NovelToon NovelToon
Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:112.8k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.

Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.

Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.

Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Masa Lalu yang Panik

Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, Zelia akhirnya tiba di rumah sakit tempat ibu Are dirawat.

Lorong rumah sakit terasa tenang sore itu.

Saat Zelia masuk ke kamar perawatan, seorang perawat baru saja selesai mengecek kondisi pasien.

“Bu,” sapa Zelia lembut dengan senyum hangat.

Wina menoleh. Wajahnya yang pucat langsung melembut.

“Zelia…” gumamnya pelan, senyum tipis terbit di bibirnya.

Zelia menarik kursi ke samping ranjang lalu duduk. Tatapannya lembut. Hangat. Tidak lagi sebagai CEO. Tidak lagi sebagai istri kontrak.

Hanya sebagai seseorang yang ingin mengenal pria yang terlalu banyak menyimpan rahasia.

“Gimana kondisi Ibu?” tanya Zelia pelan sambil menggenggam tangan keriput itu dengan hangat.

“Sudah lebih baik,” sahut Wina dengan senyum lembut. “Dokter bilang respons obatnya bagus.”

“Syukurlah.” Zelia mengangguk. “Ibu harus cepat sembuh supaya bisa pulang.”

“Kenapa buru-buru sekali?” Wina menggoda ringan.

“Aku ingin Ibu mengajariku masak makanan kesukaan Are,” ujar Zelia polos.

Senyum Wina melebar. “Are nggak rewel soal makan.”

Zelia menyipitkan mata sedikit. “Nggak punya makanan favorit?”

Wina menggeleng pelan.

“Dia nggak pernah menunjukkan suka sesuatu secara khusus. Dan dia juga nggak pernah minta Ibu masakkan apa pun. Apa pun yang ada di meja, dia makan.”

“Kenapa?” Zelia bertanya pelan.

“Karena dia nggak pernah mau merepotkan orang lain.”

Kalimat itu sederhana, tapi membuat dada Zelia terasa hangat sekaligus sesak.

Ia menunduk sebentar.

“Tapi aku nggak bisa masak, Bu,” katanya setengah bercanda. “Are nggak bakal ninggalin aku cuma karena itu, 'kan?”

Wina terkekeh kecil.

“Kamu ini.” Ia mengusap punggung tangan Zelia. “Kamu satu-satunya perempuan yang pernah ada di sisinya.”

Zelia terdiam.

“Bahkan kamu membuat dia mencukur rambut dan brewoknya. Ibu suruh berkali-kali, nggak pernah mau. Tapi begitu menikah denganmu…” Wina tersenyum penuh arti. “Dia berubah.”

Zelia ikut tersenyum. Tapi senyum itu tipis. Karena di dalam hatinya ada suara kecil yang berbisik.

"Dia menikah denganku bukan karena ingin berubah. Dia menikah karena harus. Demi biaya rumah sakit ini. Demi Ibu."

Senyumnya goyah sepersekian detik. Tangannya masih menggenggam tangan Wina, tapi pikirannya mulai terasa berat.

Kalau semua ini hanya kontrak…

Kenapa setiap kalimat tentang dirinya terasa seperti harapan?

"""

Zelia berdiri di depan jendela ruangannya. Kota masih menyala, tapi layar di belakangnya memantulkan grafik sentimen yang terus bergerak.

“Dia tidak membalas,” katanya pelan.

Are berdiri beberapa langkah di belakangnya. “Karena Papamu tidak pernah bereaksi. Dia selalu reposisi.”

Zelia tersenyum tipis. “Dalam dua hari media sudah menulis tentang reformasi tata kelola.”

“Percepatan laporan kuartal,” tambah Are tenang. “Dan review independen.”

Zelia menoleh. “Publik melihatnya sebagai langkah dewasa.”

“Memang itu tujuannya,” jawab Are. “Menggeser konflik pribadi menjadi stabilitas perusahaan.”

