NovelToon NovelToon
Immortal Restaurant

Immortal Restaurant

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Radapedaxa

Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.

Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.

“Aku pensiun.”

Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.

Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.

Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.

Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:

Membuka sebuah restoran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 – Sumpah di Bawah Atap yang Sama

Suasana restoran itu sunyi.

Zhao duduk perlahan di kursi dengan santai. Tatapannya tenang, namun dalam. Di seberangnya, Lu Qiang duduk tegak dengan tubuh kaku, seperti seorang terdakwa yang menunggu vonis.

Beberapa saat mereka hanya saling diam.

Lalu Zhao akhirnya berbicara.

“Beberapa orang pantas mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup jauh lebih baik dari sebelumnya,” ucapnya pelan, namun setiap kata terasa berat, seperti palu yang mengetuk hati. “Dan kalian adalah orang yang beruntung.”

Lu Qiang menelan ludah.

“Sekarang… tinggal bagaimana cara kalian memanfaatkan kesempatan ini. Entah mau berubah menjadi lebih baik…” Zhao berhenti sejenak, matanya menyipit tipis,

“…atau kembali mengulangi kesalahan yang sama dan jatuh lagi.”

Kata-kata itu seperti menusuk.

Tidak keras, tapi dalam.

Lu Qiang terdiam.

Seketika, tanpa aba-aba, tubuhnya bergerak.

Buk!

Ia berlutut di hadapan Zhao.

Gerakan itu begitu tiba-tiba hingga Zhao sendiri sempat tertegun.

Suara lutut yang menghantam lantai kayu terdengar jelas, menggema di ruangan yang sunyi. Kepala Lu Qiang tertunduk dalam, rambutnya yang acak-acakan menutupi sebagian wajahnya.

“Saya… telah memutuskan,” suaranya berat, namun mantap. “Mulai saat ini… aku akan mengikuti anda.”

Zhao tidak langsung menjawab.

Matanya menatap pria di hadapannya itu, seolah mencoba melihat lebih dalam—melampaui kata-kata, menembus niat yang tersembunyi.

Lu Qiang mengangkat sedikit kepalanya, lalu menoleh sekilas ke sekeliling restoran. Matanya menyapu meja-meja kosong, dinding yang masih ternoda, dan sisa-sisa kehangatan.

“Aku berharap… anda menerima ku untuk bekerja di restoran ini,” lanjutnya. “Aku mau bekerja secara sukarela… untuk membalas kebaikan tuan.”

Sunyi kembali turun.

Zhao masih diam.

Lu Qiang menarik napas panjang, lalu berkata lagi—kali ini tanpa menoleh ke belakang.

“Aku sudah memutuskan tujuanku. Sekarang… tinggal kalian ingin bagaimana.” Suaranya sedikit meninggi, ditujukan pada anak buahnya. “Hidup kalian adalah milik kalian. Lupakan masa lalu kita sebagai bandit. Cari tujuan yang lebih baik.”

Ia berhenti.

“Jangan ikut aku hanya karena kebiasaan, aku bukan bos kalian lagi.”

Beberapa detik berlalu.

Tak ada jawaban.

Namun—

Buk! Buk! Buk!

Suara beruntun tiba-tiba terdengar.

Satu per satu.

Semua bandit itu… berlutut.

Serempak.

Zhao mengangkat alisnya sedikit.

Beberapa dari mereka bahkan tersenyum—senyum yang aneh, getir, namun tulus.

“Bagaimana kami bisa meninggalkan bos kami…” salah satu dari mereka berkata sambil tertawa kecil. “Setelah semua hal yang kita alami bersama?”

“Bos adalah keluarga kami… saat kami merasa terbuang.”

Kalimat itu sederhana.

Namun menghantam jauh lebih keras dari teriakan.

Lu Qiang tertegun.

Matanya membesar, lalu perlahan bergetar.

Cahaya di matanya pecah.

“…Kalian…” suaranya tercekat.

Untuk pertama kalinya, pria itu—yang sebelumnya tampak keras seperti batu—terlihat rapuh.

Air mata menggantung di sudut matanya.

Zhao memandang pemandangan itu dengan diam.

Lalu—

Senyum tipis muncul di bibirnya.

Rasanya nostalgia sekali… batinnya.

Kenangan lama, samar, seolah bergerak di sudut pikirannya. Wajah-wajah, suara, dan sumpah yang pernah ia dengar… terasa begitu mirip.

Namun ia tidak menunjukkannya.

Sebaliknya—

Clap!

Zhao menepuk tangannya sekali.

Suara itu memecah suasana.

“Baiklah,” katanya santai, seolah semua ini hanyalah hal biasa. “Aku anggap keputusan kalian sudah bulat.”

Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap mereka satu per satu.

“Ingat,” lanjutnya, nada suaranya sedikit berubah, “jangan menyesal di kemudian hari.”

“MOHON BIMBINGANNYA MULAI SEKARANG, TUAN!”

Suara mereka menggema serempak.

Tidak ragu.

Tidak goyah.

Zhao tersenyum.

Namun kali ini, senyumnya sedikit berbeda.

Kapan lagi bisa dapet buruh gratisan seperti ini… lumayanlah, gumamnya dalam hati.

Beberapa saat kemudian, suasana mulai sedikit mencair. Beberapa dari mereka bangkit, meski tetap menjaga sikap hormat.

Zhao mengetuk meja pelan dengan jarinya.

“Kau belum melanjutkan topik utama kita, Lu Qiang.”

Lu Qiang tersadar.

“Ah—benar.”

Ia mengangguk, lalu berdiri perlahan. Wajahnya kembali serius, meski bekas emosi tadi belum sepenuhnya hilang.

