Cerita Chef yang ogah nikah dan Dokter yang juga ogah menikah.
Arletta Peterson, cucu-cicit-buyut chef terkenal dari keluarga Reeves McCloud itu belum kepikiran menikah di usianya yang menginjak 26 tahun. Chef cantik itu sangat menikmati hidup lajangnya. Hingga di bulan Desember, dia melayani pesta natal di sebuah rumah sakit di London Inggris . Disana Arletta bertemu dengan Dokter Jeff Clarke yang 12 tahun lebih tua darinya. Gara-gara sebuah mistletoe dan kecerobohan Arletta, dokter Jeff mencuri dua kali ciuman dari chef cantik itu. Pertemuan kacau mereka, membuat dokter tampan itu jatuh cinta pada Arletta. Bagaimana cara Dokter Jeff bisa meyakinkan chef cantik itu kalau mereka memang berjodoh?
Generasi ke delapan klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Perlu Panggil Penghulu?
Jeff merasa segar usai mandi di kamar mandi dalam kamar tamunya. Dia tidak menduga jika ada banyak baju baru di dalam lemari dengan berbagai ukuran. Tadi Gavin sudah bilang pakai saja karena memang disediakan disana jika ada tamu yang menginap tapi tidak membawa baju.
"Bahkan pakaian dalam pun ada," gumam Jeff sambil melihat boxer dengan berbagai brand. Calvin Klein, Versace, Tom Ford, Morr dan Boss. Semuanya masih ada di kotaknya.
Jeff mengambil brand Calvin Klein, brand favoritnya sesuai dengan ukurannya. Dia tahu keluarga Lord Ferguson sangat kaya raya tapi tidak menduga akan memikirkan detail seperti ini. Jeff memakai kemeja hitam dari Hugo Boss dan jeans Levi's. Dia juga melihat sebuah sepatu santai dengan berbagai ukuran pria. Jeff memakai yang bewarna coklat dan keluar dari kamar.
"Bagaimana, Master Clarke. Apakah baju anda cukup?" tanya Joseph, salah satu pelayan Gavin.
"Oh, sangat cukup. Aku bagaikan melihat toko baju di dalam lemari," senyum Jeff.
"Kenyamanan tamu adalah yang utama," senyum Joseph.
"Terima kasih. Lord Ferguson sangat murah hati."
"Mari saya antar ke ruang makan."
Jeff mengikuti Joseph dan dia melihat Arletta sudah berada disana dengan mengenakan gaun bewarna coklat dengan motif polkadot kecil-kecil. Gadis itu tersenyum ke arah Jeff.
"Sangat Amerika ya Jeff," goda Arletta.
"Setidaknya aku sopan tidak memakai boxer saja," senyum Jeff.
"Dan memamerkan perutmu yang one pack?" kerling Arletta membuat Jeff tertawa.
"Apa perlu aku pamerkan padamu?" timpal pria itu.
Joseph hanya menggeleng pelan. "Ehem, Lady Peterson, Master Clarke. Jika kalian masih menggoda satu sama lain ... Apakah kalian pacaran?"
"Ya!"
"Tidak!"
Jeff dan Arletta saling berpandangan dengan sorot berbeda. Jeff dengan mata birunya yang usil sementara Arletta dengan tatapan judes.
"Kalian berdua perlu dipanggilkan Penghulu?"
Jeff dan Arletta menoleh ke arah suara. Tampak Gavin datang sambil bergandengan tangan dengan Ashley.
"Penghulu?" seru keduanya heboh.
"Daripada kalian ribut tidak jelas kan?" senyum Gavin usil. "Mending nikah dan kalau ribut tinggal bercinta panas kan?"
"Oom Gavin!" seru Arletta dengan wajah merah padam karena gemas Oomnya begitu vulgar.
"Itu bukan ide yang jelek," gumam Jeff. "Aaaddduuuhhh!" Dia mengusap bahunya yang dipukul Arletta.
"Kamu minta di dor Daddyku?" pendelik Arletta.
"Oke anak-anak, meskipun kamu sudah tidak anak-anak lagi, Jeff ... kita makan malam sekarang." Gavin mengajak semua orang untuk duduk.
Jeff menarik kursi dengan maksud Arletta duduk di sana tapi gadis itu memilih duduk di kursi berbeda. Pria itu tertawa kecil karena merasa dikerjain Arletta.
"Ya ampun Letta. Jeff sudah bersikap gentleman, lho," kekeh Ashley yang gemas dengan keponakannya karena sudah bersikap seenaknya.
"Lho? Kamu narik kursi buat aku?" tanya Arletta dengan wajah polos.
"Lupakan," jawab Jeff sambil manyun.
Arletta tersenyum simpul membuat Gavin dan Ashley menatap gemas ke gadis itu.
"Besok kalian berangkat jam berapa kira-kira?" tanya Ashley.
"Memang kenapa Tante?" tanya Arletta sambil mengucapkan terima kasih ke pelayan yang meletakkan makan malam di depannya.
"Kenneth mau datang. Katanya ada misi di Glasgow dan mau mampir ke rumah sebentar. Kalian bisa bertemu dengannya sebentar ya?" pinta Ashley.
"Jam berapa?" tanya Jeff.
"Entah. Bisa pagi, bisa sore," jawab Gavin santai.