Zelia menatapnya lebih lama. “Dan itu berhasil.”

Are menggeleng tipis. “Tidak sepenuhnya.”

Zelia mengernyit.

“Semakin dia terlihat sebagai sistem… semakin kontrasnya terlihat.”

“Kontras apa?”

“Kamu dan dia.”

Ruangan terasa lebih sunyi.

“Ayahmu sekarang berdiri sebagai struktur. Kontrol. Tata kelola.” Are berhenti sepersekian detik. “Dan kamu berdiri sebagai legitimasi.”

Zelia menarik napas dalam. “Legitimasi yang ditantang enam bulan.”

Are melangkah mendekat.

“Kalau review berjalan dan publik terus menekan,” lanjutnya pelan, “pembicaraan yang tak terhindarkan bukan lagi soal video.”

Zelia tahu kelanjutannya. “Apakah Presiden Komisaris masih figur paling aman untuk perusahaan,” ia menyelesaikan kalimat itu sendiri.

Are tidak menjawab. Karena jawaban itu terlalu jelas.

Zelia tertawa kecil, tapi tidak ada humor di sana. “Lucu, ya.”

“Apa?”

“Perusahaan ini milik keluarga Ibu. Dari orang tua Ibu. Tapi setiap kali Ayah melihatku…” suaranya merendah, “…ia tidak melihat putrinya.”

Are diam.

“Ia melihat Ibu.”

Ruangan seperti menyempit.

“Dan setiap orang yang dulu berbisik bahwa ia hanya suami numpang nama… masih ada di kepalanya,” lanjut Zelia pelan. “Setiap. Kali.”

Are akhirnya berbicara, nadanya tetap stabil. “Itu sebabnya ini bukan soal saham.”

Zelia menatapnya.

“Ini soal posisi yang dulu tidak pernah ia miliki. Ayah ingin menguasai perusahaan ini,” kata Zelia lirih, “bukan untuk uang.”

“Tapi untuk menghapus bayangan," sambung Are.

Zelia menutup mata sesaat. “Dan aku adalah bayangan itu.”

Beberapa detik berlalu sebelum ia bertanya, suaranya lebih rendah.

“Kalau enam bulan ini aku gagal?”

Are menatapnya tanpa ragu. “Kamu tidak akan gagal.”

“Kamu terlalu yakin.”

“Karena aku tidak melihat ini sebagai kompetisi antara kamu dan dia.”

“Lalu?”

“Ini kompetisi antara masa lalu dan masa depan.”

Zelia terdiam.

Are melangkah lebih dekat, cukup dekat untuk membuat napas mereka hampir bersentuhan.

“Dan masa lalu selalu lebih panik ketika mulai kehilangan kendali.”

Kali ini, Zelia benar-benar menatapnya, bukan sebagai asistennya. Bukan sebagai suami kontrak dadakan.

Tapi sebagai seseorang yang berdiri terlalu tenang di tengah badai sebesar ini.

“Kamu bicara seperti pernah ada di posisi itu,” katanya pelan.

Are tersenyum tipis. “Aku hanya tidak suka melihat orang pintar bermain terlalu defensif.”

Zelia menyipitkan mata. “Kamu ini sebenarnya siapa, Are?”

Sepersekian detik. Cukup lama untuk membuat jantung bergetar.

Tapi Are mundur setengah langkah. “Hanya seseorang yang berdiri di sisi CEO,” katanya ringan. “Terutama ketika kursi itu mulai goyah.”

Zelia tahu itu bukan jawaban penuh. Dan justru itu yang membuatnya semakin berbahaya.

Karena sekarang konflik bukan lagi soal siapa benar. Bukan lagi soal siapa bersih. Tapi siapa yang bertahan paling lama.

Dan Zelia mulai menyadari satu hal yang lebih mengganggunya dari semua grafik sentimen: Jika kursi itu benar-benar goyah…

Siapa yang akan lebih dulu ia pilih?

