-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-
Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Brak!
Arlan menghempaskan pulpen montblanc di tangannya ke atas meja hingga memantul keras. Mendengar kata "mempermalukan Gita", ada sesuatu yang patah di dalam dada pria dingin itu. Rasa bersalah yang baru saja merayap di hatinya karena menyadari penderitaan masa lalu Gita, kini mendadak meledak menjadi amarah yang teramat besar dan purba.
Obsesinya untuk melindungi wanita itu bangkit sepenuhnya, menghancurkan seluruh dinding skeptis yang selama ini ia bangun terhadap cinta.
"Doni, ikut aku ke bawah sekarang," perintah Arlan, suaranya meledak rendah seperti gemuruh guntur sebelum badai.
Tanpa menunggu asistennya, Arlan melangkah lebar keluar dari ruangan. Langkah kakinya begitu cepat dan bertenaga, memancarkan aura tirani yang siap meremukkan siapa saja yang berani mengusik ketenangannya.
Di lobi lantai dasar, Stella baru saja hendak meraih kerah kemeja Bianca untuk memaksanya memungut foto tersebut ketika sebuah suara bariton yang sarat akan otoritas mutlak memotong udara dengan sangat tajam.
"ANGKAT TANGANMU DARI DIA, STELLA!"
Suara itu bergema kuat, memantul di dinding-dinding marmer lobi yang tinggi, seketika membungkam seluruh bisik-bisik karyawan. Semua orang membalikkan tubuh mereka dengan ketakutan yang kentara.
Arlan Dirgantara berjalan membelah kerumunan.
Jas abu-abu gelapnya berkibar tipis seiring dengan langkah kakinya yang lebar dan tegas. Wajahnya yang biasanya dingin tanpa ekspresi kini mengeras menakutkan, dengan rahang yang menonjol kaku dan sepasang mata elang yang memancarkan kilat kehancuran yang mengerikan. Tekanan udara di lobi itu mendadak drop, membuat beberapa staf mundur teratur demi menyelamatkan diri dari amukan sang CEO.
Arlan tidak menatap Stella. Langkah kakinya membawa tubuh tegapnya langsung berdiri tegak di depan Bianca. Dengan sebuah gerakan yang teramat protektif dan posesif, Arlan meraih pinggang Bianca, menarik tubuh wanita itu dengan tegas hingga merapat ke sisi tubuhnya, menyembunyikannya di bawah perlindungan lengannya yang kokoh.
Sentuhan Arlan yang tiba-tiba dan penuh kepemilikan mutlak itu membuat Bianca tersentak kecil. Ia mendongak, menatap profil samping wajah Arlan dari jarak yang sangat dekat. Jantungnya berdegup kencang, menahan perasaannya yang kian membuncah melihat bagaimana pria yang selalu bersikap dingin ini sekarang justru menjadi perisai hidupnya di depan ratusan pasang mata.
Arlan menunduk sedikit, menatap selembar kertas foto di lantai yang menampilkan wajah kusam Gita di dalam penjara. Tanpa melepaskan dekapannya pada pinggang Bianca, Arlan menggerakkan sepatu pantofel kulit mahalnya, menginjak foto itu dengan kasar hingga permukaannya tergores dan kotor.
"Kalian semua... tidak punya pekerjaan di meja masing-masing?" tanya Arlan, suaranya rendah namun bergetar karena amarah yang ditahan di tenggorokan. Matanya menyapu seluruh karyawan yang berdiri mematung di sekeliling lobi.
"Siapa yang memberi kalian hak untuk menggunjingkan dan menilai staf internal yang berada di bawah penunjukan langsung dariku?"
Semua karyawan menunduk dalam-dalam, tidak ada satu pun yang berani menatap mata Arlan.
"Tuan Arlan... tapi dia seorang mantan narapidana—" salah seorang staf pria dari divisi humas mencoba berbicara dengan ragu.
"Aku tidak peduli seandainya dia adalah seorang iblis yang keluar dari neraka sekalipun!" potong Arlan dengan kejam, suaranya meninggi, mempertegas kepemilikannya yang ekstrem atas Bianca. "Gita Ivara adalah asisten pribadiku. Dia berada di bawah perlindungan mutlak dariku, Arlan Dirgantara. Siapa pun di antara kalian yang merasa keberatan dengan masa lalunya, silakan letakkan surat pengunduran diri kalian di meja HRD sebelum jam lima sore ini!"
