Karena tak kunjung hamil, Sekar Arunika- wanita muda berusia 25 tahun, harus mendapati kenyataan pahit suaminya menikah lagi. karena tidak ingin di madu, Sekar memilih mundur dan merantau.
namun sepertinya Tuhan masih belum ingin membuatnya tenang. karena saat sudah bahagia, Sekar justru di pertemukan kembali dengan orang-orang yang menyakitinya.
bagaimana langkah selanjutnya yang akan di ambil Sekar? memaafkan atau memilih menyimpan dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhevy Yuliana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
" kita semua orang tahu bahwa kalian sudah 5 tahun menikah dan belum juga dikaruniai anak, Menurutmu apakah ada pilihan untuk wanita tidak bisa memiliki anak sepertimu? " Bu Risty menatap menantunya dengan tatapan mencemooh.
seketika Sekar langsung menegang mendengar ucapan bernada hinaan dari mertuanya itu.
" tapi aku sudah pernah cek dokter Bu, dan aku dalam keadaan baik-baik saja, " sergah Sekar dengan sedikit berani.
" jadi kamu menganggap bahwa yang tidak subur itu adalah Rangga? " Gendis menatap tajam ke arah adik iparnya itu.
"cih, ingat Sekar di keluarga kami tidak ada istilah tidak subur, kami semua bisa memiliki anak, justru yang tidak subur dan patut dipertanyakan itu adalah kamu karena di keluarga kamu ada yang tidak bisa memiliki keturunan. " ucap Bu Risty.
" lagi pula itu kan hanya sebatas pemeriksaan dokter, dokter itu manusia bisa salah. Jadi kamu jangan merasa senang saat dokter mengatakan kondisimu baik-baik saja padahal kenyataannya kondisimu sangat buruk. "
Setelah itu Bu Risty beserta anaknya segera pergi dari sana meninggalkan Sekar yang sudah gemetar karena menahan tangis.
Tepat saat pintu rumah itu tertutup rapat suara tangisan Sekar seketika menggema. perempuan itu benar-benar merasakan sakit yang luar biasa saat mendengar ucapan menohok dari keluarga suaminya.
Setelah menangis tersedu-sedu selama setengah jam, Sekar pada akhirnya mengangkat wajahnya dan perlahan-lahan menarik nafas dalam-dalam.
" jika ini memang yang terbaik, maka aku akan Merelakanmu Mas. " lirih Sekar dengan mata berkaca-kaca.
***
Sementara itu di tempat lain terlihat seseorang yang baru saja menempelkan benda Pipih di telinganya.
" kalian tenang saja, aku sudah memperhitungkan semuanya jadi kegagalan itu tidak akan pernah ada di rencana kita. " katanya dengan pandangan lurus ke depan.
" Iya aku paham, "
Setelah itu, panggilan terputus dengan Tatapan yang menuju ke sebuah titik yang ada di tempat itu.
" kali ini kalian nggak akan pernah bisa lolos dari cengkramanku, " Gumamnya menyeringai menyeramkan.
****
Rangga baru saja menyelesaikan tugasnya dan sebentar lagi laki-laki itu akan menjemput sang kekasih untuk makan siang seperti biasa.
" tumben wajah lo sumringah kayak gitu? baru dapat rezeki nomplok ya? " goda Romi dengan senyuman jahil.
Rangga hanya terkekeh kecil kemudian memberikan sesuatu pada teman seperjuangannya itu.
"kalo lo ada acara jangan lupa booking restoran punya kakak gue, dijamin lo nggak akan pernah nyesel. " kata Rangga.
" Oke makasih atas tawarannya, " sahut Romi.
" kalau gitu gue pergi dulu, " pamit Rangga pada Romi.
"lo nggak mau makan siang bareng gue lagi? " tanya Romi di sela-sela langkahnya.
Rangga hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban dan segera pergi dari sana.
Setelah beberapa saat berkendara pada akhirnya Rangga sudah berada di sebuah rumah minimalis yang ditempati oleh wanita Pujaan hatinya.
Di sana dirinya mendapati perempuan itu Tengah duduk sembari bermain ponsel.
Rangga segera keluar setelah memarkirkan mobilnya dan menghampiri Rinjani.
" Kenapa nunggu di tempat panas kayak gini? " tanya Rangga dengan menggandeng tangan Rinjani untuk masuk ke dalam mobil.
Rinjani tersenyum kecil, " nggak papa aku bosen aja di dalam, " katanya, " lagi pula di dalam gak ada siapa-siapa jadi aku bosen daripada mati kebosanan lebih baik nunggu di sini aja. "
Rangga terkekeh kecil dan mengusap kepala kekasihnya itu penuh dengan kelembutan.
" mau makan apa hari ini? "