NovelToon NovelToon
Kukira Kita Spesial

Kukira Kita Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha Aprila

Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.

Semua terasa nyata. Terasa spesial.

Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.

Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.

Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang Penting Bareng Kamu

Pagi itu, untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, aku bangun dengan perasaan yang ringan.

Bukan cuma karena ide motorku mulai jelas—

tapi juga karena semalam… rasanya berbeda.

Aku duduk di tepi kasur, menatap sebentar ke arah meja belajar.

Laptop masih di sana.

Perlahan, aku bangkit dan membukanya.

Layarnya menyala.

Desain itu muncul lagi.

Masih sederhana.

Masih belum sempurna.

Tapi…

ini pertama kalinya aku melihat sesuatu yang benar-benar punya arah.

Aku memperhatikannya beberapa detik.

Seolah memastikan—

ini bukan cuma bayangan semalam.

Lalu menutup laptop pelan.

Hari ini…

aku pengen nunjukin ini ke bengkel.

Aku bersiap lebih cepat dari biasanya.

Tanpa banyak berpikir, laptop langsung kumasukkan ke dalam tas.

Rasanya seperti membawa sesuatu yang penting.

Bukan sekadar barang—

tapi ide.

Di depan gerbang rumah Cila, aku menunggu seperti biasa.

Tak lama, Cila keluar.

“Semangat banget keliatannya,” katanya sambil mengangkat alis.

Aku cuma nyengir.

“Iya aku udah nggak sabar, pengen buruan di garap,” ucapku sambil menepuk stang motor.

Cila mengangguk paham.

“Sini,” kataku.

Aku memintanya mendekat, lalu memakaikan helm.

Cila tersenyum kecil.

Lalu kami berangkat seperti biasa.

Begitu sampai di kelas, suasana masih santai. Sepertinya terlalu pagi.

Belum semua siswa datang.

Ternyata Andi pun belum datang. Memang biasanya dia suka datang siang, bahkan nggak aneh kalau telat.

Aku memutuskan ke kelas Cila.

Dan memang masih sedikit yang datang.

Aku mendekati Cila.

“Cil…”

“Ngobrol di luar yuk,” lanjutku, karena bosan juga di kelas.

Kami pun keluar, lalu bersandar ke pagar sekolah sambil melihat ke bawah.

“Sabar, Rendra…” ucap Cila sambil tertawa kecil.

“Hehe, kelihatan ya,” jawabku sambil menggaruk kepala.

“Sebentar lagi juga Andi datang,” katanya santai.

Aku cuma nyengir. “Hehe, iya.”

Kami ngobrol ringan.

Aku sempat menanyakan teman-temannya yang belum datang.

Lalu obrolan pindah ke rencana.

“Eh, nanti aku mau nonton bioskop sama Prisia sama yang lain,” kata Cila santai.

Aku menoleh.

“Oh ya?”

“Iya. Udah direncanain dari kemarin,” lanjutnya. “Kamu ikut nggak?”

Aku diam sebentar.

Lalu refleks menjawab—

“Lah… masa cowok main sama cewek.”

Cila langsung menatapku.

Beberapa detik.

Lalu—

dia ketawa kecil.

Bukan ketawa yang ngeledek.

Lebih ke… menahan sesuatu.

Aku mengernyit sedikit.

“Kenapa?”

Cila menggeleng pelan, masih sambil tersenyum.

“Nggak… nggak apa-apa.”

Aku cuma mengangkat bahu.

“Ya maksudnya… aneh aja.”

“Iya, iya…” jawab Cila santai.

Tapi senyumnya masih ada.

Dan entah kenapa—

aku merasa…

dia ngerti sesuatu yang aku sendiri belum kepikiran.

Tapi dia nggak ngomong.

Tak lama, beberapa teman Cila datang dan masuk ke kelas.

Suasana mulai ramai.

Tidak lama kemudian—

Andi muncul.

“Ya elah, pagi-pagi udah pacaran,” ucapnya santai.

Bara menyusul di belakang, masih terlihat setengah ngantuk.

Aku dan Cila cuma diam.

“Tuh, datang kan. Ya udah, aku masuk kelas ya,” ucap Cila.

Aku mengangguk.

“Iya.”

Cila masuk duluan.

Aku menoleh ke Andi.

“Lu nungguin gue?” tanya Andi.

“Iya, ada yang mau gue tunjukin,” kataku sambil jalan ke kelas.