Ayahnya.

Atau pria misterius yang terlalu tenang untuk sekadar tukang parkir.

***

Zelia memindahkan semua barang-barang Are ke kamarnya. Hari ini Wina sudah diizinkan pulang, dan sesuai kesepakatan sepihak Zelia, wanita itu akan tinggal bersama mereka.

Are duduk santai di sofa kamar Zelia, mengawasinya seperti pengamat yang tidak punya pilihan.

“Kau terlihat senang sekali. Seolah-olah yang akan pulang itu ibumu,” ujarnya.

“Tentu saja,” sahut Zelia ringan sambil menyusun pakaian Are ke dalam lemari. “Kalau aku baik pada ibumu, beliau pasti akan menyayangiku juga.”

Gerakannya lincah. Terlalu bersemangat. Namun sesaat kemudian ia berhenti. Ragu. Lalu menoleh.

“Apa ibumu punya kriteria menantu idaman?”

Are mengangkat alis. “Tentu.”

Zelia langsung mendekat. Wajahnya serius, penuh rasa ingin tahu. “Apa?”

“Tanya saja pada ibuku.”

“Are!”

Zelia memukul ringan dada Are. Tidak keras. Lebih seperti protes manja. Bibirnya mengerucut kesal.

Dan itu kesalahan besar.

Are refleks memalingkan wajah. Ia terlalu sadar jarak mereka sekarang hanya sejengkal. Aroma sampo Zelia tercium jelas. Ekspresi kesalnya… terlalu menggemaskan.

Ia tidak ingin kehilangan kendali hanya karena senyum yang salah tempat.

Zelia mendengus pelan lalu berbalik hendak kembali ke lemari.

Namun—

“Akh!”

Kakinya tersangkut kaki sofa.

“Hei!” seru Are.

Semuanya terjadi cepat.

Zelia kehilangan keseimbangan. Tangannya refleks mencari pegangan, tapi kosong.

Are bangkit dalam satu gerakan.

Dan sebelum tubuh itu menyentuh lantai, ia sudah menangkapnya.

Namun posisi mereka…

Zelia jatuh setengah terduduk di pangkuan Are, sementara satu tangan Are melingkar kuat di pinggangnya, menahannya agar tidak benar-benar terjatuh.

Satu tangan Zelia refleks melingkar di leher dan satu-satunya lagi berttumpu di dada Are.

Jarak mereka... Terlalu dekat.

Wajah Zelia hanya beberapa senti dari wajahnya. Napas mereka bertabrakan.

Deg.

Zelia membeku. Are juga.

 

...✨"Ini bukan kompetisi antara ayah dan anak. Ini kompetisi antara masa lalu dan masa depan."...

..."Ia tidak pernah meminta apa pun....

...Karena sejak kecil ia belajar, mencintai tanpa merepotkan adalah satu-satunya cara bertahan."...

..."Ada jarak yang lebih berbahaya daripada kebencian, jarak ketika napas sudah bertabrakan, tapi hati masih menolak mengakuinya."...

..."Jika kursi itu goyah, siapa yang lebih dulu akan ia selamatkan, warisan keluarga, atau pria yang tak pernah ia rencanakan untuk dicintai?"✨...

.

To be continued

1
anonim
Desti, silahkan menikmati tuaian yang kau tabur. Hotel di tempat menginap tidak nyaman.

Ingatanya kepada Fero, Desti keluar kamar hotel.

Sampai di apartemen Fero - memberitahu kalau diusir dari rumah. Desti dan mamanya - untuk sementara mau tinggal di tempat Fero.

Alih-alih Fero mengijinkan. Malah menyalahkan Desti dan ayahnya.

Fero si tolol tak merasa salah juga. Niatnya mau menikah dengan Zelia tidak tulus. Mau merebut kekayaan milik Zelia. Selingkuh dengan saudara tiri Zelia.

Menjadi CEO berdiri sejajar dengan Zelia cuma mimpi. Sekarang semua hancur.

