Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.
Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.
“Aku pensiun.”
Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.
Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.
Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.
Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:
Membuka sebuah restoran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 - Hari Baru di Kedai Satu Mangkuk
Fajar perlahan menyingsing di kota kecil Pingxi.
Kabut tipis masih menggantung di udara ketika sinar matahari pertama mulai menyelinap di antara atap-atap rumah yang sederhana.
Di jalan kecil tempat Kedai Satu Mangkuk berdiri, suasana masih cukup sepi.
Pintu kayu kedai itu perlahan terbuka.
Kreek…
Zhao keluar sambil membawa papan kecil bertuliskan Buka.
Ia menggantungnya di pintu dengan santai.
Hari baru dimulai.
Ia lalu mengambil sapu jerami dan mulai membersihkan halaman depan kedai.
Namun baru menyapu beberapa kali—
Zhao tiba-tiba berhenti.
Tangannya perlahan memegang pinggang.
Wajahnya meringis.
“Ugh…Pinggangku…”
Ia menarik napas panjang.
“Kenapa nyeri sekali…”
Ia berdiri tegak dan mencoba meregangkan tubuh.
Namun rasa nyeri justru semakin terasa.
“Padahal aku memiliki regenerasi dewa…”
Ia menghela napas.
“Kenapa nyerinya tidak hilang…”
Untuk sesaat, Zhao menatap langit pagi dengan ekspresi pasrah.
Lalu ia bergumam pelan.
“Inilah kenapa aku takut…ketika dia mulai aktif.”
Matanya perlahan melirik ke dalam kedai melalui jendela.
Di sana—
Yueling terlihat sedang membersihkan meja dengan penuh semangat.
Wajahnya berseri-seri. Ia bahkan bersenandung pelan sambil menata kursi. Aura bahagia benar-benar terpancar dari dirinya.
Zhao menatapnya cukup lama.
Lalu menghela napas lagi.
“Karena dia tahu aku bisa pulih dengan cepat…”
“…dia melakukannya tanpa ampun.”
Ia memijat pinggangnya lagi.
“Tanpa belas kasihan.”
Zhao berjalan ke jendela dan menatap pantulan wajahnya di kaca.
Rambutnya sedikit berantakan.
Matanya tampak sayu.
Wajahnya… benar-benar terlihat seperti pria yang kurang tidur.
“Sial…”
“Aku kurang tidur.”
Ia menghela napas panjang.
“Meskipun aku immortal…”
“…aku tetap manusia.”
Namun saat ia hendak terus mengeluh—
Suara langkah kaki terdengar dari ujung jalan.
Sekelompok orang mendekat.
Terdiri dari beberapa pria dan wanita berpakaian seperti pengembara.
Aura mereka menunjukkan bahwa sebagian dari mereka adalah kultivator. Namun ada juga beberapa penduduk lokal yang terlihat penasaran.
Salah satu pria mengangkat tangan.
“Permisi, bos.”
Zhao langsung tersadar dari lamunannya.
“Apakah kedainya sudah buka?”
Pria lain menambahkan.
“Kami mendengar dari seorang gadis kecil…”
“Katanya ada kedai baru yang memiliki makanan yang sangat enak.”
Zhao langsung tersenyum ramah.
Senyum hangat yang seolah menghapus semua keluhan tadi.
“Tentu saja, Tuan dan Nona.”
Ia membuka pintu lebih lebar.
“Silakan masuk.”
Namun ketika ia hendak mempersilakan mereka—
Pinggangnya kembali terasa nyeri.
“Shessh—”
Zhao mendesis pelan.
Salah satu pria langsung memperhatikan.
“Bos, apakah kau baik-baik saja?”
“Wajahmu terlihat pucat.”
Zhao langsung tertawa canggung.
“Ah tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah karena pekerjaan kemarin.”
“Silakan masuk.”
Para tamu mulai masuk ke dalam kedai.
Ruangan kayu itu terasa hangat dan bersih.
Meja-meja sederhana tertata rapi.
