Sebelum kau membaca kisah ini, kau harus tahu satu hal:
Aku bisa melihat bagaimana kau akan mati.
Bukan dengan bola kristal. Bukan dengan ritual aneh. Cukup dengan menyentuhmu. Satu sentuhan, dan mataku akan dipenuhi gambar—kau di ujung napas terakhir, dengan cara yang mungkin tidak pernah kau bayangkan.
Kakek bilang ini kutukan. Aku bilang ini hadiah.
Karena dengan hadiah ini, aku tahu siapa yang harus aku hindari.
Tapi malam itu, saat pertama kali menyentuh Damian Adhiratria, aku tidak melihat kematiannya.
Aku melihat kematianku sendiri.
Dan aku tersenyum.
Karena akhirnya, setelah 24 tahun, aku tahu kapan aku akan mati.
Tepat 6 bulan setelah menikahi iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: “Kau benar. Aku bunuh dia. Agar aku bisa hidup.”
Udara di ruang bawah tanah terasa seperti menekan paru-paruku dari dalam. Setiap hela napas terasa seperti menghirup pecahan kaca—tajam, perih, dan meninggalkan luka di tenggorokan.
Aku tidak tahu sejak kapan tanganku mengepal. Kuku-kukuku menusuk telapak tangan, tapi rasa sakit fisik itu bahkan tidak seperseribu dari apa yang kurasakan saat mendengar kalimat itu.
“Kau benar. Aku bunuh dia. Agar aku bisa hidup.”
Damian berdiri tiga meter di depanku. Punggungnya menempel pada rak besi berkarat yang dipenuhi buku-buku bersampul anak-anak. Cahaya senterku yang terjatuh di lantai menyorot setengah wajahnya—setengah terang, setengah tenggelam dalam bayangan. Seperti dirinya. Selalu setengah-setengah.
Di antara kami, buku harian kecil itu masih terbuka di halaman terakhir. Halaman dengan tulisan anak-anak yang gemetar:
“Aku mati di sini.”
Napasku tersendat. “Kau… kau membunuhnya?” Suaraku tidak terdengar seperti milikku. Lebih seperti suara orang asing yang sedang menahan sesuatu yang siap meledak di dada.
Damian tidak menjawab. Ia hanya menatapku dengan mata hitam pekat yang tidak pernah bisa kubaca. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu di sana. Bukan kebencian. Bukan kemarahan.
Rasa takut.
“Damian.” Aku melangkah maju satu langkah. Kakiku gemetar. “Jawab. Kau bunuh anak kecil itu?”
Ia tersenyum.
Bukan senyum yang kukenal selama dua minggu terakhir—senyum dingin yang membuat lawan bicaranya ingin mundur. Ini senyum yang berbeda. Pahit. Terluka. Seperti seseorang yang sudah lelah berpura-pura kuat.
“Anak kecil itu?” Damian menunduk, tertawa kecil. Suaranya serak. “Dia bukan anak kecil, Alea. Dia adalah aku yang dulu. Dan aku… aku harus membunuhnya.”
---
Aku merasakan dadaku sesak. Di kepalaku, suara Damian Kecil berputar-putar seperti rekaman rusak:
“Kak, Damian dewasa jahat. Dia kunci aku di sini.”
“Aku mati di sini 20 tahun lalu.”
“Damian dewasa mau bunuh aku. Tolong.”
Jari-jariku gemetar saat meraih buku harian itu dari lantai. Sampulnya lembap, berjamur. Aroma tanah basah dan sesuatu yang manis busuk menyengat hidungku.
“Buku ini,” aku berkata, suaraku pecah di tengah jalan. “Dia menulis ini. Damian Kecil menulis ini di sini. Di ruang ini. Saat kau kurung dia.”
Damian mendongak. Matanya menyapu ruangan—dinding bata lembap, lantai tanah, kotak-kotak usang, dan di sudut, boneka beruang dengan satu mata. Aku melihat ada sesuatu yang bergerak di wajahnya. Retakan. Retakan kecil di topeng es yang selalu ia kenakan.
“Kau tahu,” ia mulai, suaranya pelan. Hampir seperti bisikan. “Ruangan ini tidak pernah berubah sejak dua puluh tahun lalu. Aku sengaja tidak menyentuhnya. Sebagai pengingat.”
