Rumah tangga Puann hancur seketika saat wanita dari masa lalu suaminya datang membawa kabar kehamilan, ditambah lagi fitnah bertubi-tubi yang membuatnya dikucilkan bahkan oleh keluarganya sendiri.
Di saat kepercayaannya sudah habis dan ia mulai bersandar pada laki-laki lain yang jauh lebih tulus, Bahlil, suaminya berjuang membuktikan bahwa semua itu hanyalah jebakan. Namun, kebenaran tentang masa lalu dan trauma besar yang disembunyikan Bahlil justru membuka luka yang jauh lebih dalam.
Di ambang perceraian dan di tengah pengakuan yang hampir menyatukan mereka kembali, sebuah skandal video pun muncul dan mematikan segala harapan.
Apakah cinta yang penuh kebohongan dan rasa sakit ini layak diperjuangkan, atau lebih baik diakhiri selamanya sebelum hati mereka benar-benar hancur lebur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7 Hari Sebelum Sidang
Tangan Bahlil mencengkeram batang pohon hingga gemetar. Air matanya jatuh bebas membasahi pipi saat menyadari kenyataan pahit itu. Wanita yang diperjuangkan dengan mati-matian dan ingin diselamatkan dari fitnah, kini terlihat bahagia dan tenang berada di dekat orang lain.
"Kamu... kamu beneran udah nggak butuhin aku lagi ya?" bisiknya parau, matanya tak lepas menatap sosok itu. "Senyum damai itu... sekarang udah bukan hak aku lagi ya?"
Ia berdiri diam di sana sampai kedua orang itu masuk kembali ke dalam rumah. Bahlil pun menyadari satu hal penting saat ini.
Musuh terbesarnya bukan lagi Arifatul, bukan Citra, dan bukan pula video palsu itu. Musuh utamanya adalah fakta bahwa Puann perlahan mulai terbiasa hidup tanpanya.
Wanita itu perlahan menemukan kebahagiaan baru di tempat lain, jauh darinya. Rasa sakit itu jauh lebih tajam dibandingkan apa pun yang pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Puann duduk bersandar di kepala tempat tidur. Ia mengamati Gibran yang membereskan sisa bungkus makanan di meja kecil.
Suasana ruangan terasa tenang. Tidak ada lagi rasa sesak atau amarah, melainkan rasa aman yang memungkinkan Puann bernapas lega untuk pertama kalinya dalam waktu lama.
“Kok diem? Ada yang lagi dipikirin?” tanya Gibran. Ia duduk di pinggir kasur dengan jarak cukup jauh, tidak berani mendekat.
Puann menggeleng pelan lalu tersenyum tipis. Senyum itu murni muncul dari hati, bukan lagi dipaksakan. “Enggak kok. Cuma... aku baru sadar kalau tenang itu rasanya kayak gini ya. Kayak abis ditarik dari air yang dalem banget, terus dikasih napas lagi.”
“Syukur deh kalau gitu. Aku seneng dengernya. Tadinya aku takut kamu bakal pendem semuanya sendirian lagi sampai sakit,” jawab Gibran. Ia menatap Puann dengan tulus tanpa menuntut apa pun.
“Itu semua gara-gara kamu. Makasih banget ya. Bukan cuma soal makan atau obat, tapi makasih udah ada pas aku lagi hancur-hancurnya. Pas dunia aku rasanya runtuh, pas semua orang nyalahin aku, pas suami aku sendiri bikin masalah terus... malah kamu yang dateng diam-diam terus jagain aku,” ucap Puann. Suaranya agak bergetar namun penuh ketulusan.
Gibran tersenyum tipis lalu membuang muka ke arah jendela seakan menahan kata-kata lain. Ia tidak pernah meminta kedudukan khusus atau menjelekkan Bahlil, meski tahu betapa sakitnya perlakuan laki-laki itu pada Puann. Sikap diam dan tidak memihak itulah yang membuat Puann merasa sangat aman. Di dekat Gibran, Puann tidak perlu membela diri atau merasa bersalah saat sedang sedih atau marah.
“Aku lakuin ini bukan karena mau dapet apa-apa, Puann. Aku cuma nggak tega lihat orang baik disakitin terus-terusan. Bahlil... dia mungkin sayang sama kamu, tapi dia nggak ngerti cara nyayangin kamu. Dia kebanyakan sibuk sama egonya, masa lalu, sama ketakutan dia sendiri, sampai lupa hal paling gampang: jagain perasaan istri dia,” ucap Gibran dengan nada tenang dan tidak menghakimi.
“Kadang aku mikir, emangnya aku salah apa ya? Kenapa rumah tangga aku harus penuh rahasia, orang ketiga, sama kebohongan? Aku cuma pengen hal sederhana aja. Cuma pengen dicintai apa adanya, jadi prioritas, terus pulang ke rumah yang damai. Kenapa hal segampang itu susah banget didapet?” tanya Puann. Matanya berkaca-kaca, namun kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata lega karena akhirnya ada yang mau mendengarkan tanpa menyalahkan.
“Kamu nggak salah apa-apa, Puann. kamu terlalu tulus, terlalu sabar, sama terlalu pemaaf. Itu bukan kelemahan, tapi kelebihan kamu yang nggak dimiliki semua orang. Cuma sayang, orang yang dapet kelebihan itu nggak bisa ngehargain,” jawab Gibran tegas namun tetap lembut.
Hari mulai gelap, namun percakapan mereka belum selesai. Mereka mengobrolkan banyak hal yang bersifat mendalam dan pribadi, hal yang tidak pernah dibahas Puann dengan siapa pun, bahkan dulu bersama Bahlil.