Ada aroma rempah ringan yang masih tersisa di udara.
Yueling yang berada di dalam langsung menoleh.
Ketika melihat pelanggan—
Wajahnya langsung bersinar cerah.
“Selamat datang!”
Suaranya lembut dan ramah.
“Silakan duduk di sini.”
Ia dengan cepat mengatur kursi untuk mereka.
Zhao masuk sambil berkata,
“Sayang, kita kedatangan pelanggan.”
Yueling tersenyum hangat.
“Baik.”
Ia mengambil beberapa lembar kertas menu dan memberikannya pada para tamu.
“Silakan melihat daftar menu kami.”
Para pelanggan mulai membaca.
Namun tidak lama kemudian—
Beberapa dari mereka mengerutkan kening.
“Eh?”
Salah satu kultivator mengangkat alis.
“Kenapa menunya hanya sedikit?”
Orang lain ikut membaca.
“Hanya lima?”
Seorang pria menunjuk tulisan pertama.
“Ramen?”
“Apa itu?”
Seorang wanita lain membaca menu kedua dengan wajah bingung.
“Kim… kimchi?”
“Ini makanan apa?”
Yang lain mulai tertarik.
“Sup iga?”
“Nasi goreng spesial?”
“Kenapa nama-namanya aneh sekali…”
Yueling tertawa kecil.
Ia menjelaskan dengan sabar.
“Semua makanan di sini adalah resep istimewa milik kami.”
Ia menunjuk menu satu per satu.
“Ramen adalah mie dengan kuah rempah khas.”
“Kimchi adalah sayuran fermentasi yang memiliki rasa unik.”
“Sup iga dimasak dengan rempah hingga dagingnya sangat lembut.”
“Dan nasi goreng spesial adalah hidangan nasi yang dimasak dengan berbagai bahan pilihan.”
Ia tersenyum percaya diri.
“Kalian tidak akan menemukan makanan ini di restoran mana pun selain di sini.”
Beberapa orang mulai tertarik.
Saat itu Zhao keluar dari dapur sambil membawa nampan berisi beberapa gelas air.
Ia meletakkannya di setiap meja.
“Silakan minum dulu.”
Ia berkata dengan santai.
“Aku jamin kalian tidak akan menyesal mencobanya.”
Para tamu saling pandang.
Salah satu pria akhirnya tertawa.
“Baiklah.”
“Kapan lagi ada kedai makan layak di kota ini?”
Ia melihat sekeliling ruangan.
Tempatnya bersih.
Hangat.
Tidak seperti warung-warung lusuh lain di Pingxi.
“Lagipula…”
Ia melihat harga di menu.
“Harganya juga cukup terjangkau.”
Ia menunjuk menu pertama.
“Ramen… tiga tael perak?”
Ia tersenyum.
“Aku pesan satu.”
Ia bersandar di kursi.
“Aku harus makan kenyang sebelum melanjutkan perjalanan.”
Kata-katanya membuat pelanggan lain ikut berani.
“Kalau begitu aku juga pesan satu.”
“Aku ingin mencoba sup iga.”
“Aku ambil nasi goreng spesial.”
“Kimchi itu terdengar menarik.”
Seketika suasana kedai menjadi ramai.
Yueling dengan cepat mencatat pesanan.
“Baik, satu ramen. Sup iga.”
“Nasi goreng spesial.”
Ia menoleh ke dapur.
“Sayang, kita mulai!”
Zhao langsung menyingsingkan lengan bajunya.
“Siap.”
Dalam sekejap—
Dapur kecil itu berubah menjadi medan pertempuran.
Air mendidih.
Wajan mulai panas.
Pisau memotong bahan dengan cepat.
Zhao bergerak dengan cekatan.
Mie dimasukkan ke dalam air mendidih.
Kuah ramen dituangkan dengan aroma rempah yang menggoda.
Telur rebus dipotong sempurna.
Sementara itu Yueling membawa minuman dan mengatur meja pelanggan.
