NovelToon NovelToon
Janji Yang Terkubur

Janji Yang Terkubur

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jun

Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur

Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34: Pelukan di Tengah Darah dan Air Mata

Suara benturan besi, teriakan, dan gemuruh air terjun masih memekakkan telinga, tapi tiba-tiba… kaki Lira terpeleset di batu yang licin basah percikan air, tubuhnya terhuyung mundur, dan sebilah pisau tajam melesat cepat tepat ke arah dadanya.

“LIRA!!!”

Raga berteriak sekuat tenaga, tanpa pikir panjang ia melempar senjatanya, melompat secepat kilat, dan menubruk tubuh istrinya sampai keduanya jatuh berguling di tanah basah, tepat saat pisau itu menancap keras di batu tempat Lira berdiri sedetik yang lalu.

Darah segar mengalir di lengan kiri Raga—pisau itu sempat menggores kulitnya sebelum ia sempat melindungi Lira.

Mereka terbaring berpelukan di tanah yang penuh lumpur dan darah, di tengah kekacauan pertempuran yang masih berkecamuk di sekeliling mereka. Tapi di detik itu, dunia di mata Raga dan Lira seolah berhenti berputar. Tidak ada musuh, tidak ada bahaya, tidak ada suara apa pun… hanya ada mereka berdua, saling memandang dengan mata yang penuh ketakutan, rasa lega, dan cinta yang meluap-luap.

Lira merasakan darah hangat membasahi tangannya yang memegang lengan Raga. Matanya langsung memerah, air mata jatuh deras tanpa bisa ditahan, menetes tepat di wajah Raga yang hanya berjarak beberapa sentimeter darinya.

“Kenapa? Kenapa kamu selalu begitu? Kenapa kamu selalu rela terluka, selalu rela taruh nyawamu demi aku saja?” isak Lira, suaranya pecah, tangannya gemetar mengusap luka yang menganga itu dengan hati-hati, seolah sentuhan sedikit saja akan membuat rasa sakit itu bertambah parah. “Aku bukan siapa-siapa… Aku cuma wanita biasa… Kenapa cintamu sebesar ini, sampai kamu lupa dirimu sendiri?”

Raga menatap mata indah itu, mata yang menjadi satu-satunya cahaya di dunia gelapnya, lalu mengangkat tangan kanannya yang tidak terluka, mengusap air mata yang mengalir deras di pipi Lira dengan lembut sekali, seolah sedang menyentuh benda paling berharga di seluruh dunia.

“Kamu tanya kenapa?” bisik Raga, suaranya lembut, parau, penuh perasaan yang begitu dalam sampai membuat hati siapa saja yang mendengarnya akan teriris sedih. “Karena bagiku, kamu bukan cuma istri, Lira… Kamu adalah separuh jiwaku, napasku, alasan aku masih bertahan hidup sampai hari ini. Dulu saat aku kehilangan segalanya—harta, keluarga, nama baik—hanya cinta kamu yang tetap ada, yang memelukku hangat saat aku merasa paling hancur di dunia ini.”

Ia berhenti sebentar, napasnya sedikit tersengal karena sakit dan emosi, lalu melanjutkan dengan suara yang semakin lembut namun semakin kuat:

“Kalau aku harus memilih antara nyawaku atau nyawamu… jawabannya selalu sama, dari dulu sampai kapan pun. Aku akan pilih menyerahkan nyawaku sendiri. Karena aku tahu, kalau kamu yang pergi, hidupku ini akan kosong, gelap, dan tidak ada artinya sama sekali. Aku bisa hidup miskin, aku bisa hidup dalam bahaya, aku bisa hidup terluka… tapi aku tidak bisa hidup, sedetik pun, di dunia yang tidak ada kamu di dalamnya.”

Air mata Lira semakin deras mengalir, ia tidak bisa menahan isaknya lagi, lalu langsung memeluk leher Raga erat sekali, membenamkan wajahnya di dada suaminya, merasakan detak jantung yang kuat itu berdegup kencang hanya untuknya.