“Seperti yang tuan sudah tahu,” ia mulai, “dulu Kota Pingxi adalah wilayah yang subur. Meski terpencil, tempat ini menjadi persinggahan para pelancong dan pengembara.”

Nada suaranya perlahan berubah.

Lebih gelap.

“Namun semuanya berubah… ketika walikota membuat perjanjian dengan kelompok bertudung misterius.”

Zhao menyilangkan tangan.

Matanya fokus.

“Lanjutkan.”

“Secara bertahap, Kota Pingxi berubah menjadi menyedihkan.”

Ada kebencian dalam suaranya.

“Walikota yang sebelumnya sudah dicap jahat… kini menjadi diktator. Semua warga terkena imbasnya.”

Ia mengepalkan tangan.

“Kami para bandit juga… mau tidak mau ikut terseret.”

Zhao menyipitkan mata.

“Jadi kalian ingin bilang… sebelumnya kalian tidak buruk?”

Nada suaranya datar, tapi tajam.

Lu Qiang tidak menghindar.

“Kami memang suka memeras harta,” jawabnya jujur. “Tapi waktu itu… hanya pedagang kaya dan kultivator lemah saja.”

Ia menatap lurus ke Zhao.

“Kami tidak pernah masuk kota untuk membuat kerusuhan seperti kemarin. Dan… kami tidak membunuh sesuka hati.”

Zhao tidak berkata apa-apa.

Namun tatapannya sedikit berubah.

“Kami kira… kami akan selamat dengan cara itu,” lanjut Lu Qiang pelan. “Tapi semuanya berubah… saat bajingan itu datang.”

Suasana seketika mendingin.

“Bajingan itu?” Zhao mengulang.

“Aura menekan yang mengerikan…” suara Lu Qiang menurun, seperti mengingat mimpi buruk. “Bahkan sebelum dia berbicara, kami sudah hampir tidak bisa bernapas.”

Zhao sedikit condong ke depan.

“Siapa orang itu?”

Lu Qiang menggeleng perlahan.

“Aku tidak tahu pasti. Tapi…” matanya menyipit, “orang itu memakai topeng anjing.”

Zhao mengangkat alis.

“Dia memperkenalkan dirinya sebagai… Mad Dog.”

Nama itu menggantung di udara.

Aneh.

Namun terasa berat.

Zhao tersenyum tipis.

Seolah tertarik.

Lu Qiang melanjutkan, “Awalnya, Mad Dog datang dengan niat baik. Ia menawarkan posisi sebagai prajurit bayaran.”

“Dan?” Zhao bertanya singkat.

“Ia juga memberikan pil,” jawab Lu Qiang. “Katanya… bisa membuat kultivasi melonjak drastis.”

Zhao sedikit memiringkan kepala.

“Pil sembilan darah.”

Detik itu juga—

Mata Zhao menyipit.

Namun ia tidak berkata apa-apa.

“Aku menolak,” lanjut Lu Qiang. “Melihat kondisi Kota Pingxi yang sekarat… menjadi bandit di sana sudah tidak ada artinya lagi.”

Ia menarik napas.

“Saat aku hendak pergi…”

Suaranya berhenti sejenak.

“…Mad Dog tiba-tiba menghancurkan kepala beberapa bawahanku. Tanpa peringatan.”

Ruangan itu seolah membeku.

Beberapa bandit yang lain menundukkan kepala.

Mengingat kejadian itu.

“Aku marah,” lanjut Lu Qiang, suaranya bergetar tipis. “Tapi… apa daya.”

Ia tertawa pahit.

“Aku dikalahkan… dengan menyedihkan.”

Zhao menatapnya tanpa berkedip.

“Lalu dia berkata…” Lu Qiang menatap lantai, “…‘patuhilah aku, dan kau akan mendapatkan apapun yang kau inginkan.’”

Ia mengangkat wajahnya.

“‘Layani 12 pilar… maka hidupmu akan terjamin.’”

Sunyi.

Kali ini benar-benar sunyi.

Zhao mengerutkan kening.

“12 pilar?” ulangnya.

“Apa itu?”

Lu Qiang tertegun.

Wajahnya berubah.

“Anda… tidak tahu 12 pilar yang menyeramkan itu?”

Zhao menggeleng pelan.

“Tidak.”

Beberapa bandit saling pandang.

Seolah tidak percaya.

Lu Qiang menelan ludah.

“12 pilar… atau juga disebut sebagai 12 kultus iblis,” katanya perlahan.

Setiap kata yang keluar terasa berat.

“Mereka adalah kultivator sesat… yang tidak memiliki aturan. Gila akan membunuh.”

Angin seolah berhenti berhembus.

“Masing-masing kultus… memuja satu pilar iblis.”

Ia menatap Zhao.

“Itulah sebabnya… mereka disebut 12 pilar.”

Zhao terdiam.

Matanya dalam.

“12 pilar iblis…” gumamnya pelan.

Lalu ia mengangkat kepala.

“Apalagi itu?”

Kalimat sederhana.

Namun—

Atmosfer di ruangan itu langsung berubah.

1
SENJA
lu ngeselin ahli itu betinaaa hadeeeh🤣
SENJA
sotoy ahhh kakek 😅
SENJA
nih betina cari mati mulu yeeee😤
SENJA
lu nyari mati lu 🤣
SENJA
laaah yueling ngga tau si zhao itu apa???
SENJA
laaah masih aja dipikirin 😤
SENJA
hadeeeh 🤭🤭🤭
SENJA
aaah payah dong kaisar nya 😤
SENJA
wah punya banyak pegawai baru 🤣
SENJA
dari bandit jadi pelayan 🤣
SENJA
wakakaa hayoloh🤣
Kang Comen
mc cwe ap cwo ???
RDXA: MC nya cowo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!