“Pengingat untuk apa?”
Ia berjalan ke sudut ruangan. Setiap langkahnya terasa berat, seperti kakinya ditanam di tanah basah. Ia berhenti di depan boneka beruang itu. Dengan gerakan lambat—sengaja, penuh arti—ia mengambil boneka itu. Tangannya yang besar menggenggam kepala boneka yang hanya tersisa satu mata kancing.
“Aku tidak membunuhnya, Alea.” Suara Damian tiba-tiba berubah. Lebih muda. Lebih rapuh. Aku hampir tidak mengenalinya. “Aku… menguburnya.”
“Apa bedanya?”
“Bunuh berarti mengambil nyawa seseorang.” Ia menoleh ke arahku. Dan untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang tidak pernah kubayangkan ada di wajah pria ini.
Air mata.
Mengalir perlahan dari mata kirinya, membasahi pipi tirusnya, jatuh ke ujung dagu, lalu menetes ke kepala boneka beruang yang dipegangnya.
“Aku tidak mengambil nyawanya. Dia masih ada di sini.” Ia menunjuk dadanya sendiri. “Tapi aku memilih untuk tidak mendengarkannya. Aku memilih untuk menjadi diam. Menjadi dingin. Menjadi monster yang tidak bisa disakiti lagi. Karena kalau aku tetap menjadi dia… aku tidak akan selamat.”
---
Aku ingin marah. Aku ingin berteriak, meninju dadanya, memaksanya untuk mengembalikan Damian Kecil yang ketakutan itu. Tapi kakiku justru mundur dua langkah. Bukan karena takut.
Karena apa yang kulihat di matanya.
Damian menjatuhkan boneka beruang itu. Boneka malang itu jatuh ke tanah dengan bunyi yang terlalu keras untuk benda sekecil itu. Lalu ia berlutut.
Pria yang kemarin membunuh tiga puluh orang sendirian. Pria yang dijuluki The Silent Reaper. Pria yang bahkan namanya saja membuat para bos mafia gemetar.
Sekarang berlutut di hadapanku di atas tanah basah ruang bawah tanah yang berbau kematian.
“Kau tahu kenapa aku menikahimu, Alea?” Suaranya parau. “Bukan karena kakekmu. Bukan karena kau cantik. Bukan karena kau bisa melihat kematian.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Dadaku terasa terlalu penuh.
Damian mengangkat wajahnya. Air mata di matanya tidak berhenti mengalir, tapi senyum yang ia tunjukkan adalah senyum paling tulus yang pernah kulihat dalam hidupku.
“Karena kau melihat Damian Kecil. Dan kau tidak lari.”
Dunia terasa berhenti berputar.
“Aku sudah dua puluh tahun menguburnya,” lanjut Damian. “Aku pikir dia mati. Aku pikir dengan membungkam tangisnya, dengan membunuh semua rasa takut dan sakit itu, aku akan menjadi kuat. Dan aku memang kuat. Tapi aku juga kosong.”
Tangannya meraih sesuatu dari saku jaketnya. Pisau lipat kecil dengan gagang kayu—bukan senjata yang biasa ia gunakan. Ini pisau tua, usang, dengan ukiran namanya yang sudah memudar.
“Ini miliknya,” kataku, tanpa sadar.
Damian mengangguk. “Dia menyimpannya di bawah bantal setiap malam. Untuk melindungi dirinya dari ayah. Dari ibu. Dari semua orang yang ingin menyakitinya.”
Ia membuka pisau itu. Bilahnya berkarat, tapi masih tajam. Di bawah cahaya senter yang redup, pisau itu memantulkan bayangan wajah Damian yang terbelah—setengah terang, setengah gelap.
“Malam ini,” Damian berkata, matanya menatap pisau itu, “aku akan mengembalikannya.”
Jantungku berdegup kencang. “Apa maksudmu?”
“Aku tidak bisa terus begini, Alea. Aku lelah.” Ia tersenyum lagi. Kali ini senyum yang membuatku ingin menangis. “Selama dua minggu kau di sini, Damian Kecil hidup lagi. Aku mendengar suaranya. Aku merasakan ketakutannya. Dan aku sadar… selama ini aku bukan hidup. Aku hanya bertahan.”