“Jangan bicara begitu… Jangan pernah bicara mau pergi duluan… Aku takut, Raga… Aku takut suatu hari nanti aku bangun dan kamu sudah tidak ada di sampingku… Aku tidak akan kuat, sungguh aku tidak akan kuat…” tangis Lira pecah, seluruh rasa takut, rasa rindu, rasa cemas yang selama ini ia simpan diam-diam akhirnya keluar semuanya. “Ingat janji kita? Mati hidup harus bersama. Kalau kamu terluka, aku sakit. Kalau kamu sedih, aku hancur. Kita itu satu, Raga… Tidak ada aku tanpa kamu, tidak ada kamu tanpa aku.”

Raga membalas pelukan itu sekuat tenaga, memeluk tubuh istrinya yang gemetar ketakutan, mencium rambutnya, dahinya, ujung matanya yang basah oleh air mata, dengan penuh kasih sayang yang tak terhingga. Ia menahan rasa sakit di lengannya, tidak mau Lira makin sedih melihatnya menderita.

“Aku ingat… Aku ingat semuanya, sayang,” bisik Raga tepat di telinga Lira, suara lembut yang masuk sampai ke dalam hati wanita itu. “Ingat dulu di taman rumah kita, kamu masih kecil, kamu bilang mau nikah sama aku, mau tidur di sebelahku sampai tua, sampai rambut kita sama-sama memutih? Ingat dulu saat aku jatuh miskin, semua orang pergi, cuma kamu yang tetap pegang tanganku dan bilang ‘Raga, aku tidak butuh harta, aku cuma butuh kamu’?”

Lira mengangguk kuat di dada Raga, isaknya semakin keras, ingatan manis dan pahit itu semua berputar di kepalanya.

“Dan ingat saat kita kecelakaan, saat kamu hilang ingatan, saat aku harus melihatmu setiap hari tapi kamu tidak ingat siapa aku? Itu rasa sakit terbesar yang pernah aku rasakan seumur hidupku, Lira… Lebih sakit dari dipukul, lebih sakit dari ditikam, lebih sakit dari apa pun. Karena saat itu, separuh jiwaku ada di depan mataku, tapi dia tidak mengenaliku lagi,” suara Raga mulai pecah, air mata pun akhirnya menetes keluar dari matanya, jatuh membasahi rambut Lira. “Saat itu aku berjanji pada diriku sendiri, pada Tuhan, pada siapa saja yang mendengar… Kalau aku diberi kesempatan kedua, aku akan menjaga kamu, mencintai kamu, membuat kamu bahagia, sampai napas terakhirku. Dan aku tidak akan pernah melanggar janji itu, tidak peduli apa pun yang terjadi.”

Lira mengangkat wajahnya, menatap wajah Raga yang juga basah oleh air mata, wajah yang penuh luka, debu, dan darah, tapi bagi Lira itu adalah wajah paling tampan, paling indah, paling dicintai di seluruh dunia. Ia mengusap wajah itu dengan tangannya yang lembut, menghapus setiap jejak air mata dan debu yang ada di sana.

“Kamu tahu apa yang paling aku takutkan, Raga?” bisik Lira pelan, suaranya lembut tapi penuh rasa sedih yang dalam. “Aku tidak takut musuh, aku tidak takut bahaya, aku tidak takut mati… Aku cuma takut kita terlalu banyak menderita. Kita masih muda, kita sudah terlalu banyak menangis, terlalu banyak luka, terlalu banyak berpisah… Aku cuma ingin kita punya waktu yang tenang. Waktu di mana kita bisa bangun pagi, saling pandang, tersenyum, dan tahu bahwa hari ini aman, hari ini kita bisa bahagia, tanpa ada orang yang mau menyakiti kita.”

