Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Racun Sang Ular
Di suatu tempat, pada sebuah kafe kota ini, tampak Tania sedang duduk menyilang angkuh di hadapan seorang pria yang seusia dengan putrinya. Sementara itu, Leticya, tengah menyandarkan badan memperhatikan seseorang yang sengaja mereka temui ini.
"Siapa kalian? Apa tujuan kalian mencariku?"
Sudut bibir Tania terangkat sebelah, dan kedua tangannya berpangku di dada. Dengan sebelah mata, beberapa kali naik turun, tentu saja ada hal penting yang mereka inginkan darinya.
"Namamu, Teddy kan?" ucapnya langsung pada point.
"Katakan saja, apa urusan kalian mencariku!" ucap Teddy dingin.
"Apa kamu tak ingin menyelamatkan Zarisha Allova dari perangkap yang dibuat Arnold?"
Ucapan Tania bergerak cepat menghunus tepat di dada Teddy. Refleks keningnya mengerut dan sedikit terbungkuk memastikan baru saja nama yang ingin dikubur dari jiwanya, kini muncul dari bibir wanita asing ini.
"Siapa kalian? Apa yang terjadi dengan Lova?"
Tania menegakkan badan menyilangkan kaki. "Yang pasti, saya mengetahui jelas tabiat Arnold." Tania memberi kode pada sang putri yang tepat duduk di sampingnya.
Dengan senyum penuh makna, ia mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan isi galerinya pada pria yang baru saja patah hati ini.
Saat melihat isi foto yang ditayangkan, mata Teddy terbelalak bagai akan keluar dari tempatnya. Di sana, dengan jelas ia melihat pria yang kemarin angkuh merebut juwita hatinya, tetapi memiliki penampilan yang sangat berbeda. Rambutnya terlihat panjang, dan memakai dress wanita bersama teman-teman di sekelilingnya.
Bibir Teddy bergetar, ia terlihat shock tak mempercayai pria yang menikahi Lova dengan paksa adalah "laki-laki' seperti ini.
Melihat reaksi Teddy, Tania terlihat sangat puas. "Sekarang kamu mengerti, dia itu sebenarnya seperti apa?"
"Ta-tapi, kenapa dia menikahi Lova? Apa tujuannya menikahi wanita yang tumbuh bersama traumanya?"
Tania tertawa dingin. "Ya tentu saja karena dia membutuhkan gadis bodoh itu untuk merebut warisan ayahnya. Ayahnya memberi syarat untuk mendapatkan warisan dengan menikahi seorang wanita tulen."
"Stop! Jangan sekali-kali kau bilang Lova itu bodoh! Lova itu hanya kebingungan, karena yang saya dapatkan informasi bahwa Lova hanya bisa berinteraksi dengannya." Teddy terlihat sangat murka. Sudah ia duga sebelumnya, ada sesuatu yang janggal dengan pernikahan yang begitu mendadak ini. Dan, sekarang ia mendapatkan jawabannya.
"Kamu tau, sudah berapa gadis yang ia tawarkan pernikahan hingga berakhir pada Lova? Sudah tidak bisa dihitung! Mereka semua menolak untuk menikah dengan Arnold, tentunya karena jijik pada pria berpakaian wanita itu." Senyum licik semakin merekah di bibir Tania, dan melirik putrinya yang tak kalah menikmati reaksi yang diberikan Teddy.
"Ini sungguh menjijikan!" ucap Teddy dengan nada getir. Kepalanya terasa pening melihat foto-foto di ponsel Tania. Logikanya mencoba menolak, namun rasa sakit hatinya karena kehilangan Lova justru memupuk benih kebencian itu dengan cepat.
"Benar," sela Leticya sambil memutar-mutar kuncir rambutnya. "Sevenarnya, Dia itu predator berkedok dokter, Mas. Dia sengaja memilih Lova karena dia tahu Lova memiliki trauma besar pada laki-laki. Jadi, Arnold tidak perlu repot-repot menjalankan perannya sebagai suami di ranjang. Mereka hanya akan menjadi 'teman satu atap' yang sah, sementara Arnold mendapatkan harta tanpa ada yang curiga. Licik sekali, kan?"
Teddy bangkit dari posisinya, tangannya mencengkeram pinggiran meja hingga memutih. "Brengsek! Dia benar-benar memanfaatkan luka Lova untuk hartanya sendiri! Aku tidak akan membiarkan ini!"
Tania bersandar kembali, menyilangkan tangan dengan puas. "Kalau begitu, bersiaplah. Saat waktunya tiba, aku ingin kamu sendiri yang membongkar topengnya di depan Lova. Kamu harus menyelamatkan gadis itu, Teddy."
...****************...
Sementara itu, di kediaman utama Darmawan, kegelapan mulai merayap naik. Arnold kembali dari lorong dingin menuju kamar milik ayahnya. Di belakangnya, dua orang pengawal 'Pinky' membopong seorang wanita paruh baya yang tampak sangat lemas dengan pakaian yang telah lusuh.
"MAMA!" Lova menjerit.
Gadis itu melepaskan tangan Bi Inah dan berlari kencang. Ia menabrak tubuh ibunya, memeluknya begitu erat seolah takut sosok itu akan menghilang lagi. Keduanya jatuh bersimpuh di atas marmer mahal itu, tangisan pecah memenuhi seisi ruangan.
Arnold hanya mematung melihat pemandangan itu. Dadanya terasa sesak melihat begitu sayangnya Lova kepada sang ibu, yang tak lagi ia miliki.
"Bi Inah, siapkan mobil di depan. Bawa mereka pergi dari sini sekarang juga," perintah Arnold, suaranya terdengar parau.
Arnold berjalan mendekati Lova, hendak menyentuh bahu gadis itu untuk mengajaknya pergi. Namun, langkahnya terhenti saat sebuah suara monitor jantung, berbunyi semakin nyaring dan tak beraturan.
"T-Tuan Muda! Lihat!" Bi Inah menunjuk ke arah monitor.
Arnold berjalan cepat mengecek keanehan mesin itu, diikuti Lova yang masih memeluk ibunya yang masih lemas.
Di atas ranjang ICU, Charless Darmawan, pria yang selama tiga puluh tahun menjadi mimpi buruk Arnold, sedang berjuang keras. Oksigen di dalam maskernya berembun hebat.
Mata pria tua itu terbuka. Merah dan sayu. Ia menoleh perlahan ke arah Arnold. Sebuah geraman parau yang menyakitkan keluar dari tenggorokannya.
"Ar... nold..."
Arnold membeku di tempatnya berdiri. Seluruh trauma masa kecilnya, bergerak cepat dalam ingatannya. Di saat ia bersembunyi di lemari usai dimarahi. Di saat adiknya meregang nyawa tapi dia malah pergi. Di saat ibunya diusir bagai sampah, semua itu menghantam sekaligus.
Drrtt ...
Drrtt ...
Drrtt ...
Ponsel Lova bergetar di saat yang tidak tepat. Ia melihat pada layar datar itu tertulis nama "Teddy" ...
*bersambung*
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
judulnya terapi cantik ku yg rupawan
itu aja Thor
gemulai mah... terlalu klise😍😍
jadi bayangin
aduuh ternoda dah pikiran aye cyiiin🤣🤣🫣
lova si udah mulai sembuh
ga terlalu perlu lu juga si...
tapi gimana yaaa???
keplak kali palanya biar balik normal🤣🤣
cyiin nya diilangin🫣🤣🤣
geplak lagi ninpake anduk
vote otw ka😍
kyk korban pelecehan
🫣🤣🤣🤣