Wow...Desti yang menjebak duluan. Fero si tolol juga menikmati. Gimana sih.

Saling menyalahkan.
Kyky ANi
sampai kapan sih Atyasa, kamu masih ingin melawan Are dan Zelia,, akui saja kesalahanmu,,,
Kyky ANi
kasian kamu Zelia, demi harta papamu bisa setega itu,, jangan biarkan dia lolos,, hukum seberat-beratnya,,
anonim
Are bergerak cepat mendatangi kediaman Atyasa.

Kedatangannya yang dangan disambut dingin Atyasa.

Salah satu pria menyerahkan sebuah map tebal di meja.

Dokumen pengalihan aset. Aset milik Zelia.

Are bicara sesuai fakta yang ada.

Rumah yang mereka tempati, aset perusahaan, rekening investasi, semua tercatat sebagai warisan dari mendiang Ibu Zelia.
Yang selama ini di kelola Atyasa. Akan dialihkan kepada pemilik sahnya.

Dian, Desti, dan Atyasa, mulai hari ini dimiskinkan.
Kyky ANi
teryata Atyasa, dalang dari kematian ibunya Zelia,,
Kyky ANi
apakah Atyasa terlibat, dalam kematian ibunya Zelia,,
Kyky ANi
apalagi ya, yang akan dilakukan Atyasa,,
Kyky ANi
rasain tu,,
anonim
Zelia lelah fisik dan mental.

Zelia dan Are tahu kalau Atyasa tidak akan berhenti. Atyasa pasti akan berulah lagi.

Are punya cara membereskan Atyasa. Tapi Zelia akan terlihat kejam.

Atyasa dimiskinkan.

Agar Atyasa tidak bisa bergerak bebas - Zelia harus mengambil semua aset yang masih ada pada Atyasa.
anonim
Di luar ruangan langkah Atyasa terhenti. Dia tahu Are melangkah di belakangnya.

Are juga berhenti beberapa langkah di belakangnya.

Atyasa merasa Are yang menyebabkan ia mundur.

Apapun kalimat yang terucap dari mulut Atyasa - Are bisa menanggapi dengan tenang.

Atyasa masih percaya diri - Are yang jatuh.
anonim
Tuh kan Atyasa...

Direktur senior bicara. Direktur lain langsung menimpali.

Dewan memutuskan untuk sementara menonaktifkan Atyasa dari jabatan komisaris sampai investigasi selesai.

Direktur lain lebih keras lagi. Untuk menjaga reputasi perusahaan, dia mengusulkan Atyasa mengundurkan diri.

Keputusan diambil lewat voting. Mayoritas angkat tangan setuju Atyasa mengundurkan diri.

Fero juga kena batunya. Kerja sama dengan perusahaan milik Fero dihentikan. Kontrak yang sedang berjalan ditinjau ulang. Perusahaan dimasukkan dalam daftar hitam mitra bisnis Angkasa Group.

Atyasa tidak protes berarti mengakui kesalahannya.

Masih mau mencari celah - Are yang di tatap.
anonim
Rapat dewan direksi kali ini akan menentukan nasib seseorang.

Bukti rekaman yang didapat Are jelas valid. Dan rumor memang sengaja diciptakan.

Rumor itu hampir meruntuh reputasi Angkasa Group.

Bukan datang dari pesaing luar, melainkan dari orang yang berada di lingkaran sendiri.

Kepentingan pribadi seseorang, hendak mengorbankan perusahaan.

Tinggal menunggu semua bukti dinyatakan sah.

Atyasa masih kelihatan santai. Padahal ketua dewan mengatakan - bukti yang disampaikan menunjukkan keterlibatan Atyasa dalam penyebaran rumor yang merugikan Angkasa Group.

Harusnya sebagai komisaris Atasya memiliki kewajiban untuk melindungi kepentingan perusahaan.

