Sinopsis
Su Yelan, murid dari Tabib Ilahi legendaris, datang ke ibu kota hanya dengan satu tujuan sederhana, mengobati kebutaan seorang pria yang dikenal sebagai Tuan Ketujuh, sosok bangsawan yang berkuasa namun terkenal dingin dan tak tersentuh.
Niat baik itu justru berujung pada sebuah taruhan berbahaya.
Jika ia gagal, hidupnya akan sepenuhnya berada di bawah kendali sang pangeran.
Dengan dalih menjalankan pengobatan, Su Yelan mulai “menyiksa” pasiennya dengan cara yang tidak biasa. Setiap hidangan yang disajikan kepadanya dipenuhi rasa pedas menyengat, cukup untuk membuat siapa pun berkeringat dan mengernyit kesakitan.
Melihat sang pangeran yang biasanya angkuh terpaksa menahan pedas, wajahnya memerah dan napasnya berat, Su Yelan justru merasa puas diam-diam.
Namun di balik semua itu, gadis yang tampak keras kepala ini sebenarnya bukan orang yang kejam.
Sedikit demi sedikit, kebersamaan mereka mengikis jarak yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yorozuya Rin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tahun-Tahun Terbaik Bagi Seorang Wanita.
Bab 35: Tahun-Tahun Terbaik Bagi Seorang Wanita.
Di ruang interogasi yang dingin dan sunyi, hanya suara napas tertahan yang terdengar.
Cahaya lampu minyak berkelip, menciptakan bayangan panjang di dinding batu.
Di tengah ruangan, Zhao Ruxi berlutut, wajahnya pucat, rambutnya berantakan tidak lagi menyisakan kemewahan seorang selir istana.
Di hadapannya berdiri Yan Yuxing.
Tenang.
Tegak.
Tak tergoyahkan.
Seolah-olah nyawa seseorang… bukanlah sesuatu yang mampu menggoyahkan hatinya.
Dulu…
Saat masih menjadi Putra Mahkota, Yan Yuxing dipaksa memilih wanita dari keluarga
bangsawan.
Namun tak seorang pun tahu
Pilihan itu… hanyalah bagian dari kesepakatan dingin.
Ia memilih Chen Yuerong dan Zhao Ruxi bukan karena cinta.
Melainkan karena… kekuasaan.
Ia memberi mereka status.
Memberi keluarga mereka kedudukan di istana.
Sebagai gantinya
Mereka harus menerima satu hal:
Tidak akan pernah mendapatkan cintanya.
Mereka boleh hidup di Istana Putra Mahkota…
Namun hati pria itu
Sudah dimiliki oleh satu orang.
Shen Lanruo.
“Aku sudah melanggar janjiku…”
Suara Zhao Ruxi gemetar, namun matanya perlahan berubah menjadi merah penuh kegilaan.
“Aku tahu… aku tahu aku tidak seharusnya mencintaimu
Air matanya jatuh.
“Tapi bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta?”
Senyumnya pahit.
“Pria sepertimu… siapa yang bisa menolak?”
Yan Yuxing tidak menjawab.
Tatapannya tetap dingin.
Tak ada simpati.
Tak ada penyesalan.
Zhao Ruxi menatapnya penuh harap terakhir kali.
“Sebelum aku mati… jawab satu pertanyaanku…”
Suasana mendadak hening.
“Jika… Shen Lanruo tidak pernah ada…”
Suaranya melemah.
“Apakah… kau akan mencintaiku?”
Sejenak
Waktu seolah berhenti.
Namun kemudian Yan Yuxing tersenyum tipis.
Senyum yang… menghancurkan.
“Jika Lan’er tidak pernah ada…” suaranya pelan, namun tajam seperti pisau,
“kau bahkan tidak akan pernah memasuki istanaku.”
Hening.
Kalimat itu… lebih kejam daripada hukuman mati.
Wajah Zhao Ruxi membeku.
Lalu perlahan
Retak.
Harapan terakhirnya… hancur berkeping-keping.
“Ternyata…” ia tertawa pelan, suaranya berubah serak, “aku ini… hanya bayangan yang bahkan tidak layak ada…”
Matanya berubah penuh kebencian.
Ia menatap Yan Yuxing dengan gila.
“Baik! Kalau begitu… dengarkan ini!”
Suaranya tiba-tiba melengking.
“Kerajaan Yan tidak akan selamanya menjadi milikmu!”
“Suatu hari… semua yang kau miliki akan hancur!”
Tatapannya menjadi liar.
“Dan kau akan mati bersama wanita itu!”
Sebelum siapa pun sempat bereaksi
Ia menggigit lidahnya dengan keras.
Darah mengalir.
Tubuhnya jatuh.
Dan dalam sekejap
Nyawanya… lenyap.
“A Shun.”
Suara Yan Yuxing datar.
A Shun maju cepat, memeriksa.
“Yang Mulia… dia sudah meninggal.”
