"GADIS GILA! APA KAMU NGGA PIKIRKAN MASA DEPAN KAMU?!" bentak pemuda itu sambil menarik tangan Ana.
Ana memandang dengan takut tapi ia juga merasa lega karena sebenarnya, dia tidak berniat untuk bunuh diri.
Anabella Queena Tanaya, tidak pernah menginginkan wajah yang buruk rupa dan tidak memiliki teman itupun hanya bisa putus asa di atas atap apartemen yang sering ia kunjungi ketika merasa sedih.
Dua lelaki tampan datang ke hidupnya dan semuanya berubah dengan sangat drastis. "Apa aku bermimpi?"
Tekad gadis itu ingin jadi glow up, bukan main - main. Tahap demi tahap, bahkan ia berusaha menutupi luka masa lalu di sekolahnya yang lama, berbuah manis bahkan terlalu manis.
Tapi siapa sangka dengan dirinya yang sekarang, Ana malah dibuat bimbang dengan kejadian tak terduga di sekolah barunya.
Apa Ana akan bisa tetap menjadi Ana yang glow up tanpa ada yang tahu bahwa dia sebenernya korban pembullyan??
Atau ada seseorang dari masa lalunya yang mengetahui semua tentang Ana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Berliana Febbyola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 AKU BUKAN ORANG BAIK
Setelah memikirkan tentang masa kecilnya dengan Ana, Kai membuka laci dan melihat lagi kenangan kecil yang tertinggal.
Jejak manis si pemberani Ana, terukir dalam gelang hitam kesukaannya yang selalu Kai simpan. Dan kotak kayu kecil itu adalah tempat kalung yang dipakai Ana sampai sekarang
"Dia masih memakai kalung itu." Garis senyum terukir di bibirnya.
"Entah kapan waktunya tiba, aku bisa memberanikan diri mengatakan semuanya. Yang jelas, saat kamu merasa lelah.. aku ingin ada di momen itu untuk jadi sandaranmu." sahut Kai, sambil memandang kotak kayu kecil yang digenggamnya.
Pagi harinya, Ana sudah menggerutu karena acne patch-nya habis.
"Aku baru aja beli, udah habis lagi! Ini karena jerawatku yang terus bermunculan. Huft.." geramnya sambil melihat ke arah kaca.
"Aku harus ke toko kecantikan lagi. Untung sekarang hari Minggu."
"Najel! Aku nggak bisa antar kamu ke Toko Kecantikan!" teriak Raka dari bawah.
Ana segera menuruni tangga, "Apa?! Kamu udah janji mau antar aku, mau kemana sih?"
"Mau ada tanding futsal. Bye.." singkatnya lalu kembali ke kamar pemuda itu.
"Kalau gitu, harusnya bilang dari kemarin huh-" gerutu Ana.
Ia pun dengan cepat bersiap - siap dan memakai makeup. Untuk perlindungannya jika bertemu dengan orang yang dia kenal di Sekolah.
Setelah mengoleskan sedikit eyeshadow warna peach sebagai sentuhan terakhir, Ana membuka matanya perlahan.
Seolah kamera mendekat untuk memperlihatkan betapa natural dan cantiknya riasan hari ini.
"Wah.. akhirnya, warna ini cocok denganku." puji Ana pada dirinya sendiri.
"Ayah! Aku pamit keluar dulu sebentar." sahut Ana, sambil melirik ke sekeliling rumah.
Ayah yang datang dengan menggunakan apron bunga-bunga milik Ibu, membuat Ana tertawa terbahak-bahak.
"Ayah pakai apa ini? Sepertinya punya Ibu. Hahahaha!"
"Ah ini. Ibumu yang membelikannya, katanya Ayah makin ganteng kalau pakai ini." jawab Ayah sambil tersenyum sumringah.
Ana bersyukur karena punya Ayah yang selalu menghibur dengan candaan yang konyolnya itu.
"Oke deh, Semangat Ayah!"
"SEMANGAT!!" sorak Ayah sambil memperhatikan gaya Superman.
"Aku mau ke Toko Kecantikan sebentar. Mau beli Acne patch."
"Aku akan kembali sebelum makan siang, Ayah. Bye!" Sahut Ana sambil melambaikan tangannya dan berjalan kearah pintu.
"Oh iya, hati-hati putri-ku!"
"Acne, Acne apa tadi? Ah, anak zaman sekarang jajanan nya sangat aneh." Ayah yang salah mengira itu adalah nama cemilan, terus kebingungan. Maklum ia tak pandai bahasa inggris.
Di perjalanan menuju Toko Kecantikan, Ana naik bis sambil mengalungkan tas rajut selempang kecilnya itu.
"Hari ini jalanannya macet sekali." membuka kaca jendela bis dan menghirup udara pagi.
Untuk sampai ke Toko Kecantikan setelah ia turun dari bis, Ana berjalan melewati beberapa kedai-kedai makanan dan minuman.
Namun, pandangannya terhenti ketika di Kafe kopi sederhana yang tidak begitu besar, tapi sangat rapi. Bukan karena keindahan Kafe tersebut, melainkan ada seseorang yang ia kenal.
