NovelToon NovelToon
Quantum Xuan

Quantum Xuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Transmigrasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aditya Jetli

Dia Xuan Huan. seorang pejuang tingkat sembilan. Programmer sekaligus hacker yang sangat ditakuti. Banyak lawan yang sudah ditaklukkan, bahkan ada yang berkeinginan untuk menjalin kerja sama.

Proyek terakhir yang Ia kerjakan, adalah proyek kecerdasan buatan, yang bisa menjelajahi alam semesta. Penuh dengan kode kode rumit dan mencengangkan.

Quantum Xuan, itulah nama programnya. Tapi karena program itu dia harus mati, dan jiwanya ditempatkan pada tubuh seorang gadis lemah 12 tahun ke belakang, yang juga mati karena penganiayaan. Lalu bisakan tubuh dengan jiwa Xuan membalas dendam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aditya Jetli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Negoisasi

Maka pada keesokan harinya. Lebih dari 1.500 orang mendatangi markas Nindya. Di pimpin oleh tetua pertama, dan tujuh tetua lainnya.

Sedangkan pemimpin Klan, serta tetua agung, termasuk tetua ke-enam dan ke-tujuh tidak diikut sertakan, karena ditugaskan untuk menjaga istana agar tidak kosong.

Sementara dua leluhur mereka sudah lama tidak muncul, katanya, sedang melakukan pelatihan tertutup, demi bisa menembus level bumi, sesuatu yang sudah lama mereka idam idamkan.

Tapi setelah belasan tahun berlalu, niat itu belum juga kesampaian, karena di dunia yang minim energi ini, sulit sekali untuk menembus ke level yang lebih tinggi.

Nindya sudah tahu tentang rencana penyerangan itu, karena Quantum Xuan sudah menyampaikan berita tersebut. Lagipula tim cybernya juga mengatakan hal yang sama padanya.

Alih alih bersiap. Nindya malah menyuruh asistennya untuk membuat formasi. dimana seluruh bawahannya disembunyikan, biar mereka tidak turut menjadi korban.

Hanya Dia dan Kirana, serta delapan bawahannya yang diikutsertakan. tapi untuk sekarang mereka belum ditampilkan di depan musuhnya.

Sebenarnya mereka itu ada, dan dapat melihat orang orang yang datang tersebut. Tapi karena dibatasi oleh formasi, apalagi formasi ilusi, maka keberadaan mereka tidak terlihat oleh lawannya.

Dari awal Nindya memang sengaja menyuruh bawahannya untuk pergi, dan tidak menjaga gerbang juga tempat tempat vital lainnya.

Dengan sengaja pula dia membiarkan rombongan tersebut masuk, agar mudah dihabisi di dalam.

Jadi saat mereka semua sudah memasuki halaman markas yang cukup luas itu, pintu gerbang yang ada di depan langsung tertutup, dan semua kenderaan yang mereka tinggalkan di luar langsung menghilang.

Orang orang yang berlalu lalang tidak bisa melihat kejadian itu, karena Quantum Xuan sudah memanipulasi ruang. Yang mereka lihat cuma beberapa kenderaan besar meninggalkan tempat tersebut. Dan itu terlihat wajar. Jadi tidak ada yang mencurigai telah terjadi sesuatu di sana.

Kebetulan pula jalan yang mereka lalui bukanlah jalan umum, tapi jalan lingkungan, dimana markas besar Pemburu Darah berada, dan dibangun dengan biaya sendiri.

Suatu saat jalan itu pasti ditutup, dan hanya bisa digunakan oleh anggota organisasi, atau tamu organisasi yang sudah diijinkan untuk masuk.

Quantum Xuan sudah menyiapkan skenario untuk itu, dan tidak lama lagi pasti kesampaian.

Jadi saat semua sudah masuk. Wajah wajah keheranan segera bermunculan. Disambung pula dengan puluhan mulut mulut yang terbuka lebar, kening berkerut, dan hati berdebar debar.

Salah seorang tetua berkata. "Ini tidak seperti biasanya. dan terasa tidak wajar?"

"Bangunan dan halaman sebesar dan seluas ini tidak ada orang. Kalaupun sudah ditinggalkan, tapi bangunannya masih baru, dan halamannya juga cukup bersih. Ini pasti jebakan!?" sambungnya, sambil terus memeriksa keadaan. dan meminta bantuan pada yang lain untuk memeriksa setiap parameter di lokasi itu.

Menurutnya, jika ada pintu gerbang, pasti akan ada petugas pemeriksanya. atau minimal CCTV, guna memantau lalu lintas orang yang akan masuk atau keluar.

Tapi kali ini berbeda. Tidak ada seorang pun. Tidak ada penyambutan. Tidak ada CCTV. Tidak ada riak perlawanan, atau tanda tanda adanya orang.

Semuanya sepi, seperti sudah lama ditinggalkan.

"Apa yang terjadi. Ke mana orang orang itu. Kenapa gerbang itu tidak dijaga, dan apa maksud mereka. Lantas, apakah ini benar benar markas organisasi baru tersebut?" sambungnya, sambil sesekali mengedarkan pandangan nya ke seluruh area. termasuk pada pintu bangunan yang terbuka lebar.

Semenit, dua menit sampai 8 menit, belum ada juga yang menyambut mereka, membuat para tetua juga bawahannya merasa prustasi.

