NovelToon NovelToon
ReyLin

ReyLin

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Teen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Luh Sumartini

REMINDER !! ADA Beberapa Adegan D3w4s4



Rendy dan Linda

Dua manusia yang bersatu atas dasar perjodohan. Tidak ada yang tahu cerita itu, bahkan sampai mereka tidak jadi menikah pun ceritanya di tutup rapat.

tapi kilat putih dimalam itu membawa cerita yang berbeda -----


#mohon maaf masih pemula 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Sumartini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cemburu

-Masa Lalu Darren dan Linda-

"Darren, apa kamu akan sarapan di kantor atau di rumah?" tanya Linda lembut menatap kearah suaminya yang baru saja keluar dari kamar mereka, pria dengan setelan jas rapi dan menjinjing tas kerja itu melangkah turun sedikit tergesa - gesa.

"Sudah berapa tahun kita menikah? Kapan aku pernah sarapan di rumah? Seharusnya kamu jangan tanyakan hal yang sama setiap pagi." ucap Darren berlalu pergi meninggalkan Linda yang menatap kepergiannya dalam diam.

'Menjalankan rumah tangga bersama seorang pria yang bahkan tidak ada namaku di hatinya, ternyata rasanya se sakit ini ya. Apa dia begitu mencintai Diana? Padahal kami sudah ada dua anak.' kata batin Linda bergumam.

"Mama."

"Mowning Mama." sapa seorang anak laki - laki dengan logat cadelnya.

Sepasang anak kembar laki - laki dan perempuan berlari kecil menuju kearah Linda. Mengembalikan kesadaran Linda dari lamunan sesaatnya.

"Selamat pagi sayang." ucap Linda berjongkok, memberi kecupan secara bergantian kepada mereka berdua.

"Ayah?"

Linda harus memasang wajah tersenyum manis saat putrinya, Vira William mencari keberadaan Ayahnya.

"Ayah sudah berangkat kerja sayang. Ayah banyak perkerjaan, jadi Ayah sibuk. Nanti kalau Ayah sudah pulang kalian bisa bermain sebentar bersama Ayah." ucap Linda lembut mengusap kepala anak perempuannya.

"Sarapan sama Mama yuk."

Dua anak kecil yang manis itu tersenyum lebar. Mereka segera mengambil kursi dan menunggu sarapan di sajikan di atas meja.

"Selamat pagi Nyonya. Selamat pagi Tuan Muda dan Nona Muda." sapa Cassa seorang wanita paruh baya yang menjadi pengasuh mereka.

"Pagi Caca." sapa Denis balik dengan tawa lebarnya membuat pengasuhnya sangat gemas melihat tingkahnya.

"Pagi Cassa." sapa Vira tersenyum lembut, tampak lebih kalem dan elegan.

"Pagi Cassa. Terimakasih sudah membawakan sarapan kami." sapa Linda membantu menyiapkan sarapan kepasa Vira dan Denis.

"Nyonya duduk saja. Biar saya siapkan semuanya." kata Cassa menuntun Linda agar duduk kembali.

"Terimakasih Cassa." jawab Linda tersenyum manis.

"Tentu Nyonya." balas Cassa ikut tersenyum, ia mengerti saat ini suasana hati Tuannya sedang tidak baik - baik saja mengingat bagaimana Tuan Darren mengabaikan istrinya padahal diantara mereka ada dua anak yang sangat lucu dan menggemaskan.

"Kakek dan Nenek akan datang berkunjung mengajak kalian pergi ke suatu tempat." kata Linda membuka suara menatap dua buah hatinya yang nampak sedikit terkejut.

"Kemana.?" tanya Vira.

"Mama tidak tahu sayang. Kakek dan Nenek tidak mengatakan kalian akan di ajak kemana." jawab Linda.

"Jangan jadi anak yang nakal ya." sambung Linda lagi dan di jawab dengan ancungan jempol oleh Vira dan Denis membuat Linda tertawa.

-Masa Kini-

Linda membuka matanya perlahan. Ia berusaha menyesuaikan matanya saat cahaya mulai masuk ke dalam retina miliknya.

"Sudah bangun?"

Linda menoleh ke samping dan melihat Rendy yang duduk santai bersandar pada kursi mobil.

"Eh? Dimana?" tanya Linda menatap di sekelilingnya.

"Di dalam mobilku. Kamu tidur saat memelukku, jadi aku bawa ke sini." kata Rendy.

Blush !

Wajah Linda bersemu merah, bagaimana bisa ia tidur begitu saja. Mungkin karena di pelukan Rendy sangat nyaman.

"Maaf merepotkan Rendy." kata Linda setengah berbisik.

"Kamu bermimpi apa?" tanya Rendy kembali.

"Eh? Mimpi? Kenapa?"

"Kamu mimpi apa?" tanya Rendy lagi.

"Ada apa Rendy? Kenapa kamu tanya mimpiku." tanya Linda balik.

"Kamu menyebut nama Darren." jawab Rendy.

Deg !!

"Eh? Benarkah?"

"Meski singkat, aku dengar kamu panggil nama Darren bukan namaku." jawab Rendy.

"......."

"Kenapa diam Linda? Apa setelah aku menceritakan semuanya, kamu mulai tertarik sama Darren?" tanya Rendy menatap Linda yang terkejut.

"Mana mungkin aku tertarik sama Darren." jawab Linda.

"Tapi kamu sampai memimpikan Darren." kata Rendy.

Linda menghembuskan nafasnya, "Aku tidak tahu kenapa Darren muncul, lagi pula aku tidak bisa mengontrol mimpi."

"Aku tidak suka." kata Rendy menatap irish caramel Linda.