Nathaniel Elion Evander, cowok tengil tapi tampan yang selalu mengusilinya.
"Nathan.."
Terlihat pemuda itu sedang mengelap meja dengan telaten, ditambah ketampanannya semakin terpancar karena apron ala barista kopi yang ia pakai.
Ana juga melihat beberapa gadis ingin meminta foto dengan Nathan, dan Nathan pun dengan senang hati melayani pelanggan sekaligus fans-nya itu.
"Dia selebritis? Banyak banget yang minta foto."
Setelah para gadis puas berfoto dengannya, terlihat Cafe juga tidak terlalu ramai dan Nathan semakin cepat membersihkan meja-meja yang sudah kosong.
Sadar ada yang sedang memperhatikannya, Nathan melihat ke arah jendela Cafe.
"Ana.." lirih Nathan.
Nathan tak sedikit pun malu karena bekerja paruh waktu jadi pelayan Kafe, tapi kedatangan Ana secara tiba-tiba itu yang membuatnya gugup.
Keringat yang bercucuran karena lelah membasahi pelipisnya. Menyeka keringat itu dengan lengannya dan menghampiri Ana yang masih di luar.
Ana melihat dan masih terdiam, tak ada sapaan.
"Kamu kenapa ada disini?" tanya Nathan dengan ekspresi datar.
"A-aku? Aku mau beli makeup di Toko Kecantikan. Kamu kerja disini?"
"Iya. Memang kenapa?" tanya Nathan menatap gadis itu dengan dingin.
"Aku salut." pekiknya, alih-alih menjauh karena Nathan kerja paruh waktu, Ana malah bangga.
"Hm?!" Nathan tertegun.
"Aku boleh mampir sebentar sebelum ke Toko Kecantikan?Diluar panas banget, aku mau ice coffee." jelas gadis itu, membuat mata Nathan membulat.
Mereka berdua pun masuk dan para pegawai yang sudah kenal dengan Nathan pun saling berbisik-bisik karena ada bidadari cantik.
"Nathan sama siapa tuh?"
"Cantik banget, ya?"
"Dia imut banget.."
Nathan melirik ke sekelilingnya, "Yakin mau minum disini? Aku takut kamu nggak nyaman."
"Kenapa harus nggak nyaman? Kafe ini bagus dan nyaman banget." jawab Ana dengan santai.
"Tadi aku lihat kamu layani pelanggan. Ternyata diluar Sekolah kamu berbeda ya..." sahut Ana.
"Jangan sok paling paham. Aku tetap sama." tepis Nathan dengan tatapan sinis.
"Kalo di Sekolah, kamu orang yang paling menyebalkan. Tapi disini kamu superhero yang sangat kuat." puji Ana, membuat Nathan terdiam. Baginya, baru kali ini ada yang mendukung keputusannya.
"Apapun itu, kamu harus jadi orang baik dan selalu tersenyum." tambahnya lagi.
Nathan tersenyum tanpa paksaan, kali ini bukan senyum sinis yang terukir dibibirnya, tapi senyuman tulus untuk seseorang yang spesial.
"Aku bukan orang baik, Ana. Tapi aku selalu berusaha jadi orang tulus."
"Aku tahu kok." jawab Ana singkat, lalu kembali menyeruput ice coffee yang sudah disediakan oleh Nathan.
Krim lembut itu menempel dibibir Ana tanpa ia sadari.
Dengan cepat, Nathan mengambil tisu dan membersihkannya.
Suasana jadi canggung, Ana juga yang tadi asyik menyeruput ice coffee itu, langsung kikuk.
Pandangan mereka saling terkunci, sekarang mereka merasakan waktu berjalan begitu lambat.
"Ma-makasih.." sahut Ana canggung.
"Hmm." Nathan hanya berdeham.
"Nih bersihkan sendiri. Tadinya aku mau kasih kamu tisu, tapi kamu nggak sadar kalau ada cream disini." Sambil menunjuk bibirnya sendiri.
Ana tertawa kecil, "Maaf,, oh iya. Kayaknya aku harus pergi sekarang ke Toko Kecantikan. Aku bayar dulu minumannya ke kasir." sahut Ana, lalu beranjak dari kursinya dan pergi ke kasir.
"Tunggu, Ana." panggil Nathan, membuat langkah gadis cantik itu terhenti.
"Ada apa?"
"Nggak perlu bayar. Anggap aja aku lagi traktir kamu." jawab Nathan.
"Nggak mau. Kamu udah bekerja keras, jadi aku mau tetap bayar." jelas Ana mulai mengerutkan dahinya, marah.
Nathan pun diam dan mengangguk kecil. "Oke.."
Setalah membayar minuman, Ana pun langsung berpamitan dengan Nathan dan meneruskan perjalanannya mencari Acne patch.
"Semoga produknya masih ada. Fyuh.." gumam Ana.
Nathan melihat Ana sampai benar-benar tak terlihat lagi, memantaunya.
"Gadis berhati malaikat." sahut Nathan, tanpa sadar ia memuji Ana.
"Aku semakin ingin melindunginya." nadanya berubah serius.
#Bersambung...