Pisau itu bergerak. Damian memegang gagangnya, mengarahkan bilahnya ke telapak tangan kirinya.
“Tunggu!” Aku melangkah maju, tanganku meraih pergelangan tangannya. Detak nadiku terasa seperti akan meledak. “Apa yang kau lakukan?”
“Mengembalikan dirinya,” jawab Damian datar. “Jika aku mati, dia akan hidup. Karena tubuh ini akan kembali padanya. Damian Kecil akan bangun di sini, tanpa ingatan tentang apa yang kulakukan selama dua puluh tahun ini. Dia akan menjadi anak kecil yang polos. Dan kau… kau bisa menjaganya.”
“Tidak!” Aku meraih pisau itu dengan tangan kosong. Bilahnya menusuk telapak tanganku. Darah panas mengalir di sela-sela jariku. Tapi aku tidak melepaskan.
“Apa kau gila?” Damian membentak. Untuk pertama kalinya, suaranya meninggi. Ia mencoba menarik pisau, tapi aku tidak membiarkannya.
“Aku tidak akan membiarkan kau bunuh diri di depanku!”
“Ini bukan bunuh diri. Ini membebaskannya!”
“Ini bunuh diri!” Aku berteriak. Darahku menetes ke lantai tanah, bercampur dengan debu dan air mata yang tidak kusadari sejak kapan mengalir. “Kau tidak bisa menyelesaikan semuanya dengan mati, Damian! Itu yang diajarkan ayahmu padamu, kan? Bahwa kematian adalah jawaban untuk semua masalah?”
Damian membeku.
“Aku membaca buku harian itu,” lanjutku, suaraku serak. “Halaman demi halaman. Ayahmu mengurungmu di sini karena kau tidak mau membunuh anjing peliharaanmu. Ibu tirimu membusuk di sudut ruangan ini selama tiga bulan. Dan kau… kau bertahan. Kau menciptakan Damian dewasa agar kau bisa keluar dari sini.”
Tanganku masih menggenggam bilah pisau. Darah terus mengalir, tapi rasa sakit fisik itu bahkan tidak kurasakan.
“Dan sekarang,” aku berbisik, “setelah dua puluh tahun bertahan, kau ingin menyerah? Setelah kau tahu ada orang yang melihat Damian Kecil? Setelah kau tahu kau tidak sendirian?”
Damian menatap tanganku yang berlumuran darah. Lalu ia melihat ke wajahku. Matanya—hitam pekat yang selalu sulit kubaca—sekarang seperti cermin yang retak. Aku bisa melihat semua yang selama ini ia sembunyikan.
Ketakutan. Kesepian. Kerinduan.
Dan cinta.
Cinta yang bahkan mungkin ia sendiri tidak sadar selama ini tumbuh di antara dinding-dinding es yang ia bangun.
“Alea…” Namanya keluar dari bibirnya seperti doa. Seperti mantra yang menghentikan waktu.
Ia melepaskan pisau. Bilah karatan itu jatuh ke lantai dengan bunyi kling yang terlalu keras. Lalu, dengan gerakan lambat, tangannya yang besar meraih tanganku yang terluka. Jari-jemarinya yang dingin membalut telapak tanganku yang basah oleh darah.
“Bodoh,” bisiknya. Suaranya gemetar. “Kenapa kau lakukan itu?”
“Karena aku tidak mau kehilangan kalian.”
Kata-kata itu keluar sebelum aku sempat menahannya. Udara di ruangan terasa berubah. Damian mengangkat wajahnya, menatapku dengan mata yang basah dan merah.
“Kalian?”
Aku menggigit bibir. Terlambat untuk menariknya kembali.
“Damian dewasa yang menyelamatkanku dari Haydar. Damian Kecil yang mengajakku main petak umpet. Kalian berdua… kalian berdua bagian dari orang yang sama.” Aku menarik napas dalam-dalam. Dadaku sakit, tapi bukan karena luka di tangan. “Dan aku tidak mau kehilangan kalian berdua.”
Damian terdiam. Selama beberapa detik yang terasa seperti tahun, ia hanya menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kuartikan. Lalu, perlahan, ia menarik tanganku ke dadanya. Telapak tanganku yang terluka menempel pada kain kemejanya yang basah oleh keringat—atau mungkin air mata.
“Dengar,” bisiknya. “Kau bisa merasakannya?”
