NovelToon NovelToon
NEVER TRULY GONE

NEVER TRULY GONE

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Mengubah Takdir
Popularitas:324
Nilai: 5
Nama Author: Selene Mora

Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?

​Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.


!!!⚠️!!!

#BL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

Pagi itu, mentari London menyinari kebun mini di belakang kediaman keluarga Willey. Nyonya Sofia, yang baru saja keluar dari rumah sakit, duduk di kursi rotan menikmati udara segar. Di sampingnya, Brant berdiri menemani sembari menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal.

​"Kamu terlihat sangat lelah, Brant," ujar Nyonya Sofia prihatin.

​"Aku hanya melakukan perintah Ibu. Dan... aku sudah mendapatkan data mengenai pemilik saham terbesar kedua di perusahaan kita," jawab Brant.

​Nyonya Sofia menolak amplop itu dengan isyarat tangan tanpa menoleh. "Kau sudah tahu siapa dia?"

​"Hanya seorang anak berusia empat tahun bernama Junior Willey, Ma. Aku belum tahu siapa dia sebenarnya," kata Brant ragu. Ia menatap ibunya lekat-lekat. "Ma, nama belakang anak itu 'Willey'. Apakah dia memiliki keterkaitan dengan keluarga papa?"

​Sebuah senyuman getir terukir di wajah Nyonya Sofia. "Tentu saja dia keluarga kita, Brant."

​ dokumen menunjukkan anak itu lahir dan menetap di Indonesia." Ucap Brant.

​Nyonya Sofia hanya mengangguk pelan tanpa riak terkejut, membuat Brant semakin dilingkupi kebingungan.

​"Lalu, apa lagi yang kau dapatkan tentang tindakan ayahmu di perusahaan?" tanya Nyonya Sofia menajam.

​Brant menarik napas dalam, mencoba berhati-hati agar tidak memicu penyakit ibunya. "Ma, apa pertengkaran Mama dan Papa waktu itu karena aliran dana mencurigakan yang merugikan perusahaan?"

​Sorot mata Nyonya Sofia seketika berubah penuh amarah. "Apa yang telah Dia itu lakukan di perusahaanku?!"

​Brant sempat tercengang mendengar penekanan kata "perusahaanku", namun ia segera menjelaskan realita bisnis yang diungkap oleh Leo. "Papa melakukan penarikan modal besar-besaran dari kas pusat London selama tiga tahun ini. Uang itu dipindahkan ke anak perusahaan di Indonesia. Namun, suntikan dana tersebut tidak menambah aset kita, melainkan dimanipulasi menjadi kepemilikan saham baru atas nama Junior Willey. Ini pengalihan aset terencana, Ma."

​Nyonya Sofia mengepalkan tangan kuat-kuat, wajahnya memerah menahan kecewa dan sedih. "Mama tidak percaya papamu sekeji itu... Kamu harus berusaha lebih keras, Brant. Secepatnya kamu harus mengambil alih posisi pemimpin tertinggi di perusahaan!"

​"Ma, sebenarnya... siapa Junior Willey?" tanya Brant, jantungnya berdetak kencang.

​Nyonya Sofia menatap serius putranya. "Dia—"

​Bzzz... Bzzz...

​Ucapan itu terputus oleh getaran ponsel Brant. Nama Tuan Lodrik tertera di layar. Brant menarik napas dalam sebelum mengangkatnya. "Ya, Pa."

​"Ke kantor sekarang. Rapat dewan komisaris untuk voting penunjukan Direktur Utama yang baru akan dimulai sepuluh menit lagi. Jangan terlambat," perintah Tuan Lodrik tegas lalu memutus panggilan.

​Brant menatap ibunya dengan sesal. "Ma, ada rapat darurat penentuan pemimpin baru. Aku harus ke kantor sekarang."

​Nyonya Sofia membalas dengan senyuman bangga. "Pergilah. Mereka pasti sudah menilai hasil kerja kerasmu. Posisi itu harus jatuh ke tanganmu."

​Setelah Brant berpamitan dan pergi, Nyonya Sofia tertegun sendiri. Pikirannya ditarik paksa oleh memori tiga puluh tahun lalu saat ia menikahi Lodrik.

