"Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, selamanya kita akan tetap bersama" kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran seorang gadis cantik yang berasal dari pinggiran kota.
Dan tempat itu menjadi saksi sejarah dari janji yang pria tampan itu ucapkan.
Dia yang sempat tinggal disana karena sebuah kecelakaan yang merenggut ingatannya, hingga ia ditampung oleh salah satu keluarga dengan kedua putri cantik yang selama ini selalu membantu kedua orang tuanya merawat pria yang entah berasal dari mana.
"Kalau penasaran silahkan ikuti kisahnya 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
"Bangunlah tuan , tidak usah bawa-bawa nama tuhan... Semua sudah berakhir sekarang jalani saja semuanya. Saya ikhlas anda bahagia bersama dengan wanita lain, tidak perlu mengasihani saya. Anggap saja kita tidak pernah bertemu"ucap Dian yang kini pergi meninggalkan Alex yang hanya mampu menggelengkan kepalanya.
Dian pun tidak lagi keluar dari dalam kamarnya sampai waktu berbelanja tiba, Dian sudah bersiap untuk berbelanja di pagi hari tepat pukul lima pagi karena terlambat bangun pagi setelah bergadang semalaman.
Saat Dian keluar kamar dengan pakaian santai nya, dengan celana jeans panjang berwarna abu, dipadukan dengan t-shirt berwarna putih dan di lapis dengan Hoodie, Dian menggendong tas ranselnya dengan sepatu yang biasa ia gunakan sehari-hari setiap jualan.
Namun saat melewati pintu ruang keluarga, Dian begitu shock saat melihat Alex dengan posisi terlentang diatas sofa dan tangan terkulai bercucuran darah, dan darah itu sudah menggenang di atas lantai tepat dibawah tangan Alex.
"Yank!! apa yang kamu lakukan, tolong!!!" teriak Dian yang kini berusaha mengangkat tubuh Alex yang tinggi besar itu.
Dengan sekuat tenaga Dian membopong Alex sambil terus berteriak meminta pertolongan.
Beberapa tetangga Dian pun berlarian menghampiri rumah Dian dimana mereka melihat Dian sedang bersusah payah membawa Alex yang sudah tidak sadarkan diri itu keluar dari dalam rumah.
"Apa kamu terjadi mbak, kenapa ada orang asing di rumah mbak, dia bunuh diri!"teriak seorang ibu-ibu.
"Ceritanya panjang hiks, saya mohon tolong bantu saya bawa dia ke rumah sakit, saya tidak tahu rumah sakit terdekat dimana?"ujar Dian yang kini terlihat begitu khawatir.
Dian pun berlari kedalam rumah untuk mencari kunci mobil Alex, tapi tidak lama kembali saat itu juga Dian langsung meminta bapak-bapak yang kini menggotong tubuh Alex memasukkan Alex kedalam mobilnya.
Setelah itu ia langsung tancap gas ditemani oleh salah seorang warga yang menunjukkan letak rumah sakit terdekat.
"Bertahan tuan, buka mata anda please," lirih Dian yang kini sudah tidak bisa lagi menahan tangisnya yang pecah sambil terus menyetir.
"Hati-hati mbak nanti nabrak, saya yakin tuan bule ini akan selamat"ujar pria paruh baya yang mengira Alex adalah pria bule, meskipun dia memang memiliki keturunan bule, tapi menurut Dian dia lebih mirip pria lokal yang sangat tampan.
"Itu mbak belok kiri, itu rumah sakitnya"ujar pria paruh baya yang kini mengingatkan Dian pada almarhum ayahnya.
"Baiklah Yah," lirih Dian tak sadar.
"Anggap saja saya seperti itu mbak, terkadang saya juga dipanggil mbah oleh orang lain. Jadi jangan sungkan"ucap pria itu.
"Maaf pak, saya teringat akan ayah saya saat kami menolong beliau dulu yang pernah menjadi korban penganiayaan"ujar Dian yang kini buru-buru keluar dari dalam mobil lalu berteriak minta tolong kepada petugas kesehatan yang ada di depan ruang IGD tersebut.