Di bawah telapak tanganku, jantungnya berdegup. Kencang. Tidak teratur. Seperti seseorang yang sedang ketakutan.
“Ini detak jantung Damian dewasa,” katanya. “Tapi di dalamnya… ada detak jantung Damian Kecil. Aku tidak pernah benar-benar membunuhnya, Alea. Aku hanya memaksanya diam. Dan kau… kau adalah satu-satunya yang membuatnya ingin bersuara lagi.”
Air mataku jatuh. Menetes ke punggung tangannya yang masih membalut lukaku.
“Kau bilang kau melihat kematian orang,” lanjut Damian. Suaranya semakin pelan, hampir seperti bisikan anak kecil. “Apa kau lihat kematianku?”
Aku menggeleng. Itu bohong. Aku melihat kematiannya jelas-jelas. Damian mati ditikam oleh istrinya. Tapi aku tidak bisa memberitahunya. Belum.
“Aku tidak bisa melihat kematian orang yang dekat denganku,” kataku. Itu setengah bohong, setengah benar. Kemampuanku memang tidak pernah bekerja pada orang yang kucintai. Tapi Damian… aku belum mencintainya. Belum, kan?
Damian tersenyum. Senyum yang lembut. Senyum yang sama persis dengan senyum Damian Kecil saat mengajakku main petak umpet.
“Kalau begitu,” katanya, “aku akan hidup. Untuk Damian Kecil. Dan untuk kau.”
Ia melepaskan tanganku, lalu merobek lengan kemejanya. Dengan gerakan hati-hati—begitu hati-hati, seolah aku terbuat dari kaca—ia membalut lukaku. Setiap lilitan kain terasa hangat meski di ruangan sedingin ini.
“Tapi,” kataku pelan, “Damian Kecil… dia tidak bisa muncul kalau kau sadar, kan?”
Damian mengangguk. “Dia hanya muncul saat aku tidur. Atau saat aku terlalu lelah untuk mengendalikannya.”
“Lalu bagaimana?”
Ia berhenti membalut. Matanya menatap luka di tanganku yang sudah tertutup kain kemejanya. “Aku tidak tahu. Selama ini aku selalu menganggapnya sebagai kelemahan. Sesuatu yang harus disembunyikan. Dikubur.”
“Tapi sekarang?”
Damian menghela napas. Udara di ruang bawah tanah terasa sedikit lebih hangat. Atau mungkin hanya perasaanku.
“Sekarang… aku tidak tahu lagi mana yang lemah dan mana yang kuat.” Ia menatapku. “Yang kutahu, selama kau ada di sini, aku tidak ingin menjadi Damian dewasa seutuhnya. Tapi aku juga tidak bisa menjadi Damian Kecil seutuhnya. Aku harus… belajar menjadi keduanya.”
“Itu namanya menjadi utuh.”
Ia menatapku lama. Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Damian Adhiratria—The Silent Reaper, monster dalam setelan Armani, pria yang dijuluki mafia paling kejam—tersenyum.
Senyum yang tidak pahit. Tidak terluka. Tidak dingin.
Senyum yang hangat.
“Apa kau akan membantuku?” tanyanya.
Aku mengangguk. “Tapi dengan syarat.”
“Apa?”
“Tidak ada lagi pisau. Tidak ada lagi bunuh diri. Tidak ada lagi mengubur Damian Kecil.”
Damian tertawa. Tawa kecil, pelan, nyaris tidak terdengar. Tapi tawa itu nyata.
“Baik. Aku janji.”
Ia berdiri, lalu mengulurkan tangan padaku. Tangan yang sama yang beberapa menit lalu memegang pisau untuk mengakhiri hidupnya. Sekarang, tangan itu terulur untuk memulai yang baru.
Aku meraih tangannya. Jari-jemarinya menggenggam erat, tapi tidak menyakitkan.
“Sekarang keluar dari sini,” katanya. “Aku tidak suka ruangan ini.”
Aku tersenyum. “Aku juga.”
Kami berjalan keluar dari ruang bawah tanah bersama. Di ambang pintu, Damian berhenti. Ia menoleh ke belakang sekali lagi, menatap boneka beruang dengan satu mata yang masih tergeletak di lantai tanah.
“Selamat tinggal, Damian kecil,” bisiknya.
