Guntur Abimanyu, seorang CEO muda yang hampir berumur 30 tahun dipaksa untuk menikah tapi tidak ingin menikah.
"JIKA AKU MENIKAH HANYA UNTUK MENGHASILKAN ANAK, AKU BISA LAKUKAN SEKALI TEMBAK KEPADA WANITA MANAPUN! JADI TIDAK PERLU MENIKAH" serunya kepada kakek serta ayah ibunya.
Rustam sang kakek yang memegang kendali perusahaan ingin cucu laki laki satu satunya ini segera menikah. Begitupun Randi dan Ela, orang tua Guntur juga ingin segera menikahkan putra sulungnya itu.
"Baiklah kalau begitu, buktikan kemampuan menembak benihmu kepada wanita yang kakek dan orang tuamu pilih" ucap sang kakek.
"OKE SIAPA TAKUT!!" seru Guntur menerima tantangan.
Tapi ternyata takdir berkata lain, setelah kesepakatan ini dibuat, Guntur bertemu dengan wanita yang meninggalkannya dengan cinta terdalam.
Jadi siapa yang menang dalam taruhan keluarga ini? Apakah wanita yang kembali datang atau wanita yang dipilihkan kakek serta orang tuanya, mampu membuat Guntur membuktikan keperkasaannya? Baca novel ini dan dukung terus yaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KONDISI KEHAMILAN
Nama Ratih sudah terpanggil, mereka bertiga pun masuk ruangan poli kandungan.
"Selamat sore, bapak ibu dan.." sapa dokter menggantung saat melihat pasiennya datang bertiga, biasanya rata rata berdua saja orang yang masuk keruangan.
"Selamat sore, dok. Saya adik dari pasangan ini, maaf ya kalau saya ingin ikut melihat calon keponakan saya" sahut Elora lebih dulu.
Ratih hanya tersenyum sedangkan Guntur sudah memasang raut wajah tidak suka.
"Oh baik, wah calon bayi pasti bahagia punya aunty seperti anda" sahut si Dokter.
"Dan untuk ibu dan bapak, pasti kalian juga bahagia memiliki adik perhatian seperti ini" lanjutnya.
"Iya dok. Alhamdulillah, saya punya adik ipar seperti Elora" ujar Ratih memuji adik dari calon suaminya itu.
"Mohon maaf dok, kok jadi bahas adik saya ya, saya sudah ingin melihat kondisi calon anak saya karena ini pertama kali kita mengecek kan di dokter kandungan" sela Guntur yang sudah tidak sabar.
"Baik baik, silahkan calon ibu keatas brankar ya , kita mulai pemeriksaan" ujar si dokter.
Mereka pun ke bilik pemeriksaan yang sudah tersedia alat USG dan monitor.
Tak lama prosedur dijalankan, suara detak jantung pelan terdengar.
Dug...dug..dug..
"Bapak, ibu, kalian bisa mendengar suara detak jantung bayi ya meskipun pelan? Perkiraan usianya sudah jalan 5 minggu" pengantar si dokter.
Dokter kemudian memincingkan pandangan ke monitor saat menemukan 2 titik.
"Dan lihat, disini ada 2 kantong calon bayi yang menandakan akan ada 2 calon bayi" lanjutnya dengan senyuman.
Deg.
Ratih, Guntur, dan Elora saling tatap.
"jadi keponakan saya langsung 2 dok?" tanya Elora yang terlihat lebih kepo daripada calon orang tua si bayi.
"Benar. Namun saya khawatir untuk 1 kantong ini kondisi janin kurang baik tapi masih bisa diusahakan untuk dipertahankan. Calon ibu harus lebih hati hati dan mengisi nutrisi tubuh untuk menormalkan perkembangan kedua janin sesuai usia" jawab si dokter.
Yang tadinya ketiga orang itu penuh raut kebahagiaan, kini sedikit pudar.
"Tapi tidak membahayakan keadaan istri saya kan dok?" tanya Guntur yang lebih khawatir kepada wanita yang mengandung bayinya.
"Saat ini masih normal dan sehat. Tapi seperti yang sebelumnya saya katakan, sekitar 1 atau 2 minggu harus menjaga kondisi hingga pertumbuhan kedua janin seimbang" jawab si dokter.
Guntur menggenggam tangan Ratih.
Setelah pemeriksaan selesai, mereka kembali ke meja dokter. Ratih, Guntur dan Elora mendengarkan penjelasan dokter hingga diberikan resep obat dan vitamin.
Setelah itu mereka keluar poli lalu ke apotik. Namun saat akan ke apotik, Elora menawarkan diri untuk menebus obat sedangkan menyuruh kakak serta calon kakak iparnya untuk menunggu dan beristirahat di mobil saja.
Guntur menerima ide sang adik, ia pun membawa Ratih ke mobil.
"Jangan khawatir, aku dan calon anak anak kita akan baik baik saja" celetuk Ratih saat berjalan menuju mobil sambil menggandeng Guntur yang raut wajahnya serius dan kaku.
"Hmm..aku tidak bisa tenang. Kondisimu cukup mengkhawatirkan sayang" sahut Guntur.
Ratih tersenyum.
"Tidak terlalu mengkhawatirkan jika dibandingkan dengan menunda pernikahan kita. Jika kamu mau, dalam minggu ini kita harus menikah" ucapnya.
Guntur berhenti berjalan dan menatap Ratih.