Pembicaraan mencakup trauma masa kecil, rasa takut ditinggalkan, rasa kecewa yang mendalam, rasa tidak cukup baik, serta rasa lelah berjuang sendirian. Semakin lama mengobrol, Puann merasakan ikatan yang berbeda. Di tempat ini, tidak ada tekanan, kebohongan, atau rasa curiga. Ia merasa benar-benar dimengerti.
“Kamu nggak takut ya? Dekat sama aku, ngurusin aku, nemenin aku? Aku kan masih istri orang. Emang bentar lagi bakal resmi cerai, tapi sampai detik ini aku masih ada ikatan sama dia,” tanya Puann ragu. Ia ingin memastikan batasan di antara mereka.
“Takut sih ada. Takut nyakitin kamu, takut jadi alasan kamu ambil keputusan salah, takut bikin hidup kamu makin ribet. Tapi aku lebih takut kalau kamu sendirian, kamu sakit, atau kamu hancur tanpa ada yang nolongin. Aku tahu batasan aku kok, Puann. Aku nggak bakal minta lebih dari apa yang kamu kasih. Aku cuma mau ada di sini, jadi tempat kamu istirahat sampai kamu beneran kuat dan siap jalan lagi,” jawab Gibran jujur. Ia menatap lurus ke mata Puann.
Suasana kembali hening, namun kali ini terasa lebih dekat dan hangat. Puann menatap wajah Gibran dan mengamati setiap garis wajah laki-laki itu yang selalu tampak tenang dan sabar.
Ia teringat keadaannya bersama Bahlil dulu. Laki-laki itu selalu penuh emosi, selalu membawa masalah baru, dan selalu menuntut kepercayaan. Keadaannya sangat berbeda dengan Gibran yang tenang, memberi kepercayaan, serta hanya memberi tanpa menuntut balasan.
“Kamu itu aneh ya. Ada aja orang yang rela capek, repot, dengerin cerita sedih orang, padahal nggak ada untungnya buat kamu,” celetuk Puann pelan sambil tersenyum kembali.
“Untungnya aku dapet kesempatan kenal orang sebaik kamu. Itu udah lebih dari cukup,” balas Gibran cepat. Kata-kata itu keluar begitu saja, jujur dan mendalam.
Gibran perlahan berdiri bersiap pulang karena hari sudah sangat larut. Ia melangkah ke pintu kamar, namun tiba-tiba berhenti dan menoleh ke belakang.
Ia menatap Puann dengan pandangan yang berubah. Tatapan itu tampak lebih lembut, lebih mendalam, serta menyimpan penyesalan yang tak terucap.
Gibran menarik napas panjang lalu berbicara dengan suara sangat pelan, hampir berbisik namun terdengar jelas di ruangan yang sepi itu.
“Kalau aku kenal kamu lebih dulu... mungkin semuanya bakal beda ya, Puann.”
Kalimat itu menggantung di udara dan langsung menusuk dada Puann. Jantungnya berdetak kencang dan tidak beraturan.
Gibran tidak menunggu jawaban. Ia langsung berbalik dan keluar dari kamar. Puann tertinggal diam terpaku di kasur dengan perasaan yang campur aduk, bingung antara rasa bersalah, rasa nyaman, dan perasaan baru yang diam-diam tumbuh di hatinya yang sudah lama mati rasa.
***
Hanya tersisa tujuh hari sebelum sidang perceraian dilaksanakan. Bagi Puann, waktu itu adalah akhir, sedangkan bagi Bahlil, masa itu menjadi ancaman besar yang membuatnya sulit tidur.
Bahlil duduk di ruang kerja dengan berkas-berkas berserakan di atas meja. Matanya tampak lelah, namun ia telah menemukan kepastian setelah melakukan penyelidikan diam-diam dalam beberapa waktu terakhir.
"Ini dia... Akhirnya ketemu juga," gumam Bahlil pelan sambil menggenggam erat laporan analisis video itu.
Hasil pemeriksaan tersebut sangat jelas. Video itu merupakan rekayasa digital yang canggih, dan ia juga memiliki bukti percakapan yang membuktikan Arifatul serta Citra bersekongkol merencanakan segala kejahatan itu.
"Mereka pikir bisa main-main sama hidup aku? Hah, enak aja!" batin Bahlil geram, namun ia merasa lega karena kini memiliki bukti mutlak untuk membersihkan nama baiknya.
Di tengah rasa lega itu, timbul rasa sakit yang jauh lebih tajam di hatinya. Masalah yang dihadapi saat ini bukan lagi soal siapa yang benar atau salah, melainkan fakta bahwa Puann telah berubah total.
Ia mengingat sifat Puann yang dulu selalu berusaha mempertahankan hubungan. Kini, wanita itu justru tampak damai, tenang, dan bahagia saat menjalani hidup jauh darinya.
"Masalahnya bukan bukti lagi, bukan soal kebenaran. Intinya... dia udah nggak butuh aku lagi. Dia udah nyaman dan tenang tanpa ada aku di sana," keluh Bahlil lirih sambil menunduk lemas.
Di tempat lain, Puann duduk santai di teras belakang rumah Ririn setelah selesai mandi. Angin sore berhembus sejuk menyentuh wajahnya, dan ia menyadari perubahan besar yang terjadi pada dirinya dalam seminggu terakhir, di mana beban berat yang dipikulnya perlahan hilang.
Pikirannya langsung tertuju pada Gibran. Lelaki itu menjadi sosok baru yang memberikan ketenangan, tidak pernah menuntut apa pun, dan selalu hadir saat ia membutuhkan.