“Nanti kita ke bengkel, kan?” lanjutku.

Andi langsung paham.

“Ooh… soal itu.”

“Iya. Bang Andra ada kan?”

Andi diam sebentar.

Lalu nyengir tipis.

“Nggak.”

Aku langsung mengernyit.

“Lah?”

“Dia Sabtu masih sibuk kerja. Biasanya hari Minggu baru stay di bengkel,” jawabnya santai.

Langkahku sempat melambat.

Beberapa detik aku nggak langsung jawab.

Semangat yang dari pagi terasa penuh—

seperti ditahan tiba-tiba.

Nggak hilang.

Tapi… berhenti.

“Oh…”

Andi melirik ke arahku.

“Kenapa? Ngebet amat,” katanya sambil nyengir.

Aku cuma menghembuskan napas kecil.

“Udah kepikiran dari semalam.”

Andi ketawa ringan.

“Ya udah, tahan dulu. Minggu aja kita ke sana. Sekalian santai.”

Aku mengangguk pelan.

“Iya… ya udah.”

“Mana, katanya lu mau nunjukin sesuatu?” tanya Andi lagi.

Aku sempat diam sebentar.

Melirik tas di pundakku.

Laptop itu masih di dalam.

Siap.

Tapi belum waktunya.

“Besok aja,” jawabku akhirnya. “Kalau udah ketemu Bang Andra.”

Andi mengangkat bahu.

“Oke.”

Kami lanjut jalan ke kelas.

Di dalam tas—

laptop itu tetap ada.

Dan untuk pertama kalinya—

aku harus nahan diri.

Nunggu.

Sedikit lebih lama.

--

Setibanya di dalam kelas, suasana sudah mulai hidup. Beberapa bangku terisi, suara obrolan ringan saling bersahutan.

Kulihat Miko sudah duduk di kursinya—tenang seperti biasa. Tasnya terbuka setengah, tangannya sibuk dengan sesuatu.

“Kok lu udah di sini aja, Mik?” tanyaku sambil mendekat.

Miko melirik sekilas. “Tadi gua lewat… lu keliatan fokus ngobrol sama cewek.”

Aku tersenyum kecil. “Oh… Cila.”

Belum sempat obrolan lanjut, suara Andi tiba-tiba memecah suasana dari belakang.

“Woy, tar malming nongkrong yuk.”

Bara yang tadinya setengah rebahan langsung bangkit.

“Gass lah,” ucapnya cepat, nadanya langsung penuh energi.

Andi menoleh ke arahku. “Jangan bilang lu ga bisa.”

Aku diam sejenak.

Kepikiran Cila—malam ini dia ada acara. Nonton sama teman-temannya.

Berarti… aku kosong.

Dan entah kenapa, rasanya aneh juga kalau dilewatin begitu saja.

“Boleh,” jawabku akhirnya. “Di mana?”

Aku melirik ke Miko. “Lu ikut, kan?”

Miko mengangkat bahu santai. “Gimana nanti.”

“Di bengkel lah,” jawab Andi tanpa ragu.

“Anjir, bosen gue,” sahut Bara sambil mendesah pelan.

Hening sebentar.

Aku menatap meja.

Bengkel lagi.

Padahal dari pagi… aku justru lagi belajar nahan diri buat nggak ke sana.

Dan mungkin—

ini kesempatan buat coba sesuatu yang beda.

“Gimana kalo kita ke kafe?” ucapku. “Gue tau tempat bagus.”

Andi dan Bara langsung saling pandang.

“Boleh tuh,” jawab mereka hampir bersamaan.

“Gue ikut,” kata Miko singkat.

Bara langsung nyengir. “Anjir, Miko kayaknya paling anti kalo ke bengkel.”

“Yaa… ga anti juga,” jawab Miko santai.

Aku ikut tersenyum kecil.

“Ya udah, fix ya. Kumpulnya di bengkel dulu. Jam berapa?” tanyaku memastikan.

“Sore aja,” jawab Andi. “Sekalian kita tuker nomor HP biar gampang.”

Kami pun mulai saling menyebut nomor.

Andi ribut sendiri, Bara ikut nyeletuk sana-sini, Miko tetap kalem seperti biasa.

Aku mengetik nomor satu per satu.

Sederhana.

Tapi entah kenapa—

rasanya seperti ada sesuatu yang mulai terbentuk.

Hari berjalan seperti biasa.