"Tolong, tolong selamatkan dia!"ujar Dian yang kini dibantu oleh pria yang tadi mengantar mereka berserta para perawat yang kini langsung sigap membawa Alex keatas brankar
"Selesaikan administrasi nyonya"ujar salah seorang perawat.
Dian pun langsung bergegas menuju ruang administrasi, tidak lama dia kembali berlari hendak masuk kedalam ruang IGD tapi langkahnya dicegat security yang berjaga yang kini meminta menunggu di luar.
"Pak bapak bisa pulang duluan, terimakasih untuk pertolongan nya. Ini ada sedikit uang untuk bapak sekaligus untuk ongkos, saya minta tolong, titip rumah saya tidak bisa kembali sekarang"ujar Dian yang kini membuat pria dihadapannya mengeleng cepat.
"Tidak mbak, kita sebagai tetangga memang harus saling tolong menolong. Saya bisa pulang nanti setelah dokter selesai menangani pasien takutnya ada yang perlu saya bantu lagi. Oh iya lupa saya ketua RW di komplek perumahan kita"ujar pria paruh baya yang baik hati yang kini menolak uang pemberian Dian.
"Terimakasih pak atas kebaikan bapak, semoga yang maha kuasa memberikan banyak kebaikan pada bapak dan keluarga. Maaf jika selama saya tinggal di sana saya belum sempat bersilaturahmi dan baru sempat laporan pada ketua RT"ujar Dian.
"Tidak apa-apa mbak, laporan nya juga sudah masuk kesaya dan sudah dimasukkan kedalam daftar warga baru, oh iya bagaimana apa rumahnya nyaman dan aman?"ujar pak RW yang kini terus mengajak Dian berbicara agar Dian bisa melupakan kesedihannya.
Sementara itu Alex langsung dilarikan ke ruang operasi dan Dian diberitahukan untuk segera menghubungi keluarganya karena keadaan Alex benar-benar kritis, setelah dokter tau bahwa Alex adalah pria yang selama ini dikenal sebagai penguasa sukses.
Dian pun meraih ponselnya, tapi bukan keluarga Gideon yang dia hubungi, melainkan Ari untuk dimintai tolong agar dia menghubungi Darel asisten pribadinya Alex.
Setelah itu Dian bergegas menuju ruang operasi tepatnya di depan ruang operasi dia menunggu, sementara pak RW dimana pulang terlebih dahulu agar bisa memeriksa keadaan rumah Dian.
Setelah hampir dua jam lebih, operasi pun selesai dilakukan, dan beruntung Alex sudah bisa diselamatkan meskipun saat ini Alex masih belum sadarkan diri.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang, beberapa pelanggan sayur Dian terus menghubungi Dian, tapi beruntung mereka mau menunggu hingga besok karena stok sayur masih ada meskipun sedikit.
Dian pun kini sudah berada di ruang ICU, dia menatap lekat wajah Alex yang kini terlihat lemah, beruntung stok darah di rumah sakit itu cukup banyak hingga Alex bisa tertolong tanpa harus mengambil darah Dian.
"Cepatlah bangun tuan, anda pikir dengan begini saya akan iba dan kembali pada anda hm... tidak tuan, saya sudah sangat lelah dengan semua yang terjadi dalam hidup saya. Mungkin dulu saat Reno pergi saya masih bisa berharap akan adanya keajaiban cinta, tapi tidak untuk kali ini"ujar Dian yang kini hendak berbalik pergi tapi langkahnya terhenti ketika tangan kanan Alex menggenggam tangan Dian dengan erat.
"Honey jika kamu tidak peduli denganku kenapa kamu tidak biarkan aku mati saja?"ucap Alex dengan lemahnya.
"Saya hanya tidak ingin disalahkan atas kepergian anda, lain kali jika ingin bunuh diri jangan ditempat saya. Karena saya bukan tukang gali makam"ujar Dian dengan ekspresi wajah dingin.
