Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.
Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.
Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.
Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.
Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEHANGATAN YANG MERUNTUHKAN KASTA.
Setelah menempuh perjalanan darat yang cukup panjang, mobil mewah yang membawa mereka akhirnya berbelok memasuki sebuah kawasan perumahan elit di sudut kota. Kendaraan bergerak pelan melewati gerbang besi tinggi menjulang yang dijaga ketat oleh petugas keamanan, lalu melaju menyusuri halaman depan yang sangat luas dengan hamparan rumput hijau yang tertata rapi.
Di ujung jalan setapak halaman, berdirilah sebuah mansion megah bergaya arsitektur klasik modern. Pilar-pilar betonnya berdiri kokoh menjulang tinggi, dengan lampu-lampu gantung kristal yang mulai menyala keemasan menyambut datangnya sang malam.
Nenek Ardiah yang duduk di kursi belakang menatap lurus ke luar jendela dengan mata yang mengerjap takjub. Di dalam hati kecilnya, wanita tua itu sempat dihinggapi rasa jengah dan minder yang luar biasa. Kemegahan rumah ini jauh melampaui bayangannya tentang arti kata 'orang kaya'. Tempat ini terlalu kontras dengan gubuk bambu reot miliknya di pinggiran sungai desa.
"Sudah sampai, Mbah, Kak Diah," ucap Haikal dengan nada ceria sembari melepaskan sabuk pengamannya. Ia menoleh ke belakang, memberikan senyuman paling menenangkan untuk mengusir kegugupan yang terbaca jelas di wajah istri dan nenek mertuanya.
Begitu pintu mobil dibuka oleh Roni, pintu utama mansion megah itu turut terbuka lebar. Dari dalam rumah, tampak berjalan tergesa-gesa sepasang paruh baya berpenampilan sangat bersahaja namun memancarkan aura wibawa yang kental. Mereka adalah Rizal dan Astuti, orang tua kandung Haikal.
Melihat sosok wanita lansia berkebaya lurik usang melangkah turun dari mobil dengan dibantu oleh Ardiah, Astuti tidak menunggu lebih lama lagi. Wanita konglomerat itu langsung setengah berlari menghampiri mereka di halaman.
"Astaga, Mbah... akhirnya sampai juga dengan selamat," seru Astuti dengan suara yang bergetar menahan haru.
Tanpa ada rasa canggung, ragu, atau risih sedikit pun terhadap pakaian pedesaan yang dikenakan sang Nenek, Astuti langsung menghambur maju. Ia merengkuh tubuh ringkih wanita tua itu ke dalam pelukan hangatnya yang sangat erat. Tidak sampai di situ, setelah melepas pelukannya, Astuti dengan penuh takzim meraih kedua tangan keriput sang Nenek, menciuminya berulang kali, lalu mengecup kedua belah pipi wanita lansia itu dengan penuh rasa hormat, layaknya seorang anak yang baru saja bertemu dengan ibu kandungnya sendiri yang sudah lama terpisah.
Nenek Ardiah seketika terpaku di tempatnya berdiri. Air mata orang tua itu hampir saja menitik karena rasa terkejut yang luar biasa. Di masa lalu, jangankan dipeluk erat seperti ini, disalami dengan tulus pun ia tidak pernah mendapatkannya dari mantan mertua Ardiah. Namun hari ini, di hadapan wanita kaya raya pemilik mansion megah ini, ia diperlakukan bagaikan seorang ratu yang sangat dihormati.
Rizal yang berdiri di samping Astuti turut melangkah maju. Pengusaha sukses yang biasanya disegani di dunia bisnis itu kini menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyalami tangan sang Nenek dengan senyuman yang sangat ramah dan tulus.
"Selamat datang di rumah kami yang sederhana ini, Mbah. Suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga karena Mbah sudah berkenan jauh-jauh datang dari desa untuk mengunjungi kami," tutur Rizal dengan nada suara yang berat namun sangat menyejukkan hati.
