Danil Dwi Cahya, 16 tahun, lulus SMP dengan prestasi gemilang. Namun, ia tak bisa lari dari "Pernak-Pernik Kehidupan" yang keras: kemiskinan, pengkhianatan masa lalu sang ayah, dan beban mengangkat harga diri keluarga.
Hatinya makin rumit saat Ceceu Intan Nuraini, sahabat sekaligus cinta tak terucapnya, rela berkorban segalanya. Di tengah dilema merantau atau bertahan, Danil harus menghadapi intrik desa, mitos seram, dan bahaya dari majikan "buaya darat" Ceceu.
Akankah ia menemukan jalan keluar dari jeratan takdir dan cinta? Atau justru terhanyut dalam 'pernak-pernik' kehidupan yang tak terduga? Baca kisah perjuangan Danil dalam PERNAK-PERNIK KEHIDUPAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
"Balas dendam..."
Kerutan di dahi Prediansyah makin dalam mendengar jawaban tegas itu. Ia menatap pemuda di hadapannya dengan tatapan serius.
"Kau mau membalas dendam pada Sang Penguasa itu? Lalu aku tanya... SDM atau tenaga kerjamu dari mana? Modal dan materi serta hartamu dari mana? Tidak semudah membalikkan telapak tangan, Nak... Tidak mudah melakukan hal seperti itu," ucap Prediansyah panjang lebar.
Ia benar-benar ingin tahu, dari mana kepercayaan diri sebesar itu keluar dari mulut seorang pemuda yang baru saja selamat dari maut.
Dengan tenang namun penuh wibawa, Daniel perlahan bangkit dari ranjang. Ia melangkah pelan menuju meja, mengambil teko dan menuangkan air ke gelas untuk diminum.
Prediansyah dan Alex hanya diam memperhatikan setiap gerak-geriknya. Mereka merasakan aura yang berbeda dari pemuda ini. Keyakinan yang terpancar dari matanya begitu dalam dan kuat.
'Mungkinkah ini memang sifat aslinya? Atau benar-benar berubah total setelah mengalami mati suri? Karakternya jadi terasa... mengerikan dan tak main-main,' batin mereka bertanya-tanya.
Setelah meneguk air, Daniel menatap tajam tepat ke mata Prediansyah.
"Anda, Tuan Muda... Andalah yang akan menjadi penyokong SDM dan materi ku."
"JLEB!!"
Prediansyah dan Alex seketika terbelalak kaget. Mulut mereka sedikit terbuka tak percaya dengan pernyataan berani itu!
"Hahahaha... Hahahaha... Hahahaha!!"
Prediansyah tertawa terbahak-bahak mendengar permintaan yang dianggapnya sangat tidak masuk akal itu.
"Anak muda... anak muda... Kau ini siapa bagi aku?! Sampai beraninya kau meminta aku menjadi penyokong ambisi pribadimu?!" ucapnya di sela tawa.
Baginya, hal itu sangat lucu. Ia adalah seorang konglomerat muda yang memiliki segalanya, pemilik kekayaan dan kekuasaan besar. Sedangkan pemuda di hadapannya hanyalah orang asing tanpa ikatan darah maupun keluarga, bahkan nyawanya saja baru terselamatkan.
"Berani benar kau meminta SDM dan materi hanya untuk urusan balas dendam pribadi..." batin Prediansyah merasa tertantang sekaligus geli.
Namun...
Bukan ciut atau takut melihat gelagat dan kesombongan Prediansyah, Daniel justru tetap duduk tenang. Tatapannya tak berkedip, wajahnya datar tanpa ekspresi, seolah menantang balik sang tuan muda!
Dengan langkah tenang namun penuh wibawa, Daniel mendekat. Ia mendongakkan kepala, lalu berbisik pelan tepat di hadapan Prediansyah. Suaranya halus namun terdengar begitu jelas dan menusuk hingga ke ulu hati.
"Kesombonganmu itu... akan menghancurkan segala sesuatu yang ada di dalam dirimu. Ingatkah kau pada pesan Abah Peyot waktu di Gunung Kanyang?"
"BRUK!!"
Seketika itu juga tubuh Prediansyah gemetar hebat! Lututnya terasa lemas tak bertenaga, seolah ada beban berat yang menindih bahunya.
Alex yang berdiri di sampingnya terbelalak kaget bukan main. Ia tahu betul, majikannya itu adalah orang yang paling berani dan dingin. Bahkan saat menghadapi gerombolan siluman pun Predi masih bisa tertawa. Tapi kini... di hadapan bocah belasan tahun ini, Prediansyah seolah sedang berhadapan langsung dengan Malaikat Maut!
Belum sempat Predi mengatur napas, Daniel kembali mendekatkan wajahnya, berbisik tepat di telinga sang tuan muda.
"Roh yang masuk ke tubuhmu malam itu... adalah Kakekku. Dan Abah Peyot yang kau sebut... tak lain adalah Kakek Buyutku sendiri."