​Kala itu, Sofia adalah janda beranak satu. Ia membawa Brant yang masih berusia enam tahun setelah suami pertamanya meninggal akibat kecelakaan, bersama seluruh harta warisan berupa perusahaan yang kini menjadi raksasa. Lodrik saat itu hanyalah karyawan biasa dengan ekonomi sederhana. Setelah menikah, Lodrik berhenti bekerja untuk mengelola bisnis warisan tersebut. Lewat kecerdasan Lodrik, perusahaan itu berkembang pesat.

​Sofia yang telanjur percaya memilih menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Sayangnya, beberapa tahun setelah menikah, Sofia didiagnosis menderita komplikasi rahim parah yang membuatnya tidak bisa melahirkan lagi. Akhirnya, mereka membesarkan Brant bersama dengan penuh kasih, hingga Brant menghormati Lodrik sebagai ayah kandung tanpa pernah mengingat pria itu hanyalah ayah tiri.

​Nyonya Sofia mencengkeram dadanya yang mendadak nyeri. Air mata perlahan luruh melewati pipinya,menyiratkan luka mendalam yang telah lama ia pendam seorang diri.

​"Tega sekali kau, Lodrik... Kau membangun kejayaan di atas hartaku, tapi diam-diam kau memelihara duri yang siap menusukku dan Brant dari belakang," desisnya dengan tatapan kosong yang dipenuhi kabut kebencian.

Malam itu, jarum jam sudah menunjukkan sekitar pukul delapan. Clay menyandarkan tubuhnya di kursi kemudi, matanya sesekali melirik ke arah gerbang rumah Luca. Tidak lama kemudian, sosok yang ditunggu muncul. Luca keluar dari pagar rumahnya, hanya mengenakan kaos santai dan celana pendek rumahan.

​Clay menurunkan kaca mobil lalu melambaikan tangan. "Ca, sini!"

​Luca langsung berjalan mendekat, wajahnya dipenuhi rasa heran. "Kak Clay? Ada apa malam-malam begini?" tanya Luca sopan.

​"Maaf ya, ganggu lu. Sebenarnya ada yang mau gue omongin sama lo," jawab Clay.

​"Mau ngomongin apa, Kak? Kenapa tadi di telepon nggak langsung dibilang aja?" Luca makin bingung. Jelas saja, Clay mendadak menelepon dan bersikeras ingin bertemu langsung.

​Clay sempat terdiam, menahan kalimatnya di ujung lidah. ' Kalau gue bilang di telepon, lo pasti langsung matiin HP karena tahu gue disuruh Brant,' batin Clay panik.

​Clay berdehem, mencoba mengalihkan suasana. "Emm, di dekat sini ada warkop atau kedai kecil yang jualan Sarabba nggak? Biar kita ngobrolnya agak santai."

​"Ada hal penting banget ya, Kak?" Luca mulai merasa ada yang tidak beres. Rasa penasarannya memuncak.

​"Iya, penting banget. Buat lo... dan ya, buat gue juga. Udah, ayo naik. biar gue yang bilanng ke nyokap lo nanti. Paling lima belas sampai dua puluh menit lagi lo udah gue balikin ke rumah," bujuk Clay.

​Luca akhirnya mengangguk. "Ya udah, ayo. Nanti aku telepon Mama dari jalan." Dia pun membuka pintu dan langsung naik ke kursi penumpang.

​Begitu mobil mulai melaju, Luca segera mengetik pesan singkat ke, Lea: “ aku ke minimarket bentar ya. Nanti kalau Mama nyariin, tolong bilangin.”

​Hanya butuh waktu sepuluh menit perjalanan hingga mereka tiba di sebuah kedai Sarabba yang cukup ramai. Setelah duduk, Clay memesan dua gelas Sarabba hangat. Uap jahe dan aroma rempahnya langsung terasa menenangkan.

​Luca tidak sabar. Begitu gelas dihidangkan, dia langsung menembak, "Kak, sebenarnya ada apa sih?"

​Clay menghela napas, menyesap sedikit minumannya sebelum mulai bicara jujur. "Gini, Ca. Sebenarnya... gue disuruh Brant buat ketemu dan ngomong langsung sama lo."

