Ren cuma pegawai kantoran biasa.
Setiap hari, ia mengurus dokumen para Awakened sambil berharap bisa pulang tepat waktu. Tapi setelah sebuah insiden, hidupnya berubah total.
Ia mengalami Awakening … dan mendapatkan kemampuan paling aneh yang pernah ada:
"Tidak Melakukan Apapun."
Kekuatan yang terdengar payah. Tidak berguna. Bahkan memalukan.
Masalahnya, kemampuan itu mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Beberapa petugas mulai menyebar. Memeriksa tumpukan mayat monster biologi dan sisa-sisa reruntuhan dengan detektor energi yang berbunyi klik-klik pelan.
"Kalian mendapatkan petunjuk?" Suara Chen parau, mengikis kerongkongan.
Salah seorang komandan peleton berjalan mendekat. Helmnya sudah ia lepas. Rambutnya lepek oleh keringat. Wajahnya menggambarkan kekalahan moral.
"Tidak, Kapten," jawab komandan itu ragu. "Kami hanya mendapatkan sisa-sisa abu karat dari kloningan yang menguap. Dan ... beberapa mayat warga sipil yang teridentifikasi dari daftar orang hilang bulan ini."
Chen memejamkan mata. Rahangnya mengeras. Ia menghela napas panjang hingga paru-parunya terasa perih oleh partikel debu. Frustrasi murni menggerogoti ulu hatinya.
Ia sudah menghancurkan sarangnya. Ia sudah menemukan pelaku utama dari kasus pembunuhan berantai menjijikkan di Qilin ini.
'Tapi kenapa jejaknya terasa palsu?'
Udara di reruntuhan ini dipenuhi anomali. Pembuat kloningan gila ini seolah paham betul cara kerja kapten detektif AFC.
Musuh ini tahu Chen bisa melacak masa lalu lewat sisa energi. Makanya mereka menggunakan gerombolan kloningan sampah ini sebagai pengganggu, sebagai gangguan sinyal radio untuk menutupi frekuensi utama.
'Pengecut cerdas.' Chen mendecih pelan meludahkan air ludah bercampur debu ke tanah.
Namun ada satu variabel penting yang luput dari kalkulasi sang musuh di balik layar.
Chen menekan pelipisnya. Sesuatu berdenyut nyeri di balik retinanya. Ini bukan sekadar kelelahan. Ini adalah mutasi.
Kekuatannya telah melampaui batasnya. Sebuah evolusi mendadak di tengah frustasinya.
Ia tidak hanya membaca jejak yang ditinggalkan di masa lalu. Kini retinanya mampu memindai ruang hampa. Jejak yang sengaja dihapus oleh anomali kloningan ini meninggalkan ruang kosong yang tidak natural. Sebuah ruang negatif.
Seperti melihat bayangan yang hilang dari objek padat di bawah lampu sorot. Ketiadaan itu sendiri adalah sebuah kompas. Dan kompas itu menunjuk jauh melampaui batas kota Qilin.
Ia tak tahu apa penyebab dari perkembangan pada kekuatannya. Itu membuatnya lebih frustasi. Sebuah misteri bertambah lagi di pundaknya.
Chen merogoh saku kemejanya. Kosong. Bungkus rokoknya tertinggal di jas yang ia lempar ke jalanan entah di mana.
'Sial.'
Ia melangkah pergi meninggalkan lokasi penggalian jenazah. Sepatunya menggilas sisa-sisa topeng porselen hingga hancur berkeping.
Langkahnya membawanya kembali ke parameter luar. Tepat di mana mobil lapis bajanya terparkir setengah rusak.
Ren berdiri bersandar santai di badan mobil.
Mata pegawai administrasi itu menatap lekat layar tablet yang memancarkan pendar kebiruan. Jemarinya mengetuk layar virtual dengan ritme konstan yang menyebalkan.
Drone pengawas kecil mengudara sebatas bahu di sebelah kirinya. Berputar statis merekam sudut sisa reruntuhan pabrik.
Chen berhenti pada jarak tiga meter. Pandangannya tidak langsung menatap wajah Ren.
Seperti rutinitas instingnya belakangan ini, retinanya otomatis memindai gelombang Trace di sekitar tubuh pemuda itu.
Nihil.
Tidak ada warna. Tidak ada riak energi. Tidak ada ruang negatif.
Aura Ren benar-benar kosong sempurna. Layaknya lubang hitam yang bahkan menolak untuk berinteraksi dengan hukum fisika dasar.
Kecurigaan Chen sangat tinggi kemarin. Seseorang tanpa jejak energi di tengah kekacauan dunia semacam ini hanya punya dua arti: Dia dewa, atau dia sumber utamanya.
Namun bukti di lapangan berkata lain. Semua tindakan Ren selama ini tak menunjukkan suatu aktivitas yang mencurigakan. Kecurigaan Chen mulai tergerus rasionalitas bukti tak terbantahkan.
Lagi pula, tidak mungkin pelaku pembunuhan berantai membiarkan dirinya hampir dikoyak bawahannya sendiri hanya demi menutupi kedok.
Ren berhenti mengetuk layar. Ia menoleh lambat mendapati presensi Chen.
"Oh, Kapten Chen," sapa Ren datar.
Mata lesunya turun sebentar ke arah kemeja sang kapten yang bersimbah cairan kotor, lalu kembali menatap layar tablet tanpa niat bertanya kabarnya.
"Aku sudah mendata semua bukti-bukti yang sempat kutangkap lewat drone dari jarak jauh tadi." Nada bicara Ren sangat kasual. Terlampau santai untuk seseorang yang berdiri di tengah radius kuburan massal.
Chen diam. Hawa panas dari mesin mobil yang mati mendengung rendah di antara mereka. Canggung merayap perlahan mengisi spasi kosong.
Sang kapten merasa aneh. Adrenalinnya masih mendidih, tapi orang di depannya membawa nuansa jam kerja kantoran jam lima sore. Benar-benar membuat muak tapi menenangkan di saat bersamaan.
"Habis ini aku akan mengantarmu kembali ke kantor Administrasi AFC," cetus Chen memecah kesunyian.
Ada nada sinis yang mengikat suaranya. Sisa-sisa gengsi seorang kapten lapangan yang kelelahan menghadapi santainya divisi kertas belakang meja. Namun intonasinya jauh lebih lunak dari saat mereka tiba di tempat ini siang tadi.
Ren mendongak sebentar. Ekspresinya tidak berubah sama sekali.
"Oke."
Jawaban itu hanya diwakili satu kata sederhana. Pemuda itu kembali menundukkan kepala. Jempol kirinya menggeser tampilan data di layar menyala, lanjut larut dalam dunia piksel dan birokrasi. Mengabaikan eksistensi sang pahlawan berdarah di depannya.
Chen menghembuskan udara kasar lewat hidung.
Bahu bidangnya berputar haluan. Ia berjalan menjauh, kembali masuk ke dalam kerumunan puing pabrik. Langkah boot laras beratnya menendang asal kerikil aspal, memulai lagi rutinitas mencari kepingan teka-teki yang sengaja dihapus semesta.