"Kamu sudah benar-benar benci aku honey, bahkan kamu sudah tidak lagi ingin melihat ku untuk yang terakhir kalinya"ujar Alex yang kini menitikkan air mata.
"Saya bukan siapa-siapa anda lagi tuan, jadi tolong jangan panggil saya dengan panggilan itu. Dan satu lagi jangan pernah berharap empati dari saya, dan saya harap setelah ini kita tidak usah bertemu lagi. Mobil anda ada di parkiran rumah sakit ini. Setelah keluarga anda tiba saya akan segera pergi"ucap Dian yang kini masih menatap kearah lain meskipun tangannya masih di genggam oleh Alex.
"Kamu tega ninggalin aku honey?"ujar Alex.
"Bukankah itu juga yang pernah anda lakukan terhadap saya tuan, tapi bedanya saya tidak akan pernah kembali.
...******...
Sudah satu jam setelah Darel datang Dian yang kembali ke rumah pun, kini kembali menemui ibu-ibu langganan nya. Untuk membagikan pepes ikan yang mereka pesan.
Dian juga tidak lupa membagi sebagian ikannya pada para tetangga, setelah menjelaskan siapa Alex sebenarnya dan kenapa Alex melakukan percobaan bunuh diri.
Warga pun sangat menyayangkan kisah cinta mereka, ada juga yang memuji Dian, karena Dian adalah gadis yang kuat dan bisa melewati semua cobaannya dengan ketegaran.
Sementara Alex sejak kepergian Dian, dia bahkan menolak untuk bicara dengan orang-orang yang kini ada di ruang VVIP tempat dimana dirinya dirawat, termasuk para pegawai yang berdatangan saat mendengar kabar dari Tio.
Darel sendiri hanya bisa menghela nafas berat, dia tau bagaimana Alex selama ini. Dia akan diam seribu bahasa saat orang yang sangat ia cintai pergi meninggalkan dirinya.
Tuan Alex Tama pun kini hanya bisa menggerutu meskipun itu tidak bisa membuat Alex buka suara.
Sampai saat keadaan Alex sudah stabil, tuan Alex Tama berniat untuk memindahkan Alex ke rumah sakit milik keluarganya yang ada di kota kelahirannya. Tapi Alex dengan tegas menolak, dia bahkan tidak ingin lagi kembali kerumahnya yang ada disana jika Dian tidak peduli lagi terhadap dirinya.
Perdebatan besar pun terjadi lagi antara Alex dan tuan Alex Tama, dan kali ini tuan Alex Tama lah yang menyerah pada putranya itu.
Tuan Alex Tama mengalah karena tidak ingin kehilangan putra satu-satunya yang sudah berulang kali mencoba untuk mengakhiri hidupnya itu.
Hari demi hari pun terlewati, hingga saat Alex sembuh total dan diperbolehkan untuk pulang, Alex pun kembali ke desa tempat dimana rumah Dian dulu berada, dan pria itu kembali membeli rumah itu dengan harga dua kali lipat dari penjualan.
Alex berniat untuk mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik Dian, sementara untuk keluarga Afandi, untuk sementara keuangannya Alex stop karena Alex tau tentang alasan kedua kedua kenapa Dian memutuskan untuk pergi jauh dari rumah itu.
Kabar tentang rumah lama Dian yang dibeli oleh Alex pun sudah sampai ke telinga Dian, tapi gadis itu tetap tidak ingin peduli dengan itu.
Dian kembali sibuk dengan berjualan seperti biasanya dan saat ini tidak hanya satu komplek perumahan yang berlangganan pada Dian, tapi tiga sekaligus dan Dian harus tiga kali lipat tambah modal sekaligus tambah muatan.
Ari pun kini jadi asisten pribadinya dalam berjualan, Dian bersyukur karena dengan begitu dia bisa membuka lowongan kerja untuk sahabat nya itu.
Ari tinggal di rumah Dian dengan ijin dari RT dan RW yang sudah mengenal mereka berdua.
Mereka juga merasa terbantu dengan adanya tukang sayur keliling seperti Dian, dengan berbagai macam sayuran yang lengkap dan juga lauk pauk lainnya.