"Ayo pulang Ren." kata Linda menatap kearah samping.

"Linda?" panggil Rendy.

"Ya?"

"Bukan apa - apa." jawab Rendy bersiap menjalankan mobilnya.

"Rendy. Aku menyukaimu, bukan Darren. Tapi kamu Rendy Chandra."

Rendy tidak menjawab, dia menjalankan mobilnya dengan pelan.

"Ren?" panggil Linda kembali.

"Hm?"

"Kalau kamu masih diam. Aku cari Darren aja." ucap Linda kesal.

"Kalau kamu cari Darren, aku nikahi kamu sekarang juga !" jawab Rendy yang juga kesal.

Wajah Linda jadi merah mendengar ancaman yang tidak masuk akal dari Rendy. Kenapa dia malah mengancam mau menikahi Linda?

"Aku minta maaf Linda. Maaf aku buat kamu kesal. Aku hanya cemburu." kata Rendy menahan malunya.

Linda tersenyum. "Tidak Rendy, maaf aku buat kamu kesal. Aku hanya menyukaimu Rendy."

Rendy ikut tersenyum, "Aku juga hanya menyukai kamu. Ayo kita ke villa chandra." katanya dengan wajah tersenyum misterius.

"Aku mohon tidak hari ini sayang." kata Linda merinding.

Namun Rendy tidak mendengarkan Linda, dia menyetir mobilnya kearah jalan yang berbeda dari biasanya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Tahun demi tahun telah berlalu, anak - anak remaja itu kini beranjak dewasa. Linda yang tumbuh menjadi gadis dewasa itu telah bekerja sebagai sekretaris di perusahaan Chandra Group. Di bawah pimpinan Direktur muda, Rendy Chandra.

Meski Linda adalah keturunan Angkasa, tapi dia memilih belajar dan bekerja di perusahaan Chandra. Karena perusahaan Angkasa sudah pasti akan di ambil alih adiknya, Bagas Angkasa.

Wajah cantik yang sangat menarik banyak pasang mata itu berjalan dengan anggun menuju ruang kerja miliknya.

"Selamat pagi sekretaris Linda."

Linda menghentikan langkahnya dan menatap orang yang menyapanya. Ia lantas ikut menyunggingkan senyuman manisnya.

"Selamat pagi Peter. Apa ada dokumen yang harus di cek oleh Pak Direktur?"

Peter, Purchasing Manager itu tertawa ringan. "Aku bahkan belum sampai di mejaku loh."

Linda ikut tertawa, "Aku pikir kamu menyapa untuk dokumenmu yang masih di pending itu."

"Apa kamu itu workaholic? Jangan - jangan di dalam mimpi pun kamu juga sedang bekerja." canda Peter yang ikut melangkah di belakang Linda.

"Aku sangat cinta pekerjaanku." jawab Linda berhenti menunggu lift pegawai terbuka.

"Linda aku ragu kamu manusia yang normal." canda Peter tertawa kecil mengejek Linda.

"Aku sangat normal Peter." jawab Linda menepuk bahu Peter sembari tertawa ringan.

"Ehem !"

Suara batuk sedikit berat itu membubarkan obrolan ringan pagi itu. Sang Manager muda itu sedikit menunduk menyapa seorang pria dengan setelan jas rapinya dan aura wibawa yang mengelilinginya.

"Selamat Pagi Pak Direktur." sapa Peter dengan nada sopan.

"Selamat Pagi Pak Direktur, kenapa Bapak pagi - pagi sudah ada di sini?" sapa Linda dengan sopan dan merasa aneh melihat Direkturnya lebih awal sudah di kantornya.

"Apa saya tidak boleh datang ke kantor sendiri di pagi hari?" tanya pria itu dengan langkah tegap masuk ke dalam lift yang terbuka.

"Bukan seperti itu maksud saya. Maaf atas ketidaksopanan saya Pak Direktur." jawab Linda sembari menekankan kata ketidaksopanan.

Peter menelan ludah berada di antara dua pasang rupa yang berbeda jenis ini. Entah kenapa dia merasa aura dingin Direkturnya menekan dia dan di sekelilingnya.

Tombol lampu lift berkedip di angka 10 dimana kantor Peter berada. Pria itu lantas berpamitan kepada Linda.

"Lin aku duluan ya. Sampai jumpa lagi. Saya permisi Pak Direktur." ucap Peter berpamitan dan menatap mereka bergantian.

"Sampai jumpa Peter." jawab Linda dengan sumringah.

Sementara itu pria di sampingnya nampak masih berdiri dengan wajah kesal yang mudah terbaca.

Saat pintu lift kembali tertutup, Linda mulai berkacak pinggang dan menatap horor kearah pria yang masih berdiri di sebelahnya dengan wajah datar.

"Ren. Jangan pasang wajah menyeramkan begitu, kamu gak lihat Peter selalu menelan ludah karena gugup lihat kamu yang begini?" kata Linda.

"Lalu kenapa? Wajahku memang seperti ini." jawab Rendy tidak peduli dengan omelan Linda.

"Oh sayang, kamu bisa cepat tua kalau terus seperti itu." ucap Linda kembali menatap ke depan menunggu pintu lift terbuka.

Lengan besar Rendy membalut tubuh ramping Linda dari belakang, "Aku tidak suka kalian akrab." jawab Rendy dari balik punggung Linda.

"Jangan disini Rendy, ini di kantor." kata Linda berusaha melepaskan diri dari pelukan posesif pria yang sudah bertahun - tahun menjadi tunangannya.

1
Jro Resmiasa
terus berkarya Thor 💪💪💪🙏
Sumartini: terimakasih kak 🙏 semangat berkarya juga 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!