Pelajaran demi pelajaran lewat tanpa terasa.

Sesekali aku masih melirik tas di samping meja.

Laptop itu masih di dalam.

Masih menunggu.

Tapi kali ini—

aku tidak terburu-buru.

Bel pulang akhirnya berbunyi.

Suasana kelas langsung berubah.

Kursi bergeser, suara obrolan meningkat, beberapa siswa sudah berdiri bahkan sebelum guru benar-benar keluar.

Aku ikut berdiri.

Merapikan tas.

Memastikan laptop itu tetap aman di dalam.

Andi menepuk bahuku.

“Nanti sore jangan ngilang,” katanya santai.

Aku mengangguk.

“Iya.”

Bara sudah duluan keluar.

Miko menyusul tanpa banyak bicara.

Aku melangkah keluar kelas.

Mataku otomatis mencari satu arah.

Cila.

Area parkiran mulai ramai.

Motor keluar.

Suara mesin saling bersahutan.

Aku berdiri di dekat motorku.

Menunggu.

Tidak lama—

Cila muncul dari arah belakang.

___

Suasana parkiran mulai lengang.

Beberapa motor sudah keluar lebih dulu, menyisakan suara mesin yang sesekali masih terdengar.

Aku berdiri di samping motorku.

Cila sudah di depan.

Seperti biasa, aku mengambil helm, lalu memakaikannya ke kepalanya.

Gerakan yang sederhana.

Sudah sering.

Tapi entah kenapa…

aku tetap suka melakukannya.

“Cil…”

“Iya?” jawabnya ringan.

“Rencana kamu nanti malam… nonton jadi?”

Cila mengangguk kecil.

“Jadi.”

Lalu dia menatapku sedikit lebih lama.

“Kenapa? Kamu mau ikut?”

Aku tidak langsung menjawab.

Hanya diam beberapa detik.

Pandanganku sempat turun ke arah stang motor.

Lalu—

“Siang ini kamu sibuk nggak?” tanyaku.

Cila terlihat berpikir.

Tangannya naik, menyentuh dagu.

Matanya melihat ke atas, seolah benar-benar mempertimbangkan.

“Mmm…”

Dia kembali menatapku.

“Kayaknya sibuk, deh.”

Dia diam.

Menunggu reaksiku.

“Oh…”

Aku membalas singkat.

Lalu berbalik, bersiap menyalakan motor.

“Ya udah, pulang yuk.”

Baru saja tanganku menyentuh kunci—

“Tar dulu…”

Aku berhenti.

“Kamu nggak tanya aku mau sibuk ngapain?” lanjutnya.

Aku menarik napas pelan.

Membalikkan badan.

Sedikit.

Cukup untuk menatapnya lagi.

Sebenarnya—

ada rasa kecewa.

Tapi bukan ke dia.

Lebih ke… situasinya.

Aku menghembuskan napas perlahan.

“Emang kamu mau sibuk ngapain…” tanyaku datar.

Cila tersenyum kecil.

“Sibuk nggak ngapa-ngapain… hehe.”

Aku diam satu detik.

Lalu mengangguk kecil.

“Ya udah, yuk. Naik.”

Cila langsung naik ke motor.

Aku menyalakan mesin.

Kami pun mulai jalan.

Beberapa saat…

kami diam.

Hanya suara angin dan mesin yang menemani.

Sampai tiba-tiba—

*jleb.*

Jari Cila menusuk ke pinggangku.

Refleks.

“Cilaa—!”

Motor sedikit oleng.

“Lagian kamu kok diem,” ujarnya santai dari belakang.

“Hm…” jawabku pendek.

Belum sempat suasana balik tenang—

*jleb.*

Sekali lagi.

Motor kembali goyang.

“Bahaya, Cilaa…”

Aku sedikit menoleh.

“Kita mau ke mana?” tanyanya.

Aku diam sebentar.

“Gak tau.”

“Ih… gitu aja ngambek,” katanya sambil tertawa kecil.

“Enggak. Aku nggak ngambek,” jawabku cepat.

“Terus kita mau ke mana?” tanyanya lagi.

Aku menarik napas pelan.

Dan tanpa sadar—

jawabannya keluar begitu saja.

“Kemana aja… yang penting sama kamu.”

Hening.

Beberapa detik.

“Apa?” tanya Cila.

Aku langsung tersadar.

Jantungku berdebar sedikit lebih cepat.