Lalu ia menutup pintu.
---
Malam itu, Damian tidak mengunciku di kamar.
Kami duduk di ruang tamu besar dengan perapian yang menyala. Aku duduk di sofa, tangan kirinya yang terluka terbaring di pangkuannya. Damian duduk di lantai, bersandar pada sofa di sampingku. Matanya terpejam. Wajahnya yang biasanya tegang sekarang terlihat tenang. Mungkin untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun.
“Alea,” panggilnya tanpa membuka mata.
“Hm?”
“Apa kau akan tetap di sini?”
Aku menatap langit-langit tinggi dengan lampu kristal yang berkilau. Di luar jendela, hujan mulai turun. Suaranya menenangkan.
“Untuk sekarang, iya.”
Damian membuka matanya. Ia menoleh ke arahku, dagunya hampir menyentuh lututku. “Untuk sekarang?”
“Aku masih harus mencari tahu siapa yang membunuh kakakku.”
Ia terdiam. Lalu, dengan suara yang sangat pelan, ia berkata, “Aku tahu.”
Jantungku berdegup kencang. “Kau tahu apa?”
“Bahwa kau ada di sini bukan hanya karena dipaksa. Bahwa kau mencari bukti.” Ia tersenyum tipis. “Tapi aku juga tahu bahwa kau tidak akan menemukan bukti bahwa aku membunuhnya. Karena aku tidak melakukannya.”
Aku menahan napas. “Lalu siapa?”
Damian tidak menjawab. Ia hanya menatap api di perapian, dan untuk sesaat, wajahnya kembali menjadi topeng es yang dulu.
“Nanti,” katanya akhirnya. “Ketika kau benar-benar percaya padaku.”
“Aku percaya padamu sekarang.”
Ia menoleh. Matanya menatapku dengan intensitas yang membuat dadaku terasa sesak.
“Belum,” katanya lembut. “Tapi kau akan.”
Ia kembali menutup matanya. Napasnya teratur. Dalam beberapa menit, aku mendengar napasnya berubah—lebih lambat, lebih dalam.
Damian tertidur.
Aku tidak bergerak. Aku membiarkannya bersandar di sampingku, membiarkan kepalanya yang berat menyentuh lututku. Tanganku yang tidak terluka perlahan mengusap rambutnya yang hitam pekat.
Di keheningan malam, aku mendengar sesuatu. Bukan dari luar. Bukan dari perapian.
Dari arah Damian.
Suara tangis anak kecil.
Tapi mulut Damian tidak bergerak. Wajahnya tetap tenang. Tangis itu bukan dari luar. Tangis itu dari dalam.
Aku tidak tahu apakah Damian Kecil menangis karena senang atau sedih. Yang kutahu, untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, ia diizinkan untuk bersuara.
Aku memejamkan mata, membiarkan suara hujan dan tangis samar itu mengisi malam.
Dan di kegelapan di balik kelopak mataku, visi itu datang lagi.
Damian tertelentang di lantai marmer putih. Dadanya basah oleh darah. Di tangannya, ada pisau dengan gagang kayu—pisau yang tadi ia gunakan untuk melukai diriku.
Seorang wanita berdiri di sampingnya. Wajahnya tidak jelas. Tapi aku tahu wanita itu adalah aku.
Ia—aku—tersenyum. Tersenyum sambil menangis.
“Aku mencintaimu, Damian. Maafkan aku.”
Aku membuka mata dengan napas tersengal. Damian masih tidur di pangkuanku. Tangannya yang besar menggenggam ujung bajuku, seperti anak kecil yang takut ditinggal.
Aku menatap tanganku yang berlumuran darah kering.
Visi itu tidak berubah. Masih sama. Damian mati ditikam oleh istrinya. Dalam enam bulan.
Dan wajah pembunuhnya… adalah wajahku.
---Bersambung---
Nah, bagaimana menurut raiders? Damian memilih untuk hidup, tapi visi Alea masih menghantui. Apakah dia benar-benar akan membunuh Damian? Atau ada makna lain di balik visi itu? 💔
Jangan lupa dukung cerita ini dengan:
✅ Like kalau kamu suka konflik emosinya
✅ Komen tebakanmu tentang siapa pembunuh kakak Alea
✅ Share ke sesama pecinta dark romance