Saking kayanya, keluarga Suhartanto merasa jenuh dengan kehidupan mereka yang bergelimpangan harta. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke desa, mencari suasana baru tanpa fasilitas mewah apa pun.
Akankah mereka mampu bertahan hidup di desa yang semuanya serba terbatas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32 PGS
Seharusnya Tri kembali ke kampung dua hari lagi, tapi karena pekerjaannya sudah selesai dia pun segera pulang. Ia tidak memberitahu jika akan pulang karena ingin memberikan kejutan untuk istri dan anak-anaknya. Tri sengaja berangkat dari Jakarta subuh, supaya dia sampai di kampung pagi-pagi dan kondisi pagi di kampung sedang sepi karena biasanya jam segitu semua orang sudah pergi ke kebun.
Tapi bukanya dia yang memberikan kejutan, melainkan sebaliknya dia yang terkejut atas apa yang dia lihat. Tri melangkahkan kakinya menghampiri istri dan anak-anaknya yang sudah terlihat babak belur. Bahkan Sherina dan Wita sudah dalam kondisi pingsan.
Nining dan Badru datang, mereka sangat terkejut melihat semua itu. Tri berjongkok dengan rahang yang mengeras, matanya memerah menahan emosi. "Siapa yang sudah melakukan semua ini, Syarif?" tanya Daddy Tri penuh penekanan.
"Mereka semua Daddy, dan yang sudah membuat Mommy dan Kakak seperti ini adalah mereka," tunjuk Syarif kepada Rossa, Ariel, Fuja, dan juga Tama.
Tri mengepalkan tangannya. "Syarif sudah menghubungi Pak Herman," seru Syarif.
Tri bangkit, wajah Tri sudah seperti harimau yang siap menyergap mangsanya. Tri membalikan tubuhnya, lalu menghampiri keempat orang yang ditunjuk oleh Syarif. Tri mencengkram baju Tama dengan kuat membuat Tama seketika ciut.
"Brengsek kau Tama, selama ini saya sudah sabar menghadapi kelakuan kamu tapi kali ini kelakuan kamu sudah sangat keterlaluan," seru Daddy Tri dengan mata yang memerah.
"Lepaskan Papaku," seru Ariel.
Dengan tangan kiri, Tri memukul wajah Ariel dengan sekali pukulan bahkan tangan kanannya masih belum melepaskan Tama. "Ya, ampun Ariel," seru Fuja menghampiri Ariel.
Hidung Ariel berdarah, dan Rossa berlari memukul tangan Tri yang mencengkram baju Papanya. "Dasar orang miskin tidak tahu diri, lepaskan Papaku!" teriak Rossa.
Lagi-lagi tangan kiri Tri yang beraksi, kali ini Tri mencekik leher Rossa membuat semua orang terkejut. "Pak Tri, Istighfar Pak lepaskan Rossa takutnya terjadi hal yang tidak diinginkan," seru Pak RW membujuk.
Nining dan Badru menghampiri Syarif dan membantu Syarif membawa Sherina dan Wita ke dalam rumah. "Lepaskan adik dan Papaku!" teriak Ariel.
Tiba-tiba dua mobil hitam berhenti di depan rumah Tri. Semuanya kembali terkejut melihat orang-orang berpakaian serba hitam keluar dari dalam mobil itu. Tri menghempaskan tubuh Tama dan juga Rossa, keduanya terbatuk-batuk.
"Tuan, apa yang harus saya lakukan?" tanya Pak Herman.
"Kalian jaga mereka jangan sampai mereka lolos, saya akan bawa anak dan istri saya berobat dulu karena yang tahu kejadian sebenarnya hanya mereka, dan jika orang-orang brengsek ini terbukti bersalah, saya akan jebloskan mereka ke kantor polisi," seru Daddy Tri.
"Baik Tuan," sahut semuanya serempak.
Warga kembali kaget, mereka jadi bertanya-tanya siapa Tri. Untuk pertolongan pertama supaya cepat, Tri membawa anak dan istrinya ke puskesmas dulu diantar oleh Badru dan juga Nining. Anak buah Tri mengikat Tama, Ariel, Rossa, dan juga Fuja kemudian membiarkan keempatnya duduk di teras.
Ningsih dan Nia menangis meraung melihat orang yang mereka sayangi diikat seperti itu. "Mas, saya mohon lepaskan anak-anak dan suami saya," mohon Mama Ningsih dengan deraian air matanya.
"Iya, Mas. Lepaskan putri saya juga," timpal Bunda Nia.