Ia diam sejenak, lalu tersenyum sedih namun indah, lalu menempelkan dahinya di dahi Raga, hidung mereka saling bersentuhan, napas mereka saling bercampur.

“Aku cuma mau hal sederhana saja, sayang… Cuma mau tua bersamamu. Mau lihat rambutmu memutih, mau lihat kulitmu berkerut, mau pegang tanganmu sampai tangan itu sudah keriput sama seperti tanganku. Mau tidur di sebelahmu setiap malam, bangun di sebelahmu setiap pagi, sampai kita sama-sama tua, sampai kita sama-sama harus pergi ke sana nanti… dan di sana pun, aku mau tetap bersamamu lagi.”

Hati Raga terasa perih manis, campuran rasa sedih yang menyayat dan rasa cinta yang membakar hati. Ia mencium bibir Lira dengan lembut, ciuman yang penuh rasa rindu, rasa syukur, rasa cinta yang sudah teruji oleh waktu dan penderitaan, bukan cuma ciuman nafsu atau sekadar sayang… tapi ciuman dua jiwa yang sudah saling miliki selamanya.

Di sekeliling mereka, suara pertempuran perlahan mereda. Pasukan Roh Kuno yang melihat pemandangan itu, melihat cinta yang begitu murni dan besar di tengah darah dan bahaya, tiba-tiba terdiam. Bahkan hati orang yang sudah mati rasa karena kejahatan pun terasa tersentuh melihat pengorbanan dan kesetiaan yang tidak ada tandingannya itu.

Eyang Kala yang berdiri di atas batu tinggi, mengerutkan kening dengan bingung dan marah. Ia tidak mengerti. Ia punya kekuasaan, punya harta, punya kekuatan, tapi ia tidak pernah punya apa yang dimiliki Raga dan Lira: cinta yang siap mati demi satu sama lain. Cinta yang membuat orang biasa menjadi jauh lebih kuat dari pasukan besar mana pun.

Raga melepaskan ciuman itu perlahan, lalu memeluk Lira lagi, lebih erat dari sebelumnya, seolah ingin menyatukan tubuh dan jiwa mereka menjadi satu.

“Kita akan dapatkan itu, sayang… Aku janji dengan seumur hidupku,” bisik Raga di telinga istrinya, suara penuh kepastian yang membuat hati Lira tenang. “Setelah ini selesai, tidak ada lagi bahaya, tidak ada lagi air mata. Kita akan pulang ke rumah kita yang dulu, menanam bunga melati sebanyak-banyaknya, tidur tanpa lampu, tidur tanpa takut, bangun dengan senyum… dan kita akan tua bersama, persis seperti yang kamu mau. Aku akan pegang tanganmu sampai rambutku habis, sampai napasku habis.”

Lira tersenyum bahagia di pelukan itu, air matanya sudah kering digantikan rasa damai yang luar biasa. Ia menempelkan telinganya di dada Raga, mendengar detak jantung yang kuat itu, jantung yang berdetak untuknya, jantung yang akan selalu menjadi rumah tempat ia pulang.

“Aku percaya kamu… Aku percaya janjimu. Selama ada kamu di sini, aku tidak takut apa pun lagi,” jawab Lira lembut.

Saat itu, matahari sore mulai turun, sinarnya keemasan menembus celah air terjun, jatuh tepat menyinari dua orang yang saling berpelukan itu, membuat pelangi kecil terbentuk di balik tubuh mereka. Di tengah tempat yang penuh darah dan dendam itu, cinta mereka bersinar paling terang, lebih terang dari emas, lebih kuat dari baja, lebih abadi dari batu karang.

Mereka tidak takut lagi menghadapi Eyang Kala, tidak takut lagi menghadapi kematian. Karena mereka tahu, selama mereka bersama, mereka punya kekuatan yang tidak bisa dikalahkan oleh apa pun di dunia ini: cinta yang sejati.

 

(Bersambung ke Episode 35)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!