Sehingga kebutuhan dapur lainnya terpenuhi, Dian yang kini sukses dalam berdagang pun tidak lupa untuk beramal.
Dian bahkan masih mengirim uang pada wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibu mertuanya yang kini menyesali perbuatannya.
Nasi sudah jadi bubur, Dian mungkin bisa memaafkan dirinya tapi Dian tetap menjaga jarak hingga saat ini.
Bukan karena Dian benci pada wanita itu, tapi dia menghindari luka yang mungkin akan tetap ada jika mereka kembali dekat seperti sebelumnya.
Yang terpenting bagi Dian saat ini adalah, ibu Afandi dalam keadaan sehat, dan kabarnya lagi Afifah akan segera menikah dengan kekasihnya dan mengorbankan pendidikan nya karena sudah terlanjur hamil di luar nikah.
Jika sudah begitu, Dian tidak bisa berbuat apa-apa, dia sudah berusaha untuk menjaga dan menyekolahkan adik dari almarhum suaminya itu hingga perguruan tinggi. Tapi Dian tidak bisa memaksa.
Kembali pada Dian yang kini baru saja kembali dari luar bersama ari setelah selesai berjualan, Dian dikejutkan dengan kedatangan Alex yang kini datang dengan membawa buket bunga yang indah dan cukup besar, pria itu tersenyum manis pada Dian yang kini menghentikan langkahnya.
"Apa kabar honey?"ujar Alex yang kini menghampiri Dian dan memeluk Dian tanpa aba-aba untuk beberapa detik sampai saat Dian mendorong dada bidang Alex pelan.
"Jangan sembarangan memeluk orang tuan, kita bukan muhrim"ujar Dian yang kini berjalan melewati Alex begitu saja.
"Ri, aku lelah, kalau lapar kamu delivery saja"ujar Dian yang kini memberikan tas ransel berisi uang pada Ari yang biasa menghitung hasil jualan mereka.
Sementara Alex langsung mengikuti langkah Dian untuk masuk kedalam rumah meskipun tanpa izin.
Honey aku datang untuk mengembalikan semua yang seharusnya menjadi milik mu. Kembalilah jangan buat aku dibenci oleh ayah mertua ku untuk selamanya karena gara-gara aku putrinya telah menjual satu-satunya rumah peninggalan nya."ucap Alex yang kini dilirik malas oleh Dian.
"Saya menjualnya karena tidak ingin ayah saya menanggung hutang budi yang terlalu besar, atas kebaikan anda, sekarang jika rumah itu anda beli, itu akan tetap menjadi rumah anda"ujar Dian.
"Tidak honey itu adalah rumah mu itu mas kawin dariku untukmu."ucap Alex.
" Saya sudah tidak berminat untuk menikah dengan pria manapun, jadi anda bisa berikan rumah itu pada pasangan anda"ujar Dian.
"Tidak honey pernikahan kita sudah didaftarkan dalam waktu tiga hari kita akan segera melangsungkan pernikahan"ujar Alex dengan tegas.
"Kita lihat saja nanti"ujar Dian yang kini meninggalkan Alex yang akhirnya hanya ditemani Ari yang kini lebih memilih memasak untuk makan malam mereka bertiga karena Alex bilang akan menginap di rumah itu.
Sementara Dian kini benar-benar istirahat, dan dia tidak tau berapa penghasilan dagang nya hari ini. Karena yang menghitung uang hanya Ari yang kini disaksikan oleh Alex.
Alex sendiri semakin mengagumi Dian yang selalu bisa bangkit dalam keadaan apapun.
"Ari, mulai besok, kamu aku angkat sebagai asisten pribadi istriku. Gaji mu lebih tinggi dari pendapatan bulanan mu selama ini. Yang terpenting pastikan istriku baik-baik saja saat aku tidak ada disisinya nanti"ujar Alex yang kini membuat Ari menoleh kearah Alex setelah menyimpan gepokan uang dengan berbagai warna yang berbeda dan sudah terpisah dan tertata rapi di tas Selempang milik Dian.