Aliya mencintai Ibas dengan tulus, namun Ibas membalasnya dengan luka. Demi kekasihnya, Nadia, Ibas menceraikan Aliya secara rahasia. Ia kemudian membayar Aliya satu miliar rupiah agar tetap tinggal serumah demi menipu keluarga besar mereka.
Namun, sandiwara itu justru membuat Ibas terjebak dalam rasa yang tak semestinya. Saat kebenaran terungkap dan Aliya memilih pergi selamanya, Ibas baru menyadari bahwa ia telah membuang permata demi kerikil.
Kini, Ibas harus berjuang mengejar maaf Aliya. Sialnya, ia bukan lagi satu-satunya pria yang menunggu. Ada Aufar, sepupunya sendiri, yang sudah lama menyiapkan hati untuk melindungi Aliya.
Siapakah yang akan Aliya pilih? Pria yang menghancurkannya, atau pria yang menyembuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupan Ibas
"Kok, mukanya jadi tegang gitu? Biasa aja, kali. Aku cuma bercanda, Al."
Aufar berusaha menguraikan suasana yang sempat sedikit tegang. Dari mimik wajah Aliya, Aufar bisa menilai bahwa perempuan itu masih belum selesai dengan masa lalunya.
Bayang Ibas masih ada diantara hati dan pikiran Aliya. Sekalipun enggan mengakui, namun Aufar tetap tahu. Dia mampu membaca bahwa Aliya masih belum melupakan sepupunya meski sudah berusaha semaksimal mungkin.
"Siapa yang tegang? Nggak, kok," sangkal Aliya.
Perempuan itu membuang pandangan ke arah lain. Dia bukannya tak tahu jika Aufar memiliki perasaan lebih terhadapnya.
Hanya saja, luka yang ditimbulkan Ibas masih belum kering. Jahitan didalam hatinya masih basah. Dan, dia tidak ingin Aufar menjadi sekadar pelarian.
Kalaupun, pada akhirnya Aliya bisa membuka hati lagi, dia ingin memberikan hatinya secara penuh. Tidak setengah-setengah dengan bayang masa lalu yang menghantui.
"Sudah jam segini," kata Aufar sambil menatap jam tangan edisi terbatas yang melingkar gagah di pergelangan tangannya. "Aku harus pulang. Ada meeting online yang harus aku hadiri."
"Thanks buat bantuannya hari ini, Kak," ucap Aliya dengan tulus.
"It's ok. Nggak perlu sungkan," balas Aufar, tersenyum.
Wajah tampannya memang memiliki sedikit kemiripan dengan Ibas. Namun, Aufar memancarkan aura kedewasaan yang semakin matang. Berbanding terbalik dengan Ibas yang justru masih memiliki sisi kekanak-kanakan.
Aliya melambaikan tangan saat Aufar pulang menggunakan sepeda listriknya. Kemeja kotak-kotak yang Aufar jadikan sebagai luaran tampak terbang melambai dimainkan angin.
Lama-kelamaan, sosoknya semakin terlihat kecil dan akhirnya perlahan menghilang di tikungan jalan.
*****
Ditempat yang ratusan kilometer jauhnya dari kota kecil dipinggir pantai yang sekarang menjadi rumah untuk Aliya, Ibas justru sedang sibuk dengan pekerjaan kantor yang semakin padat dan terasa sulit.
Bertekad keras untuk memenangkan tantangan dari sang Ibu, Ibas tak melewatkan satu detik pun dengan sia-sia.
Dia benar-benar bekerja dengan keras. Bu Inggar saja sampai geleng-geleng kepala melihat progress Ibas yang terlampau cepat menanjak.
Dari sosok laki-laki manja, paling tidak peduli, serta menganggap senang-senang sebagai kebutuhan nomor satu, kini Ibas sudah bermetamorfosis menjadi laki-laki yang pekerja keras, ulet, pantang menyerah, dan menjadikan pekerjaan sebagai prioritas utamanya saat ini.
