Nayara Almeera adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, wanita yang saat ini sudah terbiasa berdiri di kakinya sendiri setelah drama dikhianati oleh kisah masa lalunya membuat Nayara menjadi sosok yang lebih tertutup.
Sampai akhirnya sebuah perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya, mempertemukan Nayara dengan Adrian seorang CEO yang lebih tenang, dewasa dan sulit untuk ditebak atas akan yang dilakukan olehnya.
Berawal dari sebuah kesepakatan yang perlahan berubah menjadi sebuah kisah yang tidak pernah
Nayara bayangkan.
Mendapatkan kasih sayang dan dicintai dengan cara yang begitu tulus, tanpa Nayara sadari perjodohan itu tidak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga telah mengubah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Pertanyaan Sederhana Dari Seorang Ayah
Siang itu dirumah utama keluarga Almeera terasa begitu tenang, setelah Adrian berangkat menuju Surabaya pagi tadi, Nayara resmi tinggal sementara dirumah sang Ayah sampai Adrian kembali pulang.
Sebenarnya Nayara sudah merasa baik-baik saja, tapi tetap saja ada ruang kosong yang terasa aneh. Mungkin karena sekarang sudah terbiasa dengan kehadiran Adrian sang suami berada disampingnya dan satu rumah, mengingatkan makan, menanyakan kegiatan kegiatan yang Nayara lakukan, atau sekedar duduk bersama sambil menonton tv.
Adrian saat ini tidak berada disampingnya dan sepertinya Nayara mulai merindukan kehadiran sang suami, apalagi sampai hari ini Adrian belum mengizinkan Nayara untuk kembali bekerja sehingga Nayara hanya menghabiskan waktu dirumah saja.
Almeera Group sementara masih dipegang oleh sang kakak pertama yaitu Damar, sebenarnya Nayara sempat protes pada sang suami pagi tadi sebelum mereka berpisah karena Nayara merasa sudah pulih dan untuk membuang rasa bosan ingin kembali ke kantor tapi Adrian tetap belum memberikan izin.
" Sayang... Mas enggak bermaksud mengekang atau membatasi kamu, tapi tolong untuk saat ini boleh Mas minta Istri Mas yang baik dan cantik ini istirahat dulu? Dan selama Mas masih di Surabaya, tolong dijaga kesehatannya ya, Sayang? Dijaga badannya nanti Mas pulang kita jalan-jalan"
Dan anehnya Nayara nurut tanpa drama panjang, padahal biasanya tidak ada yang bisa mengatur seorang Nayara apalagi soal pekerjaan. Tetapi ketika Adrian bicara dengan nada lembut dan wajah yang khawatir seperti itu, Nayara tidak sanggup untuk membantahnya.
Untuk mengusir rasa bosannya kini Nayara memilih untuk duduk di gazebo yang terletak di belakang rumahnya, tempat ini masih sama seperti dulu. Gazebo kayu kecil yang menghadap taman belakang, rumput hijau yang terawat dengan baik dan rapih, pohon mangga disudut halaman dan angin siang yang berhembus pelan membawa aroma dedaunan.
Tempat ini penuh dengan kenangan masa kecil, biasanya jika libur sekolah Nayara akan menghabiskan waktu dengan duduk sendirian, membaca buku, mendengarkan musik atau hanya menikmati segelas jus jeruk favoritnya.
Dan siang ini entah mengapa Nayara seolah ingin kembali menghabiskan waktunya berada di gazebo ini, seolah sedang mencari rasa tenang yang dulu pernah tinggal disini.
Rumah ini selalu nyaman, tapi sekarang aku sadar bahwa kenyamanan itu telah bertambah satu tempat lagi... Rumahku bersama Mas Mahen.
Suara langkah kaki terdengar semakin mendekat membuat kepala Nayara refleks berputar, menolehkan kearah sumber suara. Terlihat sang Ayah Rendra berjalan kearah gazebo dengan membawa dua gelas jus jeruk dingin.
" Ayah..." Nayara tersenyum lebar.
" Anak Ayah, ternyata masih sama ya kaya dulu... Masih suka duduk disini rupanya" Rendra tersenyum kecil dengan tangan yang kini menyimpan dua gelas dihadapan Nayara.
" Masih dong, Yah... Terimakasih Ayah" Nayara tersenyum sambil menerima gelas yang disodorkan Rendra.
" Ayah masih ingat jelas, dulu setiap hari libur kamu selalu duduk disini dengan segelas jus jeruk ... Ternyata kebiasaan yang sulit hilang" Rendra duduk disamping sang anak.
" Dan Ayah selalu membawakan, seperti sekarang" Nayara tersenyum menatap gelas yang kini berada ditangannya.
Jus jeruk dingin dengan rasa manis sama seperti dulu, dan tiba-tiba saja dada Nayara terasa hangat. Kadang perhatian kecil seperti ini justru membuat hati paling tersentuh.
Nayara dan Rendra duduk beberapa saat dalam diam, hanya suara angin dan dedaunan yang bergerak pelan. Suasana tenang itu terasa nyaman sampai akhirnya sang Ayah membuka suaranya.
" Dek... Apa kamu bahagia dengan pernikahanmu?" Tanya sang Ayah tiba-tiba saja.
" Tentunsaja bahagia, Ayah" Nayara menoleh.