Atyasa malah bicaranya seperti menantang - kita lihat saja siapa yang benar-benar jatuh di akhir permainan ini.
anonim
Atyasa masih penasaran dengan Are. Atyasa ingin menyelidiki lebih dalam.

Zelia saja belum tahu siapa Are yang sebenarnya.

Ditunggu rapat dewan berikutnya. Are kalau bisa membuktikan Atyasa dan Fero yang menyebarkan rumor, bakal tamat riwayat kalian berdua.

Menjatuhkan Zelia saja tidak bisa, apalagi menjatuhkan Are. Bisa jadi Atyasa dan Fero yang jatuh.

Atyasa sangat berambisi.

Are sudah kecanduan membikin lelah Zelia setiap malam.
Kyky ANi
bagus,, Are, bagus,, lanjutkan Are,, biar tahu rasa tu Atyasa,,,
Kyky ANi
Are bisa membuat papamu jatuh Zelia,, percayakan saja pada Are,,
Kyky ANi
apakah Atyasa masih bisa menjatuhkan Zelia dan Are,,apalagi ya rencananya,,,
anonim
Zelia tidak akan kabur Are. Zelia juga menginginkan ini - dulu.

Zelia lucu. Tidak gugup. Berusaha terlihat tenang. Are tahu itu.

Zelia lagi-lagi ingin mengatakan - aku tidak - gugup maksudnya.

Bibir Are sudah menyentuh bibirnya dengan lembut. Jantung Zelia langsung berdebar keras.

Akhirnya Zelia dan Are sudah menyatu dengan tidak penuh drama 😄.

Malam pertama yang tertunda sangat lama.

Fero masih penasaran dengan seorang tukang parkir yang tiba-tiba muncul menikahi CEO Angkasa Group.
anonim
Are menagih janji.

Di atas ranjang terdapat beberapa kelopak mawar bertebaran.

Zelia sudah bisa menebak maksudnya, tetap bertanya - ini apa maksudnya.

Tubuh Zelia langsung menegang ketika tiba-tiba dari belakang lengan kokoh Are melingkar di pinggangnya.

Are benar-benar niat sekali menagih janjinya. Ia telah mempersiapkan pakaian dinas untuk istrinya - lingerie warna hitam 😄.

Zelia masuk ke kamar mandi - mau tidak mau harus memakainya. Iya harus menepati janjinya.

Zelia sudah keluar dari kamar mandi.

Kini jantungnya semakin berdetak lebih cepat ketika tangan Are perlahan menyentuh pergelangan tangannya.
anonim
Atyasa dan Fero penasaran dengan masa lalu Are si tukang parkir.

Atyasa masih ingin menyelidiki siapa sebenarnya Are. Nanti kalau tahu yang sesungguhnya siapa Are jangan kejang-kejang Atyasa. Juga Fero.

Di apartemen Zelia yang terlihat lelah langsung berbinar ketika mencium aroma rendang.

Wina yang sedang masak rendang menoleh ketika Zelia memanggilnya dengan riang.

Interaksi menantu dengan mertua yang harmonis.

Are mulai mengingatkan permintaannya pada Zelia.
anonim
Pranata datang tepat waktu. Atau mungkin Are sebelumnya sudah memberi tahu kalau akan ada rapat dengan agenda membahas rumor yang beredar tentang CEO Zelia.

Pranata sudah membaca semuanya. Kualifikasinya juga sudah tahu.

Fero semakin gelisah, masih menyanggah.

Tatapan Pranata pada Fero cukup membuatnya diam.

Pranata kembali menoleh ke meja direksi lalu bilang -Investasi Pranata Group - tidak dibatalkan.

Beberapa direksi bernafas lega.

Pranata menambahkan - kami akan melipatgandakan nilai investasinya.

Atyasa meradang tuh... Menurutnya - ini keputusan gegabah.

Pranata secara tidak langsung memuji Zelia dan Are.
anonim: ...klarifikasi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!