Mendengar keputusan ekstrem dari sang CEO, lobi itu menjadi sepi seperti kuburan. Pembelaan yang begitu posesif dan tidak terduga dari Arlan membuktikan satu hal: posisi Gita Ivara di hidup Arlan jauh melampaui hubungan bos dan karyawan biasa.
Arlan kemudian memutar tubuhnya, menatap Stella yang kini berdiri mematung dengan wajah pucat karena tidak menyangka Arlan akan senekat ini membelanya di depan umum.
"Dan kamu, Stella," desis Arlan, melangkah satu tindak ke depan sambil tetap merangkul bahu Bianca dengan erat. "Kamu baru saja membuang sisa rasa hormatku yang terakhir untukmu sebagai mantan istri. Pengawal! Seret wanita ini keluar dari gedungku, dan pastikan namanya masuk ke dalam daftar hitam permanen seluruh properti Dirgantara Group!"
Dua petugas keamanan bertubuh besar segera maju, mencengkeram lengan Stella tanpa memperdulikan teriakan histeris wanita itu yang mencoba melepaskan diri saat diseret menuju pintu keluar.
**
Sisa kehangatan sup ayam jahe yang dimasak Bianca beberapa jam lalu masih mengambang tipis di udara penthouse mewah berlantai dua itu. Di luar dinding kaca yang menjulang setinggi langit-langit, Jakarta malam ini tampak seumpama hamparan permata hitam yang bertabur kerlip lampu kota. Namun, kemegahan ibu kota yang berdenyut di bawah sana terasa begitu berjarak dari keheningan meja makan marmer tempat dua orang itu masih enggan beranjak.
Arlan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kulit, menyesap sisa kopi hitamnya yang mulai mendingin. Kemeja kerjanya sudah ditanggalkan dua kancing teratas, menyisakan kesan santai namun tidak sedikit pun mengurangi guratan wibawa yang melekat pada bahu tegapnya. Matanya yang tajam dan skeptis sejak tadi tidak sedetik pun lepas dari sosok wanita di seberang meja.
Bianca—yang malam ini masih mengenakan pakaian lamanya sebagai Gita, sang asisten serba bisa—sedang merapikan cangkir kosong dengan gerakan yang teramat halus. Ada keanggunan alami yang tidak bisa ia tutupi, bahkan ketika ia sedang memegang kain lap meja. Setiap jengkal pergerakannya begitu terukur, sisa dari didikan kelas atas yang mengalir dalam darahnya sejak lahir, meski kini dibungkus oleh kesederhanaan seorang pelayan.
"Kenapa Anda melakukan semua itu tadi siang, Tuan Arlan?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Suara Bianca rendah, mengalun tenang di sela deru halus pendingin ruangan. Ia meletakkan kain lap, lalu menegakkan punggungnya, menatap langsung ke dalam sepasang mata elang pria berusia tiga puluh enam tahun itu. Tidak ada keraguan di matanya. Hanya ada rasa ingin tahu yang besar, yang ditahan dengan kedewasaan seorang wanita berusia tiga puluh tahun.
Arlan sempat terdiam sejenak. Jemarinya yang kekar mengetuk permukaan marmer dengan ritme yang lambat.
"Melakukan apa?"
"Membela saya di depan seluruh staf Dirgantara Group. Merusak citra bersih yang Anda bangun bertahun-tahun hanya demi seorang wanita dengan foto masa lalu di dalam penjara," Bianca menjeda kalimatnya, matanya menyipit halus, mencoba mencari celah di balik topeng dingin sang penguasa bisnis.
"Anda tahu persis, secara kalkulasi bisnis korporasi, mempertahankan saya setelah skandal tadi siang adalah sebuah kerugian moral yang tidak perlu bagi nama baik Anda."
Arlan menurunkan cangkirnya. Sebuah senyum tipis, nyaris tak terlihat dan cenderung dingin, terukir di sudut bibirnya. Sebagai pria yang pernah hancur karena pernikahan pertamanya dengan Stella—wanita yang hanya memuja angka di rekening banknya—Arlan selalu memiliki benteng pertahanan yang sulit ditembus. Ia skeptis terhadap segala bentuk motif emosional. Tetapi, melihat Gita yang berdiri begitu tegar di depannya, benteng itu seolah goyah oleh dorongan posesif yang kian menggebu.