Namun dalam menit ke sembilan, seseorang dengan aura aneh tiba tiba muncul, dan langsung berkata pada para tetua.

"Selamat datang para tetua juga kalian semua. Tumben datang beramai ramai ke sini. Apa akan ada pesta besar. Kenapa kami tidak diundang, ya?" ujarnya.

"Siapa kau? Di mana ketua kalian, dan dimana orang orang yang biasa mendiami tempat ini. Apa mereka semua sudah pada mati?" respon salah seorang tetua dengan suara berintonasi tinggi.

"Kami..? Mereka..? Oh, apa kau lupa Darma. Aku Nindya, dan ini orang ku Kirana. orang yang sedang kalian cari. Apa kau sudah melupakan ku Darma?"

"Nindya, Kirana..? Jangan sok akrab kalian. Aku tidak mengenalmu. dan jangan besar kepala di hadapan kami!?" reaksi Darma, tetua dua yang memang belum pernah mengenal Nindya.

Tapi dari auranya Nindya sudah tahu, bahwa orang itu mengamalkan teknik terlarang, karena warnanya hitam pekat, mirip tinta yang sudah diaduk lama.

Sebagai praktisi energi sejati. berasimilasi pula dengan eleman cahaya, mudah bagi Nindya untuk membedakan, apakah orang itu menggunakan teknik terlarang atau tidak?

Dalam kemarahan tetua itu Nindya menimpali. "Mengenai aku atau dia itu tidak penting. Yang penting sekarang adalah, kenapa kalian beramai ramai datang ke tempat ku ini. Apakah ada sesuatu yang harus diselesaikan?" tanya nya.

"Ya. Tentu saja ada! Organisasi mu ini ilegal, dan bisa mengancam stabilitas keamanan juga kerukunan antar sesama organisasi!"

"Oleh karena itu Ketua Perhimpunan telah menugaskan kepada kami, untuk pembasmi dan meratakan tempat kalian ini!"

"Jika kalian melawan, maka jangan salahkan kami akan bertindak tegas!"

"Tapi walau begitu, masih ada jalan keluarnya. Itupun kalau kalian bersedia melakukannya?" jawab salah satu tetua, yang menjadi juru bicara mereka, sambil terus tersenyum licik, memandang ke arah tubuh Nindya juga Kirana.

"Kalau boleh tahu, apa pilihan kedua itu. Kami sangat penasaran ingin mendengarnya?"

"Itu mudah. Tunduk dan patuh lah pada kami, dengan mengakui bahwa kami ini adalah tuan, dan organisasimu ini adalah bawahan."

"Kalian akan bekerja untuk kami, dan kami yang akan menggaji kalian. Tapi semua yang kalian dapatkan setelah itu, harus disetorkan sebagiannya kepada kami. Bagaimana, cukup mudah bukan?" jawab Darma lagi.

"Begitu ya? Kalau aku tidak mau, apa resikonya?" tanya Nindya.

"Seperti yang sudah kau dengar, kami ini adalah utusan dari Perhimpunan Tenaga Dalam, yang mempunyai hak serta wewenang untuk menindak organisasi liar seperti milikmu ini!"

"Jika kalian berani melawan, maka sudah dianggap melawan pimpinan, yang kedudukan setara dengan pemerintah daerah. dan hukumannya adalah mati!"

"Semengerikan itu? Apa sudah tidak ada lagi kebijakan yang tergolong ringan, agar kami bisa mempertimbangkannya?" reaksi Nindya berpura pura. Padahal dia merasa geli sekali.

"Nona. Kenapa terus mempermainkan mereka. Kenapa tidak langsung di habisi saja?" tanya Kirana.

"Tenang. Aku punya tujuan lain. Mereka termasuk Klan kuat. Dan sangat di sayang kan kalau tiba tiba menghilang. Lebih baik ditundukkan. Lalu dibuat bawahan Bukankah itu rencana cerdas Lili." jawab Nindya.

"Tapi Nona...?"

"Lili. kau harus tahu, bahwa disamping kekuatan kita, atau organisasi, masih ada kekuatan juga organisasi lainnya di luaran sana."

"Petarung mereka rata rata kuat. Bahkan ada beberapa Klan atau organisasi, yang sudah membangkitkan Qi Spiritual seperti kita."

"Kekuatannya hampir atau sudah menyamai kekuatan kita. Kalau kita terus begini, maka lambat laun keberadaan kita akan sirna. dan saat itu baru kita menyadari, bahwa kita tidak bisa eksis tanpa kehadiran yang lainnya."

1
Aditya Jetli
Terima kasih Kak atas dukungannya
azka aldric Pratama
saking bagusnya,gk bisa komen apa2👏👏👏👏
azka aldric Pratama
hadir moga bagus
irawan muhdi
lanjut thor 👍
Lely Riza U
ceritanya sangat menarik👍
Bambang Widono
mantab lanjut Thor👍🙏🙏🙏💯💯💯💯💯👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏
Aditya Jetli: Terima kasih Kak. Baru kali ini buat Novel yang MC nya Perempuan. Dukung terus ya kak. biar tambah semangat
total 1 replies
Aditya Jetli
Tinggalkan jejak setelah membaca ya. walau hanya like saja. Itu sudah jauh lebih baik dari tidak sama sekali. Ditunggu kebaikannya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!