Di balik kelembutan sikap sang suami, ternyata ia menyimpan sejuta duri...
Rengganis tidak pernah menyangka jika di hari ulang tahun pernikahan yang ke sepuluh, ia akan mendapatkan sebuah kado yang sangat spesial. Kado yang menjadi awal petunjuk bahwa ada banyak dusta yang disembunyikan oleh sang suami.
Berawal dari sebuah foto USG yang ia temukan di dalam saku kemeja sang suami, Rengganis berhasil membuka sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan. Satu rahasia bahwa ternyata sang suami diam-diam telah menikah sirri dengan wanita lain.
Lantas, jalan apakah yang akan diambil oleh Rengganis di saat pernikahannya sudah dipenuhi dusta oleh sang suami? Apakah ia akan tetap mempertahankan pernikahannya dengan menerima wanita lain untuk menjadi madunya? Atau apakah ia akan mengakhiri biduk rumah tangganya yang sudah berlayar sepuluh tahun dengan melepaskan sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anniv 24. Paket Kiriman
Krisna terdiam dan membisu. Untuk menjawab pertanyaan Ganis yang sangat sederhana saja seolah ia tidak mampu. Hal itulah yang menyebabkan Krisna nampak semakin termangu.
"A-aku bukan cemburu, hanya saja..."
"Lagipula kalau Rangga menyukaiku, aku bisa apa Mas?"
"Hah, kamu masih tanya bisa apa Sayang?" tanya Krisna dengan mata melotot. "Harus kamu tolak dong Sayang."
Ganis tergelak sembari ia geleng-gelengkan kepalanya. Setelah sekian lama menikah, baru sekarang ini ia melihat Krisna seperti cemburu sekali.
"Mas, aku tidak bisa mengatur dan mengendalikan perasaan orang lain. Yang bisa aku atur adalah perasaanku sendiri."
"Hah, maksudnya?"
"Apa yang dirasakan oleh Rangga tidak akan berdampak apapun jika aku tidak memberikan respon. Beda jika aku memberikan respon, pasti keadaannya akan seperti hubungan..."
Ganis menjeda ucapannya. Ia khawatir jika apa yang akan ia sampaikan nanti menyinggung perasaan Krisna.
"Seperti hubungan apa Sayang?"
"Seperti hubunganmu sama Dinda kan?" jawab Ganis tanpa ia tutup-tutupi lagi. "Karena salah satu dari kalian tidak ada yang bisa mengatur perasaan masing-masing, akhirnya ada perasaan orang lain yang kalian korbankan."
Krisna terhenyak dengan kedua bola mata yang membulat penuh dan bibir menganga lebar. Namun sejenak kemudian kepalanya menunduk dalam. Ucapan yang keluar dari bibir Ganis seperti benda tajam yang menghunus tepat di jantungnya.
"Maafkan aku Sayang..."
"Ya ya ya ya sudahlah toh semua juga sudah tidak bisa kembali seperti semula kan Mas? Mungkin bagi sebagian orang, aku adalah wanita yang bodoh karena memilih bertahan ketika suaminya berpoligami. Merelakan suamiku membagi dua bukan hanya penghasilannya tapi juga tubuhnya..."
Suara Ganis terdengar sumbang dan tercekat di dalam tenggorokan. Ada tumpukan emosi dari dalam diri yang seolah ingin meledak saat itu juga.
"Tapi aku masih memiliki kewajiban menjaga marwah pernikahanku yang sudah aku jalani selama sepuluh tahun. Aku masih belum mau menyerah. Karena ikatan suci yang sudah terjalin selama sepuluh tahun itu terlalu berharga jika harus kalah dengan sebuah hubungan yang diawali oleh kesalahan."
Akhirnya, menetes juga bulir-bulir bening itu dari pelupuk mata Ganis. Kali ini hatinya seakan jauh lebih ringan karena bisa meluapkan apa yang ia rasakan. Sesuatu yang selama ini selalu ia tahan untuk tidak ia luapkan hari ini seakan menemukan muaranya.
Hati Krisna semakin terasa ngilu. Ia raih jemari tangan istrinya dan ia pegang dengan erat. "Aku minta maaf Sayang, aku sungguh minta maaf. Aku mohon tetap berada di sisiku. Apapun yang terjadi."
Ganis menggelengkan kepalanya. "Entahlah Mas. Aku bahkan tidak mau menjanjikan apapun."
Krisna terkejut setengah mati. Meski saat ini ada juga Dinda yang ia cintai namun lelaki itu seakan tidak mau kehilangan istri pertamanya.
"Apakah itu artinya suatu saat nanti kamu akan meninggalkanku Sayang?"
Ganis mengendikkan baju seraya tersenyum sumbang. "Aku akan berhenti jika Allah menyuruhku untuk berhenti, Mas."
"Sayang...."