"Kamu asisten pribadiku, Gita. Hak prerogatif untuk menilai atau memecatmu ada di tanganku, bukan di mulut mantan istriku atau desas-desus staf lobi," Arlan menjawab dengan nada bariton yang datar namun sarat akan penekanan yang mutlak.
"Secara logis, Dirgantara Group tidak bisa membiarkan pihak luar mendikte siapa yang boleh dan tidak boleh bekerja di lantai eksekutif. Jika aku membiarkan Stella menginjak-injakmu tadi siang, itu sama saja dengan membiarkan publik berpikir bahwa aku tidak punya kendali penuh atas bawahanku sendiri."
Alasan yang sangat logis. Sangat tipikal seorang Arlan Dirgantara yang selalu membungkus segalanya dengan rasionalitas bisnis. Namun, Bianca bukanlah gadis desa lugu yang mudah dikecoh oleh retorika korporat. Jauh di balik kalimat barusan, Bianca bisa merasakan getaran lain. Ia melihat bagaimana urat di rahang Arlan mengetat, dan bagaimana cara pria itu menatapnya—penuh dengan kilat protektif yang teramat pekat, seolah-olah ia adalah milik berharga yang tidak boleh disentuh oleh pasang mata mana pun. Arlan hanya sedang menolak mengakui bahwa egonya telah takluk oleh rasa tidak rela melihat Gita terluka.
Bianca menarik napas perlahan. Ia tidak membantah, tidak pula mendesak pria itu untuk jujur.
"Saya mengerti. Terima kasih atas perlindungan hukumnya, Tuan."
"Kita berangkat ke Villa besok subuh," Arlan bangkit dari kursinya, merapikan lengan kemejanya yang digulung hingga siku. Langkah kakinya yang berat membawanya mendekati Bianca, menghentikan gerakannya tepat di samping wanita itu. Aroma parfum kayu cendana miliknya yang maskulin langsung mengepung indra penciuman Bianca. Arlan menunduk, berbisik tepat di samping telinganya dengan nada posesif yang intim. "Istirahatlah. Di desa terpencil itu, di dalam villaku, tidak akan ada Stella, Mahendra, atau kamera media yang bisa menjangkaumu. Kamu akan aman di sana."
Setelah Arlan melangkah pergi menuju kamar utamanya di lantai atas, Bianca tetap bergeming di samping meja makan. Keheningan kembali menyergap penthouse tersebut.
Bianga tidak menangis. Sepuluh tahun di dalam ruang sunyi penjara Surabaya telah membasuh habis air mata kelemahannya. Masa lalunya sebagai Bianca Adytama—putri mahkota dinasti properti yang dulu manja dan arogan—kini telah bermutasi menjadi ketegaran yang matang dan dingin. Ketika badai fitnah dari Stella menghantamnya tadi siang, hal itu tidak membuatnya ciut. Justru, serang itu memicu sesuatu yang telah lama tertidur di dalam dirinya untuk bangkit kembali: otak seorang pewaris darah Adytama.
Bianca melangkah menuju jendela kaca besar, menatap bayangan dirinya yang samar terpantul di sana. Kerutan di keningnya menandakan otaknya sedang bekerja dengan kalkulasi yang cepat dan taktis.
"Nyonya Stella tidak mungkin bergerak seceroboh itu sendirian," gumam Bianca lirih, suaranya sedingin es. "Seseorang telah menyuplai data dari Surabaya. Seseorang yang tahu persis celah hukum lama itu."
Mahendra. Nama itu langsung muncul di benaknya. Musuh bisnis Arlan yang saat ini sedang mencoba memanfaatkan Stella untuk menggoyang stabilitas Dirgantara Group melalui dirinya.
Bianca tahu, jika ia tetap diam dan hanya mengandalkan perlindungan posesif Arlan, cepat atau lambat rahasia besarnya akan terbongkar dengan cara yang kotor, dan hal itu bisa menyeret Arlan ke dalam pusaran kehancuran bisnis yang tidak adil.
Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Pencariannya akan kedamaian dan penebusan dosa di desa terpencil bukan berarti ia harus menjadi umpan yang lemah.
***
mungkin juga karna musuh raditya
mudah"an Kirana cepet tau dan mintol Radit buat kasih bodyguard jaga Bianca dari jarak jauh