Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bandel Lagi
Malam sebelumnya berakhir dengan tenang, namun ketenangan itu ternyata tidak bertahan lama. Pagi hari Sabtu datang membawa suasana jauh lebih santai dibanding hari biasanya. Tidak ada suara terburu-buru dari para pekerja rumah, tidak ada jadwal kantor yang padat, dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari terakhir, rumah besar milik Zayn terasa sedikit lebih lengang.
Aurora membuka mata perlahan sambil memeluk boneka kucing putihnya.
Beberapa detik ia hanya diam menatap langit-langit kamar. Lalu tiba-tiba senyum kecil muncul di wajahnya, “Hari ini Sabtu…”
Artinya libur, dan itu berarti peluang kabur jauh lebih besar.
Aurora langsung meraih ponselnya cepat lalu membuka chat Sheila.
|Sheila|
Jalan yuk
|Anda|
Boleh
|Sheila|
ASTAGA AKHIRNYA TAWANAN DILEPAS.
Aurora langsung menahan tawa kecil.
Ia buru-buru turun dari ranjang lalu berjalan menuju lemari pakaian. Hari itu Aurora memilih outfit yang jauh lebih santai. Sweater putih oversized dipadukan dengan rok cream pendek dan sneakers putih simpel.
Aurora berjalan masuk ke kamar mandi.
Tidak lama kemudian ia akhirnya keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih sedikit basah. Ia langsung berjalan ke arah cermin di kamarnya.
Aurora berdiri di depan cermin sambil merapikan rambutnya perlahan, “Kalau izin pasti nggak boleh…” gumamnya pelan.
Karena itu, seperti biasa dia memakai solusi terbaik yaitu pergi diam-diam.
Aurora membuka pintu kamar pelan lalu mengintip ke lorong. Lorong itu sepi.
Aurora langsung berjalan cepat menuju tangga dengan langkah hati-hati.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Aurora bahkan berhasil sampai lantai bawah tanpa melihat siapa pun.
Matanya langsung berbinar penuh kemenangan, “YES.”
Namun tepat ketika ia hampir mencapai pintu depan langkahnya terhenti.
“Flora.”
Aurora langsung membeku. Pelan-pelan ia menoleh.
Dan tentu saja Zayn duduk santai di sofa ruang tengah sambil membaca sesuatu di tablet hitamnya.
Tatapannya lurus mengarah ke Aurora.
Aurora langsung tertawa kecil canggung, “Hahaha pagi?”
Zayn menatap outfit Aurora beberapa detik, “Sekarang mau kabur lewat pintu depan?”
Aurora langsung salah tingkah, “Aku nggak kabur…”
“Pakai sepatu.”
Aurora langsung melihat ke bawah, ““Oke. Ketahuan total” batinnya.
Zayn menghela napas kecil lalu meletakkan tabletnya di meja, “Mau ke mana?”
Aurora langsung mendekat sedikit sambil memasang wajah paling manis yang ia punya, “Aku cuma mau jalan bentar sama Sheila…”
“Bentar itu berapa jam?”
Aurora langsung diam.
Zayn menyipitkan mata tipis.
Aurora akhirnya mengangkat dua jari kecil, “Mungkin, lima?”
Zayn menatap datar.
Aurora langsung menurunkan tangannya pelan, “Empat?”
Beberapa detik suasana hening.
Lalu Zayn akhirnya berkata pendek, “Jangan capek.”
Aurora langsung membelalakkan mata, “Hah?”
“Dan jangan pulang malam.”
Aurora masih bengong beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum lebar, “AKU BOLEH PERGI?!”
“Kalau nggak jadi sekarang.”
Aurora langsung panik, “JADI! Jadi!”
Aurora buru-buru mengambil tas kecilnya lalu berlari mendekati pintu.
Namun baru beberapa langkah ia kembali berhenti.
“Hp jangan disilent.”
Aurora langsung menoleh cepat.
Zayn masih duduk santai di sofa sambil menatapnya datar.