"Maaf, kami tidak bisa melepaskannya sebelum Tuan Tri memerintahkan kami," sahut salah satu anak buah Tri.
"Maaf Mas, memangnya siapa Pak Tri sebenarnya?" tanya Pak RW ragu-ragu.
"Kalian sudah salah mencari lawan? Tuan Tri adalah pengusaha properti terkaya se-ASIA Tenggara, mereka datang ke sini karena mereka ingin merasakan bagaimana rasanya jadi orang dari kalangan bawah, bahkan mereka rela bekerja di kebun dia hanya demi memuluskan rencana mereka supaya kalian tidak mengenali mereka sebagai konglomerat," ucap Pak Herman dengan menatap sinis kepada Tama.
Bagai disambar petir di siang bolong, semuanya membelalakkan matanya. Tama dan anak-anaknya seketika lemas mendengar kenyataan yang sebenarnya. Begitu juga para warga langsung menunduk lemah, merasa ketakutan.
"Keluarga Tuan Tri adalah keluarga yang sangat baik, mereka ramah kepada siapa pun dan tidak pandang bulu tapi kalian dengan sombongnya menghina, menghujat, bahkan menyakiti mereka tanpa ampun. Padahal, orang yang selama ini kalian hina dan hujat bisa membeli kampung ini dan dengan sekejap bisa meratakan kampung ini," sambung Pak Herman.
Para warga langsung panik, mereka semua langsung menghampiri Herman dan bertekuk lutut di kaki Herman. "Tuan, kami mohon jangan ratakan kampung ini karena kalau diratakan, kami akan tinggal di mana?" mohon Pak RW.
"Tuan, tolong sampaikan permohonan maaf kami kepada Bu Wita dan juga anak-anaknya, kami tidak mau kampung kami diratakan," tumpal Bu Ida.
"Sudah terlambat, Tuan Tri sudah sangat marah dan jika Tuan Tri sudah ngamuk seperti itu maka tidak ada maaf lagi buat kalian," sahut Pak Herman.
Semuanya ketakutan, mereka sadar jika selama ini mereka sudah keterlaluan kepada keluarga Tri. Ariel melamun dan mengingat setiap perbuatan yang dia lakukan kepada Sherina, bahkan dia sudah dua kali menampar Sherina. Begitu juga dengan Rossa, yang sudah menghina Syarif dan menyiksa Wita secara brutal.
Tama adalah orang yang paling merasa ketakutan, sudah pasti Tri akan membunuhnya jika mengetahui dirinya hendak memperkosa istrinya. Semuanya terdiam, mereka hanya bisa pasrah dengan kenyataan yang terjadi. Sementara itu di puskesmas Sherina sudah sadarkan diri sedangkan Wita kondisinya masih lemah.
"Sayang, Daddy harus bawa Mommy kamu segera pulang karena Mommy kamu harus mendapat penanganan dokter, tidak apa-apa 'kan kalian kalau menyusul belakangan? jangan khawatir, ada Pak Herman dan anak buah Daddy jadi tidak akan ada yang bisa menyentuh kalian lagi," seru Daddy Tri.
"Iya, tidak apa-apa Dad, Daddy cepat saja bawa Mommy pulang dan selamatkan Mommy," sahut Syarif.
"Baiklah, maafkan Daddy ya karena tidak bisa menjaga kalian," ucap Daddy Tri sedih.
"Tidak Dad, Daddy tidak perlu minta maaf. Cepatlah bawa Mommy pergi, kita tidak mau sampai Mommy kenapa-napa," lirih Sherina.
Tri pun akhirnya dengan cepat pergi dari puskesmas menuju Jakarta. Mail yang baru saja pulang langsung ke puskesmas kala mendengar kondisi Sherina dan Syarif. "Astaga, kalian kenapa sampai seperti ini?" tanya Mail terkaget-kaget.
"Ceritanya panjang, nanti aku ceritakan," sahut Badru.
Nining menghampiri Sherina dan menggenggam tangan Sherina. "Maafkan aku ya, Sher tadi aku gak bisa melakukan apa-apa karena mereka terlalu banyak," seru Nining dengan deraian air matanya.
Sherina tersenyum. "Tidak apa-apa, di kampung ini hanya kalian yang baik sama kita, terima kasih ya, sudah tidak ikut-ikutan memfitnah kita," sahut Sherina.
Nining semakin sedih, dia pun dengan cepat memeluk Sherina.
kalian harus perlihatkan siapa kalian biar tama dan yg lainnya kicep, kesel sumpah