Ardiah yang menyaksikan pemandangan itu dari dekat hanya bisa berdiri mematung dengan dada yang bergemuruh hebat oleh rasa haru yang membuncah. Air mata kebahagiaan menggenang di pelupuk matanya. Pandangan sang Nenek sebelumnya tentang didikan keluarga Haikal terbukti seratus persen nyata di depan matanya sendiri. Keluarga Akram benar-benar tipe manusia langka yang meletakkan kekayaan mereka di dalam saku, bukan di dalam hati. Mereka sama sekali tidak mempermasalahkan sekat-sekat kasta sosial yang membedakan kehidupan mereka yang bagai bumi dan langit.
"Ayo, Mbah, kita masuk ke dalam. Di luar udaranya mulai dingin, tidak baik untuk kesehatan Mbah," ajak Astuti dengan sangat manja, langsung merangkul lengan sang Nenek dengan protektif, menuntunnya perlahan menaiki anak tangga mansion menuju ruang tengah.
Haikal yang berjalan di paling belakang bersama Ardiah, sengaja menyenggol pelan bahu istrinya menggunakan lengannya. Ia berbisik lirih tepat di samping telinga Ardiah dengan nada tengilnya yang kembali muncul. "Bagaimana, Kak? Sekarang percaya kan kalau ketengilan dan sifat ramah suamimu ini adalah warisan asli dari Mama? Kami ini memang keluarga yang paling menggemaskan di dunia."
Ardiah tidak membalas dengan omelan seperti biasanya. Ia justru menoleh, menatap lekat-lekat wajah suaminya dengan seulas senyuman paling manis dan tulus yang pernah ia tunjukkan selama mereka menikah. "Iya, Haikal. Terima kasih... terima kasih banyak untuk semuanya."
Mendapat senyuman langka dan ucapan terima kasih yang begitu tulus dari Ardiah, Haikal seketika salah tingkah sendiri. Jantungnya mendadak berdegup kencang, membuat pria itu buru-buru memalingkan wajahnya yang mendadak merona merah, sukses membuat Roni yang berjalan di belakang mereka menertawakan bos mudanya yang ternyata bisa mati kutu hanya karena senyuman seorang wanita.
Suasana di dalam ruang tengah mansion mengalir dengan begitu hangat dan dipenuhi gelak tawa. Astuti bahkan sengaja menolak bantuan dari para pelayan rumahnya hanya demi menyajikan sendiri secangkir teh hangat herbal dan sepiring camilan tradisional yang sengaja ia pesan khusus untuk menyambut kedatangan sang Nenek.
"Mbah, malam ini dan beberapa hari ke depan, Mbah istirahat yang nyaman di sini, ya," ujar Astuti sembari duduk lesehan di karpet bulu di bawah kursi rotan tempat sang Nenek duduk, memijat perlahan kaki wanita tua itu dengan penuh ketelatenan. "Kamarnya sudah saya siapkan di lantai bawah agar Mbah tidak lelah naik tangga. Pokoknya, Mbah harus menganggap rumah ini sebagai rumah Mbah sendiri."
Nenek mengusap rambut sanggul Astuti dengan tangan gemetar penuh rasa haru. "Mbah benar-benar tidak tahu harus mengucap rasa syukur seperti apa lagi pada Gusti Allah, Jeng Astuti. Mbah ini orang desa yang miskin, tapi sambutan keluarga di sini begitu mulia. Mbah sampai merasa tidak pantas."
"Jangan pernah bicara seperti itu lagi, Mbah," potong Rizal yang duduk di sofa seberang dengan tegas namun lembut. "Bagi kami, kedatangan Mbah ke sini adalah berkah yang luar biasa bagi rumah ini. Kami justru yang berterima kasih karena Mbah sudah mendidik Ardiah menjadi wanita yang begitu luar biasa dan salihah untuk mendampingi anak bungsu kami yang keras kepala ini."
Mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut keluarga besar Haikal, benteng keraguan dan sisa-sisa trauma kelam masa lalu yang selama ini mendekam di dalam hati Ardiah seolah runtuh total, lebur tanpa bekas. Di dalam ruangan yang megah namun dipenuhi dengan atmosfer kesederhanaan dan kedermawanan hati yang tulus ini, Ardiah akhirnya meyakini satu hal: Allah tidak pernah salah dalam menuliskan takdir perjalanan hidup hamba-Nya. Pengorbanan dan rasa sakitnya di masa lalu kini telah dibayar tunai dengan kehadiran sebuah keluarga baru yang begitu mencintainya tanpa syarat.
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️