NovelToon NovelToon
Dokter Meets Mafia

Dokter Meets Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Mafia / Dokter
Popularitas:19.4k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.

Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.

Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.


Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.


Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAb 34

Waktu berjalan lambat, hingga setiap detiknya terasa seperti siksaan.

Di depan ruang tindakan itu, tak ada lagi suara selain napas yang tertahan dan detak jantung yang seolah terdengar jelas di telinga masing-masing. Vega berdiri dengan tangan saling menggenggam, bibirnya terus bergerak tanpa suara, berdoa tanpa henti. Sang suami di sampingnya mencoba tegar, meski sorot matanya tak mampu menyembunyikan kegelisahan yang sama.

Sementara itu, Enzo berdiri sedikit menjauh. Namun bukan berarti ia benar-benar jauh. Tatapannya tetap tertuju pada pintu yang sama. Tubuhnya diam, tapi pikirannya kacau. Setiap kemungkinan terburuk terus berputar di kepalanya, menghantui tanpa ampun.

Hingga akhirnya pintu ruangan itu pun terbuka.

Klik.

Semua kepala langsung menoleh bersamaan.

Seorang dokter keluar dengan langkah cepat, masker masih menggantung di wajahnya. Wajahnya terlihat serius, namun tidak sepenuhnya tanpa harapan.

Vega langsung bergerak, buru-buru menghampiri dokter tersebut.

"Dok…!" panggilnya dengan suara bergetar.

Enzo tidak ikut mendekat. Ia memilih berdiri di tempat, membiarkan orang tua Evelyn yang lebih berhak mendapatkan jawaban pertama.

"Bagaimana kondisi anak dan cucu saya, Dok?" tanya Vega, suaranya penuh kecemasan, matanya memohon.

Dokter itu menarik napas sejenak sebelum menjawab. Ia tampak berhati-hati memilih kata.

"Keduanya selamat…" ucapnya.

Kalimat itu langsung membuat tubuh Vega melemas. Namun dokter belum selesai.

"Tapi kondisi mereka cukup serius karena terlalu banyak menghirup asap dari kebakaran."

Seketika, harapan yang sempat muncul berubah menjadi ketegangan baru. "Maksudnya bagaimana, Dok?" tanya Adi cepat.

Dokter itu mulai menjelaskan dengan nada tenang, namun tetap serius. "Saat seseorang terjebak dalam kebakaran, yang paling berbahaya bukan hanya apinya… tapi asapnya. Asap itu mengandung karbon monoksida dan berbagai zat beracun lainnya. Ketika terhirup dalam jumlah banyak, zat tersebut masuk ke dalam paru-paru dan menggantikan oksigen di dalam darah."

Vega menutup mulutnya, air matanya kembali mengalir.

"Itulah yang terjadi pada anak dan cucu Ibu," lanjut dokter. "Tubuh mereka kekurangan oksigen cukup lama. Itu sebabnya mereka pingsan."

Adi menelan ludah, mencoba mencerna setiap kata. "Lalu… sekarang bagaimana, Dok?"

Dokter melirik ke arah pintu di belakangnya, lalu kembali menatap mereka. "Kami sudah memberikan oksigen dan penanganan awal untuk membersihkan saluran pernapasan mereka. Tapi…" ia berhenti sejenak.

"Tapi apa, Dok?" suara Vega semakin lemah.

"Paru-paru mereka mengalami iritasi cukup berat. Untuk sementara, mereka masih harus dipantau secara intensif. Kami khawatir ada efek lanjutan, seperti gangguan pernapasan atau penurunan kesadaran."

Kata-kata itu seperti menghantam.

"Apakah… mereka dalam bahaya?" tanya Vega, hampir berbisik.

Dokter menghela napas pelan. "Kondisinya belum stabil. Terutama yang dokter Evelyn. Paparan asapnya lebih lama. Saat ini ia masih belum sadar, dan kami harus memastikan tidak ada kerusakan lebih lanjut pada paru-paru maupun organ lainnya."

Vega langsung terisak. Tangannya gemetar hebat. Adi segera memeluk bahunya, mencoba menenangkan, meski dirinya sendiri ikut terpukul.

"Kalau cucu saya bagaimana, Dok?" tanyanya cepat, seolah mencari secercah harapan.

Dokter sedikit melunak.

"Anak itu lebih cepat kami tangani, jadi kondisinya sedikit lebih baik. Tapi tetap harus diawasi. Anak-anak lebih rentan terhadap kekurangan oksigen."

Air mata Vega tak berhenti mengalir. "Bisakah kami melihat mereka?" tanyanya lirih.

"Bisa, tapi bergantian. Dan jangan terlalu lama. Mereka butuh istirahat," jawab dokter.

Vega mengangguk cepat. "Terima kasih, Dok… terima kasih…" ucapnya berulang kali.

Dokter itu mengangguk, lalu berjalan pergi, meninggalkan mereka dalam campuran perasaan, lega, takut, dan harapan yang rapuh.

Beberapa langkah di belakang, Enzo masih berdiri. Ia mendengar semuanya.

Setiap kata. Setiap kemungkinan buruk. Dan saat dokter menyebut bahwa kondisi Evelyn lebih parah, rahangnya langsung mengeras.

Tangannya kembali mengepal. Napasnya tertahan. Untuk pertama kalinya, pria itu merasa benar-benar tak berdaya.

Namun kali ini, ia tidak akan lari. Tatapannya kembali mengarah ke pintu ruang itu.