Aurora langsung mengangguk cepat, “Siap bos!”
Dan beberapa detik kemudian, suara pintu depan tertutup terdengar memenuhi rumah.
Suasana langsung kembali sepi.
Rakha yang baru turun tangga sambil mengucek rambut langsung mengernyit bingung, “Tumben anak ilang dikasih keluar.”
Zayn tidak menjawab.
Rakha malah menyeringai kecil, “Wih. Udah percaya ternyata.”
“Rakha.”
“Iya iya gue diem.”
Sementara itu di luar rumah, Aurora hampir lompat kecil begitu masuk ke mobil Sheila.
“AKHIRNYA AKU MELIHAT DUNIA LUAR.”
Sheila langsung ngakak keras, “Ra, lo kayak napi bebas bersyarat.”
Aurora langsung tertawa puas.
Hari itu mereka pergi ke banyak tempat.
Mulai dari brunch di cafe kecil favorit Sheila, jalan-jalan di pusat perbelanjaan, sampai duduk lama hanya untuk mengobrol tidak jelas.
Dan seperti biasa, Sheila tidak berhenti menggoda Aurora sedetik pun.
“Jadi sekarang lo tinggal sama bos sendiri.”
“Aku numpang.”
“Tidur sebelahan.”
“KAGAK.”
“Dia perhatian banget.”
Aurora langsung minum cepat untuk menghindari pembicaraan.
Sheila malah menyeringai penuh arti, “Ra.”
“Apa.”
“Muka lo sekarang beda.”
Aurora langsung mengernyit bingung, “Hah?”
Sheila tersenyum kecil, “Lo keliatan lebih ceria.”
Aurora langsung diam beberapa detik.
Entah kenapa kalimat itu membuatnya sedikit salah tingkah.
Sore datang perlahan.
Namun tanpa sadar, waktu berjalan jauh lebih cepat dari yang Aurora kira.
Ditambah lagi Sheila terus mengajak pindah tempat.
“Sebentar lagi” kata Sheila berkali-kali.
Sampai akhirnya Aurora melihat layar ponselnya dan langsung membelalakkan mata, “YA AMPUN JAM DELAPAN?!”
Sheila langsung meringis kecil.
Aurora buru-buru mengambil ponselnya untuk mengecek pesan dan langsung membeku. Belasan chat dari Nelly, tiga panggilan tidak terjawab dari Evan, dua dari Rakha, dan satu dari Zayn.
Aurora langsung panik total, “MATI AKU.”
“Tenang dulu!”
“HP AKU LOWBAT LAGI!”
Dan benar saja.
Beberapa detik kemudian layar ponselnya mati total.
Aurora langsung menatap layar hitam itu dengan wajah kosong, “Aku beneran mati.”
Sementara itu di rumah Zayn, suasana mulai berubah tidak tenang.
Rakha bersandar santai di dapur sambil makan keripik, “Belum balik?”
Evan menggeleng kecil sambil melihat layar ponselnya, “Hp Aurora gak aktif.”
Rakha langsung berhenti mengunyah, “Wah.”
Zayn yang sejak tadi duduk diam di ruang tengah akhirnya mengangkat pandangan.
Rakha langsung nyeletuk santai, “Fix diculik lagi.”
Tatapan Zayn langsung berubah dingin.
Rakha buru-buru mengangkat tangan, “Oke gue bercanda.”
Beberapa menit kemudian suara mobil akhirnya terdengar dari luar rumah.
Aurora langsung turun cepat dari mobil sambil panik sendiri, “Duh duh duh.”
Sheila ikut turun sambil tertawa gugup, “Santai napa…”
“SANTAI GIMANA?!”
Begitu pintu rumah terbuka, suasana langsung hening.
Zayn berdiri di ruang tengah dengan lampu redup yang masih menyala.
Tatapannya langsung jatuh ke Aurora.
Aurora langsung berdiri tegak seperti anak sekolah kena razia, “Ehehe…”
Kalimat pertama yang keluar dari mulut Zayn justru bukan marah, “Hp kenapa mati.”