Beberapa tamu mulai mencium aroma dari dapur.
“Hmm…”
“Baunya luar biasa…”
Seorang kultivator bahkan menelan ludah.
“Aroma ini… berbeda dari makanan biasa.”
Beberapa menit kemudian—
Zhao keluar membawa mangkuk ramen pertama.
Uap hangat mengepul.
Kuah emas berkilau.
Ia menaruh mangkuk itu di meja.
“Ramen pesanan Anda.”
Pria yang memesan tadi menatapnya.
Lalu matanya membesar.
“Ini…”
Aromanya saja sudah membuat perutnya bergejolak.
Ia mengambil sumpit.
Semua orang di meja memperhatikannya.
Ia menyedot mie pertama.
“Slurp—”
Beberapa detik berlalu.
Lalu matanya langsung melebar.
“Apa—”
Ia menutup mulutnya.
“Ini… luar biasa!”
Orang lain langsung tertarik.
“Benarkah?”
Zhao tersenyum tipis.
Sementara Yueling menyilangkan tangan dengan bangga.
Hari pertama mungkin kacau.
Namun sekarang—
Kedai Satu Mangkuk akhirnya benar-benar hidup.
Waktu berlalu dengan cepat.
Awalnya hanya beberapa pelanggan.
Namun satu mangkuk ramen berubah menjadi dua… lalu lima… lalu sepuluh.
Aroma kuah hangat menyebar keluar dari kedai dan tertiup angin ke jalan utama. Orang-orang yang lewat mulai melambatkan langkah.
Beberapa mengintip ke dalam.
Beberapa bertanya pada pelanggan yang baru keluar.
“Benarkah makanannya enak?”
“Seriusan ada kedai makan yang layak di kota Pingxi?”
Dan jawaban yang mereka dapat hampir selalu sama.
“Cobalah sendiri.”
Tak butuh waktu lama—
kedai kecil itu mulai ramai.
Suara sumpit beradu.
Suara orang menyeruput ramen.
Canda tawa memenuhi ruangan.
Pemandangan yang sangat jarang terlihat di kota Pingxi.
Sementara itu—
di luar kedai.
Seorang gadis berdiri di depan pintu sambil membawa keranjang topi jerami.
Itu Shen Ning.
Ia menatap ke dalam melalui jendela.
Matanya membesar.
Kedai itu penuh.
Orang-orang duduk di setiap meja.
Beberapa bahkan berdiri menunggu giliran.
Senyum perlahan muncul di wajah Shen Ning.
Hangat.
Bangga.
“Sepertinya…”
Ia bergumam pelan.
“Promosi yang kulakukan berjalan lancar.”
Sejak pagi tadi ia berkeliling kota.
Mendatangi pasar. Tempat para pengembara berkumpul. Bahkan beberapa rumah warga.
Ia menceritakan tentang kedai baru yang menjual makanan luar biasa.
Awalnya banyak yang tidak percaya.
Namun tetap saja beberapa orang datang untuk mencoba.
Dan hasilnya—
sekarang kedai itu penuh.
Shen Ning menatap pemandangan di dalam sekali lagi.
Orang-orang tertawa.
Beberapa pelanggan bahkan saling berbagi cerita perjalanan.
Suasana hangat memenuhi ruangan.
Pemandangan seperti itu…
sangat jarang ia lihat di kota Pingxi.
Matanya sedikit berkaca.
“Ternyata…”, Ia tersenyum tipis.
“Kota ini juga bisa membuat orang tersenyum.”
Ia lalu menarik napas dan melangkah masuk.
Begitu ia membuka pintu—
suara bersemangat langsung terdengar.
“Ning’er!”
Shen Ning terkejut.
Ia baru saja menoleh ketika—
Pluk!
Yueling sudah memeluknya erat.
“Ah—!”
Shen Ning hampir kehilangan keseimbangan.
“B-Bibi?”
“Ada apa ini?”
Yueling memeluknya seperti memeluk anak sendiri.
Wajahnya penuh kegembiraan.