​Luca terdiam. Ekspresinya langsung berubah datar. Sejujurnya, sejak Clay menelepon tadi, Luca sudah menaruh curiga. Bagaimanapun juga, Clay adalah sahabat kental Brant.

​"Tapi sebelum gue lanjut, boleh nggak gue nanya sesuatu?" tanya Clay hati-hati.

​"Iya, boleh Kak. Mau nanya apa?"

​"Lo... lagi ada masalah ya sama Brant?"

​Luca mengangguk pelan, mengakui kebenaran itu. "Emang Kak Brant nggak cerita apa-apa ke Kak Clay?"

​"Nggak banyak. Dia cuma bilang lo lagi kesal banget dan nggak mau angkat telepon dari dia."

​"Bukan sekadar kesal, Kak," potong Luca, suaranya agak bergetar menahan luapan emosi. "Lebih tepatnya, aku lagi marah dan kecewa banget sama Kak Brant."

​Clay mendengarkan dengan saksama. Mengingat pesan Brant agar dia berbicara dengan sangat hati-hati, Clay pun mengatur bahasanya. "Sori ya, Ca. Gue nggak bermaksud ikut campur terlalu dalam sama urusan domestik kalian. Cuma, kalau lo diemin dia terus kaya gini tanpa komunikasi, masalahnya nggak akan pernah kelar. Terus, mau dibawa ke mana arah hubungan kalian kalau jalannya buntu?"

​Luca menunduk, memainkan jemarinya. "Aku cuma butuh waktu buat tenangin diri dulu, Kak. Aku takut kalau aku maksain ngomong saat lagi emosi, yang keluar malah kata-kata egois dan bikin masalahnya makin besar."

​Mendengar itu, Clay tersenyum tulus. "Pilihan lo udah bener banget, Ca. Bicara pas lagi emosi memang cuma bakal merusak segalanya. Wah, ternyata pikiran lo udah dewasa banget ya sekarang. Nggak kayak dulu lagi; polos, lucu, terus kadang... agak konyol gimana gitu," goda Clay sambil terkekeh, memuji perubahan pola pikir Luca.

​Dipuji begitu, gengsi Luca langsung naik. Wajahnya berubah ceria dan membanggakan diri. "Ih, iya dong, Kak! Kan aku udah lulus kuliah, terus sekarang udah kerja dan bisa cari duit sendiri!" serunya bangga.

​Clay spontan menepuk jidatnya sendiri lalu tertawa renyah. Pujian yang baru saja dia berikan langsung runtuh seketika melihat sifat kekanakan Luca yang kembali muncul. "Oh, jadi gitu? Lulus kuliah otomatis bikin orang jadi bijak ya?" canda Clay pasrah.

​Clay kembali menyesap Sarabba-nya yang mulai hangat. "Jadi... apakah sekarang lo udah merasa cukup tenang?"

​Luca terdiam sejenak, lalu mengangguk tipis. "Iya, Kak. Sebenarnya, aku udah mau kok bicara sama Kak Brant. Cuma..."

​"Cuma apa?"

​"Nggak tahu ya, Kak... aku masih kesal, tapi di sisi lain... aku rindu banget," aku Luca jujur, suaranya mengecil di akhir kalimat.

​Clay menahan senyum ringalnya. Naluri menjahilinya mendadak bangkit. "Oh, jadi ceritanya lagi jaim nih? Ya udah kalau gitu, tahan aja dulu rindunya. Gimana kalau tahun depan baru lo buka blokiran dan ngomong lagi sama Brant, kira-kira Brant masih ingat lu nggak ya?"

​"Nggak mau!" potong Luca cepat. "Aku mau bicara sama Kak Brant sekarang!"

​Detik itu juga, mata Luca mulai berkaca-kaca. Wajahnya memerah menahan tangis yang siap pecah.

​Melihat itu, Clay langsung panik setengah mati. 'Mampus gue! Pacar orang nangis gara-gara gue becandain!' batinnya berteriak.

​"Eh, Ca! Sori, sori! Maksud gue bukan tahun depan, tapi minggu depan! Lebih tepatnya, hari Selasa ini Brant bakal terbang ke sini buat nemuin lo langsung. Valid, akurat, no hoax!" cerocos Clay panik dengan detail super cepat demi menghentikan air mata Luca.