Nayara terdiam sesaat, pertanyaan itu sederhana tapi begitu dalam. Dan Nayara tahu bahwa sang Ayah tidak hanya sekedar bertanya, tapi ingin memastikan keadaan sang anak.
" Ayah tidak memiliki maksud lain, hanya ingin tahu saja... Karena setiap orangtua pasti ada rasa khawatir" Rendra menatap kearah depan.
" Adek tahu, Yah" Nayara menatap wajah sang Ayah.
Di wajah Rendra kini terlihat cinta yang begitu tenang, tidak banyak bicara, tidak berlebihan tapi nyata.
" Ayah menjodohkan kamu dengan Adrian, meskipun Ayah tahu dan yakin kalau Adrian laki-laki baik, tapi tetap saja Ayah takut kalau adek tidak merasa bahagia" suara Rendra kini terdengar lebih rendah.
Nayara merasa kehangatan itu kembali hadir, Nayara juga tahu perjodohan ini bukan sebuah keputusan yang mudah bagi sang Ayah. Dan hari ini Rendra sang ayah seolah ingin mendengar langsung jawaban dari Nayara, bukan sebagai pemimpin keluarga tapi sebagai seorang Ayah.
" Ayah... Aku bahagia bahkan sangat bahagia" Nayara tersenyum manis.
" Benarkah? Apakah Adrian memperlakukan kamu dengan baik?" Rendra masih menatap wajah Nayara seolah ingin memastikan lebih jauh.
" Lebih dari baik, Ayah. Bahkan sangat baik..." Nayara menjeda kalimatnya.
" Mas Mahen menjagaku dengan sangat sabar, bahkan disaat aku salah seperti kejadian kemarin Mas Mahen masih setia mengurusku. Mas Mahen jug mencintaiku dengan tenang, menghargai setiap keputusanku, membuatku merasa aman, dan semua itu lebih dari cukup untuk membuatku bahagia, Ayah" Suara Nayara begitu tenang, lembut, dan penuh keyakinan karena memang semua itu benar adanya.
" Mas Mahen sangat perhatian, Ayah. Dia selalu memastikan aku makan, kadang terlalu cerewet tapi justru itu yang emmbuaonerasa sangat dicintai" Nayara tertawa kecil.
Suara hati Nayara terasa lebih saat menceritakan kebahagiaan yang dirasakan olehnya setelah menikah, karena memang itu yang dirasakan. Dicintai dengan tulus tanpa syarat.
" Ayah lihat kan, saat aku sakit dia bahkan tidak tidur semalaman demi menjagaku sendirian" lanjut Nayara pelan.
" Iya, Dek. Ayah lihat" jawab Rendra.
" Mas Mahen bahkan lebih panik dari aku, dan dia tidak pernah membuatku merasa sendirian" Nayara menundukkan kepalanya dengan senyuman malu.
" Itu tandanya diaa sangat peduli, dan cintanya lebih besar... Ayah senang mendengarnya, Dek" Rendra kembali bersuara dengan wajah yang terlihat lebih lega.
" Terimakasih, Yah. Karena telah memilihkan orang yang tepat untukku" Nayara tersenyum hangat.
" Ayah hanya mempertemukan saja, Dek. Yang membuat pernikahanmu bahagia adalah kalian berdua" Rendra tertawa hangat.
Nayara merasa dadanya terasa hangat dengan ucapan sang Ayah, perjodohan yang awalnya terpaksa kini ternyata menjadi sumber kebahagiaan Nayara dan Adrian dengan cara saling menjaga satu sama lain.
" Sebenarnya Ayah sempat takut, takut adek menerima pernikahan itu karena terpaksa... Ayah juga takut Adek belum bisa membuka hati untuk Adrian" Rendra menatap kembali wajah sang anak.
" Tapi sekarang Ayah bisa lihat, bagaimana cara Adek menceritakan tentang Adrian... Ayah tahu kamu mencintainya" Mendengar ucapan sang Ayah Nayara mendundukkan kepalanya malu.
" Aku sangat mencintainya, Yah. Dulu aku berpikir perjodohan itu menakutkan... tapi sekarang aku tahu kalau kita dipertemukan dengan orang yang tepat, semua akan terasa indah dan mudah" Bayar tersenyum bahagia.
" Benar... Jadi jaga pernikahanmu dengan baik, Dek. Karena suami seperti Adrian tidak datang dua kali dan satu lagi jadikan istri yang terbaik untuk suami kamu" Rendra memeluk tubuh Nayara dengan lembut.
" Aku akan terus belajar, Yah" jawab Nayara.
Dan suasana siang itu terasa sangat hangat, Nayara menatap taman belakang rumah dengan senyuman hangat. Dulu Nayara duduk ditempat ini sebagai seorang anak kecil yang hanya memikirkan kesenangan sederhana.
Hari ini Nayara duduk ditempat yang sama, sebagai seorang istri yang sedang merasa sangat bersyukur karena dicintai dengan benar. Dan dihadapan sang Ayah akhirnya Nayara bisa kembali jujur bahwa dirinya bahagia.
Jika dulu Nayara takut tidak bisa mencintai, takut tidak bisa bahagia, tapi saat ini Nayara bisa berkata jujur dan mengatakan pada sang Ayah bahwa ia benar-benar bahagia.