Jeff menoleh ke Arletta. "Yakin kita menunggu Kenneth?"
"Tunggulah sebentar," pinta Ashley.
"Baik Tante. Semoga besok tidak hujan." Arletta menatap Jeff dengan sikap yakin.
Tetapi tidak dengan Jeff yang tahu cuaca Skotlandia sama anomalinya dengan cuaca Inggris. "Semoga tidak hujan!" batinnya.
***
Malam itu di ruang tengah kastil Ferguson, suasana sebenarnya tenang, sampai topik “jam pulang besok” muncul. Arlettan dan Jeff sedang minum kopi berdua usai makan malam. Sementara tuan rumah sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.
“Aku cuma bilang, pulang jam delapan itu wajar,” kata Jeff sambil melipat tangan, mencoba terlihat tenang meskipun alisnya sudah naik sebelah.
Arletta yang duduk di sofa langsung menatap tajam. “Jam delapan? Jeff, itu bukan pulang, itu kabur dari pertemuan keluarga!”
“Bukan kabur. Itu … strategi efisiensi sosial,” balas Jeff cepat.
“Strategi apaan?” Arletta mendengus. “Besok sepupuku, Kenneth, datang dari luar kota. Kita harus nunggu dia!”
Jeff menghela napas panjang, dramatis. “Kita nggak tahu dia datang jam berapa.”
“Dia bilang bisa pagi bisa sore bukan?” jawab Arletta cuek.
“Sore itu luas,” Jeff menunjuk ke udara seperti dosen sedang menjelaskan. “Jam tiga sore itu sore. Jam tujuh malam juga masih sering dibilang sore.”
Arletta menatapnya datar. “Kamu lagi debat sama kamus atau sama aku?”
Jeff berhenti sejenak, lalu menjawab dengan nada sebal, “Aku bisa debat sama dua-duanya kalau perlu.”
Arletta melempar bantal ke arah Jeff. “Nyebelin!”
Jeff menangkap bantal itu dengan refleks cepat, lalu meletakkannya di pangkuan. “Aku dokter, aku butuh istirahat. Kalau kita nunggu Kenneth sampai malam, besoknya aku bisa operasi sambil ngantuk.”
“Ya jangan ngantuk! Minum kopi!” sahut Arletta.
“Aku dokter, bukan mesin kopi berjalan!”sungut Jeff.
“Kadang kamu lebih menyebalkan dari mesin kopi,” gumam Arletta.
Jeff langsung menyipitkan mata. “Itu penghinaan.”
“Itu fakta.”
“Fakta harus didukung data.”
“Datanya aku!”
Jeff terdiam beberapa detik, lalu mengangguk kecil. “Valid … tapi tetap menyakitkan.”
Arletta hampir tertawa, tapi langsung menahan diri agar tetap terlihat kesal. “Pokoknya kita nunggu Kenneth. Titik.”
Jeff mendesah lagi, kali ini lebih berat. Ia berjalan mondar-mandir seperti sedang memikirkan kasus pasien rumit.
“Baik,” katanya akhirnya. “Kompromi.”
Arletta menyilangkan tangan. “Apa?”
“Kita nunggu sampai jam sembilan.”
“Sembilan?”
“Setengah sepuluh.”
“Jeff!”
“Jam sepuluh. Final offer. Itu sudah sangat dermawan dari pihakku.”
Arletta berdiri, mendekat, menatapnya tajam. “Ini bukan negosiasi bisnis.”
Jeff menatap balik tanpa gentar. “Semua hal bisa jadi negosiasi kalau kamu cukup lelah.”
Arletta akhirnya benar-benar tertawa kecil, meski masih pura-pura kesal. “Kamu ini ya, nyebelin!”
Jeff sedikit tersenyum, tipis. “Aku ini realistis.”
“Dan pelit waktu.”
“Efisien.”
“Pelit.”
“Efisien.”
Arletta menggeleng, lalu menyerah sambil duduk kembali. “Oke. Jam sepuluh.”
Jeff langsung mengangguk puas. “Kesepakatan tercapai.”
Namun Arletta menambahkan cepat, “Tapi kalau Kenneth datang jam sembilan lima puluh, kamu nggak boleh ngeluh.”
Jeff langsung diam.
“Itu jebakan,” gumamnya.
Arletta tersenyum manis. “Selamat datang di keluarga besar.”
Jeff menatap langit-langit, seolah meminta kekuatan. “Aku lebih takut ini daripada ruang operasi.”
“Tenang,” kata Arletta santai. “Kenneth orangnya ramah kok.”
Jeff menatapnya curiga. “Seberapa ramah?”
Arletta tersenyum makin lebar. “Dia suka ngobrol. Banyak.”
Jeff langsung duduk perlahan, wajahnya berubah serius. “Jam sepuluh maksimal dan jangan terlalu siang. Kita revisi lagi.”
Arletta tertawa keras, sementara Jeff hanya bisa memijat pelipisnya, sadar bahwa besok bukan sekadar menunggu sepupu tapi bertahan hidup secara sosial.
"Memangnya Kenneth pekerjaannya apa?" tanya Jeff lelah.
"Agen MI6."
Jeff melongo. Duh!
***
Yuhuuuu up malam yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
makasih mbak hana buat karyanya 😍😍😍