​Mata Luca langsung membelalak kaget. "Maksud... maksud Kak Clay gimana?"

​"Nah, itu dia yang mau disampaiin Brant. Dia telepon gue karena dia frustrasi nggak bisa hubungin lo. Dia mau bilang kalau hari Selasa depan dia bakal datang ke sini. Dia mau ketemu lo, karena dia udah kangen setengah mati."

​Mendengar penjelasan itu, air mata Luca akhirnya tumpah juga. Namun, kali ini bukan karena sedih, melainkan karena rasa lega dan bahagia yang membuncah di dadanya.

Luca segera menunduk, mulai menghitung hari dengan jemarinya di atas meja kayu kedai itu. "Selasa ya, Kak? Berarti... sekarang Sabtu, Minggu, Senin, Selasa..." gumamnya pelan. Dia menatap Clay dengan mata yang masih basah namun berbinar. "Berarti tiga hari lagi ya, Kak? Bener, kan?"

​Clay tersenyum melihat tingkah polos Luca yang begitu antusias. "Hmm, iya. Tiga hari lagi. Jadi, puas-puasin deh nanti kangen-kangenannya," ucap Clay tulus. Sebagai sahabat, ia merasa lega sekaligus senang melihat pasangan itu akhirnya menemukan jalan untuk tetap bersama

​Tugas Clay malam itu selesai dengan sukses besar. Setelah memastikan Luca tenang, dia mengantar pemuda itu kembali pulang. Malam itu, Luca tidur dengan nyenyak, ditemani senyuman manis yang menghiasi bibirnya, tidak sabar menanti hari Selasa tiba.

​Sementara itu, di belahan bumi yang lain, atmosfer tegang justru menyelimuti ruang kerja Brant.

​Meskipun jam kerja telah usai, Brant masih duduk di balik meja besarnya bersama Leo, asisten kepercayaannya. Leo sedang sibuk dengan ponselnya, menghubungi detektif swasta untuk melacak latar belakang dan keberadaan Junior Willey.

​Tak hanya itu, Leo juga melakukan panggilan terenkripsi dengan perwakilan hukum pihak Brant yang ada di Indonesia.

​"Pastikan seluruh audit laporan keuangan dan proyeksi keuntungan perusahaan target itu sudah siap besok pagi," perintah Brant dingin, matanya menatap tajam ke arah dokumen di layarnya.

​Brant sedang menyusun strategi besar. Dia berencana mengoreksi valuasi pasar perusahaan tersebut, lalu menggunakan data keuntungan yang ada untuk melakukan buyback saham secara masif. Tujuannya hanya satu: merebut posisi sebagai pemegang saham mayoritas mutlak agar tidak ada yang bisa menghalangi langkahnya lagi.

​Brant menyandarkan punggungnya, menyatukan jemarinya dengan senyum penuh misteri. Rahasia besar ini harus segera dipecahkan, apa pun taruhannya.

​ Brant dan Ambisinya sedang berkobar penuh untuk menuntaskan masalah besar keluarganya. Fokus utama Brant saat ini adalah merebut takhta perusahaan dari ayahnya dan menguliti misteri saham Junior Willey. Prioritas Brant adalah perang korporasi demi sang ibu, keinginannya untuk menemui dan memeluk Luca, tanpa sadar telah bergeser menjadi agenda nomor dua.

Sementara Luca yang merasa sangat bahagia dan bersemangat. Kesalahpahaman kemarin menguap begitu saja, berganti rasa haru setelah tahu Brant akan segera pulang ke Indonesia. Luca sepenuhnya percaya bahwa ia adalah alasan utama di balik kepulangan sang kekasih karena rasa rindu yang sama besarnya.

​Dua hati kini bergerak menuju titik temu yang sama dengan ekspektasi yang berbeda. Luca menyambutnya dengan cinta yang polos, sementara Brant datang membawa tameng perang. Akankah posisi Luca yang 'dinomor-duakan' demi urusan bisnis ini menjadi awal dari keretakan hubungan mereka yang lebih hebat?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!