"Kamu serius? Apa tadi kamu tidak mendengar penjelasan dokter bahwa kamu setidaknya istirahat selama seminggu atau 2 minggu hingga kondisi kedua janin seimbang?" ucap pria itu.
"Aku mendengarnya, tapi jika ditunda terlalu lama, aku yang semakin merasa berdosa dan membuat kita semakin dosa juga. Aku malah kepikiran" sahut Ratih.
Guntur menghela nafas panjang.
"Apa aku panggil ayah mu saja ke Jakarta untuk menikahkan kita?" tawarnya.
"Jangan, nanti ayah sama kakak laki laki ku akan mengetahui siapa kamu sebenarnya dan aku semakin takut jika mereka mengganggu keluarga mu. Jangan sayang, gapapa kok kita ke karawang kan ada tol juga, ada Julian juga yang nyetirin. Kamu dampingi aku aja duduk di kursi penumpang" mohon Ratih.
Guntur terlihat tak bisa menolak keinginan calon istrinya itu.
"Baiklah, akan aku urus segera pernikahan kita ke karawang" sahut Guntur.
Ratih tersenyum tanda terima kasih dan mereka melanjutkan berjalan ke mobil sambil bergandengan tangan.
Sekitar 20 menit kemudian, Elora masuk mobil sambil membawa obat tapi menggerutu sendiri.
"Ck.benar benar yaa pelayanan umum itu sangat menjengkelkan..banyak ibu ibu yang nyerobot antrian" kesalnya.
Julian hanya menoleh sesaat lalu kembali fokus kedepan untuk menjalankan mobil.
Sedangkan Guntur dan Ratih penasaran dengan apa yang sudah terjadi di apotik.
"Memang ambil obatnya gak ada nomor antrian kah?" tanya Ratih.
"Nah itu sudah ada, tapi banyak yang antriannya kelewat tiba tiba datang nyerobot yang nunggu disana" jawab Elora.
"Hahaha sukurin, rasain tuh jengkel sama pelayanan umum karena tadi kamu bilang ke abang buat sabar biar antri kayak orang biasa" ejek Guntur.
Raut wajah Elora semakin ditekuk.
"Hmm..bener juga..kayaknya aku kena boomerang sendiri gara gara ceramahin abang" sahutnya.
Guntur kembali tertawa sebelum diam karena mendapatkan tatapan tajam dari Ratih.
"Yaudah yaudah, ini udah jam makam malam, gimana kita makan malam sekalian? Mami papi dan kakek kayaknya juga sudah makan malam dirumah" sahut Guntur mengembalikan suasana nyaman dalam mobil.
"Ya bang, kasih aku makan. Badmood banget aku" sahut Elora.
"Tapi aku tetep bahagia karena bakal punya 2 calon keponakan langsung. Semoga mereka sehat sehat sampai lahir dan Kak Ratih juga kuat serta sehat semuanya" lanjutnya.
"Terima kasih, adik ipar. Kamu terbaik! Mereka pasti bahagia memiliki aunty seperti kamu" sahut Ratih.
"Jul, kita pergi ke restauran Amore di Senayan ya" ujar Guntur.
"YES!!! ABANG MEMANG TERBAIK!" seru Elora yang terlihat sudah berganti mood.
"STEAK DISANA NOMOR 1!" lanjutnya.
Guntur memberikan kedipan bangga karena bisa mengembalikan mood sang adik didepan Ratih.
Ratih pun tersenyum lebar.
Pria disampingnya ini memang bisa mengubah suasana canggung jadi lebih nyaman.
Diam diam, Julian melirik kearah Elora yang sudah lebih tenang dan memainkan ponselnya.
"Kalau diem begini, cantik juga adik bos Guntur" batinnya.
"Tapi sadar diri lah. Aku cuma supir miskin yang gak punya apa apa untuk berani menyukai putri keluarga Abimanyu" lanjutnya dalam hati sambil tersenyum menyeringai.
Senyuman itu dilihat oleh Elora yang kebetulan menoleh kesamping.
"Ih senyumnya kayak merencanakan sesuatu licik gitu sih Julian" celetuknya membuat Julian langsung menoleh kesamping sesaat dengan raut wajah terkejut.
"Hust! Kamu kok bikin Julian gak konsentrasi nyetir aja, El. Jangan ganggu dia. Dia tuh pria baik baik, polos lagi, pinter lagi" sahut Guntur.
"Hmmm...aku cuma menilai ekspresi senyumannya tadi yang gak sengaja aku lihat" bela Elora pada diri sendiri.
"Mohon maaf, Nona muda. Jika senyuman saya membuat anda tidak nyaman" ujar Julian akhirnya bersuara.
"Oh bukan bukan..aaah sudahlah..aku juga terkadang tiba tiba tersenyum seperti itu" sahut Elora.
Suasana dalam mobil pun jadi canggung kembali. Guntur pun memecah situasi.
"Awas kamu jatuh cinta sama Julian loh El" ejek sang kakak.
"Abang apaan sih! Gak lucu bercanda begitu" ujar Elora.
"Hahahhaa ya lucu aja buat abang" balas Guntur.
Elora memilih diam.
Ratih hanya tersenyum tipis melihat interaksi Guntur yang suka menggoda Elora.
Julian semakin diam dan fokus menatap jalanan Jakarta yang sudah ramai mobil karena langit malam sudah muncul waktunya pulang kerja.