebahagiaan Celine yang sejati.
***BERSAMBUNG***
biar sadar si celine.
lagian celine kenapa juga sih masih bertahan sama cowok bingung.
toh dia gak kekurangan apa2. cantik, kaya, pinter.
rasanya pingin masuk layar buat jambak rambut kevin 😭
jedotin ke dashboard aja mir palanya, biar eling.
Dia udah ga minta dihormati.
Kalaupun pernikahan dipertahankan apa jadinya
dia gak akan lepas dari sanksi sosial kalo hubungan mereka sembunyi2.
mau jadiin dijadiin sinpenan gitu ya?
biar gimanapun, kevin punya istri sah yg gak tau menau hubungan lampau miranda sama kevin.
kesian celine, ntar pasti dia jadi jahat.