Semua demi satu tujuan. Bertemu kembali dengan Aliya. Hanya itu.
"Ibas!"
Sore hari, saat pulang kerja, Ibas dikejutkan dengan kedatangan Nadia yang tiba-tiba. Perempuan itu langsung memeluknya erat.
"Lepas, Nadia!" kata Ibas dengan kalimat tegas.
Terlalu banyak orang yang memperhatikan mereka. Seharusnya, Nadia bisa lebih menjaga sikap. Apalagi, sekarang mereka sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi.
"Bas, kamu kemana aja? Kenapa nomor kamu nggak bisa dihubungi selama satu bulan ini?" tanya Nadia.
Pelukannya semakin erat, semakin posesif.
"Nad, jangan gini!" ucap Ibas sambil memegang kedua bahu Nadia lalu mendorong perempuan itu dengan sedikit mengerahkan tenaga.
Akhirnya, pelukan Nadia dari tubuhnya terlepas juga.
"Bas... Apa kamu benar-benar udah nggak mau aku lagi?" tanya Nadia dengan mata berkaca-kaca.
"Ya," angguk Ibas. "Kita sudah putus. Aku harap, kamu bisa terima."
"Nggak," geleng Nadia. "Aku nggak setuju untuk putus, Bas. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu."
"Kamu harus bisa, Nadia."
"Nggak bisa." Suara Aliya tercekat. Perpisahan selama satu bulan lebih dengan Ibas membuat dia benar-benar menderita. kini, Nadia sadar akan satu hal. Bukan lagi Ibas yang butuh dirinya. Justru, malah dirinya yang sekarang butuh Ibas.
"Nad, udah, ya! Mending kamu lepasin aku!" bujuk Ibas.
"Nggak," geleng Nadia sekali lagi. "Tolong kasih aku kesempatan buat tebus segalanya, Bas! Aku mohon! Aku janji nggak akan manja lagi. Aku janji nggak akan ngamuk-ngamuk lagi. Aku juga janji nggak akan menghina orangtua kamu lagi. Aku janji, aku akan jadi perempuan baik-baik seperti Aliya. Tapi, kita balikan, ya! Please!"
Nadia merengek. Memohon dengan air mata yang tertahan sedari tadi.
Sayangnya, hati Ibas terlanjur sudah beku. Hanya akan mencair jika Aliya yang melakukannya.
"Maaf, Nadia! Nggak bisa," tolak Ibas. "Sekarang, lebih baik kamu pergi! Nggak pernah ada toleransi untuk orang yang berani menghina orangtua ku."
Nadia menundukkan kepalanya. Matanya terpejam sesaat. Dia berusaha menanggalkan rasa malu didepan Ibas demi mengatakan satu hal yang sebenarnya menjadi tujuan utamanya untuk datang menemui Ibas hari ini.
"Kalau gitu... apa aku boleh minta uang sama kamu?" tanya Nadia. "Nggak banyak, Bas. Cuma lima juta."
"Lima juta!? Buat apa?"
"Ba-bayar hutang ke temen ku," jawab Nadia terbata.
"Memangnya, kamu pinjem duit buat apa?"
Nadia terlihat gugup. "Buat... beli tas baru," jawabnya sambil tertunduk malu.
"Maaf, bulan ini aku belum gajian. Jadi, nggak ada uang," tolak Ibas tegas.
Sudah saatnya dia belajar berkata 'tidak' kepada Nadia. Sudah saatnya, dia berhenti memanjakan keserakahan perempuan itu.
. walau pernah kecelakaan namun hati kalau sudah terpaut sukar berpaling,namun Ibas tidak.Berarti mereka tidak berjodoh.
sedikit melawan lah ini belum malah sudah memaki,,,sedang menantu nya baik dan sayang sama kedua orang tua suaminya,
pelacur teriak pelacur