Blurb:
Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.
Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!
Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.
"Welcome to the real hell."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Interogasi Sang Bos
"Diwantara Group kata Bapak? Jace siapa? Saya benar-benar tidak kenal nama itu, Pak!"
Riana menyahut dengan nada suara yang bergetar hebat, memasang raut wajah syok dan ketakutan yang luar biasa total. Dia membiarkan tubuhnya gemetar di bawah tekanan laras senapan panas milik Bramantyo yang masih menempel ketat di dahinya. Di balik lensa kacamata tebal yang kotor oleh jelaga, sepasang matanya menatap lurus ke dalam manik mata sang CEO tanpa berkedip sedikit pun.
"Jangan berbohong di depan gue, Riana! Gideon tidak mungkin salah mengenali wajah pewaris tunggal bajingan itu! Dia menyamar jadi tikang bersih-bersih di sini!" raung Bramantyo, jarinya semakin menempel ketat di pelatuk senapan, siap meledakkan isi kepala perempuan di depannya.
"Pak! Tolong dengarkan saya dulu!" teriak Riana panik, napasnya memburu cepat membelah suara sirine kebakaran yang masih menjerit-jerit di area lobi bawah. "Bapak sendiri yang kemarin menyuruh saya membawa pasangan pria berkelas untuk mendampingi saya ke pesta lelang pasar gelap! Bapak bilang jangan mempermalukan status eksekutif saya!"
"Lalu kenapa lo malah membawa musuh bebuyutan gue ke sana?!" bentak Bramantyo, suaranya menggelegar membuat beberapa pengawal berjas hitam di sekitar mereka refleks memperketat penjagaan.
"Saya tidak membawa musuh Bapak! Saya menyewa pengawal profesional dari agensi pengawalan lepas malam itu karena waktu yang Bapak berikan sangat sempit!" Riana memutar balik fakta dengan intonasi suara yang sangat meyakinkan, memojokkan situasi demi menyelamatkan nyawanya. "Saya membayar agensi luar untuk mengirimkan satu pria dengan setelan jas paling mahal agar saya tidak terlihat seperti anak magang bodoh di depan para bos mafia lain! Bagaimana mungkin saya tahu kalau pria sewaan itu ternyata adalah mata-mata dari klan Diwantara?!"
Bramantyo terdiam sejenak, alisnya yang dipenuhi bekas luka sayatan berkerut sangat dalam. Otak liciknya mulai menimbang-nimbang alibi logis yang diucapkan oleh Direktur Kepatuhan barunya.
"Kalau lo memang tidak tahu apa-apa, kenapa Gideon bisa seyakin itu menuduh lo sebagai agen ganda?!" tanya Bramantyo lagi, meski tekanan laras senapannya di dahi Riana sedikit melonggar.
"Gideon sengaja memfitnah saya karena dia mendendam setengah mati, Pak!" tuduh Riana balik tanpa ampun. Perempuan itu sengaja menaikkan nada suaranya, memposisikan diri sebagai korban birokrasi yang dizalimi. "Semalam saya menyita seluruh rekening rahasia miliknya di Kepulauan Kura-Kura karena dia ketahuan korupsi anggaran logistik! Dia dipermalukan habis-habisan di depan ratusan bos mafia dan diseret keluar oleh sekuriti hotel! Saya yakin, Bapak tau info ini. Dia tahu saya yang menghancurkan hidupnya, makanya dia memakai foto itu untuk menjebak saya agar Bapak membunuh saya!"
"Gis! Panggil Gideon ke sini sekarang juga!" perintah Bramantyo ketat kepada pengawalnya.
"Pak Gideon masih di atas, Bos! Dia sedang terjebak di dalam lautan busa pemadam di lantai lima belas bersama anjing pelacaknya yang mengamuk!" lapor salah satu pengawal berjas hitam dengan cepat.
Riana langsung memanfaatkan celah pembicaraan tersebut untuk menyerang balik posisi musuhnya.
"Bapak lihat sendiri kan bagaimana bobroknya kerja Divisi Logistik?" potong Riana cepat, memojokkan posisi Gideon yang tidak ada di tempat. "Kalau pria sewaan itu memang benar Jace Diwantara, seharusnya sistem keamanan lobi depan milik Gideon langsung mendeteksi wajahnya begitu dia menginjakkan kaki di gedung Aegis Corp ini sebagai petugas kebersihan! Tapi apa yang dilakukan orang-orang Gideon?! Mereka malah meloloskan musuh besar kita masuk, membiarkannya memegang sapu lidi setiap hari, dan berkeliaran di dekat ruang arsip pusat!"