Refleks, aku menggeser spion.

Memastikan dia tidak melihat wajahku.

“I-itu…”

Aku tidak melanjutkan.

Motor tetap berjalan.

Angin tetap berhembus.

Dan setelah itu—

kami sama-sama diam.

__

Beberapa saat kami hanya diam.

Angin masih berhembus pelan saat motor terus melaju.

Sampai akhirnya—

“Gimana kalau kita makan dulu?” kata Cila tiba-tiba.

Aku sedikit menoleh.

“Ayo… kamu mau makan apa?”

Cila mengangkat bahu kecil.

“Terserah. Lagi laper aja.”

Aku memperlambat laju motor.

Mataku menyapu jalanan sekitar.

Sampai akhirnya—

sebuah restoran seafood terlihat di pinggir jalan.

Lampunya cukup ramai.

Kelihatan hidup.

Aku sedikit menunjuk ke arah sana.

“Mau nyoba nggak?”

Cila ikut melihat.

“Boleh… kayaknya enak.”

Aku langsung membelokkan motor ke area parkir.

Kami duduk berhadapan.

Memesan menu yang berbeda.

Tidak lama, makanan datang.

Aromanya langsung terasa.

Hangat.

Menggoda.

Kami mulai makan.

Cila terlihat menikmati.

“Mm… enak,” katanya pelan.

Lalu tiba-tiba dia mengambil sedikit dari makanannya.

Dan—

menyodorkannya ke arahku.

“Cobain nih.”

Aku sempat diam.

Menatap tangannya sebentar.

Lalu ke wajahnya.

Cila terlihat santai.

Seolah itu hal biasa.

Tanpa banyak berpikir lagi—

aku mendekat sedikit.

Dan memakannya.

“Gimana?” tanyanya.

Aku mengangguk kecil.

“Enak.”

Aku kembali ke makananku.

Tapi entah kenapa…

ada rasa yang berbeda.

Bukan dari makanannya.

Beberapa saat kemudian—

aku melakukan hal yang sama.

Mengambil sedikit dari piringku.

Lalu menyodorkannya ke arah Cila.

“Ini… coba.”

Cila langsung mendekat tanpa ragu.

Memakannya.

Lalu tersenyum kecil.

Kami kembali makan seperti biasa.

Ngobrol ringan.

Sesekali bercanda.

Seolah tidak ada yang berubah.

Tapi—

entah kenapa…

aku mulai terbiasa dengan hal-hal kecil seperti itu.

--

Piring kami sudah kosong.

Aku berdiri lebih dulu.

“Udah?” tanyaku.

Cila mengangguk kecil.

Kami berjalan ke arah kasir.

“Berapa semuanya, Mbak? Meja yang sana,” kataku sambil menunjuk ke arah tempat kami tadi.

Mbak kasir mulai menghitung.

Beberapa detik.

Lalu layar kecil di depannya diputar ke arahku.

Aku mengangguk.

“Pembayarannya QRIS aja ya, Mbak.”

Aku mengeluarkan HP.

Belum sempat scan—

“Punya aku berapa?” tanya Cila di sampingku.

Aku melirik sekilas.

“Nggak tahu… udah sekalian aja, aku yang bayar.”

Cila langsung mengernyit sedikit.

“Jangan dong, aku juga bisa bayar sendiri.”

Aku menghela napas kecil.

“Ribet, Cila… semuanya udah di-totalin. Susah misahinnya.”

Cila diam.

Nggak jawab.

Aku langsung scan.

Transaksi selesai.

Kami berjalan keluar menuju parkiran.

Langkah Cila sedikit lebih pelan dari biasanya.

Aku melirik.

Dia terlihat cemberut tipis.

Aku langsung paham.

Bukan marah.

Lebih ke… nggak enak.

Aku menghela napas kecil.

Belum sempat ngomong apa-apa—

“Setelah ini ke mana?” tanya Cila tiba-tiba.

Aku menoleh.

“Kamu mau pulang?” tanyaku balik.

Cila diam.

Aku ikut diam sebentar.

“Aku nggak mau pulang dulu,” ucapku.

Cila melirik.

Diam lagi.

Aku berpikir sejenak.

“Kamu mau es krim?”

Ekspresinya langsung berubah.

“Boleh!”

Lalu dia menatapku.

Kali ini lebih semangat.

“Tapi aku yang bayar.”

Aku sedikit terdiam.