Hening sesaat.
Namun ekspresi Yan Yuxing tidak berubah sedikit pun.
“Hanya segelintir orang yang berani menginginkan nyawaku,” katanya dingin.
“Dia pikir… dengan mati seperti ini… orang di baliknya bisa selamat?”
Matanya menggelap.
“Naif.”
Dengan satu perintah
Takdir keluarga Zhao pun berubah.
“Hapus hukuman mati,” katanya, “namun turunkan seluruh keluarga menjadi rakyat biasa.”
“Buang mereka ke wilayah perbatasan.”
“Dan larang mereka kembali ke ibu kota selamanya.”
Suara itu dingin.
Tanpa belas kasihan.
...----------------...
Tak lama
Kabar itu mengguncang seluruh ibu kota.
Rumah keluarga Zhao disegel.
Harta mereka disita.
Nama mereka… tercoreng selamanya.
Di gerbang kota
Mayat Zhao Ruxi digantung sebagai peringatan.
Angin musim dingin berhembus dingin, mengibaskan ujung pakaiannya yang tak lagi bernyawa.
Orang-orang berkumpul.
Berbisik.
Takut.
Di antara kerumunan
Seorang pria tinggi berdiri diam.
Topi bambu menutupi wajahnya.
Namun dari balik bayangan
Matanya menatap lurus ke arah mayat itu.
Dingin.
Tajam.
Dan… penuh niat tersembunyi.
Ia tahu.
Ini bukan sekadar hukuman.
Ini adalah peringatan.
Untuknya.
Perlahan, sudut bibirnya terangkat.
Senyum tipis yang mengandung bahaya.
“Menarik…” gumamnya.
Lalu
Ia menghilang di antara keramaian.
Seolah tak pernah ada.
...----------------...
Di dalam istana
Suasana tampak damai.
Namun bagi Su Yelan…
Ia mulai menyadari sesuatu.
Di balik ketenangan ini
Ada arus gelap yang mengalir diam-diam.
Pembunuhan.
Konspirasi.
Dendam lama.
Dan satu nama muncul di benaknya
Yan Tianming.
Semua terlalu kebetulan.
Kedatangannya.
Serangan itu.
Dan masa lalu yang penuh luka…“Kau mencurigainya?”
Suara Yan Yuxing terdengar di sampingnya.
Su Yelan menoleh.
Tatapannya tenang, namun serius.
“Semua mengarah ke sana,” katanya pelan.
Yan Yuxing menatapnya lama.
Dan untuk pertama kalinya
Ia merasa semakin yakin.
Wanita di hadapannya ini…
Bukan hanya mirip Shen Lanruo.
Namun
Memiliki kecerdasan… dan keteguhan hati yang sama.
Tiba-tiba
Ia menarik Su Yelan ke dalam pelukannya.
“Eh apa yang kau lakukan?!”
Su Yelan terkejut.
Camilan di tangannya jatuh.
Wajahnya langsung memerah.
“Lepaskan! Ini istana banyak pelayan!”
Yan Yuxing melirik ke arah pintu.
Dengan satu isyarat
Semua pelayan mundur.
Sunyi.
Wajah Su Yelan semakin panas.
“Aku tidak bermaksud seperti itu!”
“Lalu bagaimana?” godanya pelan.
“Aku… aku lapar…”
Yan Yuxing tersenyum.
Mata gelapnya penuh arti.
“Bagus.”
Ia mendekat.
“Saat ini… aku juga ingin makan.”
Su Yelan belum sempat bereaksi
Tubuhnya sudah diangkat.
“Y-yan Yuxing!”
Ia meronta kecil.
Namun pria itu sudah membawanya ke arah ranjang.
“Yang ingin kumakan…” bisiknya rendah di telinganya,“adalah kau.”
Wajah Su Yelan memerah sepenuhnya.
Jantungnya berdegup liar.
Dan tepat saat itu
Suara kecil terdengar dari luar.
“Yelan Jiejie… kau di dalam?”
Seperti diselamatkan dari jurang
Su Yelan hampir menangis lega.
Namun bagi Yan Yuxing
Itu adalah gangguan.
Ia mengerutkan kening.
“Calon ibumu sedang beristirahat. Datang lagi besok.”
“Eh? Tapi Ayah, ini masih siang…”
“Siapa bilang istirahat hanya malam?”
“Ta-tapi…”
Nada Yan Yuxing berubah dingin.
“Kembali ke Istana Harmoni. Jangan masuk ke sini tanpa izinku.”
Hening.
Lalu suara kecil itu terdengar lagi, agak sedih,
“…baik.”
Namun sebelum pergi, ia masih sempat bergumam,
“Ayah jahat…”
Su Yelan tak bisa menahan tawa kecilnya.
Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa
Yan Yuxing kembali mendekat.
Tatapannya dalam.
“Sekarang… tidak ada yang mengganggu.”
Dan kali ini
Tak ada yang bisa menyelamatkannya lagi.