Riana menarik napas dalam-dalam, menatap Bramantyo dengan sorot mata menantang.
"Gideon yang lalai menjaga deteksi wajah di lobi depan, tapi sekarang dia malah melemparkan kesalahan itu ke atas kepala saya! Dia mau cuci tangan dari kebodohannya sendiri yang membiarkan markas Aegis Corp disusupi musuh selama berminggu-minggu, Pak!" cerocos Riana tajam tanpa ada satu koma pun yang terlewat.
Mendengar rentetan analisis birokrasi yang sangat masuk akal dan presisi tersebut, amarah buta di dalam dada Bramantyo perlahan mulai mereda. Pikiran waras sang CEO mafia kembali berjalan. Dia tahu betul bahwa Gideon memang pria gempal yang pendendam, bodoh, dan baru saja kehilangan seluruh dompet rahasianya akibat ulah audit Riana. Sangat masuk akal jika Gideon mencari segala cara untuk membunuh perempuan berkacamata tebal ini.
Bramantyo menarik mundur senapan taktisnya dari dahi Riana. Dia menurunkan laras senjatanya ke bawah dengan bunyi klik pelan saat tuas pengaman kembali dikunci.
"Alasan lo diterima, Riana," ucap Bramantyo dingin, mengusap sisa hawa panas laras senapannya menggunakan sarung tangan kulit hitamnya. "Gis! Suruh pasukan pemadam siber bersihkan lantai lima belas sekarang juga. Amankan data server yang tersisa."
"Siap, Bos Besar!"
Riana diam-diam membuang napas panjang yang sejak tadi tertahan di dadanya. Satu ancaman maut terbesar baru saja berhasil dia patahkan murni menggunakan tameng kata-kata aturan kantor. Aliansinya bersama Jace masih berada di jalur yang aman, meskipun ruang geraknya dipastikan tidak akan pernah sama lagi setelah kekacauan besar hari ini.
"Tapi jangan mengira lo bisa melenggang bebas begitu saja setelah mengacaukan seisi gedung gue, Riana," desis Bramantyo tiba-tiba, membuat Riana kembali menatap lurus wajah menyeramkan sang bos besar.
"Maksud Bapak?" tanya Riana formal.
Bramantyo menyeringai licik, menampilkan deretan giginya yang putih kontras dengan kulit wajahnya yang gelap. Pria raksasa itu berbalik badan, melambaikan tangan kirinya ke arah pintu masuk lobi kaca yang retak-retak.
"Gue tidak bisa membiarkan Direktur Kepatuhan gue berjalan sendirian lagi tanpa pengawasan ketat dari mata gue sendiri. Mulai detik ini, lo resmi diawasi dua puluh empat jam penuh tanpa ada pengecualian,” vonis Bramantyo mutlak. "Kenalkan, ini Leo."
Dari balik barisan barikade pengawal berjas hitam, sesosok pria bertubuh tinggi kurus melangkah maju dengan gerakan yang sangat senyap, nyaris tanpa suara langkah kaki sama sekali. Pria itu mengenakan setelan kemeja hitam polos tanpa dasi. Wajahnya pucat, datar, dan sepasang matanya terlihat sangat kosong layaknya mata ikan mati yang tidak memiliki jiwa atau emosi manusia normal.
Leo berjalan mendekat, lalu berdiri tegak tepat di sebelah kanan Riana. Aura dingin yang luar biasa mencekam langsung menguar pekat dari tubuh pria tersebut, menandakan bahwa dia adalah pembunuh bayaran pribadi kelas atas yang paling setia dan paling mematikan di bawah komando langsung sang CEO.
"Leo akan menjadi asisten bayangan baru lo, Riana," ucap Bramantyo dengan senyum penuh kemenangan, menepuk pundak pria bermata mati itu. "Dia yang bakal menjaga lo di kantor, menemani lo ke pantry, berdiri di depan pintu toilet, sampai mengawal lo pulang ke apartemen malam ini. Kalau ada satu saja lalat Diwantara yang berani mendekati tubuh lo lagi... Leo yang bakal langsung memotong leher mereka di depan mata lo."
terima Leo sebagai pengawal."
tp km lupa bos ,,
Riana tu cerdas ,, 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
pengen ketawa tp takut di dor ,,🤭🤭🤭
eeeeeh slah ,,
langsung meleleh aq ,, cosplay jdi air hujaan ,, 🤭🤭🤣🤣🤣🤣