Lalu nyengir kecil.

“Iya, iya… terserah kamu.”

Beberapa menit kemudian, kami sudah duduk sambil menikmati es krim.

“Wah, kalau gini kita bisa gemuk ya,” kataku santai.

Cila langsung menoleh.

“Emang sekarang aku kelihatan gemuk?”

Nada suaranya berubah sedikit.

Aku langsung sadar.

“Enggak… bukan itu maksudnya—”

“Udah ah, aku kenyang,” potongnya.

Dia berhenti makan.

Aku cuma bisa diam sebentar.

Lalu pelan-pelan menghabiskan es krimku.

Dan… es krimnya juga.

“Ya udah, besok kita lari. Bakar kalori,” ucapku mencoba memperbaiki suasana.

Cila diam.

Beberapa detik.

Lalu mengangguk kecil.

“Iya.”

Aku sedikit lega.

Sampai tiba-tiba—

“Mana es krim aku tadi?”

Aku menoleh.

“Hah? Tadi katanya udah…”

“Ya aku abisin lah.”

Cila menatapku datar.

“Ih…”

“Mau lagi.”

“Ya udah, beli lagi yuk.”

Cila mengangguk kecil. Masih kelihatan jutek, tapi langkahnya tetap ngikut di sampingku.

Kami berhenti di gerai yang sama.

“Rasa apa?” tanyaku.

“Yang beda,” jawabnya singkat.

Aku cuma senyum tipis.

Iya, yang beda. Biar suasananya juga ikut beda.

Beberapa menit kemudian, kami duduk lagi.

Suasana jadi lebih hangat dari sebelumnya.

Cila langsung makan tanpa banyak komentar. Sendoknya bergerak cepat, tapi ekspresinya masih setengah malas.

Aku nggak ganggu.

Cuma sesekali ngelirik… dan pura-pura nggak ketahuan.

Lima menit.

Sepuluh menit.

“Kenyaaang…” gumamnya akhirnya.

Tangannya pindah ke perut.

Tapi es krimnya masih setengah.

Aku angkat alis.

“Jangan buang-buang makanan, dosa.”

Dia melirikku datar.

“Ini juga dosa kalo dipaksa.”

“Tapi lebih dosa lagi kalo mubazir.”

Cila mendesah panjang.

Sendoknya jalan lagi. Pelan. Berat.

Satu suap.

Dua suap.

Lalu berhenti.

“Udah nggak kuat…”

Tangannya turun. Sendoknya nyentuh cup pelan.

Aku langsung nyodorin tangan.

“Sini.”

Dia nengok.

Refleks.

“Eh—”

Belum selesai, es krimnya udah pindah ke tanganku.

Aku langsung nyuap.

“Hmm… lumayan.”

Cila cuma bengong, matanya ngikutin setiap gerakanku.

Lalu aku nyeletuk santai,

“Emang kalo makan es krim itu… kalo satu kurang…”

Aku sengaja berhenti sebentar.

Cila masih diem.

“…kalo dua… puluh itu kebanyakan.”

Aku ketawa kecil.

Hening.

Satu detik.

Dua detik.

Cila nutup mulutnya.

“Heh…”

Bahunya mulai goyang.

Terus—

“Hahaha… apaan sih!”

Tawanya pecah.

Bener-bener lepas.

Dia sampai nunduk, megang perutnya lagi.

“Ya iyalaaah!”

Sekarang bukan karena kenyang.

Aku cuma ikut ketawa kecil, sambil masih megang cup es krim yang setengah kosong.

Cila nyenggol lenganku pelan.

“Balikin.”

“Lah katanya nggak kuat.”

“Tapi itu punyaku.”

Aku sengaja menjauh sedikit.

“Udah, ini bagian penyelamatan makanan.”

“Ih pelit banget sih…”

Dia akhirnya nyender sedikit ke arahku, masih sambil senyum-senyum sendiri.

Nggak ada yang ngomong lagi.

Tapi kali ini… diemnya enak.

Nggak kayak tadi.

Aku nyuap satu sendok lagi, lalu tanpa mikir—

“Coba.”

Cila nengok.

Aku sodorin sendoknya.

Dia sempet ragu.

Tapi akhirnya nerima juga.

Dan tanpa sadar… senyumnya balik lagi.

Kecil.

Tapi cukup.

Dan entah kenapa—

Es krim yang ini rasanya lebih manis dari yang pertama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!