“Bibi sudah mendengar semuanya!”
Shen Ning berkedip bingung.
“Mendengar apa?”
Yueling menatapnya dengan mata berbinar.
“Kau yang mempromosikan kedai ini ke seluruh kota, bukan?”
Shen Ning tersenyum canggung.
Ia menggaruk pipinya.
“Ah… iya…”
“Aku hanya memikirkan bagaimana cara membalas kebaikan kalian…”
Kalimat itu bahkan belum selesai—
Yueling langsung memeluknya lebih erat.
“Ahh Ning’erku!”
Ia menggosokkan pipinya ke pipi Shen Ning dengan penuh kasih sayang.
“Terimakasih atas kerja kerasmu!”
Wajah Shen Ning langsung memerah.
“B-Bibi! Sudah cukup!”
“Banyak orang melihat!”
Benar saja—
beberapa pelanggan memperhatikan mereka sambil tertawa. Seorang pria bahkan berkata sambil tersenyum,
“Hahaha, gadis itu seperti anak mereka sendiri.”
Yang lain ikut tertawa.
Suasana kedai terasa semakin hangat.
Shen Ning semakin malu.
“Bibi…moo..Benar-benar…”
Saat itu Zhao keluar dari dapur sambil membawa beberapa mangkuk ramen.
Ia melihat pemandangan itu.
Senyumnya langsung melebar.
“Kenapa harus malu?”
Ia meletakkan pesanan pelanggan di meja.
“Biarkan semua orang tahu.”
Ia menunjuk Shen Ning dengan santai.
“Bahwa kau adalah bintang keberuntungan kedai kami.”
Wajah Shen Ning langsung berubah merah seperti tomat matang.
“Pa-Paman!”
Para pelanggan tertawa lebih keras.
Yueling akhirnya melepaskan Shen Ning dengan senyum puas.
“Baiklah baiklah, bibi akan berhenti.”
Beberapa saat kemudian suasana kembali normal.
Zhao menatap Shen Ning dengan lembut.
“Ngomong-ngomong..”
“Apakah kau sudah makan?”
Shen Ning langsung menjawab refleks.
“Be-belum.”
Namun ia buru-buru menambahkan,
“Tapi tolong jangan beri aku makanan gratis lagi!”
Ia menunduk sedikit.
“Aku bukan tidak menghargainya…”
“Aku hanya… Tidak ingin merepotkan kalian lagi.”
Zhao dan Yueling saling menatap.
Lalu keduanya tersenyum tipis.
Zhao mendekat sedikit ke Yueling dan berbisik.
“Sepertinya dia tahu.”
Yueling menutup mulutnya sambil tertawa kecil.
“Sudah kubilang kan? Ekspresimu itu sangat mudah ditebak.”
Shen Ning mengedipkan mata sebelum akhirnya menarik napas kecil seolah mengumpulkan keberanian.
Lalu ia berkata pelan.
“Paman… Bibi…”
“Kalau boleh…”
Ia menatap mereka dengan mata serius.
“Apakah kedai ini… membuka lowongan pekerjaan?”
Kata-kata itu membuat suasana sejenak membeku.
Zhao dan Yueling terdiam.
Mereka tidak menyangka pertanyaan itu.
Shen Ning segera melanjutkan dengan sedikit gugup.
“Aku tidak punya banyak kemampuan…”
“Tapi aku bisa bekerja keras.”
“Aku bisa membantu membersihkan meja.”
“Melayani pelanggan.”
“Bahkan mencuci piring.”
Ia menunduk.
“Selama aku bisa membantu kedai ini…”
“Dan… mendapat sedikit upah untuk membantu adik-adikku.”
Suaranya mengecil di akhir kalimat. Namun tekad di matanya sangat jelas.
Ia tidak meminta belas kasihan.
Ia meminta kesempatan.
Zhao dan Yueling menatap gadis itu cukup lama.
Yueling perlahan menyilangkan tangan. Senyum kecil muncul di wajahnya.