Ganis mengusap air matanya. Ia tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan yang tidak berarti. "Oh iya sebenarnya maksud dan tujuan kamu datang kemari itu apa Mas? Kok tumben kamu mampir ke outlet ku?"
"Aku mau mengajakmu liburan, Sayang."
"Liburan?" tanya Ganis seakan kurang percaya dengan apa yang diucapkan oleh Krisna. "Ke mana Mas?"
"Emmmm.. Ke pantai saja bagaimana? Kita menginap di sana barang tiga hari."
Wajah Ganis nampak berbinar. Seperti seorang anak kecil yang diperbolehkan makan cotton candy oleh orang tuanya. Namun, sejenak kemudian rona kebahagiaan itu menghilang dari wajahnya.
"Dinda juga ikut?"
Krisna tersenyum simpul seraya menggelengkan kepala. "Tidak Sayang. Ini liburan khusus untuk merayakan sepuluh tahun pernikahan kita. Jadi, hanya ada aku dan kamu."
"Kamu serius Mas?" tanya ulang Ganis seakan masih belum percaya.
"Bahkan dua ribu rius Sayang."
"Lalu, kapan kita berangkat?"
"Emmmmm... Sekarang!"
"Apaaa???"
****
"Paket!!!"
Maryati yang sedang menyapu halaman belakang, terpaksa harus ia hentikan aktivitasnya kala suara seorang kurir tiba-tiba terdengar menguasai indera pendengarannya. Ia sedikit berlari untuk bisa segera menjumpai kurir yang sudah menunggunya di depan gerbang.
"Paket untuk siapa Mas?" tanya Maryati.
Kurir itu melihat resi yang tertempel di paket yang ia bawa. "Untuk Ibu Dinda Larasati, Bu. Benar di sini rumahnya?"
"Betul Mas. Memang ini isinya apa?" tanya Maryati kepo.
"Wah kalau itu saya kurang tahu, Bu. Tugas saya hanya mengantarkan saja." Kurir ekspedisi itu menyerahkan paket yang ia bawa dan seketika diterima oleh Maryati. "Kalau begitu saya permisi Bu."
"Oh iya Mas, terima kasih."
Kurir ekspedisi itu kembali melajukan motornya. Maryati menatap lekat kiriman paket yang ada di tangannya ini. Wanita itu membolak-balik kiriman itu berupaya untuk mencari tahu apa gerangan yang dibeli oleh istri muda majikannya ini.
"Planotab?" ucap Maryati lirih. "Apa itu planotab?"
Maryati semakin ingin tahu melihat kiriman paket yang dibeli oleh Istri kedua majikannya. Entah mengapa ia tidak pernah bisa berpikir positif terhadap wanita itu. Sejak kehadiran wanita itu di rumah ini, selalu saja menimbulkan prasangka buruk.
"Sepertinya aku harus mencari tahu apa sebenarnya yang dibeli oleh wanita penggoda itu. Mungkin dari Google aku bisa tahu."
Maryati bersegera masuk ke dalam rumah. Ia ambil ponsel miliknya yang berada di kamar. Ponsel yang sebelumnya hanya ia gunakan untuk melihat video-video di aplikasi tok-tok, kali ini ia gunakan untuk searching apa itu planotab.
"Hah, obat pelancar haid?" seru Maryati setelah berhasil mendapatkan informasi tentang planotab. "Untuk apa bu Dinda membeli obat pelancar haid? Bukankah saat ini dia sedang hamil?"
Maryati semakin penasaran dengan adanya kiriman paket yang ada di tangannya ini. Otaknya seakan dipaksa untuk berpikir keras agar bisa mendapatkan jawaban atas teka-teki ini.
"Obat pelancar haid?" lirihnya. "Hah, apa jangan-jangan ini semua ada hubungannya dengan bu Ganis yang sedang memulai promilnya lagi?"
Pikiran Maryati semakin tak karuan. Wanita paruh baya yang sudah lama bekerja di tempat Ganis ini mencoba mencari jawaban akan apa yang mengusik pikirannya. Mencoba mengurai benang merah yang tersimpul di balik obat pelancar haid yang ada di dalam paket ini.
"Jangan-jangan madu bu Ganis ini sengaja membeli obat pelancar haid untuk kemudian ia tukar dengan vitamin yang sering di minum oleh bu Ganis. Jadi dengan obat pelancar haid ini ia berharap agar promil bu Ganis gagal."
Maryati semakin yakin dengan apa yang ada di dalam benaknya. Akan sangat berdosa sekali jika ia hanya diam saja ketika ada satu kedzoliman yang terjadi di depan matanya.
"Aku tidak boleh diam saja. Aku harus bergerak cepat untuk menghentikan ini semua."
Maryati sejenak berpikir untuk melakukan sesuatu. Akhirnya senyum simpul terbit di bibirnya. "Ahaaaaa.. Aku ganti saja isi paketan ini dengan asam folat. Dengan asam folat itu semoga semakin membuat bu Ganis semakin subur."
.
.
.