Aurora langsung menunduk kecil, “Lowbat…”
Hening beberapa detik.
Sheila langsung menggaruk leher canggung, “Hehe maaf kebablasan tadi…”
Zayn menatap datar sambil berdiri di ruang tengah, “Besok kalau begini lagi, saya pecat kamu.”
Hening.
Sheila langsung membelalakkan mata, “Pak serius amat?!”
Rakha langsung ketawa keras dari sofa.
Evan sampai batuk nahan tawa.
Aurora juga panik, “Pak jangan ancem Sheila!”
Zayn tetap tenang, “Dia yang ngajak kamu keluyuran.”
Sheila langsung nunjuk Aurora cepat, “DIA YANG SEMANGAT PAK!”
“PENGKHIANAT!” teriak Aurora.
Rumah langsung kembali ramai oleh suara tawa.
Namun beberapa saat kemudian Zayn kembali menatap Aurora dari ujung kepala sampai kaki.
Aurora langsung salah tingkah kecil.
“Mandi air hangat.”
“Aku nggak sakit.”
“Nggak mau demam lagi kan?”
Aurora langsung diam.
Sheila yang melihat itu langsung berbisik pelan ke telinga Aurora, “Fix dia sayang banget sama lo.”
Aurora langsung merah total, “PULANG SANA!”
Tak lama kemudian Sheila akhirnya benar-benar pulang.
Satu per satu penghuni rumah mulai masuk ke kamar masing-masing.
Lampu rumah perlahan dimatikan, dan malam kembali menjadi tenang.
Aurora selesai mandi lalu masuk ke kamar sambil mengeringkan rambutnya pelan.
Namun langkahnya langsung berhenti saat melihat segelas susu hangat sudah ada di meja dekat sofa.
Aurora langsung mendesah panjang, “Lagi?”
Zayn yang sedang bekerja di sofa tanpa menoleh hanya menjawab singkat, “Minum.”
Aurora mendengus kecil sambil mengambil gelas itu, “Aku kayak anak TK kalau kayak gini.”
“Anak TK nggak kabur seharian.”
Aurora langsung diam sambil menahan malu sendiri. Namun diam-diam sudut bibirnya naik kecil.
Aurora akhirnya tertidur setelah menghabiskan susu hangatnya. Boneka kucing putih kembali dipeluk erat di dadanya.
Lampu kamar sudah diredupkan. Hanya tersisa cahaya kecil dari lampu meja dekat sofa.
Zayn masih duduk di dekat jendela sambil membuka laptopnya. Namun kali ini perhatiannya jauh lebih sering tertuju pada Aurora yang tidur lelap di ranjang.
Rumah akhirnya benar-benar tenang, tidak ada suara Rakha, tidak ada ocehan Sheila, tidak ada Aurora yang protes soal susu hangat.
Hanya suara pendingin ruangan yang samar memenuhi kamar.
Beberapa saat kemudian, Zayn menutup laptopnya perlahan. Tatapannya kembali jatuh ke arah Aurora.
Gadis itu tidur dengan posisi miring sambil memeluk boneka kucingnya seperti biasa. Dan anehnya, pemandangan itu terasa terlalu damai.
Zayn berdiri pelan lalu berjalan mendekat ke sisi ranjang.
Ia menarik sedikit selimut Aurora yang hampir turun sebelum memastikan gadis itu benar-benar tidur nyenyak.
Aurora bergerak kecil samar dalam tidurnya.
Zayn langsung berhenti beberapa detik. Namun Aurora tidak terbangun.
Barulah setelah itu Zayn berjalan pelan menuju pintu kamar. Tangannya memutar knop pintu perlahan tanpa suara.
Dan sebelum keluar, ia sempat menoleh sekali lagi ke arah Aurora. Tatapannya diam beberapa detik. Lalu Zayn keluar dari kamar secara perlahan, menutup pintu hati-hati agar tidur Aurora tidak terganggu sedikit pun.