Melihat Prediansyah yang masih gemetar hebat dan wajahnya pucat pasi, Daniel dengan sigap langsung memapah tubuh majikannya itu, lalu membantunya duduk kembali di tepi ranjang dengan lembut namun penuh kekuasaan.
"Tenanglah Tuan Muda..." ucap Daniel pelan.
"Nanti Mang Kodir akan berbicara empat mata dengan Anda. Ada hal penting dan besar yang akan dibahas."
Ia menatap lurus ke manik mata Prediansyah.
"Namun... jika Anda merasa tak sanggup atau berat menerimanya, biarkan saja urusan itu saya yang tanggung sendiri. Tapi saya pastikan satu hal..."
Suara Daniel berubah dingin dan tegas.
"Jika Anda menolak atau lari dari kenyataan... kehidupan Anda selanjutnya tidak akan pernah tenang. Setiap hari dan setiap malam akan terus dipenuhi kegelisahan, ketakutan, dan mimpi buruk yang tak berujung," ancamnya halus namun sangat menakutkan.
"Anak muda... siapa kamu sebenarnya? Kenapa bos saya bisa gemetar dan takut setengah mati begini?" bisik Alex pelan tepat di telinga Daniel, wajahnya penuh tanda tanya besar.
Daniel tersenyum tipis menatap asisten setianya itu.
"Tenang Tuan Alex... Aku ini hanya pemuda biasa. Baru saja lulus kelas 9 SMP kok. Mereka memanggilku Daniel," jawabnya santai dan apa adanya.
"Ohhh... Begitu toh..." Alex mengangguk-angguk perlahan mencoba mencerna, walau masih bingung kenapa bocah SMP bisa punya aura serem begitu.
Tiba-tiba wajah Alex berubah licik dan senyum-senyum sendiri. Ia mendekatkan wajahnya lagi.
"Baiklah Daniel... Kalau begitu ajari aku dong ilmunya! Ajari aku cara menundukkan Tuan Muda biar dia gak galak lagi! Aku kan sering kena semprot dan dimarahin terus sama majikan satu ini... Hihihihi," pinta Alex penuh harap, berharap bisa jadi boss juga nantinya!
"ALEEEEXXXXXX....!!"
Teriak Prediansyah keras, membuat lamunan dan ketegangan tadi buyar seketika.
"Mau potong gaji lo kalau ngomong sembarangan!!" geramnya kesal dibuat ulah asistennya yang gak tahu tempat dan waktu.
"JANGAN BOSSSSS... JANGAN BOSSSS... AMPUN BOSSS!!"
Alex langsung panik setengah mati. Tanpa pikir panjang ia menggunakan kecepatan tinggi, langsung putar balik dan lari terbirit-birit keluar dari rumah itu!
Di luar rumah, sambil ngos-ngosan Alex menggerutu sendiri.
"Uh sialan... Punya bos emang gak bisa diajak bercanda sedikit aja. Lagi asik nih mau minta ilmu," batinnya kesal tapi takut.
"Mas Alex... Ada apa sih kok lari-lari gitu?!"
Teriak Iroh bertanya saat melihat sosok Alex yang berbadan tegap dan maskulin itu berlari kencang keluar rumah, napasnya memburu, wajahnya panik tak karuan. Kelihatan banget kayak orang yang baru dikejar setan!
Mendengar teriakan istrinya dan melihat tingkah aneh Alex, Mang Kodir serta keempat anaknya pun ikut terkejut dan bingung bukan main.
"Loh... Kok Mas Alex kelihatan ketakutan gitu sih?"
"Iya tuh... lari nya kencang banget kayak ada yang ngejar!" celetuk mereka serentak.
"Biasa saja Mang Kodir, Bibi Iroh..." jawab Alex sambil mengatur napas.
"Di dalam kan lagi suasana agak tegang. Terus aku kan iseng pengen berguru sama si anak muda itu... pengen minta diajarin cara meluluhkan hati majikan aku biar gak galak terus. Eh gak taunya... yang ada malah diancam mau dipotong gaji! Hahaha," ceritanya panjang lebar dengan wajah kesal tapi lucu.
Penjelasan itu membuat keempat anaknya Mang Kodir dan Santi semakin bingung dan garuk-garuk kepala, nggak nyambung dengarnya.
"Meluluhkan hati? Maksudnya gimana tuh?" batin mereka bingung.
Berbeda dengan Iroh dan suaminya yang hanya saling pandang lalu tersenyum paham. Mereka mengerti betul dinamika itu.
'Satu di sana punya kekuatan materi dan harta yang melimpah, satunya lagi punya akal yang jenius, wawasan luas, dan aura yang sangat misterius serta supranatural. Pantas saja kalau bertemu jadi seperti api dan es,' batin mereka mengerti sepenuhnya.
Bersambung.