Terlahir dengan dua elemen sekaligus, Yan Bingchen justru harus menanggung kutukan yang membuatnya kesulitan mengendalikan kekuatannya sendiri.
Dianggap berbahaya bahkan oleh keluarganya, ia tumbuh dalam kesepian dan penolakan sejak kecil.
Namun, ketika kesedihan dan amarahnya mencapai puncak, Yan Bingchen memilih meninggalkan klannya. Pada saat itulah, kekuatan sejatinya akhirnya bangkit sepenuhnya.
Kini, di dunia yang memandangnya sebagai ancaman, mampukah ia membuktikan bahwa dirinya bukanlah bencana … melainkan calon yang akan berdiri di puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Muak
Pagi di Akademi Naga Surgawi dimulai seperti biasanya. Ribuan murid, mulai dari murid luar hingga murid inti, berkumpul di Pelataran matahari terbit untuk melakukan latihan pernapasan massal.
Udara dipenuhi sesosokan Qi putih yang selaras, menciptakan pemandangan yang damai namun penuh disiplin.
Para Master, termasuk Master Han, berdiri di panggung tinggi, mengawasi dengan tatapan tajam.
Di tengah lautan murid yang berseragam rapi, sebuah celah terbentuk secara alami. Yan Bingchen berjalan menembus kerumunan.
Ia tidak mengenakan seragam akademi, melainkan jubah hitam legam yang kontras dengan lingkungan sekitarnya.
Rambutnya berkibar tertiup angin, dan matanya memancarkan dingin yang membekukan.
Gada raksasa di punggungnya berdenyut pelan, memancarkan aura gravitasi yang membuat murid-murid di dekatnya sesak napas dan terpaksa mundur.
Tidak ada yang menyadari, bahkan para Master sekalipun, bahwa di balik ketenangan itu, tubuh Yan Bingchen telah bertransformasi total.
Sumsum tulangnya kini berkilau layaknya kristal baja, menampung energi masif Tahap Puncak Transformasi Sumsum.
Di mata Yan Bingchen, gerakan para murid elit di sekelilingnya tampak seperti siput yang merayap—lambat dan penuh celah.
Yan Bingchen berhenti tepat di depan panggung utama, menatap lurus ke arah Master Han.
Kehadirannya menghentikan aliran latihan massal. Keheningan yang mencekam perlahan menyelimuti pelataran.
"Master Han," suara Yan Bingchen datar, namun bergema ke setiap sudut pelataran berkat Qi yang padat. "Aku sudah muak dengan sandiwara ini. Aku muak dengan tatapan menjijikkan dan perlakuan diskriminatif kalian semua kepadaku."
Master Han menyipitkan mata, merasakan perubahan aura Yan Bingchen yang jauh lebih berat dari beberapa hari lalu. "Apa maksudmu, Murid Yan? Jaga bicaramu di depan para tetua."
Yan Bingchen tidak bergeming. Ia melepaskan gada ungunya dari punggung, menghantamkan ujungnya ke lantai marmer.
BOOM!
Retakan besar menjalar dari titik hantaman, mengguncang panggung utama.
"Mulai hari ini, aku tidak akan lagi berdiri di barisan murid. Aku meminta izin—bukan, aku menuntut hak—agar diangkat menjadi seorang Master di Akademi Naga Surgawi," ujar Yan Bingchen, nadanya dingin namun penuh penekanan. "Dan untuk membuktikan kelayakanku, aku akan melawan semua murid di sini. Murid luar, murid dalam, murid inti ... laki-laki ataupun wanita. Maju sekaligus, atau satu per satu. Tidak ada bedanya bagiku."
Pernyataan itu bagaikan menyulut api di gudang mesiu. Keheningan pecah menjadi gemuruh kemarahan.
"Sombong sekali! Kau pikir kau siapa?!" teriak seorang murid inti.
"Anak terkutuk! Kau merendahkan kami semua!" sahut yang lain.
"Hajar dia! Ajarkan dia sopan santun Ordo Long!"
Bahkan para Master di panggung tampak geram. Tantangan Yan Bingchen adalah penghinaan langsung bagi sistem akademi.
"Kau keterlaluan, Yan Bingchen!" geram Master Han, wajahnya memerah. "Jika itu maumu, maka rasakan akibat dari kesombonganmu. Murid-murid! Berikan dia pelajaran yang tidak akan pernah dia lupakan!"
Lebih dari seratus murid elit, dipimpin oleh Li Feng yang dendamnya belum padam, menghunus senjata mereka.
Mereka mengepung Yan Bingchen, menciptakan lingkaran pedang, tombak, dan gada yang mematikan.
"Mati kau!" Li Feng melesat, pedang peraknya memancarkan Qi angin yang tajam.
Yan Bingchen hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih dingin dari es di utara.
"Kalian ... terlalu lambat."
Yan Bingchen mengaktifkan kekuatan fisik Ranah ke-5 puncaknya. Ia tidak menggunakan Qi elemennya, hanya kecepatan murni. Tubuhnya menjadi bayangan hitam yang berkelebat di antara kerumunan.
PLAK! DUGH! BRAK!