"Evelyn…" bisiknya pelan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Lorong rumah sakit kembali dipenuhi keheningan yang menekan. Setelah mendapat izin dari dokter, Vega dan Adi segera masuk ke dalam ruang perawatan. Langkah mereka pelan, seolah takut suara sekecil apa pun bisa mengganggu kondisi dua orang yang sedang berjuang di dalam sana.

Pintu tertutup perlahan.

Menyisakan Enzo dan Joe di luar.

Untuk beberapa saat, Enzo hanya berdiri diam. Tatapannya kosong, namun pikirannya jelas tidak. Bayangan tubuh lemah Evelyn yang ia gendong keluar dari kobaran api tadi terus terulang di kepalanya.

Wajah pucat itu…Napas lemah itu… Dan rasa takut yang sempat mencengkeramnya.

Enzo menghembuskan napas panjang, lalu memalingkan wajahnya. Ia tidak terbiasa dengan perasaan seperti ini, terjebak dalam ketidakpastian, menunggu tanpa bisa berbuat apa-apa.

Namun satu hal yang ia tahu pasti, kebakaran itu… tidak terasa wajar.

"Joe."

Satu panggilan pendek, namun cukup untuk membuat asistennya langsung siaga.

"Ya, Tuan."

Enzo menoleh, sorot matanya berubah. Tidak lagi hanya dipenuhi kekhawatiran, kini ada ketajaman, kewaspadaan, dan sesuatu yang lebih dingin.

"Caritahu penyebab kebakaran itu," ucapnya tegas. "Bagaimana bisa semua gedung terbakar oleh api, bahkan semua pemadam pun sangat lambat datang ke lokasi"

Joe mengangguk.

"Baik, Tuan. Saya juga merasa ada yang tidak beres."

Enzo menyandarkan tubuhnya ke dinding, namun matanya tetap fokus ke depan. "Kebakaran biasa tidak akan menyebar secepat itu," lanjutnya pelan, seperti berbicara pada dirinya sendiri. "Api langsung membesar dalam waktu singkat… jalur evakuasi tertutup… dan sistem darurat seolah tidak berfungsi."

Ia mengingat kembali apa yang ia lihat di dalam.

Api yang seakan muncul dari berbagai arah. Asap yang terlalu cepat memenuhi ruangan. Dan kepanikan yang tidak terkontrol. Semua itu… terlalu sempurna untuk disebut kecelakaan.

"Sepertinya memang disengaja, Tuan," kata Joe akhirnya, menyuarakan apa yang sejak tadi ia pikirkan.

Enzo terdiam. Namun sorot matanya mengeras.

"Siapa pun yang melakukannya…" ucapnya pelan, namun penuh tekanan, "mereka bukan sekadar ingin membuat kebakaran."

Ia berhenti sejenak. Rahangnya menegang. "Mereka ingin memastikan… tidak ada yang keluar dengan selamat."

Hening.

Kalimat itu menggantung di udara, membawa suasana menjadi lebih dingin.

Joe menelan ludah. "Itu berarti… ini bukan sekadar insiden, Tuan. Ini serangan."

Enzo mengangguk pelan. "Dan aku tidak suka kebetulan."

Matanya kembali mengarah ke pintu ruang perawatan, tempat Evelyn berada. Seolah semua benang peristiwa ini mulai terhubung.

"Kumpulkan semua informasi," perintahnya. "CCTV, laporan petugas, siapa pun yang ada di lokasi pertama kali. Aku mau tahu dari mana api itu mulai."

"Baik, Tuan."

"Dan satu lagi…" tambah Enzo.

Joe menunggu.

"Periksa sistem keamanan mall itu. Alarm, sprinkler, pintu darurat, semuanya. Kalau ada yang tidak berfungsi…" matanya menyipit, "itu bukan kebetulan."

Joe mengangguk mantap. "Saya akan urus sekarang."

Tanpa membuang waktu, ia segera pergi, meninggalkan Enzo sendirian di lorong itu.

Sunyi kembali menyelimuti. Namun kali ini… bukan sunyi yang kosong, melainkan sunyi yang dipenuhi rencana.

Enzo berdiri tegak. Tatapannya dalam. Pikirannya mulai menyusun potongan-potongan yang belum lengkap.

1
ikeds
uhh tengkyu double upnya😍😍 love sekebon
Atik Marwati
enzo......
ikeds
dan akupun menunggu dan berdoa agar keajaiban terjadi sehingga author cepet double up🤭😍
Atik Marwati
selamat
Atik Marwati
eve sama jula selamat
Iqomah Fahma Ernasanti
bagus.....
deg2an.....
trus nunggu...kpn update lg...
Mita Paramita
akhirnya penyelamat datang 🔥🔥🔥
Atik Marwati
enzo
Mita Paramita
om ganteng tolongin jula 🤣🤣🤣
Atik Marwati
kebakaran....
Atik Marwati
ketemu om danteng pasti seru🤣🤣🤣
Atik Marwati
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Atik Marwati
karena itu Evelyn joe
Atik Marwati
keren....lanjut thor
Atik Marwati
keren thor seneng baca interaksi Enzo sama Evelyn ditambah jula...
Atik Marwati
musuh sesungguhnya yang tak bisa ditebak
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
Atik Marwati
🤣🤣🤣🤣...dimakan mucang katanya👻👻👻👻
Atik Marwati
semangat Evelyn kamu akan dapatkan enzo😂
Atik Marwati
🤣🤣🤣🤣🤣 teryata drama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!